
Mendengar suara yang menegurnya, Kelvin pun langsung saja menoleh ke belakang dan tentunya ia sangat tahu siapa pemilik suara tersebut.
"A-Ayah kenapa Ayah bisa ada di sini?" Tanya kelvin yang melihat Sastro ada dibelakangnya, sehingga Kelvin pun mendekati pria paruh baya itu.
"Memangnya kenapa Kelvin? Apakah Ayah tidak boleh datang ke perusahaanku sendiri, apa Ayah tidak boleh melihat pekerjaan Anak Ayah?" Sastro menimpali beberapa pertanyaan.
"Bukan seperti itu Ayah, tapi bukankah tadi Ayah mengatakan sedang tidak enak badan? Jadi lebih baik Ayah istirahat saja di rumah," ujar Kelvin yang mencemaskan ayahnya itu.
"Ayah sudah baik-baik saja dan Ayah sangat bosan berada di rumah. Tadi Ayah menemui rekan lama dan kebetulan melewati perusahaan, jadi Ayah mampir sebentar ke sini untuk melihat bagaimana perkembangan proyek yang sedang kau kerjakan itu, sudah sampai di mana dan ternyata kau itu benar-benar hebat ya Kelvin. Tanpa campur tangan Ayah sama sekali, kau mampu bekerja sampai sejauh ini. Ayah benar-benar bangga padamu," ucap Sastro.
"Terima Kasih Ayah, aku hanya melakukan yang terbaik sesuai kemampuanku. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang sudah Ayah berikan padaku. Aku senang jika Ayah puas dengan hasil kerjaku, tapi ini belum apa-apa karena ini belum berhasil 100% Ayah," ucap Kelvin.
"Sudah seperti ini apa kau tidak yakin juga akan berhasil?" tukas Sastro.
"Sebelum 100% maka aku belum mengatakannya ini berhasil," ujar Kelvin.
Sastro menganggukkan kepalanya, mengerti apa maksud anaknya angkatnya tersebut.
"Lalu apakah kau akan lembur lagi hari ini? Yang ayah lihat semua pegawai lain sudah pulang, hanya tinggal kau dan Satpam saja yang berada di perusahaan ini," kata Sastro.
"Ya Yah, masih ada sedikit pekerjaan lagi yang harus aku selesaikan. Tapi aku akan pulang sebelum makan malam, aku akan makan malam bersama Ayah," jawab Kelvin.
"Baguslah jika kau masih ingat denganku. Ya sudah sekarang lanjutkan saja pekerjaanmu, Ayah mau ke ruangan dulu," kata Sastro.
"Mana mungkin aku melupakan Ayah. Apa Ayah butuh sesuatu?" Tanya Kelvin.
"Tidak perlu, karena tadi Ayah baru saja minum di restoran. Ayah hanya mau ke ruangan sebentar lalu Ayah akan pulang," kata Sastro.
"Ya sudah Ayah hati-hati, selesai pekerjaan ini aku juga akan langsung pulang," ucap Kelvin.
"Ayah menunggumu," ucap Sastro dan segera saja ia pergi meninggalkan anak angkatnya tersebut di ruang kerjanya.
"Apa tadi aku sangat memalukan berjingkrak-jingkrak seperti itu dan dilihat oleh Ayah. Apa yang harus aku katakan, pasti nanti Ayah akan menanyakannya lagi?" gumam kelvin yang merasa sangat malu.
Akan tetapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur dan hal tersebut spontan terjadi begitu saja karena rasa senangnya itu.
*****
__ADS_1
Berbeda dengan Kelvin yang kepergok oleh bos sekaligus ayah angkatnya tersebut, sedangkan Nada kepergok oleh rekan kerjanya. Intinya mereka berdua sama-sama kepergok di saat sedang menelpon.
Teman yang memergoki Nada itu adalah teman yang tidak sangat menyukainya karena menurut rekannya itu ia selalu mendapatkan perlakuan khusus dari bos di tempat kerjanya. Teman tersebut juga merupakan karyawan lama di restoran, bisa dikatakan sebagai leader di antara para waiters dan sangat ingin menyingkirkan Nada.
"Ini sudah jam berapa Nada? Apa kau tidak ingin bekerja, malah asik telepon-teleponan di sini, kau menelpon siapa? Kalau kau ingin berhenti katakan saja, dengan senang hati aku akan memecatmu." Wanita bernama Sasi itu mengomeli Nada.
"Maaf Kak Sasi, waktu kerjaku masih ada 5 menit lagi dan sekarang aku mau bekerja. Satu lagi, aku mau menelpon siapapun itu sama sekali bukan urusan Kak Sasi. Aku permisi," kata nada yang langsung saja mengunci lokernya tersebut, lalu ia pun meninggalkan Sasi dan langsung bekerja.
"Cih, kau itu siapa? Hanya seorang janda muda yang selalu dibela oleh Bos, lalu sekarang kau bisa bertindak semaumu melawanku. Lihat saja Nada, aku pasti akan menyingkirkanmu dari sini," batin Sasi yang menatap tajam.
Di saat itu kebetulan bos mereka datang ke restoran, sehingga Sasi bersiap-siap untuk mencari muka di depan bos-nya tersebut dengan mendekati beberapa rekannya yang sedang bekerja, ia juga terlihat aktif membantu mereka.
"Kalian semua bekerja dengan semangat dan rajin ya, jangan sampai mengecewakan Bos pemilik restoran ini. Nada cepat kau bersihkan dan tata meja no 5 dan 6, karena sebentar ada satu keluarga yang booking tempat itu dan setengah jam lagi mereka akan datang ke sini," titah Sasi yang terlihat begitu tegas.
