Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Bertemu Teman Kuliah.


__ADS_3

Roy terus menatap seseorang yang berada di hadapannya sembari mengingat-ingat siapakah wanita itu, begitu juga dengan wanita tersebut yang menetap Roy dan tersenyum kepadanya.


"Roy kenapa kau bengong? Apa kau benar-benar sudah melupakanku?" Tanya wanita cantik itu.


"Kau siapa dan kenapa kau ada di sini. Satu lagi bagaimana kau bisa mengenaliku?" Roy menimpali dengan beberapa pertanyaan.


"Aku hanya memberi 1 pertanyaan saja kau tidak menjawabnya dan sekarang kau memberiku pertanyaan lebih dari 1. Mana dulu yang harus aku jawab," tukas wanita tersebut.


"Ya sudah kalau begitu bagaimana kau bisa mengenaliku?" Tanya Roy.


"Tentu saja aku mengenalimu, kalau tidak bagaimana aku tahu namamu," kata wanita itu yang membuat Roy semakin kebingungan.


Padahal 5 tahun belakangan ini ia tidak tinggal di Indonesia, melainkan di luar negeri. Tetapi kenapa ada orang yang begitu mengenalinya, membuat Roy bertanya-tanya.


"Tidak waras," umpat Roy yang di saat itu pun beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi meninggalkan wanita tersebut.


"Kau yakin tidak mau tahu aku ini siapa dan apa tujuanku menghampirimu?" Tukas wanita tersebut, membuat Roy pun tampak terdiam dan menatap ke arah wanita itu lagi.


"Jangan membuang waktuku, sekarang cepat katakan ada urusan apa," ucap Roy.


"Duduk dulu dong," titah wanita itu, sehingga Roy pun kembali duduk.


"Cepat Katakan!" Titah Roy.


"Oke aku akan memberitahumu karena sepertinya kau benar-benar lupa jika dulunya aku satu kampus denganmu dan Diego juga, meskipun kalian seniorku lebih tepatnya aku ini satu tingkatan dengan Clarissa. Tapi kita dulu pernah berkomunikasi kok, kau juga mengetahuiku waktu itu. Aku tidak menyangka ternyata sampai saat ini kau masih memiliki dendam terhadap mantan sahabat dan setelah itu menjadi saingan bisnismu. Aku pikir setelah bertahun-tahun kau melupakan masalah itu, kau menerima kenyataan bahwa Diego memang lebih baik darimu," ucap wanita tersebut yang membuat Roy tersentak.


"Apa maksudmu berkata seperti itu, kau sedang meremehkanku? Manusia yang satu kampus denganku itu banyak, apalagi kau bukan teman sekelasku, jadi untuk apa aku mengingatmu," hardik Roy.


"Aku tidak sedang meremehkanmu Roy. Semua orang juga tahu itu, dari dulu kau sangat ingin bersaing dengan Diego tapi kau tidak pernah menang. Ya aku juga tahu kau tidak mungkin mengingatku, tapi kalau Clarissa kau ingat 'kan," ujar wanita itu.


Roy mengepal erat kedua tangannya diiringi tatapannya yang begitu tajam, rasanya saat ini juga Roy ingin segera pergi meninggalkan wanita itu karena terlihat jelas orang yang saat ini berdiri di hadapannya itu sengaja ingin mempermainkannya. Tetapi Roy juga merasa sangat penasaran siapakah wanita itu, kenapa dia bisa mengetahui semua tentang masa lalunya bersama Diego.


"Kau siapa?" Tanya Roy untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Oke kalau kau memang sudah melupakanku, maka aku akan memperkenalkan diri lagi. Perkenalkan aku adalah Sena, gadis cupu yang dulu pernah ditolak oleh Diego secara terang-terangan dan membuatku malu karena ternyata dia lebih memilih Clarissa. Apa kau ingat itu?" Kata wanita tersebut.


