
Pada akhirnya rasa kekhawatiran Raisa terhadap Ayumi dan neneknya beserta suami dan juga bodyguardnya itu, langsung terbayar saat melihat mereka semua saat ini berada di depan matanya.
"Sayang, maaf ya aku tadi tidak sempat mengabarimu," ucap Diego yang menghampiri istri dan anaknya tersebut.
"Iya Kak, tapi apa yang terjadi?" Tanya Raisa.
"Biasa, itu hanya sisa-sisa anak buah Carlos yang datang memberi peringatan kepada Ayumi dan neneknya," jawab Diego.
"Benar-benar keterlaluan! Tapi syukurlah karena Suster Ayumi dan Nenek Rima baik-baik saja," ucap Raisa.
"Nyonya Raisa, Maaf ya karena saya dan Nenek harus ke sini malam-malam seperti ini. Saya benar-benar takut mereka akan datang lagi, jadi saya menerima tawaran Tuan Diego untuk ikut ke ke sini," ucap Ayumi yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Sus, justru ini yang saya inginkan. Lebih baik kalian di sini saja supaya lebih aman ya, tidak usah merasa sungkan. Apalagi kalian juga bukan orang lain, kita sudah saling mengenal," kata Raisa.
"Nyonya Raisa, Tuan Diego, saya benar-benar minta maaf sudah sangat merepotkan kalian," ucap Nenek Rima pula.
"Nek, kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Sudah ya jangan dipikirkan, aku yakin besok Mama juga pasti akan senang karena ada Nenek Rima di sini, bisa jadi teman Mama ngobrol. Ayo Nek, Sus, kita masuk. Sus lebih baik bawa Nenek ke kamar tamu saja ya, jangan ke kamar belakang," ucap Raisa, karena bagaimanapun juga Nenek Rima adalah tamu di rumah mereka.
"Benar apa yang dikatakan istriku, lebih baik bawa saja Nenek Rima ke kamar tamu. Kamarnya lebih besar dan Suster Ayumi bisa menemani Nenek di sana," sambung Diego.
"Jangan Tuan Diego, Nyonya Raisa, lebih baik saya tidur di kamar belakang saja tempat biasa Ayumi beristirahat," tolak Nenek Rima yang memang sudah mengetahui jika cucunya tersebut mempunyai kamar untuk beristirahat di siang hari.
Ayumi sendiri lah yang menceritakannya kepada sang nenek, bagaimana baiknya Diego dan keluarganya yang selalu memperlakukan para pekerja di rumahnya itu dengan baik. Meskipun kamar yang disediakan khusus untuk para pekerja letaknya dibelakang rumah, sudah seperti kos-kosan, tetapi tentu saja kamar-kamar tersebut cukup luas, nyaman dan juga tersedia fasilitas yang lengkap di dalamnya seperti tempat tidur, bantal, selimut, kipas angin dan ada juga lemari pakaian di sana.
"Iya, benar apa kata Nenek. Lagi pula kamar yang biasa saya tempati di belakang juga cukup luas Nyonya, nanti biar Nenek saja yang tidur di atas dan saya akan tidur di bawah menggunakan alas selimut," kata Ayumi, karena memang tempat tidurnya merupakan tempat tidur single.
"Jangan tidur di lantai dong Sus, nanti Suster bisa masuk angin. Ya sudah kalau kalian mau tidur di kamar belakang, nanti aku akan memberikan Suster kasur single untuk tidur di bawah ya, masih ada kok stok kasur di gudang," ucap Raisa.
"Baik Nyonya, terima kasih banyak," ucap Ayumi dan ditanggapi anggukan kepala oleh Raisa.
__ADS_1
"Kak Aron, aku boleh 'kan menyusahkanmu sebentar untuk mengambil kasur di gudang dan berikan kepada Suster Ayumi," ucap Raisa.
"Tentu saja boleh Nyonya, dan sama sekali tidak merepotkan," jawab Aron dan bergegas melaksanakan perintah nyonya-nya tersebut.
"Terima kasih banyak Nyonya Raisa, semoga Tuhan membalas kebaikan Nyonya Raisa dan keluarga," ucap Nenek Rima saat mereka semua sudah berada di dalam rumah.
"Aamiin, sama-sama Nek dan terima kasih juga ya atas doanya. Semoga Nenek dan Ayumi juga dimurahkan rezekinya. Oh iya kalian berdua sudah makan belum?" Tanya Raisa.
Ayumi menggelengkan kepalanya karena memang tadi ia baru saja selesai memasak dan hendak makan malam bersama neneknya, tiba-tiba saja datang para preman yang di saat itu mengganggu keduanya.
"Ya sudah kebetulan aku juga belum makan karena dari tadi mengkhawatirkan kalian dan juga Kak Diego yang belum pulang, jadi sekarang aku mau makan dengan Kak Diego dan kalian ikut ya," kata Raisa.
"Tidak usah Nyonya Raisa, saya masih kenyang." Nenek Rima lagi-lagi menolak tawaran Raisa, ia benar-benar merasa tidak enak menerima kebaikan Raisa yang bertubi-tubi.
"Nek, Sus, sudah aku katakan kalian tidak usah sungkan ya. Kami memperlakukan siapapun dengan sama di sini, jadi aku mohon jangan menolaknya," pinta Raisa.
Hingga akhirnya Nenek Rima dan Ayumi pun menyetujuinya karena memang tidak bisa menolak kebaikan Raisa yang terus saja memaksa.
