Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Quality Time.


__ADS_3

Hingga kini mereka pun telah tiba di tempat yang Diego maksud, Raisa merasa keheranan karena di saat itu Diego membawa mereka ke tepi danau yang juga terdapat restoran di sana.


"Kak kenapa kau mengajak kami ke sini?" Tanya Raisa.


"Ayo kita ke sana saja, nanti kau juga akan tahu," ajak Diego. "Ramzi jangan lupa ya." Diego memberikan kode kepada Bodyguard-nya tersebut.


"Baik Tuan," jawab Ramzi.


"Pa, kenapa malam-malam kita ke tempat seperti ini. Aku mau ke tempat permainan Pa," ucap Denis.


"Denis, kau lupa ya Papa bilang apa tadi, nanti setelah dari sini baru kita ke tempat permainannya. Yang penting kau harus ikut dulu, nanti kau pasti akan senang," ucap Diego.


"Iya Pa," jawab Denis.


"Sayang, sini biar aku saja yang menggendong Diesa," pinta Diego, sehingga dengan senang hati Raisa pun memberi sang bayi kepada ayahnya.


Lalu mereka berempat melangkahkan kaki menuju ke suatu tempat. Raisa merasa sangat kagum karena melihat jalan kecil yang mereka lewati itu dihiasi lampu kerlap-kerlip yang terlihat sangat indah. Mereka terus saja berjalan hingga tiba di tepi danau dengan pemandangan yang tak kalah takjubnya, membuat Raisa begitu tercengang melihatnya.


"Sayang, kenapa bengong?" Tanya Diego yang melihat Raisa tampak melamun serta langkahnya terhenti.


"Wah … tempatnya cantik sekali, ini tempat apa Ayah?" Tanya Denis.


"Iya Kak, ini tempat apa sebenarnya?" Tanya Raisa pula.


"Denis, coba ingat lagi tadi Papa bilang apa padamu," tukas Diego.


"Ada apa? Kenapa kalian berdua misterius sekali," tanya Raisa yang menatap curiga.


"Rahasia, nanti kau juga akan tahu," jawab Diego.


"Oh iya Pa, aku baru ingat. Mungkin karena tadi aku banyak mendengar omongan kalian di mobil, jadi aku kurang fokus," kata Denis.


"Kau ini ya, sejak kapan kau pintar beralasan seperti ini," hardik Denis.


"Keturunan Papanya ya begitulah," sindir Raisa.


"Itu namanya mencari jalan aman," tukas Diego.


"Ya seperti itulah Kak, Anakmu memang pintar. Keturunan siapa lagi kalau bukan keturunanmu," ujar Raisa.


"Ya kalau pintar memang keturunan aku, tampannya juga 'kan," ucap Diego.


"Narsis," ucap Raisa tersenyum.


"Mama dan Papa jangan berdebat terus dong, ayo kita ke sana. Berdiri di sini terus capek tahu, banyak nyamuk lagi," protes Denis.


"Ya sudah ayo kita," ajak Diego.


"Tunggu, kau belum bilang ini tempat apa dan kenapa kau membawa kami ke sini Kak?" Tanya Raisa.


"Sayang, seperti yang kau lihat di sana ada sebuah pondok tepi danau yang dihias dan akan dijadikan tempat quality time keluarga kecil kita," jawab Diego.


"Oh … jadi ini yang kau katakan quality time tadi, kau mengajak kami makan malam di sini," ujar Raisa.


"Ya benar, memangnya kau tidak menyukainya?" Tanya Diego.

__ADS_1


"Bukan seperti itu maksudku Kak, tentu saja aku suka. Maksudku dalam rangka kau sampai menyiapkan ini semua, tempat sebagus ini dan terlihat sangat romantis," kata Raisa.


"Sudah ayo ke sana dulu, nanti akan aku beritahu kenapa aku menyiapkan ini semuanya," ucap Diego.


Lalu Diego dan keluarga kecilnya itu pun berjalan menuju ke tepi danau tempat dimana sudah tersedia satu buah meja dan tiga buah kursi untuk mereka di dalam pondok kecil tersebut. Dan di saat itu pula terlihat dua orang waiters restoran yang mengantar makanan untuk mereka, dua waiters itu langsung saja menyajikan makanan yang masih tertutup itu ke atas meja, sehingga belum diketahui makanan apa yang berada di balik tutup tersebut.


Tidak lama kemudian seseorang datang dan langsung saja memainkan musik biola, siap menemani makan malam mereka saat ini.


