Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Membagi Tugas.


__ADS_3

Melihat kondisi Denis saat ini tentu saja membuat semuanya merasa panik, akan tetapi di satu sisi Siska juga sangat membutuhkan seseorang untuk menjaganya saat ini. Sehingga Aron langsung saja membawa Denis keluar dan Raisa akan mengobati luka anaknya tersebut. Sedangkan Diego tetap berada di dalam kamar untuk membantu dan menemani ibunya, sementara Sastro menjaga Diesa yang telah Raisa letakkan di dalam baby stroller. Ya dalam kondisi seperti ini tentunya mereka harus membagi tugas, karena Siska memang tidak bisa untuk ditinggal sendirian.


"Ma saat tiba di Jakarta nanti aku akan mencarikan Perawat khusus untuk merawat dan menjaga Mama. Dari awal aku juga sudah mengatakan akan mencarinya tetapi Mama tidak setuju, dengan apa yang terjadi tadi aku mohon Mama ikuti permintaanku ya. Apa Mama mau jika hal ini akan terjadi lagi dan akan ada korban lain lagi selanjutnya. Kalau Mama terjatuh seperti tadi, sudah pasti orang akan panik langsung berlari menghampiri Mama. Tidak akan mungkin ada orang membiarkan Mama begitu saja dan meskipun kami semua sudah berhati-hati, tapi lihat Denis kakinya langsung tertusuk kaca. Seandainya hal tadi terjadi tetapi tidak ada orang di rumah yang melihat Mama bagaimana, Mama tidak tahu 'kan apa yang terjadi dengan Mama dan itu semua pasti akan membuat aku menyesal seumur hidup Ma," ucap Diego yang membuat ibunya itu terdiam.


"Maafkan Mama Diego. Ya Mama akan mengikuti apa maumu, apapun yang menurutmu terbaik Mama pasti akan mengikutinya yang penting jangan meminta Mama untuk operasi ulang. Sekarang bagaimana keadaan Denis, lebih baik kau lihat Denis saja, Mama baik-baik saja," ucap Siska.


"Syukurlah kalau Mama mengerti. Mama tidak perlu meminta maaf dan Mama harus tahu kalau aku melakukan ini semua demi kebaikan Mama. Ya sudah Ma aku akan melihat Denis sebentar, Mama jangan kemana-mana. Aku akan kembali lagi ke sini dan aku juga akan menelpon Dokter di klinik untuk memeriksa kondisi Mama," kata Diego.


Siska hanya menganggukkan kepalanya, kali ini ia sudah tak berani lagi membantah ucapan anaknya tersebut. Ia sudah berjanji akan menuruti apa kata Diego yang terpenting tidak memaksanya untuk dioperasi.


Setelah memastikan ibunya aman untuk ditinggal sebentar, Diego pun keluar dari kamar dan menghampiri Raisa yang di saat itu sedang mengobati luka Denis setelah kaca kecil yang menancap telah dicabut oleh Aron. Untungnya Diesa terlihat tenang saja sehingga Raisa bisa mengurus kakaknya terlebih dulu.


Denis terlihat menahan kesakitan, meskipun tak bersuara tetapi terlihat air matanya yang menetes.


"Kak Denis ini memang sangat pedih, jadi kalau kau mau menangis lebih baik menangis aja, tidak perlu ditahan," kata Raisa.


"Aku tidak mau menangis lagi Ma, aku 'kan anak laki-laki jadi tidak boleh cengeng. Tapi ini memang sakit," kata Denis yang membuat Raisa pun tersenyum karena merasa gemas.


"Sudah selesai. Ini hanya luka kecil saja kok, pasti akan baik-baik saja dan kau akan segera sembuh," ucap Raisa.


"Terima kasih banyak ya Ma sudah mengobatiku," ucap Denis.


"Iya Sayang sama-sama," jawab Raisa.


"Bagaimana kakimu Kak Denis?" Tanya Diego yang saat ini sudah berdiri di hadapan Denis.


"Tidak apa-apa kok Pa. Sudah diobati Mama, jadi sudah tidak terlalu sakit," jawab Denis.


"Baguslah kalau memang seperti itu. Lain kali hati-hati ya," ucap Diego.


"Untungnya hanya tertusuk sedikit saja Kak, mudah-mudahan tidak akan ada masalah besar. Aku sudah memberinya obat," kata Raisa.


"Iya Sayang terima kasih banyak ya," ucap Diego.


