Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Kepergian Sang Nenek


__ADS_3

Meskipun saat ini sang nenek sudah selesai dikebumikan, tetapi Raisa masih merasa tak percaya jika ia sudah kehilangan satu-satunya orang yang dicintainya. Sehingga Raisa tampak lemah dan tak bersemangat, bahkan tubuhnya terasa sangat lemah karena ia sama sekali tidak mau minum ataupun makan, perutnya benar-benar belum terisi sejak tadi malam.


Saat ini semua orang yang ikut mengantar kepergian nenek Sania sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya telah berangsur pulang, satu persatu datang menghampiri Raisa untuk mengucapkan belasungkawa dan juga memberikannya semangat untuk tetap kuat. Baik tetangga Raisa yang baru maupun tetangga Raisa yang berada di rumah lamanya. Hingga saat ini hanya tinggal Raisa yang ditemani oleh Ratmi, Diego dan Denis yang masih berada di lokasi pemakaman


"Raisa, Mbak pulang ya. Kamu harus tetap kuat dan sabar, jangan terus menangisi kepergian Nenekmu. Pasti Nenek Sania juga tidak ingin melihatmu seperti ini terus," ucap Ratmi yang merangkul tubuh Raisa sembari menepuk-nepuk pelan pundaknya.


"Iya Mbak, terimakasih banyak ya karena sudah banyak membantuku selama ini untuk menjaga Nenek bahkan sampai Nenek menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku benar-benar mengucapkan terimakasih Mbak," ucap Raisa diiringi air matanya yang terus saja mengalir bak air sungai.


"Iya Raisa sama-sama. Jujur Mbak juga merasa sangat senang bisa menjaga dan membantumu merawat Nenek Sania. Kau tahu sendiri Mbak juga sudah tidak memiliki keluarga, jadi Mbak sudah menganggap Nenek Sania sebagai ibu Mbak, begitu juga denganmu yang sudah Mbak anggap sebagai Adik Mbak. Nenek Sania dan juga kau adalah orang yang sangat baik, Mbak sangat beruntung bisa mengenal kalian," ungkap Ratmi.


"Iya Mbak, terimakasih sekali lagi," ucap Raisa.


"Iya Raisa, Mbak pulang dulu ya," ucap Ratmi yang juga berpamitan kepada Diego dan Denis, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan pemakaman.


"Raisa, ayo kita pulang. Kau tidak boleh begini terus, bukankah setiap orang yang bernyawa pasti akan pergi, hanya tinggal menunggu waktunya saja. Aku tahu bagaimana perasaanmu Raisa, karena dulu aku juga pernah merasakannya di saat aku kehilangan Ayahku," ucap Diego yang sedari tadi berada di samping Raisa.


"Apa kau tahu Tuan, baru kali ini aku merasa kehilangan orang yang benar-benar aku cintai dan paling berharga di dalam hidupku. Karena aku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuaku atau melihat mereka pergi sekalipun. Kenapa di saat hanya ada Nenek satu-satunya keluarga yang aku miliki, dia harus pergi meninggalkanku. Sekarang aku hanya sebatang kara, aku sendirian Tuan," ucap Raisa dengan tangis sesenggukan.


"Raisa, kau tidak sendiri. Ada aku Denis-"


"Ada Mama juga," ucap seorang wanita paruh baya yang membuat ucapan Diego terhenti.


Wanita tersebut adalah Siska yang baru saja tiba ke pemakaman, lalu menghampiri mereka.


"Oma … !" Teriak Denis yang langsung memeluk neneknya tersebut.


"Iya Sayang," jawab Siska seraya membalas pelukan dari cucunya. "Raisa, Diego, maaf ya Mama terlambat. Setelah mendengar kabar dari Diego tadi Mama buru-buru langsung pulang. Tapi kalian tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi perjalanannya, jadi Mama baru bisa datang ke sini sekarang," ucapnya.


"Tidak apa-apa Nyonya, terimakasih karena sudah menyempatkan hadir di sini. Nenek sudah tidak ada Nyonya," ucap Raisa.


