Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Ancaman Baru.


__ADS_3

Pagi hari di saat Raisa sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya karena sedang ada waktu dan saat ini Diego juga sudah bisa mengurus dirinya sendiri, merasa terkejut karena tiba-tiba saja suaminya itu merangkul tubuhnya dari belakang.


"Kak Diego kebiasaan deh, kau ini selalu saja membuatku terkejut. Aku ini sedang memasak Kak, bagaimana kalau tanganku terkena teflon panas karena terkejut," ujar Raisa.


"Aku pasti akan merasa bersalah dan tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena membuatmu terluka. Maaf ya aku selalu membuatmu terkejut, ya mau bagaimana lagi aku merindukanmu," ucap Diego.


"Merindukan bagaimana, aku hanya ke dapur Kak. Lagi pula tadi malam aku sudah memberikan apa yang kau mau, bahkan beberapa hari ini non stop, tidak pernah absen," ucap Raisa yang membuat Diego tersenyum


"Tapi aku tidak puas, aku masih dan selalu merindukanmu," ucap Diego yang mengendus-endus leher sang istri seperti biasa.


"Ih … Sayang, lebih baik sekarang kau duduk di sana saja, temani Diesa. Nanti kalau Mama dan Denis ke sini tidak enak mereka melihat kita seperti ini," kata Raisa sembari menuju ke arah meja dan kursi yang biasa digunakan untuk para pekerja di kediaman Abimana saat makan.


"Diesa 'kan sedang tidur Sayang, lagi pula dari sini aku juga bisa melihatnya," ucap Diego yang malah semakin erat memeluk istrinya tersebut.


"Kak, aku susah bergerak kalau kau seperti ini. Kenapa sih akhir-akhir ini kau selalu saja bersikap manja, bukan hanya di depan Sena waktu itu tapi semenjak hari itu. Ada apa Kak?" Tanya Raisa


"Tidak ada apa-apa Sayang, aku hanya merasa jika semakin hari aku semakin mencintaimu dan takut kehilanganmu. Kau tahu sendiri 'kan jika umurku ini semakin lama semakin tua, aku pasti sudah tidak menarik lagi dan aku takut kau akan mencari pria lain di luaran sana. Pria yang lebih muda dan juga lebih menarik daripada aku," ucap Diego yang membuat Raisa tersenyum.


Di saat itu Raisa mematikan kompor dan melepaskan rangkulan tangan Diego dari pinggangnya, lalu memutar badan hingga keduanya saling berhadapan.


"Kak, sejak kapan kau bisa berpikir seperti itu? Yang aku tahu kau biasanya selalu percaya diri bahwa kau itu tampan, hot duda, memiliki pesona yang tak ternilai dan kau sangat yakin jika aku tidak mungkin berpaling darimu. Bahkan wanita di luar sana juga banyak yang sangat menginginkanmu untuk menjadi suami mereka. Jadi kenapa kok bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Raisa.


"Ish kau ini, aku berkata seperti itu hanya untuk menghibur diriku sendiri saja. Ya meskipun sebenarnya itu benar tapi tetap saja kan semakin lama umurku ini semakin bertambah, perbedaan umur kita 10 tahun, aku pasti akan lebih cepat menua daripada kau," ucap Diego.


"Sayang dengarkan aku ya, aku ini menikah bukan untuk main-main. Semenjak aku memutuskan untuk menikah denganmu dan di saat itu pula aku sudah siap untuk selamanya hidup bersama denganmu, sesuai janji yang pernah aku ucapkan saat kita menikah, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam kondisi apapun dan apapun yang terjadi. Asalkan kita berdua masih tetap saling percaya, saling menyayangi saling mencintai, selamanya aku akan tetap bersamamu Kak," ucap Raisa dengan tatapan penuh cinta sembari memegang kedua pipi suaminya itu


Diego merasa sangat bahagia mendengarnya, lalu ia pun meraih tubuh istrinya tersebut ke dalam dekapannya.


"Terima kasih ya Sayang, janji ya jangan pernah berubah apalagi berpikir untuk meninggalkanku. Tetap cintai aku sampai maut memisahkan kita, itu juga janjiku padamu Raisa," ucap Diego.


"Iya Kak, ya sudah ayo sekarang kita ruang makan. Aku titip Diesa ya Kak, aku mau menyiapkan sarapan dulu," ucap Raisa.


_____

__ADS_1


Di saat Raisa dan Diego sudah berada di ruang makan serta sarapan yang sudah tersaji di atas meja, di saat itu pula terlihat Denis menuju ke ruang makan bersama salah satu asisten rumah tangga yang biasa mengurusnya.


"Eh sudah rapi ya Mama, ayo Sayang kita sarapan," ucap Raisa.


"Iya Ma. Adik bisa masih bobok ya," kata Denis yang melihat adiknya tersebut di dalam baby stroller.


"Iya Sayang, tadi sudah bangun makanya Mama bawa turun. Tapi sewaktu Mama sedang memasak, Adik malah tidur lagi," jelasbRaisa.


"Itu artinya Adik tahu Mama sedang sibuk, makanya tidak mau mengganggu Mama. Adik 'kan pintar Ma," ucap Denis.


"Iya dong 'kan sama dengan kakaknya," puji Siska yang tiba-tiba saja muncul di ruang makan.


"Benar apa kata Oma," sahut Diego yang membuat Denis pun tersenyum merasa sangat senang.


"Ma ayo sarapan. Buburnya ini sudah hangat jadi Mama tidak kesusahan lagi memakannya," ucap Raisa sembari menuntun ibu mertuanya tersebut untuk duduk di kursi.


