
Keesokan hari, sebelum Diego bangun, Raisa sudah terbangun terlebih dulu dan di saat itu ia terlihat sedang memandangi wajah suaminya yang begitu tampan meskipun penuh luka di wajahnya. Raisa juga menyentuh pipi suaminya tersebut dengan sangat lembut, sebisa mungkin tidak menyentuh lukanya.
"Kak Diego, aku minta maaf ya. Semenjak aku hadir di dalam kehidupanmu, kau selalu saja terkena masalah. Tapi itu sama sekali itu bukan niatku Kak. Aku mencintaimu Kak, mana mungkin aku ingin orang yang berada di dekatku, orang yang aku cintai. celaka. Seandainya ada yang bisa aku lakukan agar tidak ada lagi masalah di dalam hidup kita, aku pasti akan melakukannya. Aku tidak mau melihat kau terus saja terluka, aku tidak mau melihat Ayah, kau, Mama, Denis dan Anak kita nanti terkena masalah," batin Raisa tanpa sadar meneteskan air matanya.
Di saat itu pun tiba-tiba Diego terbangun, yang membuat Raisa terburu-buru menghapus air matanya. Ia tidak mau Diego mengetahui jika saat ini ia sedang menangis.
"Pagi Sayang," ucap Raisa.
"Pagi juga Sayang. Kau sudah bangun?" Tanya Diego.
"Iya Kak, maaf ya aku mengganggu tidurmu," ucap Raisa.
"Sama sekali tidak. Bagaimana tidurmu, apa kau bisa tidur dengan nyenyak?" Tanya Diego.
"Iya Kak, aku bisa tidur kok dan Ini aku baru saja bangun. Keadaanmu sekarang bagaimana Kak, apa sudah lebih baik?" Tanya Raisa pula, lalu ia pun beranjak dari tempat tidur dan kini duduk di atas kursi samping tempat tidur suaminya itu.
"Iya Sayang, kondisiku sudah lebih baik dari tadi malam. Aku yakin hari ini aku pasti sudah diperbolehkan pulang," ucap Diego dengan sangat yakin.
"Syukurlah Kak, aku senang kalau memang seperti itu. Mudah-mudahan saja ya kau hari ini bisa pulang," ucap Raisa.
_____
Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Di mana saat itu dokter dan suster masuk ke dalam ruang rawat inap Diego dan memeriksa keadaannya sebelum memeriksa keadaan Sastro.
Di saat itu pun Raisa tampak sedikit menjauh agar dokter bisa bekerja dengan maksimal. Akan tetapi apapun yang dibicarakan oleh dokter dan Diego masih terdengar jelas oleh Raisa, sehingga membuat Diego merasa khawatir jika nantinya Raisa akan tahu apa yang dialami oleh Diego sebenarnya.
"Tuan Diego, syukurlah kondisi Anda sudah lebih baik. Luka di bagian dalam perut Anda juga jauh lebih baik daripada kemarin, jadi jika memungkinkan sore ini Anda sudah boleh pulang ke rumah," ucap dokter.
"Terima kasih banyak ya Dok, saya juga berharapnya seperti itu dan syukurlah ternyata saya memang sudah boleh pulang," ucap Diego.
"Ya sama-sama Tuan," jawab dokter dan di saat itu terlihat Raisa yang mendekatinya.
"Tunggu, apa ya maksud Dokter dengan luka dalam perut suami saya? Memang suami saya kenapa?" Tanya Raisa.
"Oh itu Nona, akibat dari pukulan preman tadi malam yang menyebabkan ada luka dalam yang cukup serius pada perut Tuan Diego. Tetapi untunglah obatnya bekerja dengan baik dan cepat, sehingga Tuan Diego bisa bertahan dan hari ini kondisinya juga sudah jauh lebih baik," terang dokter.
"Oh … seperti itu ya Dok. Ya sudah terima kasih banyak ya Dokter," ucap Raisa.
"Sama-sama Nona Raisa. Kalau begitu saya permisi dulu, saya mau memeriksa keadaan Tuan Sastro," ucap dokter.
__ADS_1
"Oh iya Dok, hari ini Ayah saya juga sudah boleh pulang 'kan?" Tanya Raisa.