"Sayang, kau jangan menangis seperti itu. Kau harus kuat, kau harus sabar. Pasti Nenekmu sangat ingin melihat kau bahagia, Nenek Sania pasti akan ikut merasa sedih jika melihatku juga sedih Raisa. Benar apa yang dikatakan Diego tadi bahwa kau tidak sendirian. Kau masih punya Diego, Denis dan juga saya. Saya tadi mendengar bagaimana kau menyebut tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga. Kau tidak memiliki orang tua dan sekarang Nenekmu juga telah tiada. Raisa, mulai sekarang kau harus memanggilku dekat sebutan Mama," ucap Siska, ia sudah tak tahan lagi membendung air matanya hingga menetes begitu saja.


Raisa merasa sangat terharu, ia tak menyangka jika nyonyanya itu bisa berkata seperti itu padanya. Raisa hanya bisa memaksa dirinya untuk tersenyum lalu keduanya saling berpelukan. Raisa menangis sejadi jadinya di dalam pelukan seorang ibu yang tak memiliki ikatan darah dengannya tetapi memintanya untuk memanggil dengan sebutan mama

__ADS_1


"Kenapa kau cengeng sekali. Jika kau menangis seperti itu berarti kau kalah denganku. Lihat aku saja bisa kuat, aku tidak menangis," celetuk Denis. Padahal matanya juga terlihat memerah karena tadi ia sempat menangis, ikut merasakan kehilangan Nenek Sania.


"Siapa bilang aku cengeng, aku tidak akan menangis lagi dan aku tidak akan kalah darimu," ucap Raisa yang mencolek pipi Denis.


Lalu Denis pun merangkul Raisa layaknya kepada seorang ibu. Setelah itu mereka berempat pun pergi meninggalkan pemakaman menuju ke rumah kontrakan Raisa.


*****


Sudah tiga hari lamanya semenjak kepergian sang nenek. Raisa sudah mulai bisa menerima meskipun terkadang ia selalu saja menangis jika mengingat neneknya yang saat ini telah tiada. Di saat pulang kerja ia selalu merasa kesepian dan sendiri, karena biasanya selalu ada sang nenek yang menemaninya.


Karena hari ini merupakan hari libur dan Denis tidak bersekolah, Diego dan juga Siska pun berada di rumah, sehingga Raisa memilih untuk libur hari ini. Ia tampak mengemasi barang-barangnya karena akan kembali ke rumah lama yang sudah selesai direnovasi. Apalagi karena pandangan buruk dari tetangga terhadapnya yang membuat Raisa semakin tidak betah berada di sana. Lagipula rumah mereka yang lama lebih banyak menyimpan sejuta kenangannya bersama sang nenek daripada di rumah kontrakan yang baru saja ditinggalinya selama 1 bulan.


Tok … tok … tok. …


Terdengar suara ketukan pintu, sehingga Raisa pun menghentikan aktivitasnya sejenak dan bergegas membukakan pintu tersebut yang ternyata adalah Diego dan Denis yang datang.


"Raisa, apa kau sudah selesai mengemasi barangnya? Biar aku bantu ya untuk pindahan hari ini," ucap Diego.


"Terimakasih ya, seharusnya kalian berdua tidak perlu repot-repot datang ke sini. Barang-barangnya tidak banyak kok karena 'kan aku hanya membawa sebagian yang penting saja ke sini," ucap Raisa.


"Tidak apa-apa Raisa. Oh ya lalu apa mobil angkutan barangnya sudah kau hubungi?" Tanya Diego.


Raisa menggelengkan kepalanya dan tampak lesu, karena ia terus saja memikirkan sang nenek tentunya banyak hal yang ia lupakan.


"Ya sudah biar aku saja yang menghubunginya," ucap Diego.


Di saat Diego sedang menelpon, tiba-tiba saja ada 3 orang ibu-ibu yang merupakan tetangga Raisa sedang berbicara dan melihat ke arahnya, karena di saat itu memang pintu rumah Raisa terbuka lebar.


"Lihat saja tuh Raisa, neneknya baru saja meninggal 3 hari yang lalu tapi dia sudah membawa pria masuk ke dalam rumahnya. Saya yakin pasti itu adalah pria duda yang kumpul kebo dengannya," ucap salah satu diantara 3 orang ibu-ibu itu.


"Iya kasihan sekali jika neneknya tahu kelakuan cucunya seperti itu," sahut ibu yang lain.


"Ya untung saja neneknya sudah pergi, jadi Nenek Sania sudah bisa pergi dengan tenang, tidak menanggung malu karena akibat perbuatan cucunya itu," sambung yang lainnya.

