
Karena sang suami saat ini sedang berada di luar kota, sehingga Raisa hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama dengan anak-anak dan ibu mertua. Ia yang biasanya selalu pergi di siang hari mengantar makanan untuk Diego, saat ini tidak kemana-mana. Ia tampak sibuk memasak di dapur untuk mengisi waktu luang saat anak bungsunya sedang tidur dan dijaga oleh Baby Sitter-nya.
Denis yang di saat itu pulang sekolah pun langsung saja di temani oleh Raisa untuk makan siang bersama, membuat anak sulungnya itu merasa sangat senang karena biasanya ia hanya ditemani oleh pelayan ataupun makan sendiri, tetapi tidak luput dari pengawasan.
"Mama, terima kasih ya. Hari ini Mama masak makanan kesukaan aku dan Mama juga menemani aku makan siang," kata Denis sembari mengunyah makanan yang tampak penuh di mulutnya.
"Iya sama-sama Sayang. Maaf ya akhir-akhir ini Mama selalu sibuk jadi sudah jarang sekali masak makanan kesukaanmu, bahkan Mama juga tidak ada waktu menemanimu makan siang. Tapi hari ini waktu Mama luang, maka itu Mama bisa melakukan ini semua. Pokoknya waktu Mama hari ini full untuk Kak Denis dan Adik Diesa," ucap Raisa.
"Iya Ma, tidak apa-apa kok. Aku mengerti," jawab Denis.
"Bagus kalau kau mengerti, tapi kalau mau bicara habiskan dulu makanan di mulut ya, takut tersedak," kata Raisa.
Denis mengangguk mengerti, lalu ia pun mengunyah makanannya hingga tertelan sempurna.
"Ma, Papa berapa lama berada di luar kota?" Tanya Denis yang sudah sangat merindukan ayahnya tersebut.
"Hanya 2 hari 1 malam saja, besok sore Papa sudah pulang," jawab Raisa.
"Hm … Papa akhir-akhir ini selalu sibuk ya Ma, tidak ada waktu untuk mengantarku ke sekolah, menemaniku makan, belajar, bermain, meskipun di hari libur. Aku sudah jarang melihat Papa, kalau melihat Papa pun hanya sebentar. Bahkan tadi pagi aku tidak sempat untuk melihat Papa, Papa sudah pergi dulu keluar kota. Apa Papa sudah tidak menyayangiku lagi?" Protes Denis dengan wajah yang yang tampak murung dan sedih.
"Sayang, kau tidak boleh berbicara seperti itu ya. Tadi pagi Papa masuk ke kamarmu ingin berpamitan, tapi karena kau masih tidur jadi Papa hanya mencium keningmu saja. Sabar ya Sayang, nanti setelah semua urusan Papa sudah selesai pasti Papa akan selalu menghabiskan waktu di rumah bersama kita seperti saat itu. Kau harus percaya kalau Papa melakukan ini semua itu justru karena Papa sayang dengan Kak Denis, Papa sayang dengan kita semua. Papa melakukan semuanya demi kebaikan keluarga kita, demi mencari nafkah untuk kita. Kak Denis, kau 'kan sudah besar, kau mengerti 'kan?" Ucap Raisa dengan lemah lembut, sehingga anaknya itu langsung mengerti. Apalagi Denis memang tergolong anak yang sangat cerdas.
"Iya Ma, aku mengerti. Aku minta maaf ya Ma sudah berkata seperti itu, aku hanya merindukan Papa. Mudah-mudahan Papa selalu sehat dan semua urusan Papa cepat selesai, jadi Papa akan banyak waktu lagi untuk kita seperti kemarin," ucap Denis.
"Amin. Nah begitu 'kan lebih baik. Papa pasti akan sangat bangga memiliki anak yang sangat pintar sepertimu. Bukan hanya kau saja yang merindukan Papa, tapi Mama, Adik, Oma, semuanya merindukan Papa dan ingin selalu berada di dekat Papa. Tapi Papa itu juga punya tanggung jawab lain yang harus diselesaikan, jadi kita harus selalu mendukung Papa ya," ucap Raisa.
