
Seseorang yang mendengar akan hal itu pun merasa sangat marah, ia yang tadinya berniat ingin menemui Diego dan ibunya mengurungkan niatnya itu dan segera saja pergi meninggalkan kediaman Abimana.
"Ma, aku mau ke kamar dulu ya. Tadi ada pekerjaan yang belum selesai aku bawa pulang dan aku harus menyelesaikannya sekarang, karena itu juga ada sangkut pautnya dengan meeting besok," kata Diego.
"Kau ini sudah di rumah juga masih sibuk dengan pekerjaan. Apa kau sama sekali tidak memiliki waktu untuk bermain dengan Anakmu? Kasihan Denis, dia itu sudah menunggu kau pulang tapi setelah pulang papanya malah sibuk lagi dengan pekerjaan," hardik Siska.
"Ma, come on lah. Denis itu bukan anak kecil lagi. Lagipula aku ini 'kan bekerja untuk keluarga, aku tidak mau membuat perusahaan yang sudah Papa rintis dari nol, Papa bangun dengan susah payah nantinya akan hancur karena aku yang mengelolanya. Aku ingin membuat perusahaan Papa semakin maju supaya Papa bangga terhadapku Ma," ucap Diego dengan tatapan mendamba.
"Iya Diego Mama mengerti, Mama juga sangat menghargai kerja kerasmu itu. Tidak bisa dipungkiri jika kau telah banyak berkorban untuk perusahaan, kau sudah membuat Perusahaan X semakin maju, tapi kau juga harus ingat jika kau itu mempunyai anak yang sangat membutuhkan perhatian. Ya kecuali kau mempunyai istri, paling tidak Denis tidak akan merasa kesepian di saat ayahnya sedang bekerja. Kau juga tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi kesehatan Mama yang tidak bisa terus menjaga Denis," kata Siska yang lagi-lagi menyinggung soal istri.
"Iya Ma iya, nanti aku akan mencari istri. Mama tenang saja ya," kata Diego asal.
"Apa kau serius? Bukankah kau selalu membantahnya atau jangan-jangan benar dugaan Mama bahwa kau menyukai Raisa dan kau juga berniat ingin menjadikan Raisa istrimu," kata Siska to the point.
"Tidak Ma, walaupun aku mencari istri tidak gadis kecil seperti Raisa juga. Umurku dan umur Raisa itu berjarak 10 tahun, aku tidak yakin jika Raisa mau menikah denganku apalagi jika dia tahu aku ini adalah seorang duda yang sudah mempunyai anak 1. Pasti Raisa akan lebih memilih pria-pria di luar sana Ma, pria yang masih bujangan, pria yang masih seumuran atau minimal tidak terlalu jauh jarak umur mereka," ujar Diego.
"Diego kau jangan salah, justru saat ini banyak wanita muda yang memilih untuk menikah dengan duda, apalagi duda yang tampan dan juga mapan sepertimu. Mama yakin banyak wanita muda di luar sana yang naksir denganmu dan berlomba-lomba ingin menjadi istrimu, hanya kau saja yang tidak berani membuka hati untuk mereka," kata Siska yang sudah sangat mengenal sifat anaknya itu.
"Jadi menurut Mama Raisa itu termasuk salah satu wanita yang menyukai duda tampan dan mapan sepertiku? Berarti Raisa mata duitan dong Ma," ujar Diego.
"Mama tidak berbicara seperti itu Diego, ah sudahlah yang jelas kau harus cepat-cepat mencari istri atau Ibu pengganti untuk Denis. Jika tidak Mama yang akan mencarikanmu calon istri agar kau segera menikah," kata Siska yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan anaknya tersebut.
Sedangkan Diego menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena merasa bingung untuk menanggapi ucapan ibunya tadi.
*****
__ADS_1
Setelah hampir sebulan berada di rumah sakit, kondisi Nenek Sania sudah membaik sehingga ia pun diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Karena rumah mereka yang lama masih dalam tahap renovasi, Raisa pun membawa neneknya itu untuk pulang ke rumah kontrakannya. Ya karena rumah lama peninggalan Kakek Raisa itu sudah terdapat kebocoran di mana-mana, sehingga Raisa yang mempunyai sedikit dana memutuskan untuk merenovasinya agar mereka lebih nyaman tinggal di rumah tersebut.
Selama berada rumah kontrakan dan kondisi Nenek Sania belum stabil, suster yang menjaga Nenek Sania di rumah sakit pun tetap dipekerjakan oleh Diego untuk menjaga Nenek Sania selama Raisa bekerja.
