
Kendati demikian Kelvin masih dalam kondisi baik-baik saja dan sadarkan diri. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas ada beberapa preman yang membawa 3 tawanan dan hendak kabur. Di saat itu pun Diego yang sempat membuka matanya dan melihat Kelvin, mencari kesempatan untuk melawan preman dengan menendang juniornya.
"Argh … sialan kau an jing!" Teriak preman karena merasa sangat linu dan merasa dunianya berhenti sejenak.
Yang membuat kepala preman begitu terkejut karena ternyata Diego telah sadar.
"Ba ji ngan! Ternyata kau hanya berpura-pura pingsan!" Ucap kepala preman dengan sangat emosi serta memukul wajah Diego.
Tak hanya Diego saja, kini Sastro pun berusaha untuk memberontak sehingga membuat para preman begitu murka dan menghajar keduanya.
Untungnya bertepatan di saat itu polisi masuk ke dalam dalam rumah tua tersebut dan telah siap untuk menembak para preman.
"Kalian semua telah dikepung, menyerahlah atau kalian semua akan mati di sini," kata salah satu polisi kepada para preman tersebut.
Sehingga kepala preman dan anak buahnya langsung saja mengangkat tangan, pertanda mereka menyerah.
Lalu Kelvin pun berusaha bangun dan langsung berjalan mendekati tuannya.
"Tuan Sastro apa Anda baik-baik saja Tuan? Maaf aku datang terlambat," ucap Kelvin seraya melepaskan tali yang mengingat pada tangan Sastro.
Sedangkan polisi membantu membuka ikatan tangan Diego dan Dokter Thalia.
"Bagaimana kau bisa tahu keberadaan kami di sini?" Tanya Sastro kepada asistennya tersebut.
"Setelah aku mendapatkan panggilan tak terjawab tadi siang dan setelah aku bertanya kepada Raisa ternyata itu adalah nomor Tuan Diego, aku hanya mempunyai feeling jika saat ini kalian sedang membutuhkan bantuanku. Untuk itu aku langsung melacak lokasi ini dan tak lupa aku melaporkan kepada Polisi setelah tadi aku meminta bantuan Dokter Thalia," terang Kelvin.
Sastro menganggukkan kepalanya, ia sangat tahu jika Kelvin sangat setia dan memang bisa diandalkan. Untuk itulah ia begitu mempercayai Kelvin dan juga sudah menyayanginya seperti anak sendiri.
_____
Singkat cerita para preman pun akhirnya babak belur karena dihajar oleh beberapa anak buah yang dibawa oleh Kelvin dan polisi. Serta ada juga yang ditembak oleh polisi karena hendak kabur, tetapi sayangnya ada juga yang melarikan diri ke hutan dan saat ini sedang dikejar.
"Tuan gawat Tuan, markas kita sudah dikepung Polisi. Bahkan semuanya sudah ditangkap, hanya saya dan Bejo saja yang berhasil kabur ke dalam hutan, tapi kami juga tidak tahu sampai kapan kami akan bertahan karena ada Polisi yang mengejar kami," kata salah satu preman yang berhasil kabur lewat telepon, nafasnya begitu ngos-ngosan karena kelelahan berlarian dari kejaran polisi.
"Dasar bodoh kalian semua! Hanya mengurus tawanan 2 orang saja kalian tidak becus, bisa sampai ada Polisi datang," bentak seorang pria dari sebrang telepon, yang merupakan bos dari para preman.
"Saya juga tidak tahu Tuan kenapa bisa seperti ini," ucap preman.
Di saat itu pun terdengar suara tembakan yang begitu jelas, yang itu artinya Polisi yang mengejar mereka tadi sudah mendekat. Sehingga preman itu memutuskan panggilan telepon begitu saja dan mencari tempat persembunyian agar tidak tertangkap.
Sementara itu para preman yang tertangkap sudah diamankan dan dibawa ke kantor polisi. Sedangkan Diego, Sastro dan Kelvin langsung saja dibawa ke rumah sakit tempat di mana dokter Thalia bekerja.
Kondisi Dokter Thalia baik-baik saja, ia hanya sedikit syok karena tadi tiba-tiba saja ia ikut disekap bahkan preman sempat menyodorkan senjata tajam di lehernya. Untungnya semua tidak terlambat karena Polisi, Kelvin beserta anak buahnya datang di waktu yang tepat dan bekerja dengan sangat baik.