"Sayang, selamat ulang tahun ya," ucap Diego tiba-tiba, yang membuat Raisa merasa sangat terkejut.


"Kak, kau tahu dari mana hari ini aku ulang tahun? Bahkan aku sendiri melupakannya," ucap Raisa.


"Tentu saja aku tahu. Meskipun kau melupakannya, aku tidak akan melupakan hari spesial istri tercintaku," ucap Diego seraya menggenggam lembut tangan Raisa.


"Mama, selamat ulang tahun ya. Semoga Mama panjang umur, sehat selalu dan selalu menjadi Mama yang terbaik untuk aku dan Adik Diesa. Terima kasih banyak ya Ma sudah mau menjadi Mamaku dan menyayangiku seperti anak sendiri, aku mencintai Mama. Aku janji setelah aku dewasa nanti, aku akan selalu melindungi Mama," ucap Denis yang membuat Raisa begitu terharu.


"Terima kasih banyak ya Sayang atas doanya, Mama juga mencintaimu," ucap Raisa lalu keduanya pun berpelukan erat sejenak.


"Oh iya Ma, ini kado dariku," ucap Denis yang menyerahkan sebuah kota kecil kepada ibunya tersebut.


"Ini apa Sayang?" Tanya Raisa menerimanya.


"Buka saja Ma, nanti Mama akan tahu," ucap Denis.


Lalu segera saja Raisa membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah jepit rambut bunga matahari yang begitu indah.


"Terima kasih banyak ya Sayang, tapi dari mana kau mendapatkan ini?" Tanya Raisa.


"Meskipun jepit rambut ini Om Aron yang membelikannya, tapi ini permintaanku Ma dan belinya juga pakai uang jajanku sendiri. Aku sama sekali tidak meminta dari Papa ataupun Oma," jawab Denis.


"Karena bunga matahari ini sangat indah sama seperti Mama," jawab Denis yang terdengar sangat menggombal.


"Uh, anak kecil. Dari mana kau belajar menggombal seperti itu, dari Papa ya?" Goda Raisa sembari mencubit gemas pipi anak laki-lakinya tersebut.


"Enak saja, aku sama sekali tidak pernah mengajarinya untuk menggombalimu Sayang. Denis, kau jangan coba-coba merayu Mama ya, Mama itu milik Papa," tukas Diego.


"Aku tidak merayu Mama Pa. Aku juga tahu Mama Raisa istri Papa tapi bukan berarti Mama adalah milik Papa saja, Mama itu milik aku dan Adik Diesa juga," kata Denis dengan pintarnya.


"Uh … terima kasih banyak ya Sayang, Mama benar-benar merasa sangat terharu dan Mama juga senang menerima kado ini," ucap Raisa.


Lalu Denis pun memakaikan jepit rambut tersebut ke rambut Raisa dan keduanya kembali berpelukan sejenak. Diego sendiri ikut merasa sangat bahagia melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.


"Denis, kau benar-benar luar biasa ya. Bahkan Papa saja belum memberikan hadiah tapi kau sudah terlebih dulu memberi hadiah untuk Mama," kata Diego


"Papa terlalu lama," sahut Denis.


"Kau ini benar-benar sangat yang menyebalkan ya," tukas Diego.


"Sudah, sudah, tidak perlu berdebat. Sekarang mana hadiah untukku Kak?" Tanya Raisa kepada suaminya itu.


"Kalau begitu coba kau buka dulu apa yang ada di depan matamu saat ini," titah Diego, sehingga langsung saja Raisa menuruti perintah Diego.


Raisa merasa sangat terkejut karena ternyata dibalik tutup tersebut adalah kue ulang tahun untuknya dan bertuliskan.


"Selamat ulang tahun istriku tercinta, kami menyayangimu. Digo, Denis, dan Diesa."

__ADS_1


Lalu Diego pun menghidupkan lilin pada kue tersebut.


"Ayo Ma tiup lilinnya," kata Denis.


"Tunggu, buat permohonan dulu baru tiup lilinnya," kata Diego.


Raisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu membuat permohonan dan segera meniup lilin tersebut.


"Hore … !"


Plok … plok … plok …


Terdengar suara sorakan serta tepuk tangan dari Denis dan Diego, membuat Raisa benar-benar merasa sangat bahagia dan tidak mampu lagi untuk berkata-kata.


