
Sastro dan Kelvin tampak cemas menunggu Raisa yang sampai saat ini belum juga kembali. Padahal ini sudah sore, tetapi baik Raisa maupun Diego sama sekali tak ada mengabari Sastro di mana keberadaan mereka saat ini.
Raisa tidak bisa dihubungi karena ponselnya tadi berada di kantor sang ayah yang ia letakkan di dalam tas dan saat ini telah dibawa pulang ke rumah oleh Sastro. Sedangkan ponsel Diego berada di dalam mobilnya, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan kabar tentang mereka.
"Tuan, bagaimana ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Raisa?" Kata Kelvin yang sangat khawatir.
"Aku juga mencemaskan Anakku, tapi kita berdoa saja ya semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Raisa," ucap Sastro.
"Kenapa Tuan begitu percaya dengan Diego setelah apa yang Diego lakukan waktu itu? Bisa saja 'kan saat ini dia menyakiti Raisa karena Raisa membohonginya, tidak jujur tentang kehamilannya," ujar Kelvin.
"Aku percaya terhadap Diego. Diego sangat mencintai Raisa, jadi dia tidak mungkin menyakitinya. Masalah waktu itu sebenarnya bukan kesalahan Diego, tapi ibunya lah yang tidak merestui hubungan mereka. Kau juga tahu sendiri Raisa yang memilih meninggalkan Diego karena dia tidak mau Diego menjadi anak yang durhaka, melawan apa kata ibunya," ucap Sastro yang membuat Kelvin merasa sakit mendengarnya.
Bagaimana tidak, padahal baru saja Sastro meminta Kelvin untuk menikahi putrinya tetapi malah sekarang terkesan mendukung pria lain. Akan tetapi Kelvin pun tak bisa mengatakan apapun, bagaimanapun juga ia sudah begitu dekat dengan Sastro dan menganggap Sastro sebagai orang tuanya sehingga. Sehingga ia hanya terlihat diam saja, yang membuat Sastro pun merasa tak enak hati padanya.
"Kelvin, aku minta maaf jika aku sudah menyakiti hatimu. Aku ingat betul jika tadi aku memintamu untuk menikahi Raisa, tapi aku juga malah membiarkan Diego membawa Raisa pergi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu, kau tahu sendiri aku juga sudah begitu dekat denganmu, aku sudah menganggapmu seperti Anakku sendiri, aku sangat ingin kau bersama dengan Anakku. Tetapi seandainya saat ini Raisa memilih untuk kembali dengan Diego yang merupakan ayah dari anaknya itu, aku juga tidak bisa melarangnya," ucap Sastro berterus terang dan lagi-lagi membuat Kelvin tak bisa berkutik.
Meskipun Kelvin merasa sangat kecewa, tetapi apalah daya ia tak bisa berbuat apapun. Hanya bisa berusaha untuk tetap tersenyum di depan tuannya tersebut.
"Iya Tuan, aku mengerti dan itu tidak menjadi masalah untukku. Lagipula Raisa juga tidak mungkin bersedia menikah denganku, aku tahu betul bagaimana Raisa masih mencintai Tuan Diego dan sangat berharap bisa bersama dengannya," ucap Kelvin.
"Syukurlah jika kau mengerti. Aku harap kau tidak merasa sakit hati atau dendam kepadaku dan Raisa karena hal ini," ucap Sastro seraya menepuk pelan pundak Kelvin.
"Tuan, kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku tidak mungkin dendam ataupun sakit hati terhadap kalian, aku ikhlas asalkan Raisa bahagia," ucap Kelvin.
"Apa kau benar-benar mencintai Anakku, Kelvin?" Tanya Sastro.
Kelvin menganggukkan kepalanya, "Ya Tuan. Semenjak aku dekat dengannya, aku merasa perasaan itu tumbuh. Tuan sendiri juga tahu bahwa aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun selama ini, aku hanya dekat dengan Raisa sehingga membuat aku pun jatuh cinta padanya. Maafkan aku Tuan karena aku sudah lancang mencintai Anakmu."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu, apalagi meminta maaf. Kau tidak salah, justru aku senang melihat kalian berdua dekat, aku sangat mendukung hubungan kalian berdua, tetapi aku juga tidak bisa memaksa Raisa," ucap Sastro.
"Tetapi seandainya keajaiban itu ada, Raisa menolak Diego dan bersedia menikah denganku, apakah Tuan merestuinya?" Tanya Kelvin.
"Kenapa kau ini bodoh sekali Kelvin, kenapa kau masih menanyakan hal itu? Sudah jelas aku merestuinya, sudah aku katakan aku sangat ingin kalian bersama," jawab Sastro, membuat Kevin tampak lega meskipun sebenarnya harapan itu sangatlah tipis.
*****
Setelah memberikan jatah kepada Darrel, akhirnya Clarissa pun mendapatkan informasi di mana alamat apartemen Diego dari pria tersebut. Clarissa yang tahu betul jika Darrel tidak mungkin mampu untuk menolak rayuannya itu pun terpaksa menggunakan senjata pamungkasnya untuk mengelabui pria tersebut. Buktinya setelah puas mendapatkan pelayanan darinya, Darrel langsung saja memberitahu alamat tersebut dengan suka rela.
__ADS_1
"Sekarang antarkan aku ke sana," pinta Clarissa saat ia sudah rapi menggunakan pakaiannya.
Sedangkan Darrel masih terlihat polos dan pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
"Apalagi yang mau kau lakukan Sayang? Kau mau melakukan usaha apapun tidak akan berhasil," tukas Darrel.
"Kau mau mengantarku atau aku akan pergi ke sana sendiri," kata Clarissa.
