Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Takut Kehilangan.


__ADS_3

Keesokan hari seperti yang dijanjikan oleh Diego, ia memang benar-benar tidak bekerja meskipun sudah lama meninggalkan perusahaannya tersebut. Untungnya setelah pulang dari Bandung, selama dua hari berada di perusahaan Diego terlihat benar-benar bekerja keras untuk mengejar ketertinggalannya walaupun belum selesai sepenuhnya.


Hari ini ia ingin menghabiskan waktu dengan mengajak keluarga kecilnya untuk pergi bermain ke wahana permainan seperti yang dikatakannya kepada Denis, tetapi kali ini mereka tidak membawa Diesa karena sudah pasti sang bayi belum bisa bermain dan takutnya malah tidak akan merasa nyaman di sana. Sehingga sang bayi pun dititipkan kepada pengasuhnya di rumah, mereka juga berniat tidak akan pergi terlalu lama meninggalkan anak bungsunya itu.


Karena sedang bermain dengan asik, Diego dan Raisa pun sama sekali tak mendengar saat ponsel mereka berdering ada panggilan masuk dari orang yang sama. Hingga di saat sudah melewati beberapa permainan dan merasa sangat lelah pada akhirnya Diego, Raisa dan Denis pun memutuskan untuk beristirahat sejenak.


"Kak Denis apa kau merasa bahagia?" Tanya Raisa.


"Tentu saja aku bahagia Ma, aku sudah lama tidak bermain seperti ini. Apalagi bermain bersama Mama dan Papa, aku benar-benar senang. Nanti kalau Adik Diesa sudah bisa bermain, kita ke sini lagi ya Ma, Pa main sama Adik Diesa. Pasti akan lebih seru," ucap Denis.


"Syukurlah kalau kau memang senang, sudah Papa katakan quality time sekali-sekali itu sangat penting. Tenang saja, bukan hanya Adikmu tapi nanti kita ajak Oma juga ya ke sini," ucap Diego.


"Iya Pa, hore … ," ucap Denis yang bersorak gembira.


"Ya sudah ayo kita beli minuman dulu, kita istirahat sebentar baru bermain lagi," ucap Raisa, lalu mereka pun pergi ke kantin yang ada di dalam wahana tersebut.


Sambil menunggu minuman yang dipesan, Raisa merogoh ponsel di dalam tas kecilnya bermaksud ingin menanyakan kabar Diesa di rumah. Di saat itu ia merasa terkejut melihat beberapa panggilan tak terjawab dari orang-orang yang berada di rumah, baik Ayumi, Maira, telepon rumah dan juga para bodyguard. Seketika membuat perasaan Raisa menjadi cemas.


"Kak, ini ada apa ya. Kenapa mereka semua menghubungiku," ucap Raisa sembari menunjukkan ponselnya.


Lalu Diego juga melihat ponselnya dan ternyata mereka yang dimaksud Raisa juga menghubunginya. Sehingga Diego langsung saja menghubungi salah satu diantara mereka untuk mengetahui apa yang terjadi.


Raisa tampak cemas menunggunya, berbeda dengan Denis yang terlihat asik meneguk minumannya karena ia benar-benar sudah merasa sangat haus dan tidak tahu tentang situasi saat ini.


"Apa?" Diego merasa sangat terkejut setelah mendengar kabar dari seberang telepon, wajahnya juga terlihat begitu panik.


"Ada apa Kak? Apa yang terjadi?" Tanya Raisa yang ikut panik melihat ekspresi Diego, ia yakin memang terjadi sesuatu di rumah.


"Kita harus pulang sekarang," ucap Diego.


Raisa menganggukkan kepalanya, "Kak Denis Ayo kita pulang," ajaknya.

__ADS_1


"Tapi minuman untuk Mama dan Papa belum selesai," kata Denis


"Tidak apa-apa, Mama dan Papa tidak haus. Sekarang kita harus pulang," jawab Raisa yang mengeluarkan selembar uang merah dan memberikan kepada penjual minuman meskipun minuman mereka belum selesai, lalu segera saja mereka bertiga terburu-buru keluar dari wahana permainan dan menuju ke parkiran mobil.


_____


"Ada apa Kak?" Tanya Raisa saat di perjalanan pulang, karena memang belum mendapatkan jawaban dari tadi.


"Kata Aron tadi tiba-tiba Mama merasakan dadanya sangat sesak, tapi Mama tidak mau dibawa ke rumah sakit dan Mama melarang siapapun untuk memberitahu kita. Mereka tidak mungkin membiarkan hal itu karena sudah berjanji akan memberi kabar apapun tentang Mama, jadi sekarang kita harus pulang," kata Diego.


"Iya Kak. Ya ampun Mama, mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu yang membahayakan dengan Mama. Kita harus membawa Mama ke rumah sakit Kak," kata Raisa.


