Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Membatalkan Pernikahan.


__ADS_3

Diego mencubit dan menampar pipinya berulang kali, berharap jika apa yang terjadi saat di restoran tadi adalah sebuah mimpi. Akan tetapi pada kenyataannya ia merasakan sakit yang itu artinya semua adalah kenyataan. Ia benar-benar tak menyangka jika Raisa meminta untuk membatalkan pernikahan, bahkan di saat ia memohon pun Raisa sama sekali tetap kekeh dengan keputusannya itu.


"Kak, mulai sekarang tolong jangan ganggu aku lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing dan mudah-mudahan kau bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku."


"Argh … !"


Diego berteriak di saat mengingat ucapan Raisa yang selalu saja terngiang-ngiang di dalam pikirannya itu.


Chit …


Hingga tiba-tiba saja Diego memberhentikan mobilnya secara mendadak karena hampir menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang jalan melewati zebra cross.


"Argh …


Diego kembali berteriak sembari memukul setir mobilnya, ia menangis dan juga tertawa sudah seperti orang gila yang hilang kesadarannya. Ia masih tak menyangka jika hubungannya dengan Raisa akan berakhir begitu saja hanya karena omongan 2 wanita yang telah mempengaruhi ibunya tersebut. Dalam hati ia bersumpah akan membalas perbuatan orang-orang yang sudah menghancurkan hubungannya itu.


------


Kini Diego pun pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat kecewa, pikirannya benar-benar kacau serta penampilannya sudah tak karuan karena ia terus saja memukul-mukul kepalanya sendiri serta mengacak-ngacak rambutnya itu.


Siska yang melihat Diego baru saja tiba di rumah dengan wajahnya yang kusut, membuatnya segera menghampiri anaknya tersebut.


"Diego, kau dari mana saja? Kenapa penampilanmu tak karuan seperti itu?" Tanya Siska.


"Sudah jelas ini semua karena Mama dan Mama masih bisa bertanya," tukas Diego yang menatap tajam ke arah ibunya itu.


"Karena Mama? Apa maksudmu Diego?" Tanya Siska tak mengerti.

__ADS_1


"Sudah lah Ma, aku capek," ucap Diego ketus lalu pergi meninggalkan Siska begitu saja.


"Diego, kenapa kau kurang ajar sekali terhadap Mama. Mama sedang berbicara padamu Diego!" Teriak Siska tetapi sama sekali tak digubris oleh anaknya tersebut.


Lalu Diego pun segera naik ke lantai atas dan menuju ke kamarnya. Ia juga membanting pintu kamarnya itu dengan sangat keras sehingga terdengar sampai ke lantai bawah.


Tak hanya itu saja, Diego juga menghancurkan barang-barang yang di atas nakas, termasuk fotonya bersama dengan Raisa yang pertama kali diambil sebagai kenang-kenangan.


"Kenapa kau begitu tega menghancurkan impianku Raisa, padahal aku sangat mencintaimu, aku sudah melabuhkan hatiku yang terakhir hanya untukmu. Aku sangat berharap kita bisa bersama selamanya, tapi kenapa kau menghancurkan semuanya? Argh … !" Teriak Diego yang begitu histeris.


Sehingga Siska yang tadinya ingin menghampiri Diego pun mengurungkan niatnya dan hanya berdiri di depan pintu.


"Maafkan Mama Diego, ini semua demi kebaikanmu. Mama yakin lukamu itu pasti akan segera sembuh, tidak selamanya kau akan seperti itu," gumam Siska, lalu ia pun pergi meninggalkan kamar anaknya tersebut.


*****


Meskipun 1 bulan setelah perpisahan itu Diego tampak terpuruk dan terlihat tidak bersemangat, jangankan untuk mengurus perusahaan, untuk mengurus dirinya sendiri saja ia terkadang enggan, seperti hidup segan mati tak mau. Akan tetapi pada akhirnya dengan dorongan Siska yang terus saja membujuk, apalagi demi perusahaan yang merupakan peninggalan keluarganya itu, ditambah dengan kondisi Siska yang sakit-sakitan karena melihat anaknya yang terpuruk, membuat Diego pun kembali bangkit selama 1 bulan terakhir ini. Ia berusaha untuk melupakan Raisa semaksimal mungkin, karena bagaimanapun ia berupaya mengejar Raisa, wanita tersebut sudah tak bisa digapainya lagi. Raisa entah pergi ke mana, sampai sekarang Diego belum bisa menemukannya.