"Sebenarnya tadi malam juga sudah boleh pulang, hanya saja untuk memastikannya lagi saya meminta Tuan Sastro untuk menginap di rumah sakit. Jika nanti setelah saya periksa memang kondisinya baik-baik saja, maka Tuan Sastro sudah diperbolehkan langsung pulang," jawab dokter.
"Syukurlah Dok, saya lega dengarnya. Ya sudah Dok silahkan kalau Dokter mau memeriksa Ayah saya," ucap Raisa.
Lalu dokter langsung saja keluar dari ruang rawat inap Diego, sementara Raisa tampak menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Sayang, jangan menatapku seperti itu. Apa kau marah padaku?" Tanya Diego.
"Bisa-bisanya kau bertanya padaku ya Kak. Seharusnya aku yang bertanya, kau menyembunyikan hal apalagi dariku Kak?" Tanya Raisa.
"Aku tidak menyembunyikan apapun lagi, sungguh. Hanya itu saja dan itu karena aku tidak mau kau mengkhawatirkanku. Tapi kau dengar 'kan tadi Dokter bilang apa, aku baik-baik saja Sayang. Bahkan nanti sore aku sudah boleh pulang," ucap Diego.
"Tapi tetap saja kau tidak jujur padaku Kak. Jadi tadi malam waktu aku mencubitmu sebenarnya kau merintih karena meras sangat sakit 'kan dan itu karena pukulan para preman itu bukan karena lapar. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Kak, kau ini kenapa jahat sekali sih. Bagaimana kalau aku menyimpan sesuatu darimu, bagaimana perasaanmu?" Tukas Raisa.
"Iya Sayang, iya. Aku minta maaf dan tolong jangan merahasiakan apapun dariku," ucap Diego.
"Ya sudah, tapi awas saja ya kalau kau melakukannya sekali lagi. Jangan salahkan aku jika aku merahasiakan sesuatu juga darimu," ucap Raisa.
"Iya Sayang, aku janji tidak akan merahasiakan apapun lagi darimu," ucap Diego.
_____
Karena belum ada orang yang bisa bergantian menjaga Diego di ruang rawat inap, Raisa pun meminta tolong Ramzi sang Bodyguard yang berjaga di luar untuk menemani suaminya itu sebentar. Setelah itu Raisa pergi ke ruang rawat inap sang ayah untuk melihat keadaannya.
Dokter mengatakan jika kondisi Sastro sudah baik-baik saja dan juga sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Sehingga Kelvin pun akan langsung mengantarkan tuannya tersebut pulang ke kediamannya.
"Kak Kelvin, hati-hati ya bawa Ayah pulang ke rumah. Nanti setelah Kak Diego sudah boleh pulang ke rumah, aku akan ke sana untuk melihat kondisi Ayah," ucap Raisa.
"Kau tenang saja Sa, aku pasti akan menjaga ayahmu dengan baik," ucap Kelvin.
"Raisa, kau tidak perlu ke rumah Ayah, Ayah baik-baik saja. Lebih baik kau menjaga suamimu di rumah, bagaimanapun juga Diego lah yang paling banyak terkena pukulan waktu itu. Walaupun nanti sore Diego sudah diperbolehkan pulang, Ayah yakin kondisi Diego belum pulih sempurna, masih dalam proses pemulihan. Jadi kau harus menjaga suamimu dengan baik," ucap Sastro.
"Iya Ayah, itu sudah pasti. Tapi Ayah juga masih sakit, jadi Ayah harus beristirahat dengan baik dan jangan melarangku untuk melihat Ayah," tukas Raisa.
"Ayah tidak mungkin melarangmu, tapi kau juga harus memikirkan kondisimu itu. Ayah tidak mau kau kelelahan Sayang," ucap Sastro.
"Tapi Yah, aku hanya ingin memanfaatkan waktu yang ada sekarang. Jika nanti aku sudah melahirkan, pasti akan lama baru aku bisa melihat Ayah, harus menunggu kondisiku pulih dulu 'kan," ujar Raisa.