"Tidak perlu berterima kasih Kak. Denis ini 'kan Anakku juga, sudah sewajarnya aku mengobatinya," ucap Raisa.


Bukan hanya Diego saja yang merasa sangat senang mendengar hal tersebut, bahkan Sastro dan Aron juga ikut tersenyum. Aron benar-benar merasa sangat takjub melihat keluarga tuannya itu dan dalam hati ia berkhayal sangat ingin memiliki keluarga yang harmonis seperti keluarga Diego dan Raisa, meskipun mereka memiliki banyak masalah tetapi tetap tegar dan ikhlas menghadapinya bersama.


"Oh ya Aaron, tolong bersihkan kaca di kamar Mama. Takut nanti akan ada yang terkena tusukan kaca lagi," titah Diego.

__ADS_1


"Baik Tuan, akan segera saya lakukan," jawab Aron dan bergegas pergi.


"Kak Denis, nanti kalau memang terasa semakin sakit atau ada apa-apa kasih tahu Mama ya. Bagaimanapun juga ini 'kan lukanya karena kaca, kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, takutnya nanti malah infeksi," ujar Raisa.


"Tidak apa-apa Sayang, sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksa kondisi Mama. Nanti aku juga akan minta tolong Dokter untuk memeriksa keadaan Denis, untuk memastikan semuanya baik-baik saja," ucap Diego.


"Oh… syukurlah kalau begitu. Ya sudah Kak Denis kau ke kamar saja ya dengan Opa, supaya Opa bisa istirahat juga sekalian. Aku boleh 'kan Yah minta tolong menjaga Denis di kamar," ucap Raisa kepada ayahnya pula.


"Iya Ma," jawab Denis.


"Tentu saja Raisa, Ayah sama sekali tidak keberatan," jawab Sastro. "Ayo Denis kita ke kamar," ajaknya.


"Sudah saya bersihkan kaca-kacanya Nyonya, Tuan, saya pastikan seluruh sudut ruangan juga semuanya sudah saya sapu. Mudah-mudahan sudah tidak ada kaca yang tersisa lagi," kata Aron yang baru saja keluar dari kamar Siska.


"Iya Kak, terima kasih banyak ya. Lebih baik sekarang Kau istirahat saja di depan, pasti kau juga sangat lelah 'kan setelah tadi menyetir," ucap Raisa.


"Benar apa kata istriku, lebih baik kau istirahat saja sambil menunggu Dokter. Nanti kalau Dokter sudah datang langsung saja suruh masuk," titah Diego.


"Baik Tuan, Nyonya," Jawab Aron.


Lalu Raisa dan Diego yang membawa anak bayi mereka itu masuk ke dalam kamar Siska untuk menemaninya sembari menunggu dokter datang.


Setelah pertemuannya dengan Sena saat itu, Roy pun memutuskan untuk tidak pergi ke Bandung. Padahal tadinya ia sudah bertekad ingin melakukan sesuatu di sana, untuk membuktikan kepada Erros bahwa ia bisa diandalkan. Tetapi saat ini karena ia dan Sena mempunyai rencana lain, sehingga Roy pun hanya bisa berdiam diri dulu di rumah dan bersabar dengan rencana apa yang akan mereka lakukan. Tentu saja Roy juga tidak memberitahu Erros dengan apa yang akan ia lakukan karena sudah pasti Erros akan meremehkannya lagi.


Roy tampak duduk seorang diri di sebuah cafe ditemani secangkir kopi menunggu kedatangan Sena setelah tadi ia menghubungi wanita tersebut dan mengajaknya untuk bertemu. Akan tetapi sudah setengah jam lamanya Sena belum juga muncul, padahal tempat yang mereka janjikan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Sena karena Roy sendiri yang menanyakan di mana alamat tempat tinggal wanita tersebut.


Pada akhirnya Roy merasa semakin jenuh menunggu, lalu ia pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Sena kembali tetapi wanita tersebut sama sekali tidak menjawab teleponnya. Hingga beberapa saat kemudian terlihat Sena yang baru saja tiba dan langsung berlari masuk ke dalam cafe menghampiri Roy.


"Roy, aku benar-benar minta maaf ya. Tadi terjadi sesuatu di jalan maka itu aku terlambat sampai di sini," ucap Sena yang melihat wajah Roy begitu tidak enak dipandang.


"Kau itu bisa tepat waktu sedikit tidak sih. Apa kau tahu kau itu hanya membuang-buang waktuku saja berada di sini," ucap Roy ketus.