*****


Sementara itu, kondisi Raisa saat ini terlihat sangat lemah seperti yang biasa dialami oleh ibu-ibu hamil di usia kehamilan awal pada umumnya. Ya saat ini Raisa telah mengandung dan usia kandungannya sudah memasuki usia 8 minggu. Semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan Diego waktu itu, seminggu kemudian tiba-tiba saja ia pingsan dan setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata ia telah mengandung anak Diego.


Akan tetapi Raisa tetap kekeh pada pendiriannya untuk tak menghubungi pria itu lagi, sehingga ia pun sudah berniat akan membesarkan anaknya sendirian.


"Sayang, hari ini Ayah akan pergi ke luar kota dan selama 2 hari di sam karena ada urusan penting, Ayah harus menanganinya langsung. Kau tidak apa-apa 'kan jika Ayah tinggal, jika keadaanmu tidak seperti ini pasti Ayah sudah mengajakmu untuk sekalian liburan," ucap Sastro yang menghampiri Raisa di dalam kamarnya.


"Iya Yah, Ayah pergi saja. Aku tidak apa-apa kok, 'kan di rumah juga ada Bibi, ada Suster dan ada yang lain juga. Aku tidak sendirian Yah," tukas Raisa

__ADS_1


Selama Raisa mengalami morning sickness, Sastro memang telah memberikannya perawat khusus untuk anaknya, agar ada yang selalu merawatnya dan juga sangat mengerti apa yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Baik dari kegiatan Raisa saat bangun tidur sampai Raisa tidur lagi di malam hari, suster tersebutlah yang merawatnya. Tentu saja Sastro juga membayar perawat tersebut dengan sangat mahal demi anak kesayangannya itu.


Sedangkan untuk segala kebutuhan Raisa yang lain seperti membuatkan makanan sesuai yang dianjurkan oleh suster dan juga mencuci pakaiannya, serta kebutuhan yang lain-lain ada ART yang selalu siap siaga, sehingga Raisa tidak pernah merasa sendirian di dalam rumah tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa kau harus segera menghubungi Ayah ya. Ayah tidak akan lama, setelah urusan Ayah di sana selesai maka Ayah akan langsung pulang," ucap Sastro.


"Iya Ayah. Ayah tenang saja ya, aku pasti akan baik-baik saja kok. Ayah juga harus hati-hati," ucap Raisa.


"Iya Sayang," jawab Sastro kalau mencium kening anaknya tersebut dengan lembut dan berlalu pergi.


Di saat itu pula Suster yang merawat Raisa masuk ke dalam kamar Raisa dengan membawa sarapan dan langsung mengurus segala keperluannya tersebut. Jika Raisa sedang tidak membutuhkan apa-apa atau ia hanya ingin istirahat, maka suster akan tetap berada di samping Raisa untuk menemaninya.


*****


Tok … tok … tok …


Terdengar suara ketukan pintu ruang direktur dan terlihat seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kau? Untuk apa lagi kau datang ke sini," tukas Diego yang sangat tidak suka di saat Clarissa ada di hadapannya.


"Diego, kenapa kau masih bersikap kasar seperti itu padaku? Padahal aku datang ke sini hanya ingin mengantar makan siang untukmu. Lagipula hubungan kita ini 'kan juga sudah direstui lagi oleh Mama, Mama tidak melarangku untuk mendekatimu, jadi kau tidak boleh bersikap seperti itu padaku," ujar Clarissa.


"Aku tidak peduli, meskipun Ibuku merestui hubungan kita tetapi aku sama sekali tidak menginginkanmu. Maka hubungan antara kita tidak akan pernah terjadi lagi. Apa kau pikir setelah apa yang terjadi dengan kita di masa lalu, kau tiba-tiba saja meminta pisah dan pergi meninggalkanku begitu saja, lalu tiba-tiba kau muncul kembali dan menghancurkan hubunganku dengan wanita yang aku cintai, aku bisa dengan mudah kembali lagi denganmu hah!" Ucap Diego yang menatap tajam.


"Lalu apalagi yang kau harapkan dari perempuan ja lang itu Diego. Raisa sudah pergi meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku yakin pasti saat ini dia sudah kabur dengan pria lain, karena dia itu wanita yang tidak cukup dengan 1 pria," ujar Clarissa.


"Tutup mulutmu! Jangan pernah menjelek-jelekkan Raisa karena kau tidak tahu apa-apa tentangnya," Bentak Diego dengan suara yang menggelegar, mengisi seluruh ruangan.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2