"Iya Ma, mulai sekarang aku tidak akan protes lagi, aku akan selalu mengerti Papa ataupun Mama," jawab Denis.
"Anak pintar, ya sudah selesaikan makannya nanti kita ke kamar Adik Diesa ya. Kasihan Sus mau istirahat," kata Raisa.
"Iya Ma, aku juga mau main dengan Adik Diesa dulu sebelum tidur siang. Boleh 'kan Ma?" Tanya Denis.
"Boleh dong," jawab Raisa sembari mengusap lembut rambut anaknya tersebut.
__ADS_1
*****
Sementara itu Diego yang saat ini berada di kota Bandung dan baru saja kembali ke penginapan setelah rapat, langsung saja merogoh ponsel di dalam saku celana yang sedari tadi sama sekali tidak sempat ia pegang. Ia melihat pesan masuk yang dikirim oleh sang istri sejak tadi saat dia benar-benar masih sibuk.
"Sayang, bagaimana meeting-nya, apakah berjalan lancar? Kalau sudah selesai jangan lupa hubungi aku ya, aku merindukanmu."
Diego tersenyum membaca pesan dari istrinya tersebut, yang membuatnya langsung merindukan sang istri, padahal baru beberapa saja jam saja mereka berpisah. Memang sejak tiba di kota Bandung, Diego hanya mengabarkan jika ia sudah sampai dan setelah itu langsung saja menemui klien karena memang sudah waktunya.
Agar Raisa tidak merasa cemas dan untuk mengobati rasa rindunya, Diego pun menghubungi istrinya tersebut melalui panggilan video WhatsApp.
"Hai Papa."
Yang pertama kali dilihat oleh Diego adalah wajah anak sulungnya yang memang sedari tadi sangat merindukan Papanya itu, sehingga di saat Diego menelepon Denis yang menjawabnya karena Raisa sendiri sedang menyu sui sang bayi.
"Hai jagoan Papa, kau sudah pulang sekolah?" Tanya Diego.
"Sudah Pa, Papa sudah sampai di Bandung ya? Bagaimana pekerjaan Papa di sana, apakah pekerjaan Papa lancar?" Denis mengintrogasi ayahnya tersebut.
"Kau ini sudah besar ya, sudah bisa bertanya seperti itu kepada Papa," kata Diego yang merasa sangat gemas.
"Aku memang sudah besar Pa dan aku mengerti kok dengan kesibukan Papa. Tapi sesibuk apapun Papa jangan pernah melupakan kami ya, kami merindukan Papa," ucap Denis.
"Itu pasti, Papa tidak mungkin melupakan kalian. Nih buktinya Papa menghubungi Mama, Papa juga sangat, sangat dan sangat merindukan kalian. Oh iya di mana Mama dan Adik Diesa, Kak Denis ada di kamar Adik 'kan?" Tanya Diego.
"Iya Pa, aku dan Mama sedang ada di kamar Adik Diesa, itu Mama baru saja selesai memberi Adik minum susu," kata Denis lalu menyorotkan kamera kepada Raisa.
Meskipun Denis masih tergolong anak kecil, tetapi ia sudah mengerti. Sehingga saat menyu sui sang bayi tentunya Raisa tidak menampakkan anak sulungnya itu, maka itulah ia tadi juga membiarkan Denis saja yang menjawab telepon suaminya itu terlebih dulu.
"Hai dua Bidadari Papa." Diego menyapa istri dan anak bungsunya itu.
"Hai Papa, Papa apa kabar? Jangan lama-lama ya pulangnya, kami semua merindukan Papa," ucap Raisa seolah menjadi sang bayi.
"Papa baik-baik saja. Doakan saja ya semuanya lancar dan cepat selesai, jadi besok Papa akan cepat pulang," jawab Diego.