*****
Keesokan harinya Raisa terlambat bangun karena ia kurang tidur untuk beberapa hari ini, sehingga Raisa pun tidak sempat untuk menyiapkan sarapan dan hanya bisa membantu suaminya menyiapkan pakaian serta segala keperluan untuk pergi ke kantor setelah dua minggu lamanya perusahaan ditutup. Di saat itu sang bayi juga sudah bangun sehingga pagi ini pun Raisa menyerahkan seluruh tugas dapur kepada Asisten Rumah Tangga yang memang bertugas untuk memasak.
Seperti biasa, jika tidak sempat untuk menyiapkan sarapan maka Raisa pun akan keluar menuju ruang makan bersama Diego yang sudah bersiap akan pergi ke kantor dengan membawa sang bayi juga di dalam gendongannya.
Saat menuju ke ruang makan dan melewati dapur, Raisa terkejut melihat Nenek Rima yang berada di sana sedang membantu Bibi membersihkan piring-piring kotor, bekas memasak.
"Loh Nenek, Nenek sedang apa?" Tanya Raisa yang merasa terkejut.
"Maaf Nyonya, saya hanya membantu mencuci piring. Saya tidak enak hanya berdiam diri saja tinggal di sini," ucap Nek Rima.
__ADS_1
"Nek jangan dong Nek. Nenek tidak bekerja di sini, Nenek itu neneknya Ayumi dan Suster Ayumi sudah bekerja di sini, jadi Nenek tidak perlu melakukan ini semua," sergah Raisa.
"Maafkan Bibi Nyonya, tadi Bibi sudah mengatakan kepada Nenek jangan mencuci piring tapi Nenek Rima tidak mau mendengar dan tetap mau melakukannya. Jadi saya tidak bisa melarangnya lagi," ucap Bibi.
"Nyonya, tolong Nyonya, saya merasa tidak enak hati jika harus tinggal di sini secara gratis. Jadi sebelum saya pindah dari sini tolong ya Nyonya izinkan saya melakukan pekerjaan, jangan biarkan saya hanya berdiam diri saja, saya benar-benar tidak enak. Kesannya seperti memanfaatkan kebaikan Nyonya Raisa, sementara semua orang yang tinggal di sini bekerja," ucap Nenek Rima.
"Ya ampun Nek, Aku sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu. Aku dan Kak Diego meminta Nenek berada di sini bukan untuk bekerja, kalian adalah tanggung jawab kami juga di sini, karena bagaimanapun juga kalian itu mendapatkan ancaman karena Suster Ayumi yang sudah membela keluarga ini. Jadi ini sudah kewajiban kami Nek," ucap Raisa.
"Itu semua bukan kesalahan Nyonya Raisa maupun Tuan Diego, jadi tidak perlu bertanggung jawab Nyonya. Justru saya merasa sangat bersalah atas apa yang pernah dilakukan oleh Ayumi kepada keluarga Nyonya Raisa tetapi keluarga ini tetap saja baik kepada kami, bahkan menolong kami tanpa rasa pamrih. Saya tidak bisa membalasnya dengan uang, jadi saya mohon ya biarkan saya melakukan hal ini, ini hanya pekerjaan ringan yang sudah biasa saya lakukan di rumah," pinta Nek Rima.
"Ya sudah kalau memang seperti itu. Tapi kalau nanti Nenek capek, Nenek istirahat ya. Jangan memaksakan diri," ucap Raisa.
"Baik Nyonya, saya janji karena saya juga tidak mau merepotkan keluarga ini terus," jawab Nenek Rima.
"Bi, aku juga titip Nenek Rima ya. Bibi tidak keberatan 'kan?" Tukas Raisa.
"Tentu saja tidak Nyonya, justru saya senang ada Nenek Rima di sini. Saya merasa seperti memiliki orang tua," jawab bibi ya memang langsung akrab dengan Nenek Rima.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau menemani keluarga sarapan dulu ya. Bibi, Nenek dan yang lainnya juga jangan lupa sarapan," ucap Raisa.
"Terima kasih banyak Nyonya Raisa," ucap Nenek Rima.
"Iya Nyonya," jawab Bibi pula.
Lalu Raisa pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan menghampiri suami dan anak-anaknya yang berada di sana, memang baby Diesa tadi sudah dibawa oleh Diego terlebih dulu ke ruangan tersebut. Sedangkan Siska tetap berada di dalam kamarnya, Maira yang akan memberikan sarapan serta obat untuknya sebentar lagi. Ia memang sudah sangat jarang sekali ikut sarapan maupun makan bersama keluarganya karena kondisinya yang saat ini kurang stabil.
"Nyonya Raisa dan keluarganya itu benar-benar sangat baik ya Bi, untuk itu saya sangat segan berada di sini jika tidak melakukan apapun," ucap Nenek Rima yang lagi-lagi merasa sungkan menerima kebaikan Raisa dengan cuma-cuma.
"Iya Nek, memang seperti itulah sifat Nyonya Raisa. Saya sudah 10 tahun bekerja di sini semenjak suami saya masih hidup dan meninggal 2 tahun yang lalu. Nyonya Siska dan Tuan Diego sangat peduli dengan orang lain, saya juga tidak menyangka jika Nyonya Siska akan memiliki menantu yang sifatnya juga sama dengannya. Tuan rumah di sini semuanya sangat baik dan memperlakukan para pekerja dengan sangat adil. Untuk itu saya merasa sangat betah bekerja di sini dan saya rela mengabdi kepada mereka seumur hidup saya," ucap Bibi yang tiba-tiba saja meneteskan air matanya karena merasa sangat terharu, mengingat bagaimana Diego dan keluarganya itu sudah banyak membantunya sejak suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun sakit, hingga pada akhirnya meninggal dunia.
__ADS_1
Bersambung …