
Tok … tok … tok …
Berulang kali Diego mengetuk pintu rumah Raisa tetapi sama sekali tak ada jawabannya. Ia juga berulang kali mencoba menghubungi wanita yang masih menjadi kekasihnya itu tetapi tidak ada jawabannya, Digo malah mendengar jika ponsel tersebut berdering dan suaranya berasal dari dalam rumah. Sehingga ia pun mencoba mengelilingi rumah dan kini telah sampai di jendela kamar Raisa.
Karena kain gorden Raisa saat itu tidak ditutup, membuat Diego bisa mengintip dan melihat jika ponsel Raisa berada di atas kasur.
"Kemana Raisa? Kenapa dia tidak menjawab teleponku, apa dia tidak ada di rumah? Tapi kenapa ponselnya ada di rumah? Atau dia baru pulang dan pergi lagi, atau mungkin juga Raisa memang belum pulang ke rumah dan sedari tadi tidak membawa ponsel." Diego bertanya-tanya di dalam hatinya.
Hingga di saat itu pun terlihat seorang tetangga yang lewat sehingga Diego memberhentikan orang tersebut.
"Maaf Bu, apa Ibu ada melihat Raisa?" Tanya Diego.
"Maaf, Tuan ini calon suaminya Nona Raisa ya?" Tanya ibu tersebut.
"Iya benar Bu. Apakah Ibu ada melihat calon istri saya?" Tanya Diego lagi.
"Tadi saya hanya melihat Nona Raisa baru pulang menggunakan taksi, tapi kalau pergi lagi saya tidak melihatnya," jawab ibu tersebut.
"Oh … ya sudah Bu, terima kasih banyak ya," ucap Diego.
"Iya, sama-sama Tuan," jawab ibu tersebut dan berlalu.
Dengan tidak ada kabarnya Raisa saat ini, membuat Diego merasa khawatir dan berpikir bisa saja jika saat ini Raisa berada di dalam rumah, tetapi dalam keadaan yang tidak baik sehingga ia pun tidak bisa membuka pintu tersebut. Semakin lama pikirannya itu pun semakin tidak karuan dan membuatnya semakin tak tenang.
Sehingga di saat ia melihat ada 2 orang pria muda yang lewat, Diego pun memberhentikan 2 orang tersebut dan meminta bantuan untuk mendobrak pintu rumah Raisa juga sebagai saksinya. Ia juga menceritakan kronologi kejadiannya bahwa mereka sedang ada masalah dan saat ini Raisa tidak menjawab telepon serta tidak membuka pintu, padahal ponselnya ada di dalam yang membuat Diego pun merasa khawatir, takut terjadi sesuatu dengan calon istrinya itu di dalam rumah. Sehingga 2 tetangga itu pun menyetujuinya lalu mendobrak pintu rumah Raisa.
"Sayang … Raisa … kau ada di mana?" Teriak Diego, begitu juga dengan 2 tetangga tadi yang ikut membantu mencari.
Diego meraih ponsel Raisa di atas tempat tidur, tidak ada yang aneh di sana atau petunjuk saat ini Raisa sedang berada di mana, sehingga membuat Diego pun kesulitan untuk menemukan keberadaan wanita tersebut.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya Nona Raisa memang tidak ada di rumah. Mungkin dia benar-benar lupa membawa ponselnya," ucap salah satu tetangga.
"Iya, mungkin memang seperti itu. Maaf, saya telah merepotkan kalian dan terima kasih banyak atas bantuannya. Tenang saja untuk kerusakan pintu rumah Raisa, nanti pasti akan saya ganti. Saat ini juga Saya akan meminta seseorang untuk memperbaikinya," ucap Diego.
"Baik Tuan. Kalau begitu kami permisi," ucap tetangga tersebut dan pergi meninggalkan Diego.
Sedangkan Diego tidak mungkin meninggalkan kediaman Raisa setelah apa yang dilakukannya. Ia harus menunggu orang yang datang untuk memperbaiki pintu rumah dan setelah itu barulah ia akan pergi meninggalkan kediaman Raisa.
*****
Raisa merasa kebingungan karena mobil yang membawanya saat ini berhenti tepat di depan bangunan tua tetapi masih terlihat sangat elit dan juga terawat. Tepatnya rumah yang diyakini adalah milik ayah Raisa.
"Kak, kenapa kau membawaku ke sini?" Tanya Raisa kepada pria yang saat berada di sampingnya setelah mereka keluar dari mobil.
"Ya karena Tuanku meminta untuk membawamu ke sini. Nanti kau pasti akan tahu," ucap pria itu dengan santainya.
"Selamat datang Raisa," ucap pria paruh baya yang sangat dikenal oleh Raisa dan membuatnya benar-benar sangat terkejut.
"Tuan Sastro, untuk apa Anda menyuruh Kak Kelvin mengajak saya ke sini dan apakah rumah ini adalah milik Tuan?" Tanya Raisa.
Ya orang yang memerintahkan asistennya, Kelvin untuk membawa Raisa ke kediamannya itu adalah Sastro. Ia sangat ingin bertemu Raisa karena berniat akan membongkar identitasnya di depan Raisa saat ini. Lalu Sastro pun memberi gestur agar Kelvin keluar, sehingga asistennya itu pun langsung saja keluar meninggalkan Sastro dan Raisa.
"Ya Raisa, saya adalah pemilik rumah tua ini tetapi saya sudah jarang menempatinya. Setelah kemarin rumah ini sempat dimiliki orang lain, pada akhirnya saya bisa memilikinya lagi. Karena rumah ini banyak menyimpan kenangan di saat saya masih bersama dengan istri yang saya cintai. Saya tidak menyangka jika istri saya akan pergi secepat itu dan meninggalkan anak kami bersama ibunya," ucap Sastro, sehingga membuat Raisa pun langsung mengerti.