"Ya sudah aku akan mengantarmu," jawab Darrel, lalu ia pun segera memakai pakaiannya dan mengantar Clarissa pergi menuju ke apartemen Diego.
_____
"Aku tidak bisa ikut kau ke dalam, kalau Diego mengetahuinya pasti aku akan habis," ujar Darrel saat mereka telah tiba di depan apartemen.
"Oke, tidak masalah. Sekarang kau boleh pergi, terima kasih karena telah memberitahuku dan juga mengantarku sampai disini," ucap Clarissa.
"Iya sama-sama. Aku harap kau tidak melakukan hal konyol, bukankah kau hanya sekedar ingin tahu saja 'kan?" Tukas Darrel.
"Ya, kay tenang saja," jawab Clarissa.
"Beri ciu man tanda perpisahan dulu di pipiku," pinta Darrel.
"Dasar laki-laki bodoh. Ya tidak mungkin lah aku hanya sekedar ingin tahu saja di mana alamatnya kalau tidak untuk melakukan sesuatu," ucap Clarissa.
Clarissa merogoh ponselnya yang berada di dalam tas, lalu terlihat menghubungi seseorang melalui telepon.
*****
Raisa mengerjap-mengerjapkan matanya, merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya. Sehingga ia pun terbangun dan menyadari jika ia dan Diego baru saja melakukan adegan panas dan masih berada di dalam apartemen.
"Kak Diego," panggil Raisa yang berusaha untuk membangunkan kekasihnya tersebut.
Bukannya bangun, Diego malah menarik tubuh Raisa ke dalam dekapannya kembali.
"Kak bangun. Ini sudah jam berapa, ayo kita pulang," ajak Raisa.
"Sebentar lagi ya Sayang, aku masih ingin memelukmu," ucap Diego tanpa membuka matanya.
__ADS_1
"Tapi Kak saat ini pasti Ayah sangat cemas menungguku pulang. Bagaimana kalau Ayah mengira kau telah menyakitiku, kau telah membawa kabur anaknya dan tidak memberi kabar sama sekali," ucap Raisa yang membuat Diego pun langsung saja membuka matanya.
"Maafkan aku ya Sayang. Karena terlalu bahagia bersamamu, aku sampai lupa untuk mengabari Ayahmu. Aku baru ingat kalau ponselku juga tertinggal di mobil, mungkin saja Ayahmu menghubungiku," ucap Diego.
"Iya Kak, ponselku juga tadi tertinggal di kantor Ayah, jadi Ayah juga tidak bisa menghubungiku. Aku yakin pasti Ayah merasa sangat cemas saat ini, kita harus segera pulang Kak," ucap Raisa.
"Kira-kira Ayahmu sudah pulang atau masih berada di kantor, aku harus mengantarmu ke mana?" Tanya Diego.
"Nanti kita tanyakan saja dulu menggunakan ponselmu Kak," ucap Raisa.
"Iya Sayang, tapi nanti kita akan bertemu lagi 'kan? Aku benar-benar masih sangat merindukanmu, sudah 3 bulan kau meninggalkanku dan sekarang kita hanya sebentar berada di sini, aku belum puas," ungkap Diego.
"Ish kau ini Kak. Bukankah kau akan menikahiku? Nanti di saat kita sudah menikah, kita akan selalu bersama," ucap Raisa yang mencubit perut kekasihnya itu dengan gemas.
"Akh, Sayang kau sudah lama tidak mencubit perutku dan aku sangat merindukannya," ucap Diego.
"Tapi kau selalu saja merasa kesakitan jika aku mencubitmu," hardik Raisa.
"Ya itu artinya kau harus mencubitnya lebih pelan lagi," ujar Diego.
"Iya, iya. Oh iya Kak, bagaimana kabar Denis? Aku sangat merindukannya. Apa dia ada menanyakanku? Kenapa waktu di restoran kemarin aku tidak melihatnya?" Tanya Raisa.
"Tentu saja Denis sangat merindukanmu dan dia selalu menanyakan keberadaanmu, tapi Mama selalu menjawab jika kau telah pergi dan tak akan kembali lagi. Denis terlihat sangat sedih, tapi aku selalu memberinya semangat dan meyakinkannya jika dia pasti akan bisa bertemu denganmu lagi, sehingga membuat Denis tersenyum kembali. Karena itu juga merupakan impianku Sayang, aku sangat berharap jika bisa bertemu denganmu lagi dan kita akan bersama. Soal waktu itu Denis tidak ikut karena tidak mau pergi bersama Clarissa, dia lebih memilih tinggal di rumah bersama Bibi. Sekarang Denis sudah bisa ditinggal dengan Bibi, dia lebih terlihat mandiri karena asuhanmu Sayang," ucap Diego.
"Oh ya? Syukurlah jika memang seperti itu. Aku juga sangat merindukannya Kak," ucap Raisa.
"Jadi kau hanya merindukan Denis, apa kau tidak merindukan ayahnya?" Tanya Diego yang merasa cemburu terhadap anaknya sendiri.
"Ya ampun Kak, sudah jelas aku merindukanmu. Kalau tidak mana mungkin aku bersama denganmu saat ini," tukas Raisa.
"Iya juga ya, ya sudah kalau begitu ayo kita mandi dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Diego.
Lalu keduanya pun beranjak dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri. Tak lupa pula mereka mengulangi aktivitas yang baru saja mereka lakukan di dalam kamar mandi sejenak.
Setelah selesai, baik Raisa maupun Diego sudah tampak rapi, kini keduanya pun akan pergi meninggalkan apartemen.
Akan tetapi baru saja Diego membuka pintu apartemen sembari menggandeng mesra tangan kekasihnya itu, betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat 2 orang yang saat ini sudah berdiri di depan pintu dan menatap keduanya dengan begitu tajam.
__ADS_1
Bersambung …