"Sus, aku pergi dulu ya. Aku titip Nenek, jika nanti ada apa-apa tolong kabari aku segera," pamit Raisa.
"Baik Nona, saya pasti akan memberi kabar. Hati-hati ya Nona," ucap suster.
"Nek, aku pergi dulu ya." Raisa berpamitan kepada neneknya pula.
"Hati-hati ya Sayang. Oh iya Nenek minta tolong sampaikan kepada Tuan Digo jika Nenek tidak perlu dijaga lagi oleh Suster, jadi lebih baik hari ini Susternya kembali saja bekerja di rumah sakit. Nenek benar-benar sudah baik-baik saja, Nenek sudah bisa sendiri di rumah, Raisa," ucap Nenek Sania dengan sangat yakin. Raisa sendiri bisa melihat jika kondisi neneknya saat ini memang sudah jauh lebih baik.
"Ya sudah Nek nanti akan aku bicarakan dengan Tuan Diego ya," ucap Raisa yang menyalami serta mencium pipi neneknya itu, lalu segera pergi untuk bekerja.
------
"Maaf Pak, Bapak mau pulang kampung ya?" Tanya Raisa.
"Tidak Nona, bukan saya. Nyonya yang mau pergi ke rumah sanak saudaranya yang ada di Bandung selama beberapa hari karena ada acara di sana," jawab supir.
"Oh … gitu, aku pikir Bapak yang mau pulang kampung ternyata Nyonya," ucap Raisa.
"Iya Raisa, saya mau pergi ke Bandung untuk beberapa hari. Titip Denis dan saya minta tolong ya kau pulangnya tunggu Diego pulang ke rumah, karena Denis ini kau tahu sendiri paling tidak mau jika dititipkan ke orang lain yang tidak dekat. Denis saat ini sudah mulai dekat denganmu, jadi saya mohon tunggu Diego sampai di rumah dulu baru kau bisa pulang. Tenang saja Raisa, jika Diego pulang terlambat berarti kau juga akan dihitung lembur. Tetapi Diego juga sudah mengatakan jika jam kerjanya sudah normal kembali, jadi dia akan pulang lebih cepat ke rumah. Mungkin hanya lembur sekali saja," ucap Siska yang baru saja keliat dari rumah.
"Baik Nyonya, itu sama sekali tidak masalah untuk saya," tutur Raisa.
__ADS_1
Hingga di saat itu pun terlihat Diego dan Denis yang keluar dari rumah hendak pergi beraktifitas.
"Raisa, kau sudah datang?" Tegur Digo.
"Ya Tuan, aku baru saja sampai," jawab Raisa.
"Nona Raisa, kau terlambat. Seharusnya kau sudah datang sebelum aku bangun tidur," protes Denis.
"Maaf Tuan muda Denis, aku tadi mengurus Nenekku sebentar karena susternya juga datang terlambat. Tadi ayahmu juga mengatakan bahwa kau sudah bangun dan mandi sendiri, untuk itu aku diperbolehkan untuk datang sedikit lebih siang. Tapi sekarang aku belum terlambat untuk mengantarmu pergi ke sekolah 'kan?" Kata Raisa.
"Tentu saja belum, ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat," kata Denis.
"Oke, let's go," jawab Raisa yang terlihat begitu semangat dan akrab dengan Denis, membuat Siska dan Diego tersenyum melihat akan hal tersebut.
*****
"Hai Baby, mantan Anak kesayangan Mami. Sudah lama sekali kau tidak datang ke sini. Yang Mami dengar kau baru saja pulang dari luar negeri, karirmu itu semakin melejit saja. Tentunya kau juga tidak lupa dong membawa oleh-oleh untuk Mami," ucap Sheila saat kedatangan seorang wanita yang dulu pernah bekerja dengannya.
"Tentu saja Mami, aku tidak akan melupakan itu. Justru aku datang ke sini karena ingin mengantar oleh-oleh untukmu," kata wanita tersebut sembari menghisap rokoknya, lalu menyerahkan sebuah paper bag kepada Sheila.
Sheila merasa sangat senang karena isinya adalah sebuah tas branded yang dibeli dari luar negeri.
"Oh Sayang, kau benar-benar Anak Mami yang paling baik. Meskipun kau sudah tidak bekerja lagi dengan Mami, tetapi kau tidak pernah melupakan Mami. Sangat berbeda sekali dengan anak baru Mami itu, mentang-mentang dia sudah diperkerjakan oleh Tuan Diego, eh dia malah melupakan Mami begitu saja," kata Sheila yang tiba-tiba teringat akan Raisa.
"Tuan Diego?"
__ADS_1
Bersambung …