"Sayang, terima kasih banyak karena kau telah hadir di dalam hidupku. Mengisi kekosongan hatiku, menjadi ibu dari Anak-Anakku dan juga selalu sabar, senantiasa menjagaku dan juga Anak-Anak kita. Tak hanya itu saja, kau juga begitu baik terhadap Mama dan menganggap Mama seperti Ibu kandungmu sendiri. Terima kasih banyak ya Sayang, sekali lagi selamat ulang tahun Sayang. Doanya semoga kau selalu bahagia bersamaku, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah berubah ataupun berhenti untuk mencintaiku ya," ucap Diego lalu mencium kening istrinya tersebut dengan sangat mesra.


"Iya Kak. Terima kasih banyak ya Sayang, aku tidak akan pernah melupakan kejutan ulang tahun ini. Aku benar-benar merasa sangat bahagia Kak, rasa bahagia itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yang pasti aku sangat beruntung karena telah memiliki keluarga seperti kalian. Aku juga sangat mencintaimu, Denis, Diesa, Mama, Ayah. Kalian adalah anugerah terindah yang pernah aku miliki. Terima kasih juga ya Kak karena kau telah memberikanku kebahagiaan ini," ucap Raisa dengan air matanya yang menetes karena sudah tidak dapat lagi untuk membendungnya.


"Jangan menangis Sayang, kau harus senang karena hari ini adalah hari bahagiamu," ucap Diego seraya mengusap air mata Raisa.


"Aku terharu bahagia Kak," ungkap Raisa dan tersenyum


"Nah kalau tersenyum seperti itu kau kelihatan lebih cantik. Oh iya ini kado untukmu," ucap Diego sembari menyerahkan sebuah kotak dan langsung membukakannya untuk Raisa. Ternyata isinya adalah sebuah kalung yang sangat indah.


"Terima kasih banyak ya Kak, kalungnya bagus sekali," ucap Raisa.


"Sama-sama Sayang, syukurlah kalau kau suka. Aku pakaikan ya," ucap Diego.


"Iya Kak," jawab Raisa lalu Digo pun memakaikan kalung itu ke leher istrinya tersebut.


Di kala itu bukan hanya Diego dan Denis saja yang tersenyum bahagia, tetapi Diesa yang berada di dalam gendongan Raisa itupun ikut tersenyum seolah merasakan kebahagiaan mereka saat ini.


"Ya sudah ayo kita makan, sepertinya jagoan Papa ini sudah sangat lapar," ucap Diego.


"Iya Papa benar, aku memang sudah sangat lapar," sahut Denis apa adanya.


"Kasihan sekali anak Mama, ya sudah kalau begitu Kak Denis dan Papa makan saja dulu ya. Mama akan bergantian dengan Papa makannya, karena harus ada yang memegang Adik Diesa," ucap Raisa.


"Sebentar ya Sayang," ucap Digo dan di saat itu terlihat seseorang yang datang membawa baby stroller untuk Diesa.


Ya Diego memang telah mempersiapkan semuanya agar keluarganya itu merasa lebih nyaman. Baby stroller tersebut juga sudah dilengkapi dengan anti nyamuk sehingga sudah pasti Diesa akan aman berada di dalam sana, Raisa juga bisa menikmati makanan dengan tenang bersama dengan suami dan putranya itu.


_____


Setelah menikmati makan malam bersama, Diego dan keluarganya itu pun pergi meninggalkan restoran dan akan kembali ke kediaman Abimana.


"Pa, bukannya tadi kata Papa mau mengajakku ke tempat bermain ya setelah pulang dari restoran?" Denis menagih janji saat mereka berada di perjalanan.


Tadinya memang seperti itu, tapi ini sudah kemalaman Sayang. Kau juga sudah mengantuk 'kan, begitu juga dengan Adikmu yang sedari tadi sudah rewel karena sudah sangat ingin tidur di kasurnya. Lagi pula kalau kita pergi bermain ke Timezone saat ini, mall juga sudah mau tutup. Jadi bagaimana kalau kita langsung pulang saja sekarang tapi besok 'kan weekend dan Papa juga tidak bekerja, baru kita akan pergi ke wahana permainan. Apa kau mau?" Kata Diego.


"Mau Pa. Hore … terima kasih ya Pa," ucap Denis bersorak gembira.


"Iya, sama-sama Sayang," jawab Diego.


"Terima kasih banyak Tuhan karena telah memberikanku suami, Anak, keluarga dan juga orang-orang di sekeliling yang begitu baik padaku. Aku percaya jika dibalik semua cobaanmu, jika aku bisa menjalaninya dengan ikhlas maka kebahagiaan itu pasti akan ada. Aku hanya berharap jika aku bisa selamanya bersama dengan mereka baik dalam suka maupun duka," batin Raisa tersenyum bahagia.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2