"Nanti aku akan mencoba membujuk Mama Sayang, mudah-mudahan saja Mama mau," ucap Diego.


"Oma kenapa Ma, Pa?" Tanya Denis.


"Oma sakit Sayang, maka dari itu Papa mengajak Denis buru-buru pulang. Kau tidak masalah 'kan," kata Diego.


*****


Setibanya di rumah, Diego, Raisa dan Denis pun terburu-buru turun dari mobil dan langsung saja berlari menuju ke kamar Siska. Di saat itu terlihat Jason, Maira, dan juga salah satu pelayan berada di dalam kamar Siska.


"Mama, Mama kenapa? Mama baik-baik saja 'kan?" Tanya Diego.


"Ma, apa yang sakit Ma?" Tanya Raisa pula.


"Oma kenapa?" Denis pun ikut menimpali.


"Raisa, Diego, Denis, kenapa kalian sudah pulang? Bukannya kalian pergi bermain. Atau di antara Kalian ada yang memberitahu Diego ya?" Tanya Siska yang langsung menatap curiga kepada tiga orang yang bekerja di rumahnya itu dan terlihat mereka semua pun tampak tertunduk.


"Ma sudahlah Ma, jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang jawab pertanyaan aku Mama kenapa, apa penyakit jantung Mama kumat lagi?" Tanya Diego.

__ADS_1


"Diego, Raisa, Denis dan kalian semua tidak perlu khawatir ini hanya sakit biasa kok, Mama sudah biasa merasakannya. Mama tidak apa-apa, buktinya sekarang Mama sudah baik-baik saja 'kan," ucap Siska yang meyakinkan keluarga dan semua orang yang ada di sana.


"Mama jangan bohong Ma, jangan meremehkan penyakit Mama," kata Raisa.


"Mama tidak meremehkan penyakit Raisa, buktinya Mama selalu rutin untuk minum obat. Kalau tidak percaya tanya saja kepada Suster Maira. Sudah ya kalian jangan khawatir seperti itu, it's oke," ucap Siska.


"Suster Maira, di mana suster Ayumi dan Diesa?" Tanya Raisa.


"Suster Ayumi dan baby Diesa ada di kamarnya Nyonya. Baby Diesa-nya tidur," jawab Maira.


"Oh … syukurlah kalau begitu. Suster Maira, ayo ikut saya sebentar. Saya mau berbicara dengan Suster," ucap Raisa lalu memberikan kode kepada Diego dan suaminya itu menganggukkan kepalanya.


"Yang lainnya juga keluar saja, tenang saja sudah ada saya di sini. Terima kasih ya sudah menjaga Mama," ucap Diego sehingga Jason dan Bibi yang mengerti itu pun langsung keluar dari kamar Siska, kecuali Denis yang masih berada di sana. "Denis, kau juga keluar ya Kak. Kak Denis sudah lihat 'kan keadaan Oma baik-baik saja. Jadi sekarang kau ke kamar dan mandi dulu," titahnya.


"Iya Pa, tapi nanti aku ke sini lagi ya. Aku mau menemani Oma," kata Denis.


"Iya Sayang," jawab Diego, lalu Denis mengikuti perintah ayahnya itu.


_____


"Ma, sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di dalam kamar ini selain kita berdua. Aku mohon Ma tolong ikuti permintaanku, kita ke rumah sakit dan Mama mau dioperasi ya. Ini semua demi kebaikan Mama, aku mohon Ma," ucap Diego yang pada akhirnya pun terpaksa untuk membujuk ibunya lagi karena ia terlalu khawatir dengan kondisi Siska dan takut kehilangan ibunya itu.


"Tidak Diego, Mama tidak mau. Kau tenang saja ya Mama akan baik-baik saja. Mama sudah cukup bahagia dengan menjalani hidup seperti ini," tolak Siska.


"Baik-baik saja bagaimana Ma, keadaan Mama tidak baik-baik saja. Aku, Raisa, Denis dan yang lainnya khawatir. Bagaimana aku bisa tenang saat tidak berada di rumah kalau kondisi Mama seperti ini. Please Ma, aku hanya ingin Mama sembuh, aku takut kehilangan Mama," ucap Diego.


"Sudah ya Diego, jangan memaksa Mama lagi. Keputusan Mama tetap sama, Mama tidak akan mau dioperasi lagi. Kalian jangan pernah takut kehilangan, karena kita semua nantinya pasti akan pergi, hanya tinggal menunggu waktunya saja," ucap Siska, lalu tiba-tiba saja ia terdiam sembari memegangi dadanya. Diego tahu jika sesuatu sedang terjadi dengan ibunya itu.


"Ma, Mama kenapa Ma? Mama … !" Teriak Diego.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2