Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Firasat.


__ADS_3

Diego menghentikan mobilnya secara mendadak, karena saat ini mereka sedang dikepung hingga akhirnya mereka sama sekali tidak bisa menghindar.


Tok … tok … tok …


"Heh turun kau, jangan bersembunyi di dalam," teriak salah satu preman sembari terus mengetuk kaca mobil.


"Ayah kita tidak bisa melakukan apapun selain melawan mereka. Tetapi lebih baik Ayah di dalam saja, biar aku yang melawannya sendiri. Aku mohon Ayah duduk tenang di sini, jangan kemana-mana," kata Diego.


"Diego, apa kau sedang meremehkan Ayah? Kau tenang saja, perlu kau tahu jika dulunya Ayah adalah atlet taekwondo. Jadi Ayah pasti bisa menghadapi mereka. Justru sangat berbahaya jika kau menghadapinya sendiri," ucap Sastro.


Pada akhirnya Diego pun menyetujuinya, ia juga tahu jika melarang ayah mertuanya tersebut tidak akan mungkin bisa. Sehingga mereka pun langsung saja keluar dari mobil dan siap untuk melawan para preman.


"Siapa kalian? Ada apa, kenapa kalian menghalangi jalan kami?" Tanya Sastro.


"Mau ikut secara sukarela atau dipaksa," ujar salah satu preman dengan angkuhnya.


"Cih, sampai mati pun aku tidak akan sudi untuk ikut kalian dengan sukarela. Aku tahu pasti kalian anak buah dari seseorang yang sama sekali tidak ada otaknya, hanya bisa mengancam dan bermain di belakang. Seorang pengecut yang tidak bisa langsung melawan di depan dan menampakkan wajahnya. Lihat saja nanti, aku pasti akan menghancurkan kalian semua serta Bos kalian itu," tukas Diego dengan tatapan begitu murka.


"Buktikan saja kalau begitu, jangan banyak bacot," tantang preman.


"Apa kalian pikir meskipun kami di sini hanya berdua lalu kami akan takut melawan kalian? Dengan jumlah kalian yang banyak ini dan pastinya kalian akan main keroyokan, malah membuat kami sama sekali tidak takut. Karena ternyata kalian semua ini hanyalah pengecut yang tidak berani berkelahi satu lawan satu," ucap Sastro, yang membuat Diego mengulas senyum tipis dan memancing amarah para preman.


"Banyak bacot," kata preman yang langsung saja melayangkan tangannya hendak memukul Sastro.


Akan tetapi dengan cepat Sastro menangkap tangan preman itu sehingga pukulan tersebut tidak mengenai wajahnya, malah ia yang balik memukul dan mengenai sudut bibir preman sehingga menimbulkan luka.


Preman tersebut tak terima, bukan hanya 1 orang saja tetapi semua preman itu pun langsung menyerang Diego dan Sastro.


Perkelahian sengit tak dapat terelakkan, Diego dan Sastro yang melawan banyak preman masih terlihat tetap santai meskipun para preman tersebut terlihat mulai mengeroyok mereka dengan membabi buta. Untungnya Diego dan Sastro benar-benar sangat ahli untuk melawan dan membaca gerak-gerik musuh. Meskipun keduanya sudah terkena pukulan beberapa kali, tetapi Diego dan Sastro tidak menyerah karena mereka harus tetap menghabisi para preman tersebut.


Akan tetapi tiba-tiba saja 3 preman berhasil menahan kedua tangan Diego sehingga ia pun tak dapat bergerak dan di saat itulah preman lainnya langsung mengambil kesempatan untuk memukul perut Diego.


"Argh … " Diego mengerang kesakitan saat merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.


*****


Prang …

__ADS_1


Raisa yang sedang memegang minuman, tidak sengaja menjatuhkan gelasnya dan hancur berkeping-keping. Perasaannya tiba-tiba saja merasa tak enak dan memikirkan sosok suami dan juga ayahnya. Entahlah ini hanya sebuah perasaannya saja atau memang karena ia memiliki firasat jika saat ini orang-orang yang sedang dipikirkannya itu memang sedang dalam masalah.