Mendengar pengakuan wanita tersebut tentu saja membuat Roy tak bisa langsung mempercayainya, ia malah memandangi wajah wanita itu dan sama sekali tak percaya dengan wanita yang mengaku bernama Sena itu.


Karena dulunya Sena adalah wanita cupu yang selalu mengepang rambutnya menjadi dua, serta menggunakan kacamata bulat. Wajar saja jika Diego sama sekali tak meliriknya dan lebih memilih Clarissa sebagai salah satu wanita terpopuler di kampus. Akan tetapi saat ini Sena terlihat jauh berbeda, ia begitu cantik dan seksi, yang membuat Roy tidak mengenalinya. Tetapi usut punya usut Roy memang mengenalinya karena waktu itu Sena pernah terang-terangan mengungkapkan cinta untuk Diego di depan Roy, sehingga Roy jugalah yang mengetahui bagaimana Diego menolaknya.


"Kau benar-benar Sena?" Tanya Roy yang masih tak mempercayainya.


"Ya aku Sena, kenapa? Kau pasti pangling 'kan melihat perubahanku yang sekarang. Dulu aku memang belum tahu apa-apa soal fashion, apalagi aku tidak memiliki Ibu atau Kakak perempuan yang mengajariku tentang berdandan, cara berpakaian. Dari kecil aku hanya hidup bersama Ayahku, jadi Wajar saja jika aku berpenampilan seperti itu. Tapi seperti yang kau lihat sekarang, aku benar-benar sudah berubah dan tujuanku berubah salah satunya adalah untuk balas dendam terhadap orang-orang yang dulu pernah meremehkanku, termasuk Diego dan Clarissa. Tapi yang aku dengar Clarissa sudah berada di dalam penjara, jadi hanya tinggal Diego saja," ucap Sena yang menatap tajam.


"Kau yakin? Memangnya sampai sekarang kau belum berkeluarga?" Tanya Roy.


Sena menggelengkan kepalanya, "Karena rasa dendamku terhadap Diego yang menolakku begitu saja, aku menjadi takut akan patah hati lagi. Untuk itu sampai sekarang aku memutuskan untuk sendiri meskipun banyak pria yang mendekatiku."


"Tapi sekarang kau sudah berubah, kau sangat cantik tidak berbeda jauh dengan Clarissa. Jadi kau tidak akan patah hati, malah pria-pria itu yang sudah patah hati karena kau tidak menerima cintanya," kata Roy.


"Mungkin saja, tapi rasanya sangat sulit untuk memulai sebelum aku membalas dendam kepada pria itu. Kebetulan sekali kita bertemu di sini dan aku tadi mendengar kau dan pria yang kau panggil Om itu membicarakan soal Diego, apa kau tahu di mana Diego sekarang?" Tanya Sena.


"Roy, menurutku bagaimana kalau kita bekerja sama. Aku tadi sudah mendengar semuanya Roy, meskipun sekilas tapi aku tahu jika kau selalu saja diremehkan oleh Om-mu itu 'kan. Aku bersedia membantumu dan kali ini rencanamu pasti tidak akan gagal," kata Sena dengan sangat yakin.


"Tentu saja aku setuju, kenapa tidak? Senang bisa bertemu dengan orang-orang yang mempunyai dendam terhadap Diego," kata Roy, lalu keduanya pun berjabat tangan sebagai tanda resmi akan bekerja sama.


*****


Karena Siska terus saja meminta untuk pulang ke rumah dengan alasan tidak betah lagi dan merasa bosan berada di rumah sakit, pada akhirnya selama 3 hari dirawat setelah sadar dari koma waktu itu, kini Siska pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Tetapi Diego belum membawa ibunya pulang ke Jakarta karena melihat kondisinya yang belum stabil. Sehingga mereka pun kembali ke rumah yang ada di Bandung terlebih dulu.


Saat ini Siska pun sedang beristirahat di kamar. Sedangkan Raisa yang menggendong sang bayi, Diego dan Sastro berada di depan tampak sedang berbincang-bincang. Begitu juga dengan Aron yang berada di sana tetapi sedikit menjauh dan bermain dengan Denis.