__ADS_1
"Ayah yang akan sering-sering datang untuk menjengukmu. Kau tidak perlu khawatir, kita akan tetap selalu bertemu. Tapi untuk saat ini kau harus tetap menjaga kondisimu dan kau tidak boleh pergi kemanapun sendirian, kondisi di luar masih kurang aman Raisa," ucap Sastro, ia benar-benar merasa sangat khawatir jika Raisa dalam bahaya.
"Iya Yah, Ayah tenang saja. Aku pasti akan selalu menjaga diri kok dan kalau aku mau bepergian, kalau tidak dengan Kak Diego ya pasti ada Bodyguard yang mendampingiku Yah," ucap Raisa.
"Yah itu lebih baik," ucap Sastro. "Ya sudah ayo Kelvin kita keluar dari sini, seluruh administrasi sudah dibayar 'kan?" Kata Sastro.
"Iya Tuan, semuanya sudah beres," sahut Kelvin.
"Ayah aku minta maaf ya tidak bisa mengantar Ayah pulang ke rumah, sekarang saja Kak Diego hanya dijaga sama Kak Ramzi dan sepertinya Kak Ramzi sangat mengantuk karena sudah semalaman dia berjaga di depan ruangan Ayah dan Kak Diego tanpa tidur. Harus menunggu Mama dan Kak Jason datang ke sini dulu baru Kak Ramzi bisa pulang ke rumah beristirahat," ucap Raisa.
"Tidak apa-apa Raisa, 'kan sudah ada Kelvin yang mengantar Ayah pulang ke rumah," ucap Sastro.
Sebelum pulang, Sastro dan Kelvin pun mampir sebentar ke ruang rawat inap Diego untuk melihat keadaan pria tersebut.
"Ayah hati-hati ya pulangnya, semoga Ayah cepat sembuh," ucap Diego.
"Kau masih mendoakan Ayah, seharusnya kau pikirkan dirimu sendiri Diego. Kau saja masih berada di sini," ucap Sastro.
"Tetapi nanti sore aku juga sudah diperbolehkan pulang Yah, Ayah tenang saja," ujar Diego
"Ya sudah kalau begitu. Ayah pulang dulu ya Raisa, Diego," pamit Sastro.
"Iya Ayah, hati-hati," ucap Raisa.
"Kelvin, hati-hati bawa mobilnya. Pastikan ayah mertuaku baik-baik saja sampai di rumah," pesan Diego.
"Tenang saja Tuan Diego," ucap Kelvin.
Setelah berpamitan, segera saja Kelvin menuntun Sastro keluar dari ruang rawat inap Diego lalu mereka pergi meninggalkan rumah sakit.
*****
"Dasar bodoh! Kau mengatakan mau mengatasi masalah ini dengan mudah, kau akan membantuku menghabiskan mereka satu persatu, tapi apa kenyataannya? Hanya 2 tikus saja bisa gagal, sampai semua tertangkap Polisi. Apa kau tahu, sekarang kau tidak tertangkap oleh Polisi saja sudah menjadi keberuntunganmu. Tetapi jika kau sampai tertangkap, aku juga tidak akan peduli," bentak Sastro kepada seorang pria yang tampak tertunduk di hadapannya
"Aku benar-benar minta maaf Om. Aku juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Om. Rencana awal juga sudah berhasil, buktinya Diego dan Sastro berhasil dibawa ke gudang tua itu. Tetapi mana aku tahu jika semuanya akan menjadi seperti ini." Pria yang bernama Roy itu menjawabnya, meskipun sebenarnya ia sangat takut menghadapi Erros.
"Banyak alasan. Kau sendiri yang mengatakan ingin membalas dendammu kepada pria yang bernama Diego itu, kau juga ingin menghancurkannya dan kau memilih untuk turun tangan. Tetapi Kenyataannya apa Roy? Kau tidak bisa berbuat apapun, kau terlalu lemah," ucap Erros
"Aku tidak lemah Om. Lihat saja nanti, aku pasti akan menghabisi Diego dan keluarganya. Oke untuk kali ini aku gagal, tapi masih banyak kesempatan lain dan aku pastikan meskipun bukan Diego yang aku celakai terlebih dulu, tetapi sudah pasti orang yang sangat disayanginya. Yang pasti akan membuat hidupnya menderita," ucap Roy dengan tatapan yang begitu tajam.
__ADS_1
Bersambung …