Pelayan yang melihat akan hal itu pun langsung saja mendekati nonanya tersebut.


"Nona, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya bibi.


"Aku tidak tahu Bi, tiba-tiba saja gelas ini terjatuh," ucap Raisa yang hendak memungut pecahan gelas tersebut, tetapi rasanya sangat sulit karena perutnya yang sudah semakin membesar.


"Nona Raisa, biar saya saja yang membersihkan pecahan kacanya," ucap bibi.


"Ya sudah, terima kasih ya Bi," ucap Raisa.


"Sama-sama Nona, saya akan mengambil sapu dulu," ucap bibi.


_____


"Akh," rintih Siska karena tiba-tiba saja jarinya tertusuk jarum saat sedang menjahit piyamanya yang sedikit robek.


Di saat itu Siska juga mendengar suara pecahan kaca yang terbanting di atas lantai, sehingga sambil meng hi sap jarinya yang mengeluarkan sedikit darah akibat tusukan jarum, Siska melangkahkan kakinya menuju ke dapur tempat di mana arah sumber suara itu berasal.


"Ada apa Raisa?" Tanya Siska yang menghampiri menantunya tersebut.


"Aku tidak sengaja menjatuhkan gelas Ma," jawab Raisa yang tampak lesu.


"Ada apa Raisa, apa kau sedang memikirkan sesuatu sampai tidak fokus?" Tanya Siska lagi.


"Aku tidak tahu Ma, tapi perasaanku tiba-tiba tidak enak memikirkan Ayah dan Kak Diego. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka Ma," ucap Raisa.


"Sebenarnya perasaan Mama juga tidak enak. Tadi di saat Mama sedang menjahit, tiba-tiba jari Mama tertusuk jarum. Mama pikir itu karena Mama terkejut karena mendengar suara gelas yang terjatuh dan pecah, tetapi tiba-tiba saja Mama memikirkan Diego. Raisa coba kau hubungi Diego, mudah-mudahan dia baik-baik saja," ucap Siska.


"Iya Ma, kalau begitu aku mau mengambil ponselku dulu di kamar, aku juga mau menghubungi Ayah," jawab Raisa.


"Ya sudah ayo Mama antar kau ke kamar," ucap Siska.


Lalu keduanya pun segera menuju ke kamar Raisa dan langsung saja mencoba untuk menghubungi Diego dan Sastro. Akan tetapi dari keduanya sama-sama tidak menjawab, sehingga membuat Siska dan Raisa merasa sangat khawatir.


*****

__ADS_1


Sementara itu di lokasi kejadian, Diego terlihat sudah sangat lemah. Ia sudah tak berdaya untuk melawan para preman. Sedangkan Sastro masih coba untuk melawan yang lainnya, tetapi pada akhirnya mereka sama-sama jatuh tersungkur, bahkan tidak sadarkan diri. Segera saja para preman memasukkan Diego dari Sastro ke dalam mobil, lalu membawa mereka pergi.


Tidak lama kemudian para preman itu pun telah tiba di suatu tempat yang tentunya sangat jauh dari pemukiman. Segera saja mereka menurunkan Sastro dan Diego dari mobil dan saat ini keduanya telah disekap di dalam sebuah gudang pada bangunan tua tersebut.


"Bagus, kalian semua sudah bekerja dengan sangat baik. Sekali tepuk 2 lalat langsung tertangkap. Diego dan Sastro, ini adalah akibatnya karena kalian berdua sudah berani menantangku. Sekarang kalian sudah berada di tanganku, akan semakin mudah untukku menghancurkan keluarga kalian," ucap seseorang yang merupakan bos dari para preman yang tadi telah menghadang jalan Diego dan Sastro, serta menghajarnya habis-habisan sehingga mereka berdua pun kalah dan kini telah ditangkap.


"Cepat panggilkan Dokter untuk memeriksa keadaan mereka, aku tidak mau jika mereka mati sekarang karena aku belum puas untuk bermain-main. Ini pasti karena ulah kalian yang menghajarnya terlalu kasar sampai mereka menjadi seperti ini," ucap pria tersebut kepada kepala preman.