__ADS_1
"Kak Denis, bisa 'kan Mama minta tolong temani Adik Diesa main dulu. Tadi katanya Kak Denis mau bermain dengan Adikmu dulu 'kan sebelum tidur siang. Mama mau bicara sebentar dengan Papa," ucap Raisa.
"Iya Ma," jawab Denis begitu antusias.
Lalu Denis pun menjaga adiknya di atas tempat tidur dan Raisa juga tetap berada di sana untuk mengawasinya. Hanya saja ia lebih fokus menatap wajah suaminya itu melalui ponsel.
"Sayang maaf ya aku baru sempat mengabarimu. Tadi aku benar-benar sedang sibuk langsung meeting dengan klien," ucap Diego.
"Tidak apa-apa Kak, aku mengerti. Yang penting itu kau baik-baik saja. Lalu bagaimana meeting-nya, lancar 'kan?" Tanya Raisa.
"Iya Sayang, semuanya berjalan lancar dan klien bersedia untuk bekerjasama kembali, asalkan aku tidak mengulangi hal itu secara mendadak. Ya untungnya klien mau mengerti karena aku memang sama sekali tidak sengaja melakukan hal itu, musibah yang menimpa kita waktu itu juga tiba-tiba saja 'kan," ucap Diego.
"Iya Kak, syukurlah kalau memang seperti itu. Aku ikut senang mendengarnya," ucap Raisa yang merasa lega.
"Terima kasih ya Sayang, ini semua juga karena doamu, Mama dan semua orang yang selalu mendukungku. Mudah-mudahan saja semua masalah kita cepat selesai supaya aku mempunyai banyak waktu lagi untuk keluarga kita seperti waktu itu. Oh iya tapi kenapa Denis tadi bisa bertanya seperti itu, apa kau yang ngajarinnya?" Tukas Diego.
"Iya sama-sama Sayang, 'kan itu memang sudah menjadi kewajibanku. Sebenarnya aku tidak mengajari Denis, mungkin dia sering mendengar aku berbicara denganmu. Tapi kalau aku mengajarinya untuk kebaikan, tidak jadi masalah juga 'kan?" Kata Raisa.
"Tentu saja tidak. Sekali lagi terima kasih ya Sayang," ucap Diego.
"Tidak usah terima kasih terus Kak. Oh ya apa kau sudah makan? Kau jangan sampai lupa makan ya, kau harus selalu menjaga kondisimu. Jangan mentang-mentang aku jauh lalu kau mengabaikan perutmu. Kalau kau tidak sempat membeli makan, minta tolong Ken membelinya atau biar aku yang menelpon Ken," kata Raisa.
"Tidak perlu Sayang, kau tenang saja ya kalau soal makan. Aku yakin kau pasti akan menanyakan hal ini, jadi aku sudah membeli makanan dan ini dia," ucap Diego sembari menunjukkan makanan yang tadi memang sempat ia beli. "Kau sudah makan 'kan?" Tanyanya pula.
"Syukurlah kalau begitu, lebih baik sekarang kau makan saja dulu dan beristirahat. Aku baru saja selesai makan dengan Kak Denis, sebelum ke kamar baby Diesa. Oh iya Kak jadi apa lagi kegiatanmu hari ini?" Tanya Raisa.
"Nanti sore aku akan survei ke lokasi pembangunan proyek dan kau masih ingat 'kan dengan Om-ku yang berada di Bandung, dia juga mengajakku untuk bertemu hari ini karena tahu aku berada di Bandung," jawab Diego.
"Iya aku ingat kok Kak. Yang penting kau harus selalu berhati-hati ya Kak dan kabari aku selalu," ucap Raisa.
"Siap Sayangku. Jaga Anak-Anak ya, aku mencintaimu," ucap Diego.
"Aku juga mencintaimu Kak," balas Raisa dan mengakhiri telepon tersebut.
__ADS_1
Bersambung …