__ADS_1


Sehingga Diego yang mendengarnya itu pun langsung saja keluar dari rumah.


"Maaf Ibu-Ibu apa mulut kalian bertiga ini bisa ditutup? Jika tidak biar aku yang memaksa untuk menutupnya," tukas Diego dengan wajah datar.


"Ya ampun Mas mentang-mentang orang kaya apa kau pikir kau bisa berkuasa. Kau itu hanya pasangan kumpul kebo Raisa 'kan, jadi tidak usah berlaga di sini, ini di kampung orang," hardik ibu 1.


"Aku bilang diam, diam! Aku bisa saja menghancurkan kalian semua saat ini juga, aku juga bisa meratakan semua rumah di kampung kalian ini jika kalian masih berani berbicara seperti tentang aku dan Raisa. Kalian tidak tahu hal yang sebenarnya, jadi jangan asal bicara" Bentak Diego yang membuat 3 ibu itu pun bungkam, tapi tetap saja nyinyir di belakangnya.


Raisa dan Denis yang mendengar suara lantang Diego itu pun keluar dari rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa Tuan?" Tanya Raisa kebingungan.


"Eh lihat tuh yang perempuannya keluar," cibir ibu 2.


"Kau tanyakan saja langsung dengan 3 Ibu-Ibu yang mulutnya seperti sampah ini. Pasti mereka juga 'kan yang kemarin sudah menggosipkanmu sampai kau terlihat tertekan. Aku tidak tahu ya kenapa ibu-ibu ini bisa percaya begitu saja dengan ucapan orang yang tidak jelas bahkan mereka belum tahu kebenarannya," tukas Diego.


"Alah memang seperti itu 'kan. Buktinya sekarang saja kau berada di sini, untuk apalagi kalau bukan untuk menemui pasangan kumpul kebomu ini. Pakai bawa anak segala, itu hanya akal-akalan kalian berdua saja 'kan," kata ibu 3, membuat Diego mengepal erat kedua tangannya karena merasa sangat emosi. Menurutnya ibu-ibu tersebut sudah sangat keterlaluan.


"Aku bisa saja melaporkan kalian semua ke polisi atas pencemaran nama baik saat ini juga, karena kalian sudah berbicara sembarangan tanpa bukti yang jelas. Mungkin kalian di sini belum tahu siapa aku, tapi aku bisa membuktikan ucapanku ini," ucap Diego dengan tatapan tajam, yang membuat ibu-ibu tadi tampak ketakutan.


"Sudahlah Tuan, aku mohon jangan diperpanjang lagi. Dan Ibu-Ibu, terserah apa yang mau kalian katakan tentangku. Tapi tolong jangan bawa-bawa Tuan Diego, dia adalah Bos di tempatku bekerja dan apa yang kalian katakan itu tidak benar, itu adalah fitnah yang aku tidak tahu siapa yang menyebarkan fitnah itu. Lagipula kalian tenang saja, aku juga akan pindah dari sini hari ini juga, aku sedang mengemasi barang-barangku dan mereka datang untuk membantuku. Jadi setelah ini tidak akan ada lagi orang yang menurut kalian telah mencemarkan nama baik kampung ini," ucap Raisa tanpa ada yang menjawab.


Ibu-ibu tersebut malah tampak pergi, sehingga Raisa, Diego dan Denis pun kembali masuk ke dalam rumah.


------


"Tuan, seharusnya kau tidak perlu meladeni Ibu-Ibu tadi. Mereka itu memang sengaja ingin mencari gara-gara," kata Raisa.


"Mulut mereka itu tidak bisa dibiarkan, mereka benar-benar sudah sangat keterlaluan Raisa," tukas Diego.


"Sudahlah Tuan, aku juga akan pindah dari sini, jadi tidak perlu diperpanjang lagi. Oh ya, aku mau melanjutkan mengemas barang-barang Nenek dulu," ucap Raisa lalu kembali ke kamar neneknya dan mengemasi barang-barang yang ada di dalam nakas.


Di saat itu Raisa menemukan selembar kertas dan juga sebuah foto yang ternyata itu adalah surat dan juga pesan yang telah ditinggalkan Nenek Sania untuknya.

__ADS_1


__ADS_2