"Jadi benar Anda adalah Ayahku?" Tanya Raisa langsung saja.
"Ya kau benar. Aku adalah Ayahmu Raisa. Bahkan Ayah sudah mengetahuinya sebelum kau mengetahui hal itu. Maafkan Ayah Raisa, Ayah terlalu pengecut untuk mengakuinya karena Ayah tidak mau mengganggu momen kebahagiaanmu disaat Ayah mendengar kau akan menikah. Ayah tidak mau merusaknya, Ayah tidak mau jika kau tahu bahwa saya adalah Ayah kandungmu lalu tiba-tiba saja kau membenci Ayah dan Ayah tidak bisa melihat pernikahan Anak ayah sendiri. Maafkan Ayah Raisa," ucap Sastro yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
Raisa pun tak kalah sedihnya, ia benar-benar tak menyangka dan sangat sulit untuk menerima jika ayah kandungnya itu adalah orang yang selama ini sudah dikenalnya.
__ADS_1
"Tidak, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?Bagaimana mungkin Ayah yang selama ini aku cari adalah orang yang selama ini ada di dekatku, orang yang sudah baik denganku dan sudah seperti ayah kandungku sendiri," ucap Raisa yang menangis sesenggukan.
"Raisa, percaya tak percaya tapi saya adalah Ayahmu, kau adalah Anak Ayah. Maafkan Ayah Raisa, dulu Ayah meninggalkanmu dan Ibumu semua karena permintaan orang tua Ayah. Karena beliau mengancam akan mencelakai Ibumu, kau dan Nenekmu jika Ayah tidak mengikuti apa keinginannya. Ayah tidak punya pilihan lain Raisa, Ayah tidak ingin kalian terluka sehingga Ayah terpaksa mengikuti perintahnya dan menikah dengan wanita pilihan orang tua Ayah. Tetapi ternyata setelah Ayah menikah dengan janda yang sudah memiliki anak satu yaitu Kenzie, tidak lama kemudian dia juga meninggal karena kecelakaan. Sehingga membuat Ayah pun sendiri dan memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun lagi. Begitu juga dengan orang tua Ayah yang tidak lama kemudian juga sudah tiada. Sehingga Ayah sudah bebas dan Ayah bisa pulang ke Indonesia untuk mencari Anak Ayah, Ayah sudah sangat lama mencarimu Raisa, tolong maafkan Ayah. Apakah kau mau menerima Ayah?" Ucap Sastro yang kini pun mendekati Anaknya tersebut.
Raisa hanya menatapnya nanar, ia tak tahu harus menjawab apa. Tetapi dengan apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya saat ini, rasanya Raisa juga tidak mungkin bisa menolak kehadiran ayahnya. Karena ia juga sangat membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaran hatinya.
"Ayah," ucap Raisa, hingga tangisnya pun pecah begitu saja.
Lalu keduanya saling berpelukan dan sama-sama saling menangis di dalam pelukan tersebut.
"Raisa, Ayah janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Ayah juga tidak akan pernah membiarkanmu disakiti oleh siapapun. Ayah sudah tahu tentang kabar gagalnya pernikahanmu dan Diego. Ayah cukup prihatin, tapi kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi ya, jangan sedih Nak karena masih banyak pria lain yang lebih pantas untukmu," ucap Sastro sehingga Raisa pun kembali menangis, untungnya ada ayahnya tersebut yang membuat perasaannya lebih tenang.
*****
Setelah perasaannya lebih tenang, kini Raisa pun kembali ke kediamannya dan merasa cukup terkejut dengan kondisi rumahnya yang sedikit berantakan. Hingga di saat itu pun ada tetangga yang memberitahu bahwa tadi Diego lah yang datang dan menceritakan apa yang terjadi di rumahnya tersebut.
Lalu Raisa pun meraih ponselnya yang kini diletakkan oleh Diego di atas nakas, lalu menghubungi pria tersebut dan mengajaknya untuk bertemu di suatu cafe yang tidak jauh dari rumahnya.
------
"Sayang, aku benar-benar senang karena akhirnya kau menghubungiku juga. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau itu dari mana saja sih, kenapa kau tidak memberi kabar sama sekali dan aku minta maaf atas apa yang terjadi di rumahmu tadi. Aku sudah membuat kekacauan karena aku merasa khawatir," ucap Diego sembari menggenggam erat kedua tangan Raisa di atas meja.
"Tidak apa-apa Kak, aku minta maaf sudah membuatmu mencemaskanku, tapi aku baik-baik saja kok. Tadi aku ada keperluan dan memang lupa membawa ponsel," terang Raisa.
"Oke tidak masalah, aku juga sudah lega melihat keadaanmu saat ini. Sayang, maaf ya atas ucapan Mama tadi. Tapi aku tidak peduli aku akan tetap memperjuangkan cinta kita dan pernikahan kita yang tinggal 2 hari lagi akan tetap berjalan dengan atau tanpa restu Mama. Kita akan tetap menikah," ucap Diego dengan sangat yakin.
Raisa menggelengkan kepalanya dan melepaskan genggaman tangan Diego, " Maaf, aku tidak bisa Kak. Kita harus membatalkan pernikahan itu, aku tidak bisa menikah tanpa restu Mama," ucap Raisa yang membuat Diego tersentak.
Bersambung …
__ADS_1