Saat di depan bos, Sasi akan berlagak ramah terhadap semua rekan kerjanya termasuk Nada. Sangat berbeda sekali saat tadi ia memarahi wanita tersebut tanpa ada kesalahan sama sekali yang diperbuat oleh Nada.
"Baik Kak," jawab Nada dan segera saja melakukan apa perintah Sasi.
Sementara itu bos mereka yang bernama Eagle itu tampak melihat ke arah Nada tanpa berkedip dan tidak memperdulikan Sasi yang tampak mencari muka di hadapannya, membuat Sasi tentunya merasa sangat tidak senang dan semakin membenci nada.
Bahkan bukan hanya Sasi saja, tapi seluruh karyawan termasuk Eagle sebagai bos juga sudah mengetahuinya.
Di saat itu pun terlihat Eagle melangkahkan kakinya hendak mendekati Nada yang sedang membersihkan meja bersama salah satu rekannya. Tiba-tiba saja tanpa sengaja Nada menginjak air yang berserakan di atas lantai sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang dan hendak terjatuh. Untung saja Eagle datang tepat waktu, ia langsung menangkap tubuh Nada sehingga terjatuh di dalam pelukannya.
Tentu saja hal tersebut membuat Nada merasa sangat terkejut, mata keduanya pun saling bertemu. Sementara seluruh karyawan berikut pengunjung restoran langsung menatap ke arah mereka. Sasi menatap sangat tidak suka, sehingga ia pun langsung saja mendekati keduanya dan menarik tangan Nada.
"Maaf Tuan, karyawan yang satu ini memang sedikit ceroboh," ucap Sasi. "Nada seharusnya kau itu lebih berhati-hati lagi, kenapa bisa sampai seperti itu," ucapnya.
"Maaf Kak aku tidak sengaja, aku tidak melihat ada air di situ," ucap Nada.
"Kau sengaja ya ingin mencari perhatian Bos?" Tuding Sasi tetapi sama sekali tak digubris oleh Nada.
"Maafkan saya Tuan Eagle dan terima kasih banyak telah menolong saya," ucap Nada yang malah beralih kepada bos-nya tersebut.
"Ya sama-sama, lain kali kau harus lebih hati-hati lagi," kata Eagle yang langsung saja pergi meninggalkan para karyawannya itu.
Eagle memegangi dadanya, jantungnya terasa berdebar tak karuan, tak tahu entah apa yang terjadi di saat ia selalu berdekatan dengan Nada.
__ADS_1
*****
"Kau yakin Kak kita akan berada di Bandung selama 5 hari? Sedangkan libur kantor dan libur sekolah itu hanya 2 hari, itu artinya kau harus meninggalkan pekerjaanmu dan Denis juga harus meninggalkan sekolahnya," kata Raisa.
"Tidak apa-apa, ini hanya sesekali saja kenapa juga tidak dimanfaatkan. Masa iya kita hanya berada di Bandung selama 2 hari, itu upun hanya 1 malam saja, hari Sabtu pergi dan hari Minggu pulang. Untuk apa? Hanya membuat badan kita lelah saja. Lagi pula saudaraku di Bandung itu banyak, aku ingin mengunjungi mereka. Ya meskipun hanya adik sepupu Mama tetapi bagaimanapun juga mereka tetap keluargaku. Waktu kita menikah mereka semua hadir, jadi apa salahnya jika kita mengunjungi mereka," ucap Diego.
"Iya sih Kak, kau bener juga. Masalah sekolah Denis aku bisa menghubungi wali kelasnya untuk meminta izin. Apalagi Denis itu anak yang pintar, dia pasti tidak kesulitan untuk mengejar pelajaran. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu Kak? Bukankah kau sedang banyak pekerjaan," kata Raisa.
"Sayang, kau tenang saja ya. Aku sudah mengatur semuanya dengan sangat baik, aku sudah menanyakan kepada sekretarisku jadwalku 5 hari kedepan itu tidak ada, hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa dan itu semua sudah aku titipkan kepada sekretarisku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu," kata Diego.
'Ya sudah kalau begitu Kak, aku bisa liburan dengan tenang," ucap Raisa tersenyum, rasanya sudah tidak sabar lagi ingin liburan bersama keluarga kecilnya itu.
"Apa kau mau aku membantumu untuk packing? Putri kecil kita sudah tidur," tawar Diego.
Memang sedari tadi Raisa mengemasi pakaian mereka yang hendak dibawa ke Bandung, sedangkan Diego menjaga anaknya tersebut hingga terlelap.
"Tidak perlu Kak, kau di sana saja bersama Diesa. Lagi pula ini sudah selesai kok, pakaian Denis tadi juga sudah aku kemas," jawab Raisa.
"Kau yakin?" Tanya Diego.
"Yakin Kak. Ini sudah selesai," jawab Raisa yang di saat itu pun langsung menutup kopernya dan menatanya di samping lemari, lalu mendekati suaminya itu dan duduk di sampingnya.
"Ya sudah sekarang kita tidur, besok kita semua harus bangun pagi dan berangkat ke Bandung," kata Raisa yang langsung saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Iya, tapi kau jangan melupakan sesuatu juga dong," kata Diego.
"Melupakan apa?" Tanya Raisa.
Diego menunjuk pipi kanannya itu dengan jari, sehingga Raisa yang mengerti langsung saja mencium pipi suaminya tersebut. Diego tersenyum, merasa sangat bahagia. Lalu ia juga membalas dengan mencium kening istrinya itu.
"Selamat malam Sayang, i love you," ucap Diego.
"Selamat malam juga Kak, i love you more," balas Raisa.
Lalu Diego pun merebahkan tubuhnya di atas kasur dan keduanya tidur berpelukan seperti biasanya.
Bersambung …
__ADS_1