Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Keputusan Siska.


__ADS_3

Raisa tampak termenung di dalam kamarnya, meskipun ia sudah menemui Diego dan melihat kondisi Siska secara langsung di rumah sakit tetapi pikirannya tetap saja tidak tenang. Raisa terus mengingat pembicaraannya dengan Siska tadi di saat ia mencoba untuk membujuk ibu mertuanya tersebut untuk melakukan operasi ulang.


"Raisa Mama mohon kau jangan seperti suamimu yang terus saja membujuk Mama untuk operasi. Apapun yang terjadi, Mama tidak akan pernah melakukan operasi ulang, keputusan Mama sudah bulat. Apa kau tahu rasanya itu sangat sakit Raisa, antara hidup dan mati berada di ruangan itu tetapi tidak menjamin operasi itu akan berhasil dan Mama selamat. Mama hanya ingin menghabiskan sisa umur Mama bersama dengan kalian, jadi tolong lupakan masalah operasi itu, Mama mohon biarkan saja Mama hidup dengan tenang. Mama janji akan selalu rutin mengkonsumsi obat dari Dokter, paling tidak Mama tidak akan merasa tersiksa lagi.


Keputusan Siska itu tentunya membuat Raisa merasa sangat khawatir dan tidak tahu harus melakukan apa, sama dengan apa yang sedang dirasakan oleh Diego saat ini.


Tok … tok … tok …


Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Raisa tersadar dari lamunannya dan terlihat Sastro yang mengetuk pintunya tersebut.


"Masuk saja Yah," ucap Raisa, kebetulan di saat itu pintunya memang tidak ditutup dan terbuka lebar.


Lalu Sastro pun masuk ke dalam dan menghampiri anaknya tersebut.


"Raisa, dari tadi Ayah melihatmu melamun. Ada apa, apa ada yang sedang kau pikirkan?" Tanya Sastro.


"Iya Yah," jawab Raisa diiringi anggukkan kepalanya.


"Apa ini tentang kondisi Ibu mertuamu?" Tebak Sastro.


"Iya benar Yah. Aku hanya ingin membantu Kak Diego untuk membujuk Mama melakukan operasi ulang, walaupun Kak Diego tidak memintanya pasti aku juga akan tetap melakukannya karena ini semua demi kebaikan Mama. Tapi Mama menolak dengan alasan ingin hidup tenang di sisa umurnya, Mama tidak mau lagi menjalani operasi. Aku jadi kepikiran dengan Ayah, Ayah juga memiliki penyakit jantung, apakah suatu saat nanti Ayah akan melakukan operasi ulang juga? Seandainya itu terjadi, apa Ayah akan melakukannya?" Tanya Raisa.

__ADS_1


"Itu semua tergantung bagaimana kondisi Ayah nantinya, Lagi pula penyakit yang Ayah derita sangat berbeda dengan penyakit yang diderita oleh Nyonya Siska. Kalau menurut Ayah saat ini Nyonya Siska menolaknya pasti ada alasan tertentu, mungkin Nyonya Siska memang sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani operasi, beliau takut sehingga lebih memilih menjalani hidupnya dengan tenang dan apa adanya seperti sekarang. Beliau tidak mau merasakan menderita di dalam ruang operasi dan bagaimana rasa sakitnya setelah operasi itu. Mungkin saja Nyonya Siska tidak mau menanggung resikonya yang terlalu tinggi, jadi menurut Ayah kalian terima saja apapun yang menjadi keputusan Nyonya Siska," ujar Sastro.


"Tapi kemungkinan untuk sembuh itu juga ada Yah, meskipun tidak bisa sembuh total. Kita tidak akan tahu apa hasilnya kalau kita belum mencobanya," ucap Raisa.


"Sekarang ini bukan saatnya untuk mencoba-coba lagi Raisa, operasi ulang itu memang sangat diperlukan tetapi resikonya sangat tinggi. Memang benar kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya nanti, semua itu sudah ada takdirnya masing-masing. Tapi untuk saat ini hanya Nyonya Siska sendiri yang mengerti bagaimana kondisi tubuhnya, tidak ada salahnya jika kita menghormati keputusan Nyonya Siska," ucap Sastro yang membuat Raisa tampak terdiam dan berpikir sejenak.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Yah? Kasihan Kak Diego, saat ini pasti Kak Diego merasa sangat terpukul. Aku ingin selalu berada di sampingnya tapi Diesa juga tidak bisa aku tinggal terlalu lama karena dia masih bayi," ucap Raisa sembari menatap sang anak yang di saat itu sedang tidur di atas kasur, sementara Denis sedang bermain bersama Aron di luar.