"Kami minta maaf Tuan, karena mereka berdua terbilang cukup kuat melawan kami dengan jumlah yang lebih banyak. Jadi kami terpaksa melakukan kekerasan yang lebih lagi sampai mereka pingsan seperti ini. Kalau tidak, kami tidak akan mungkin bisa membawa mereka Tuan," ucap kepala preman


"Ya sudah jangan dibahas lagi. Sekarang cepat panggilkan Dokter, kalau mereka sampai mati maka aku pastikan kau juga akan mati ucap," ancam pria tersebut.


"Baik Tuan," jawab kepala preman, lalu segera saja ia menghubungi dokter dan meminta untuk segera datang ke lokasi mereka saat ini.


*****


Hingga pukul 17.00 WIB, Raisa belum juga mendapatkan kabar dari suami maupun ayahnya. Ia yang tidak bisa menghubungi nomor keduanya itu pun pada akhirnya menghubungi Kelvin dan Kelvin juga mengatakan jika saat ini Sastro tidak ke perusahaan dan juga tidak mengatakan padanya kemana pria paruh baya itu pergi. Tetapi Kelvin berjanji jika mendapatkan kabar tentang ayahnya, pasti dia akan segera mengabarinya.


Saat Raisa terlihat sedang resah di dalam kamarnya, di saat itu ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Kelvin. Sehingga membuat Raisa begitu antusias langsung menjawabnya, karena ia yakin jika Kelvin pasti akan memberikan kabar tentang ayahnya.


"Halo Raisa," terdengar suara kelvin dari seberang telepon.


"Halo Kak, bagaimana apa ada kabar tentang Ayah? Apa sekarang Ayah sudah pulang, Ayah bersamamu?" Raisa menimpali dengan beberapa pertanyaan.


"Raisa, kau yang tenang Raisa, aku mohon. Sampai saat ini aku belum mendapatkan kabar tentang Tuan Sastro, sekarang aku juga sudah pulang ke rumah Ayahmu dan Ayahmu juga tidak ada di rumah. Tapi kau tenang saja, aku akan mencari Ayahmu dan nanti aku akan memberimu kabar lagi," ucap Kelvin, yang membuat Raisa semakin merasa khawatir.


"Apa? Apa mungkin Kak Diego juga bersama dengan Ayah. Karena tadi aku menghubungi sekretaris Kak Diego dan katanya Kak Diego juga tidak datang ke perusahaan dari tadi pagi Kak," ujar Raisa.


"Iya Raisa, ini juga yang ingin aku katakan padamu. Tadi Satpam mengatakan memang Diego pagi-pagi sudah datang ke sini dan dia pergi bersama Tuan Sastro, jadi sudah pasti Ayahmu sedang bersama suamimu itu Raisa. Sekarang juga aku akan pergi, aku akan meminta beberapa anak buahku untuk membantuku mencari dimana keberadaan mereka saat ini. Kau tenang saja ya," ucap Kelvin.


"Terima kasih banyak Kak, kau juga harus hati-hati Kak dan tolong terus kabari aku," ucap Raisa.


"Iya sama-sama Raisa, aku pasti akan selalu memberimu kabar terbaru," ucap Kelvin, lalu panggilan telepon pun berakhir.


Raisa tampak terduduk lemas di tepi ranjang sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Ia semakin yakin jika saat ini memang sedang terjadi sesuatu dengan ayah dan suaminya itu. Tetapi Raisa juga tidak bisa melakukan apapun, ia tak mau lagi berbuat gegabah karena takut akan menambah masalah seperti yang biasa terjadi. Apalagi ia juga tidak tahu harus mencarinya ke mana, sehingga ia pun hanya bisa pasrah dan berdoa agar Sastro dan Diego dalam keadaan baik-baik saja. Begitu juga dengan Kelvin yang berusaha mencari keberadaan mereka, Raisa juga terus memegangi ponselnya karena ia terus menunggu kabar dari kakak angkatnya tersebut.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2