"Kak, jadi kapan kita pulang ke Jakarta? Denis tidak mungkin berlama-lama untuk libur sekolah, karena waktu itu aku hanya meminta izin kepada gurunya 3 hari saja dan seharusnya hari ini Denis sudah masuk sekolah. Kasihan juga Denis kalau banyak ketinggalan pelajaran," ujar Raisa.


"Kemungkinan lusa baru kita bisa kembali ke Jakarta. Kabari saja lagi kepada wali kelas Denis bahwa minggu ini Denis belum bisa masuk ke sekolah, aku juga belum bisa ke kantor, karena saat ini kita tidak mungkin meninggalkan Mama. Kita harus memastikan dulu bagaimana kondisi Mama, kita akan pulang membawa Mama langsung," kata Diego.


"Iya Kak, aku mengerti. Aku juga tidak bermaksud untuk meninggalkan Mama, aku hanya ingin memastikan saja. Kalau memang harus menunggu kondisi Mama pulih dulu, aku setuju dan aku akan segera mengabari wali kelas Denis. Lalu apa kita akan pulang naik mobil atau pesawat?" Tanya Raisa.

__ADS_1


"Lebih baik naik pesawat saja, aku takut Mama akan kelelahan jika naik mobil. Kita tidak tahu bagaimana kondisi perjalanan, bisa saja akan terkena macet dan akan memakan waktu lama di perjalanan," jawab Diego.


"Kalau begitu biar Ayah yang pulang naik mobil, Ayah akan menemani Aron seperti saat pertama kali kami datang ke sini," kata Sastro.


"Tidak usah Yah, kita semua pulang naik pesawat. Biar Aron saja yang pulang membawa mobil," kata Diego.


"Maaf jika saya lancang ikut campur pembicaraan Tuan dan Nyonya. Tapi benar apa yang Tuan Diego katakan, sebaiknya Tuan Sastro pulang menggunakan pesawat saja bersama Tuan Diego dan Nyonya Raisa, biar saya sendiri yang pulang membawa mobil. Tetapi sebelumnya saya akan mengantar kalian ke bandara," kata Aron.


"Iya Ayah, memang lebih baik Ayah pulang bersama kami," Raisa menimpali.


"Ya sudah kalau memang seperti itu, Ayah ikut saja," jawab Sastro.


Prang …


Tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca dari arah kamar Siska, yang membuat mereka semua pun terkejut dan langsung berlari ke kamar itu, termasuk Aron dan Denis.


"Mama … !" Teriak Raisa dan Diego secara hampir bersamaan.


Lalu mereka semua pun masuk ke dalam kamar mendekati Siska yang di saat itu sudah tergeletak di atas lantai.


"Ma, Mama kenapa Ma. Kenapa Mama bisa seperti ini?" Tanya Diego yang langsung saja menggendong tubuh ibunya tersebut dan membawanya kembali ke atas tempat tidur.


"Maaf Mama tidak sengaja, tadinya Mama ingin mengambil minum. Tapi tiba-tiba dada Mama terasa sesak dan malah tidak sengaja Mama terjatuh dengan gelas di tangan Mama yang ikut terjatuh juga," terang Siska.


"Maaf ya Ma, ini semua salahku. Seharusnya aku berada di dalam menemani Mama, ini aku malah membiarkan Mama sendiri di dalam," ucap Raisa.


"Raisa, jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau sama sekali tidak salah. Lagi pula hanya mengambil minuman saja Mama pikir tidak perlu merepotkan kalian," kata Siska.


"Akh … !" Teriak Denis tiba-tiba yang membuat mereka semua pun terkejut dan langsung menatap ke arah bocah tersebut.


Kepanikan bertambah saat terlihat darah yang mengucur deras dari telapak kaki Denis karena tidak sengaja menginjak pecahan gelas yang tadi tidak sengaja dijatuhkan oleh Siska.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2