"Lebih baik kau tetap di rumah saja dan berdoa, percayakan saja semuanya kepada Diego. Ayah yakin Diego bisa mengatasi masalah ini dan mencari solusi yang terbaik. Sebentar lagi Aron juga akan ke rumah sakit untuk menemaninya, sebenarnya Ayah ingin ke sana tetapi Diego melarang karena tidak mau Ayah kelelahan. Diego juga meminta Ayah untuk menemanimu dan Anak-Anak di sini," kata Sastro, mengingat Teh Rasmi sudah pulang ke rumah karena ada orang tua Raisa yang datang untuk menemaninya.


"Iya Ayah, menurutku apa kata Kak Diego benar, lebih baik Ayah istirahat saja. Oh ya aku mau masak dulu ya Yah untuk makan malam kita sekaligus aku mau menitipkan makanan untuk Kak Diego, jadi Kak Aron bisa membawanya sekaligus," kata Raisa.


"Ya sudah kalau begitu kau masak saja, biar Ayah yang menjaga Diesa di sini," kata Sastro.


Baru saja Raisa mengatakan hal itu, terdengar suara tangisan Diesa yang sudah terbangun dari tidurnya. Sehingga Sastro pun keluar dari kamar dan menutup pintunya karena Raisa hendak memberikan ASI untuk anaknya terlebih dulu. Setelah itu Raisa membawa anaknya keluar, lalu dijaga oleh ayah dan bodyguard-nya. Sementara Raisa langsung menuju ke dapur untuk memasak.


*****


"Dasar bodoh, hanya melakukan tugas segampang itu saja kau gagal lagi!" Bentak Erros yang memarahi keponakannya.


"Bukan aku yang melakukannya Om tapi orang suruhanku yang berada di sana," bantah Roy tak terima.

__ADS_1


"Sama saja, itu artinya anak buahmu sama sekali tidak ada yang bisa diandalkan sama sepertimu. Sama-sama bodoh, hanya menangani seorang wanita tidak bisa. Coba saja kau bisa bekerja dengan baik, hanya masalah seperti itu pasti akan sangat mudah. Hanya membuat kecelakaan kecil kau sama sekali tidak mampu Roy. Mungkin memang sudah tidak ada kesempatan lagi untukku mempercayaimu, padahal kau sendiri yang memohon untuk membuktikan jika kau bisa diandalkan, untuk bekerja sama denganku. Tapi apa? Hanya tugas kecil seperti ini saja hasilnya zonk," tukas Erros.


"Om, selama ini aku sudah bersabar menghadapi Om. Kau selalu memarahiku, mencaci maki aku, aku terima. Tapi aku sudah melakukan apapun yang kau perintahkan, meskipun gagal setidaknya kau bisa menghargai apa yang sudah aku lakukan," ucap Roy yang terlihat sangat emosi.


"Jadi kau mau apa sekarang? Kau mau aku menghargaimu seperti apa, penghargaan atas kebodohanmu itu. Kau sudah sangat lancang berbicara seperti itu denganku Roy, kau juga sudah berani melawanku. Jadi apa yang kau inginkan sekarang anak kecil?" Tukas Erros tersenyum smirk.


"Aku akan ke sana langsung dan melakukannya sendiri. Aku tidak peduli kau mau mengatakan aku gegabah, mau mengatakan aku apapun itu aku akan tetap melakukannya dan Om bisa lihat sendiri jika rencanaku kali ini pasti akan berhasil," ucap Roy dengan sangat yakin.


"Terserah kau saja dan ingat jangan pernah melibatkanku jika aksi bodohmu akan ketahuan oleh mereka," ucap Erros.


"Aku janji tidak akan pernah melibatkan Om," ucap Roy.


"Oke, buktikan saja jika kau mampu," ucap Erros. "Karen, sekarang kita pergi dari sini." Erros mengajak asistennya tersebut.


Memang saat ini Erros dan Karen sedang bertemu dengan Roy di sebuah restoran karena Roy yang memintanya. Kebetulan di saat itu Erros dan Karen sedang berada di luar, sehingga mereka pun bertemu di restoran tersebut.


"Sialan! Lihat saja Erros, kali ini akan aku buktikan jika aku pasti berhasil," umpat Roy yang menatap punggung kepergian Erros dengan sangat tajam.


"Hai, apa kabar? Apa kau masih ingat denganku?"


Terdengar suara lembut seseorang yang di saat itu menghampiri Roy dan duduk di depannya, membuat Roy merasa sangat terkejut melihat seorang wanita seperti dikenal olehnya tetapi ia lupa siapa wanita tersebut.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2