"Terima kasih banyak ya Sayang," ucap Siska dan ditanggapi dengan anggukan kepala oleh menantunya itu.


Lalu segera saja keluarga Abimana menikmati sarapan yang telah dibuat oleh Raisa.


_____


"Kak kau yakin mau menyetir mobil sendiri. Apa tanganmu benar-benar sudah tidak apa-apa?" Tanya Raisa yang merasa sangat khawatir.


"Iya aku yakin, aku sudah tidak apa-apa Sayang. Sudah dua minggu berlalu masa iya aku tidak bisa menyetir juga, tanganku sudah lebih baik kok. Kau lihat sendiri 'kan lukanya ini juga sudah mengering," kata Digo yang menunjukkan telapak tangan kanannya.


"Iya juga sih Kak. Ya sudah kalau memang seperti itu, tapi kau harus tetap berhati-hati ya dan jangan lupa kabari aku jika kau sudah sampai ke perusahaan," pesan Raisa.


"Iya Sayang, kau tenang saja. Aku pergi dulu ya," ucap Diego.


Raisa menyalami tangan suaminya itu, begitu juga dengan Diego yang mencium kening sang istri, yang sudah menjadi rutinitas wajib setiap hari. Setelah mobil Diego sudah tak terlihat lagi dari pandangan mata, Raisa pun kembali masuk ke dalam rumah.


*****

__ADS_1


Saat tiba di perusahaan, Diego merasa sangat terkejut melihat apa yang ada di depan matanya. Seluruh dinding dan kaca depan Perusahaan Abimana Grup telah dicoret menggunakan cat dan terdapat tulisan-tulisan yang sangat tidak pantas, salah satunya berupa ancaman. Yang lebih mengejutkan lagi 2 orang satpam yang menjaga keamanan tadi malam tergeletak di pos satpam dan di depan kantor dengan kondisi luka ringan.


Orang yang pertama kali mengetahui hal itu adalah satpam yang datang paling pertama karena akan bergantian shift. Satpam tersebut juga mencoba menghubungi Diego tetapi bos mereka itu tidak menjawabnya, karena ponsel Diego masih dalam kondisi mode silent sejak tadi malam. Diego lupa untuk mengaktifkannya kembali sehingga ia tidak mendengar telepon dari satpam atau pegawai lain yang juga mencoba untuk menghubunginya, termasuk Kenzo.


Akan tetapi kedua satpam itu sudah dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan pertolongan.


"Kalian semua harus mati. Jika kalian masih tetap berada di sini maka bersiap-siaplah kalian atau keluarga kalian akan menderita."


"Diego, Raisa, Sastro. Kalian semua pasti akan mendapatkan balasannya."


"Menyerah atau mati."


Diego membaca beberapa tulisan yang ada pada kaca. Sudah jelas ini adalah perbuatan orang lama meskipun dengan ancaman baru, yaitu dengan mengancam seluruh pegawai yang bekerja di perusahaannya. Membuat Diego mengepal erat kedua tangannya serta mengeratkan gigi-giginya dengan emosi yang memuncak.


Suasana di dalam perusahaan juga tampak riuh sedari tadi, bahkan beberapa pegawai masih berada di luar karena takut untuk masuk ke dalam, mereka takut jika ancaman itu akan benar-benar menghampiri mereka semua.


"Tuan, bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Kenzo yang menghampiri Diego karena masih berada di luar.


"Ken, saya minta tolong cari tahu tentang masalah ini secepatnya. Siapa yang sudah melakukan dan tolong tenangkan semua pegawai untuk jangan takut, tetap bekerja seperti biasa dan aku akan segera mengerahkan beberapa bodyguard untuk menjaga keamanan perusahaan," titah Diego.


"Baik Tuan," jawab Kenzo yang langsung mengerti meskipun ia baru saja satu bulan bekerja di Perusahaan Abimana Group.


Diego sendiri mengakui jika kinerja Kenzo sangat baik dan bisa diandalkan karena selalu bisa melakukan perintahnya dengan tepat waktu, meskipun ia juga tidak bisa mempercayainya 100% karena pengalaman buruk yang pernah dialaminya soal asisten.


Bagian kebersihan yang juga dibantu oleh beberapa pegawai langsung saja membersihkan coretan yang ada di dinding serta kaca perusahaan. Sementara Diego yang berada di dalam ruangannya itu terlihat sedang sibuk menelpon orang-orang untuk membantunya mengatasi masalah perusahaan saat ini, termasuk beberapa bodyguard yang ia utus untuk menjaga keamanan perusahaan.


Diego juga mencoba untuk merahasiakan hal ini dulu dari keluarganya, ia tidak mau mereka akan merasa khawatir. Akan tetapi tanpa Diego ketahui ternyata para wartawan telah tiba di perusahan, entah dari mana asalnya. Beberapa paparazi juga sudah berhasil memotret sisa tulisan yang di saat itu belum dibersihkan serta bagaimana riuhnya perusahaan yang direkamnya sejak tadi. Sehingga berita tersebut tersebar di media sosial yang menyebabkan Siska dan Raisa juga melihat akan hal tersebut.


*****


"Ada apa ini Raisa, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Siska yang memegangi dadanya karena terasa sangat sesak.


"Ma, sabar Ma. Aku juga tidak tahu ini ada apa, aku sudah mencoba menghubungi Kak Diego tapi tidak bisa Ma, mungkin Kak Diego sekarang sedang berusaha untuk menangani masalah ini. Mama Sabar ya Ma, aku mohon jaga kesehatan Mama, jangan terlalu dipikirkan," ucap Raisa yang merasa sangat khawatir.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2