Saat sudah berada di rumah sakit, Diego pun langsung saja menghubungi istrinya karena hari sudah malam dan ia belum mengabari keluarganya yang sudah pasti menunggu kabarnya itu. Apalagi mendengar cerita dari Kelvin bahwa Raisa bertanya padanya tentang keberadaan ayah dan suaminya sejak tadi siang, serta merasa sangat khawatir.
*****
__ADS_1
Di tengah kegundahan hatinya, meskipun saat ini Raisa sedang menemani sang anak bermain di dalam kamar, begitu juga dengan Siska yang ikut bergabung dengan menantu dan cucunya tersebut, tiba-tiba saja ponsel Raisa berdering dan ada panggilan masuk dari Diego.
Tentu saja membuat Raisa sontak terkejut dan langsung menjawab telepon tersebut. Tak lupa ia menloudspeaker ponselnya agar Siska dan Denis juga bisa mendengar ucapan pria tersebut. Karena bukan hanya Raisa dan Siska saja yang menunggu kepulangan Diego, tetapi Denis sedari tadi juga menanyakan karena saat ini sudah pukul 19.00 WIB ayahnya tersebut belum juga pulang ke rumah, tidak seperti biasanya.
"Halo Sayang." Terdengar suara lirih Diego dari seberang telepon.
"Kak Diego, ini kau Kak?" Tanya Raisa yang langsung saja menangis mewakili perasaannya.
"Iya sayang ini aku Diego. Jangan menangis Sayang, aku baik-baik saja. Apa sekarang kau sedang bersama Mama dan Denis?" Tanya Diego.
"Iya Kak aku bersama Mama dan Denis. Kami dari tadi cemas menunggu kabar darimu. Kau itu ke mana saja Kak, kenapa tidak mengabariku sama sekali? Kenapa lagi-lagi kau membuatku khawatir, akh." Tiba-tiba saja Raisa merintih karena perutnya terasa sakit.
"Raisa, kau kenapa Sayang, apa perutmu sakit?" Tanya Siska yang melihat Raisa memegangi perutnya serta terlihat wajah Raisa yang menahan kesakitan.
"Aku tidak apa-apa Ma, aku baik-baik saja," jawab Raisa.
"Sayang, ada apa denganmu? Kau kenapa?" Tanya Diego yang begitu khawatir.
"Tidak apa-apa Kak, tiba-tiba saja Anak kita menendang dengan sangar kuat, pasti dia juga merasa khawatir dan sekarang dia tahu kau sedang meneleponku," ujar Raisa.
"Papa, Papa di mana? Kenapa Papa belum pulang kerja?" Tanya Denis tiba-tiba.
"Denis, nanti Papa akan pulang. Yang penting kau jaga Mama, Oma dan adik bayi di dalam perut Mama ya," ucap Diego.
"Iya Pa, aku pasti akan menjaga mereka. Papa cepat pulang ya," ucap Denis.
"Iya Sayang, Papa akan segera pulang," jawab Diego.
"Aku minta maaf sudah membuat kalian semua merasa khawatir, tapi aku baik-baik saja Sayang. Untuk malam ini aku belum bisa pulang," ucap Diego.
"Kenapa Kak dan apakah Ayah ada bersamamu?" Tanya Raisa.
"Iya, Ayah dan juga Kelvin ada bersamaku," jawab Diego.
"Diego, memangnya kalian ada di mana? Kenapa kau tidak bisa pulang sekarang? Jadi kapan kau akan pulang?" Tanya Siska pula.
"Ma, Sayang, sekarang kami sedang berada di rumah sakit. Kami semua tadi mengalami sedikit masalah dan sekarang sedang ditangani oleh Dokter. Tapi tenang saja kami dalam kondisi baik-baik saja, hanya Dokter tidak mengizinkan kami pulang karena sudah malam. Besok kami akan pulang ke rumah," terang Diego.
Siska dan Raisa merasa sangat khawatir, Raisa tidak akan mungkin bisa tenang jika belum bertemu dengan suami, Ayah dan Kakak angkatnya tersebut.
"Beritahu aku di mana alamatnya Kak, aku akan ke rumah sakit sekarang," pinta Raisa.
"Jangan Sayang, akan sangat berbahaya. Apalagi ini sudah malam," sergah Diego.
