
Setelah melihat kondisi ayahnya dan juga Kelvin yang baik-baik saja, kini Raisa pun kembali menemui Diego di ruang rawat inapnya. Di saat itu Raisa merasa keheranan melihat suami dan ibu mertuanya yang tiba-tiba saja terdiam, padahal tadi ia melihat keduanya sedang berbicara.
"Ma, Kak Diego, ada apa?" Tanya Raisa.
"Tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa Sayang?" Diego bertanya balik.
"Sepertinya ada yang Mama dan Kak Diego sembunyikan dariku," ujar Raisa menatap curiga, membuat Diego menjadi gugup.
"Raisa, benar apa yang Diego katakan memang tidak apa-apa. Apalagi sampai ada yang Mama dan Diego sembunyikan darimu, jangan berpikir macam-macam ya. Oh ya bagaimana kondisi ayahmu dan Kelvin?" Tanya Siska.
"Kondisi Ayah baik-baik saja Ma, hanya terdapat sedikit luka di wajahnya, tidak separah Kak Diego. Kalau Kak Kelvin dia juga baik-baik saja, bahkan Kak Kelvin sudah diperbolehkan pulang. Tapi dia memutuskan untuk menjaga Ayah, setidaknya aku jadi lebih tenang dan aku bisa tetap berada di sini untuk menemani Kak Diego," ucap Raisa.
"Oh seperti itu. Syukurlah jika memang semua baik-baik saja, berarti kita hanya tinggal menunggu kondisi Diego pulih," ucap Siska, membuat Diego tersentak dan langsung memberi kode kepada ibunya agar tidak keceplosan untuk berbicara dengan istrinya.
"Maksud Mama apa? Kenapa kita harus menunggu Kak Diego sembuh, bukannya besok Kak Diego juga sudah boleh pulang? Tidak ada luka serius 'kan?" Tanya Raisa.
"Iya benar Sa. Tapi tadi 'kan kau sendiri yang mengatakan luka yang dialami oleh ayahmu tidak separah Diego, apalagi Kelvin dia baik-baik saja. Ya itu artinya hanya Diego yang mengalami luka yang cukup banyak, jadi kita harus menunggu bagaimana kabar Dokter besok. Apakah Diego sudah pulih dan sudah boleh pulang atau belum," ucap Siska mencari alasan.
"Oh, iya Ma. Mudah-mudahan saja Kak Diego besok sudah boleh pulang dan tidak ada kondisi yang serius di dalam tubuhnya," ucap Raisa.
"Iya Sayang, kau tenang saja. Aku baik-baik saja kok," ucap Diego.
"Aku juga berharap seperti itu. Oh iya Ma ini 'kan sudah malam, lebih baik Mama dan Denis pulang saja, biar aku yang menjaga Kak Diego di sini," ucap Raisa.
"Sayang, lebih baik kau juga pulang. Kau itu sedang hamil besar, aku tidak mau kau kenapa-napa jika berada di sini," titah Diego.
"Tidak Kak, aku akan tetap berada di sini menemanimu. Justru kalau aku di rumah pikiranku tidak tenang, jadi biar Mama dan Denis saja yang pulang diantar Kak Ramzi atau Kak Jason," ucap Raisa.
"Ya sudah kalau memang seperti itu, Mama dan Denis akan pulang dulu. Kalau Denis besok tidak sekolah, mungkin Mama akan menginap di sini. Tapi kasihan Denis karena besok sekolah, nanti terburu-buru dan takutnya malah telat. Jadi lebih baik Mama pulang saja membawa Denis," kata Siska.
"Aku tidak mau pulang Ma, Pa, Oma. Aku mau berada di sini saja, aku mau menemani Papa," rengek Denis.
"Denis, jangan seperti itu ya. Papa sedang sakit dan Dokter juga tidak mengizinkan orang banyak menemani Papa di sini, Mama saja sudah cukup. Kau pulang saja ya bersama Oma. Ingat, kau harus menjaga Oma," ucap Diego.
"Tapi aku mau menemani Papa," ucap Denis dan terlihat sedih.
__ADS_1
"Sayang, besok pulang sekolah kau langsung minta antar Om Jason ke sini ya, bagaimana? Tapi kalau Papa besok sudah boleh pulang, kau bisa bertemu dengan Papa di rumah. Yang penting sekarang kau pulang dulu ya, Denis 'kan anak pintar," pujuk Raisa.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan pulang bersama Oma. Tapi Papa cepat sembuh ya dan janji kalau besok Papa akan pulang," ucap Denis.
"Iya Sayang, besok Papa akan pulang dan Papa akan bermain denganmu," ucap Diego. "Ma, hati-hati ya Ma. Aku titip Denis," ucapnya yang kini berbicara kepada sang ibu.
"Iya kau tenang saja. Kau juga baik-baik di sini dan kabarkan Mama jika ada kabar terbaru dari Dokter," ucap Siska.
"Iya Ma, aku pasti akan mengabari Mama," jawab Diego.