"Aku 'kan sudah minta maaf. Lagi pula kau juga 'kan yang mengajakku bertemu di sini, seharusnya kau lebih sabarlah menungguku," ujar Sena.


"Sudahlah cepat duduk, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Roy.


Sehingga Sena pun langsung saja duduk dan meminum minuman yang sudah dipesankan oleh Roy sampai habis.


"Kau ini habis marathon ya, kenapa minumanmu langsung habis seperti itu? Sepertinya kau sangat haus," ujar Roy.

__ADS_1


"Iya, sudah aku katakan tadi terjadi sesuatu di jalan dan banyak menguras tenagaku. Kau lihat sendiri 'kan penampilanku juga acak-acakan seperti ini," kata Sena.


"Oh iya aku tidak terlalu memperhatikannya, memang ada apa?" Tanya Roy yang mendadak ingin tahu.


"Kau tidak perlu tahu, sekarang Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Aku tidak banyak waktu," kata Sena.


"Ck, aku hanya ingin mengabarimu jika saat ini ibunya Diego sudah pulang dari rumah sakit. Kemungkinan 2 atau 3 hari lagi mereka akan kembali ke Jakarta, karena Diego tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu lama, begitu juga dengan anaknya yang bersekolah. Lagi pula di sana sangat jauh jaraknya untuk pergi menuju ke rumah sakit, jadi Diego akan cepat-cepat membawa ibunya pulang," terang Roy.


"Wah … Bagus dong. Dari mana kau mendapatkan berita ini? Padahal kau berada di Jakarta dan mereka masih berada di Bandung, tapi dengan sangat mudah kau mendapatkan informasi. Sedangkan aku untuk mencari informasi kalian semua saja aku harus kembali ke sini dan butuh waktu hampir sebulan aku baru mengetahui bahwa Clarissa berada di penjara," kata Sena.


"Kalau soal itu gampang saja, sama sekali bukan masalah bagiku. Eh ngomong-ngomong soal itu, kau bisa mengetahui saat ini Clarissa ada di penjara tapi kenapa kau tidak tahu Diego ada di mana?" Tanya Roy.


"Terakhir kali aku hanya mendapatkan informasi di mana alamat rumah Diego, tetapi saat aku ke sana aku tidak melihatnya keluar rumah sama sekali. Padahal sudah 2 jam aku menunggunya di luar, maka itu aku tidak tahu dia ada di mana. Aku yakin jika alamat itu salah, tidak mungkin dong Diego tidak pergi kemana-mana dari pagi," kata Sena.


"Memangnya di mana alamatnya dan kapan kau datang ke sana?" Tanya Roy.


"2 hari yang lalu di jalan xx," jawab Sena.


"Itu memang benar alamat rumah Diego, lalu kenapa kau tidak langsung bertanya dengan Satpam? Sudah aku katakan mereka sudah berada di Bandung dari 3 hari yang lalu," tukas Roy.


"Aku baru tahu setelah bertemu denganmu dan itu lah bedanya aku denganmu, kalau aku langsung bertanya ke Satpam nanti Satpam akan memberitahu Diego dan dia akan lihat dari CCTV maka semuanya akan ketahuan. Aku tidak akan bisa bertindak lebih lanjut, pikirkan dulu sebelum melakukan sesuatu," kata Sena yang membuat Roy pun terdiam dan membenarkan ucapan wanita tersebut.


"Sudahlah aku hanya ingin menyampaikan hal itu saja dan jangan lupa untuk rencana kita selanjutnya, aku tidak mau menunggu terlalu lama," kata Roy.


"Kau tenang saja, setelah mereka pulang aku pasti akan langsung bertindak dan kau juga harus ingat apa tugasmu," kata Sena.


"Ya, kau tidak perlu khawatir soal itu," jawab Roy.


"Baiklah, sekarang apa aku boleh memesan makanan? Selain haus aku juga sangat lapar, dari tadi aku belum makan apa-apa," ucap Sena.


"Ya sudah silahkan saja pesan," kata Roy.


"Kau juga harus makan karena aku tidak mau makan sendirian," ucap Sena.


Karena permintaan Sena, pada akhirnya Roy pun ikut menikmati makan siang bersama menemani wanita tersebut meskipun ia belum merasa lapar.


Di sela-sela makan mereka, Roy yang melihat Sena makan belepotan itu pun dengan reflek membersihkan sudut bibir wanita itu dengan jari, sehingga membuat Sena tersentak dan langsung menatap ke arah Roy.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2