"Beritahu aku Kak. Kalau kau tidak mau memberitahuku, maka aku akan mencari ke seluruh rumah sakit di Jakarta. Jadi lebih baik sekarang kau beritahu aku. Aku akan meminta antar Kak Ramzi dan Kak Jason supaya kau tidak merasa khawatir. Aku juga akan pergi bersama Mama dan Denis ke sana," kata Raisa.
Ya karena Bodyguardnya yang bernama Aron saat ini masih berada di rumah sakit, sehingga hanya 2 Bodyguard itu saja yang berada di rumah.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Aku ada di rumah sakit Medika, hati-hati ya Sayang," ucap Diego.
"Iya Kak," jawab Raisa, lalu panggilan telepon berakhir.
"Ma, ayo sekarang kita siap-siap. Denis kau mau ikut 'kan bertemu Papa," kata Raisa.
"Iya Ma, aku mau ikut," sahut Denis.
Lalu mereka bertiga pun segera saja bersiap-siap dan pergi menuju ke rumah sakit yang dikatakan oleh Diego tadi.
*****
"Kak Diego, ucap Raisa yang langsung memeluk suaminya tersebut saat ia sudah berada di rumah sakit dan menuju ke ruangan tempat di mana suaminya dirawat.
"Sayang, jangan menangis. Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat aku tidak kenapa-napa 'kan?" Kata Digo yang mendengar suara isak tangis istrinya tersebut.
Lalu Raisa pun melepaskan pelukannya kini menatap wajah suaminya itu.
"Baik-baik saja bagaimana Kak, sudah jelas-jelas wajahmu ini penuh luka. Apa yang terjadi Kak? Kau berkelahi, apa ini semua ada hubungannya dengan Om Erros?" Tanya Raisa.
"Entahlah, aku tidak tahu ini ulah siapa. Tapi yang pasti semua baik-baik saja. Aku, Ayah dan Kelvin baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa khawatir seperti itu Sayang," ucap Diego.
"Diego, apa benar kau baik-baik saja? Jangan membohongi Mama Diego," tanya Siska yang kini menghampiri anaknya.
"Iya Ma, aku baik-baik saja. Seperti yang Mama lihat tidak ada yang serius 'kan? Kalau hanya luka-luka kecil seperti ini, ini sudah biasa Ma. Mama tidak perlu khawatir ya," ucap Diego meyakinkan ibunya tersebut.
"Ada apa sebenarnya Diego? Mau sampai kapan seperti ini terus. Mau sampai kapan nyawa kita semua terancam gara-gara orang-orang jahat yang berkeliaran, mau sampai kapan? Kapan hidup kita kembali normal Diego. Sementara kita tidak tahu kesalahan apa yang sudah kita perbuat," tukas Siska yang rasanya sudah sangat lelah hidup dalam kebimbangan.
"Ma, jangan berbicara seperti itu Ma. Kita tidak tahu kapan bahaya akan datang menghampiri kita dan inilah saatnya. Yang penting aku akan selalu melindungi kalian dan aku baik-baik saja 'kan, aku selamat," ucap Diego.
"Iya, sekarang kau memang selamat. Tapi kita tidak tahu bagaimana nantinya Diego," ucap Siska seraya menangis.
"Aku minta maaf ya Ma, tapi aku janji akan membereskan masalah ini segera," ucap Diego.
"Kak Diego, benar apa yang Mama katakan. Kapan hidup kita akan kembali normal, pasti masalah ini semua datangnya karena aku yang masuk ke dalam hidup kalian," ucap Raisa yang merasa membawa beban di dalam hidup keluarga suaminya itu.
"Bukan Sayang, ini semua bukan salahmu," ucap Diego.
Raisa menangis sesenggukan lalu ia pun kembali memeluk Diego karena permintaan suaminya itu.
"Jangan menangis lagi ya Sayang. Aku merindukanmu, besok aku akan pulang, kau harus siap-siap karena aku akan memintanya 5 ronde," bisik Diego yang membuat Raisa pun tersenyum.
Bisa-bisanya Diego malah bercanda di dalam kondisi dan suasana tegang seperti saat ini.
"Ish kau ini ya Kak," ucap Raisa sembari mencubit perut Diego seperti biasa.
"Akh," rintih Diego yang terlihat kesakitan.
__ADS_1
"Kak, kau kenapa?" Tanya ke Raisa yang begitu cemas.
Bersambung …