"Raisa, kau juga harus hati-hati ya. Ingat kandunganmu itu sudah besar, Mama tidak mau terjadi sesuatu denganmu ataupun Anak kalian," ucap Siska.
"Iya Ma, terima kasih ya Ma," ucap Raisa lalu menyalami tangan ibu mertuanya itu.
Siska memeluk dan mencium pipi menantunya itu. Ia begitu menyayangi Raisa dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri, tetapi entah kenapa dengan masalah-masalah yang terjadi akhir-akhir ini, ia menyalahkan ayah Raisa dan menyayangkan akan hal itu.
Lalu Siska dan Dennis pun pulang ke rumah dengan diantar oleh Jason, salah satu Bodyguard yang bekerja dengan keluarga Abimana. Sedangkan Ramzi tetap berada di rumah sakit untuk menjaga keamanan di sana, tentunya juga sudah disetujui oleh pihak rumah sakit.
_____
"Terima kasih banyak ya Kak. Ini makanan Ayah dan Kak Kelvin tolong kau antar saja ya Kak ke sana. Ini masih ada 2 lagi untukmu saja. Tadinya yang 1 untuk Kak Jason, katanya Kak Jason juga belum makan. Tapi karena Kak Jason pulang ke rumah, jadi dia makan di rumah saja dan dia juga bisa makan sepuasnya," ucap Raisa.
"Tapi saya sebungkus saja sudah cukup Nona, jadi lebih baik ini yang 1 bungkus lagi untuk Nona Raisa saja. Tadi kata Nyonya Siska Nona juga belum makan," ucap Ramzi yang membuka kartunya di depan Diego.
"Sayang, jadi kau belum makan? Kak membohongiku," tukas Diego.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kau merasa khawatir Kak. Lagi pula bagaimana mungkin aku berselera untuk makan sementara aku belum mendapatkan kabar darimu," ucap Raisa.
"Ya sudah kalau begitu sekarang ambil makanannya, kita makan sama-sama," ucap Diego.
"Ya sudah," jawab Raisa, lalu menerima makanan tersebut.
"Terima kasih banyak ya Kak. Tolong antarkan makanan Ayah dan Kak Kelvin, mereka pasti juga sangat lapar dan kau makan bersama mereka saja Kak," ucap Raisa.
"Baik Nona. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Ramzi dan segera saja keluar dari ruang rawat inap tersebut.
__ADS_1
_____
Raisa dan Diego pun mulai makan bersama, Raisa menyuapi Diego secara perlahan karena suaminya itu juga terlihat tidak terlalu berselera untuk makan.
Diego merasakan perih yang luar biasa pada perutnya, tetapi ia tidak mau menunjukkan hal tersebut di depan istrinya tersebut. Sehingga Diego pun memaksa untuk bisa tersenyum agar Raisa tidak merasa khawatir. Untungnya rasa sakit itu semakin lama semakin berkurang, sehingga Diego bisa menghabiskan makanannya tanpa sisa.
Selesai makan, Diego kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan hendak beristirahat. Sedangkan Raisa menemani suaminya itu dengan duduk di sampingnya.
"Sayang, apa kau tidak capek duduk di situ? Lebih baik kau tidur saja di sampingku. Ini kan tempat tidurnya lumayan besar, cukup kok untuk kita berdua," ucap Diego.
Memang tempat tidur yang berada di ruang VIP sedikit lebih besar dibandingkan ruang rawat inap biasa. Sehingga Raisa yang rasanya sangat lelah saat duduk dalam kondisi hamil besar, memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu dengan posisi miring.
"Kau yakin tidak akan jatuh tidur seperti itu Sayang?" Tanya Diego.
"Kak, aku ini bukan anak kecil, aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku tidak mungkin bisa tidur nyenyak di sini, yang penting aku bisa menemanimu. Ya sudah cepat pejamkan matamu dan beristirahat, ini sudah malam," titah Raisa.
"Ya sudah kalau begitu, selamat malam Sayang. I love you," ucap Diego.
"Selamat malam, i love you too," balas Raisa, lalu mencium pipi suaminya, membuat Diego tersenyum bahagia.
"Sayang, sini deh dekatkan wajahmu," pinta Diego, karena memang ia kesulitan untuk memiringkan tubuhnya.
Sehingga Raisa pun mendekat dan Diego langsung saja mengecup bibir istrinya sekilas, yang membuat Raisa terkejut.
"Kau ini ya Kak, sedang sakit masih bisa-bisanya seperti itu," hardik Raisa.
"Memangnya kenapa? Kau ingat 'kan apa yang aku katakan tadi, kalau besok malam aku sudah berada di rumah, kau harus bersiap-siap karena aku mau 5 ronde," ucap Diego.
"Iya, iya, yang penting kau sembuh dulu dan kau harus pulang ke rumah. Kalau masalah itu gampang, bisa diatur," ucap Raisa yang menggoda suaminya, membuat Diego begitu bersemangat ingin cepat sembuh dan juga cepat pulang ke rumah.
Lalu keduanya sama-sama memejamkan mata dan terlelap
Bersambung …
__ADS_1