Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Sadar Dari Koma.


__ADS_3

Karena tak mau terjadi sesuatu yang tak diinginkan, meskipun Raisa sangat jarang sekali mencurigai seseorang tetapi karena Teh Rasmi memintanya untuk waspada, apalagi dalam kondisi seperti saat ini yang membuat Raisa pun mengingat jika banyaknya orang jahat yang selalu menghampiri keluarga mereka, sehingga membuatnya pun tidak mau memakan makanan tersebut. Raisa takut jika orang itu memang sengaja mengincarnya, bisa saja jika di dalam makanan tersebut sudah ditaruh racun atau sesuatu yang akan menyebabkan dirinya malah membuat masalah baru.


"Pantas saja Teh, dari nada bicaranya tadi terdengar sagat berbeda. Maksudku seperti ini, meskipun Teh Rasmi dan Mang Jojo menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara denganku tapi logat kalian berdua masih terdengar jelas, berbeda dengan orang tadi yang mengaku bernama Dadang itu. Gaya bahasanya seperti sama denganku Teh, hanya saja dia memanggilku dengan sebutan Teh juga seperti itu," kata Raisa, meskipun tadinya ia sama sekali tak menaruh curiga apapun terhadap orang tersebut.


"Mungkin saja dia orang baru di sini," ujar Teh Rasmi.


"Tapi bagaimana bisa ada orang baru yang dekat dengan Mama tapi Teh Rasmi sama sekali tidak mengenalinya," ucap Raisa.


"Saya juga tidak tahu Teh, tapi mudahan-mudahan saja orang tadi bukan orang jahat," ucap Teh Rasmi.


"Ya mudah-mudahan saja seperti itu Teh, tapi memang tidakbsalah juga 'kan jika kita harus berhati-hati. Oh iya Teh, apa aku boleh minta tolong jangan beritahu masalah ini ke Kak Diego. Aku tidak mau Kak Diego malah merasa khawatir dan jadi kepikiran. Aku mohon katakan saja kepada Kak Diego bahwa tidak terjadi apapun di rumah ini. Seperti yang Teh Rasmi lihat aku dan anak-anak baik-baik saja 'kan," pinta Raisa.


"Iya Teh saya mengerti, saya janji tidak akan mengatakan tentang ini kepada Kang Diego. Saya juga tidak mau menambah bebannya," ucap Teh Rasmi.


"Terima kasih banyak ya Teh, Teh Rasmi sudah banyak membantuku dan Teh Rasmi tadi juga sudah mengingatkanku. Untung saja aku bertanya dulu dengan Teh Rasmi. Tapi siapa ya teh kira-kira orang itu?" Tanya Raisa yang sebenarnya merasa penasaran dengan orang tersebut.


"Sama-sama Teh. Jangan sungkan seperti itu sama saya, Saya senang bisa membantu Teh Raisa. Saya pun tidak tahu siapa orang itu karena saya tidak melihatnya. Mungkin saja dia memang tetangga baru tapi saya tidak mengenalnya dan Bu Siska yang sudah mengenalnya terlebih dulu, karena saya kan sibuk bekerja di perkebunan dan mungkin juga Bu Siska belum sempat untuk menceritakannya kepada saya. Sebenarnya ada warga yang bernama Dadang tapi bukan di desa sini Teh, ada di desa sebelah," kata Teh Rasmi.


"Oh … kalau warga desa sebelah tidak mungkin juga bisa dekat dengan Mama, apalagi sampai mengantar sarapan. Lagi pula yang dia katakan tadi karena kebetulan lewat jadi sengaja mau mengantar sarapan untuk Mama karena tahu Mama tinggal sendirian di sini. Kalau dari desa sebelah menurutku itu tidak mungkin Teh," ujar Raisa.


"Saya juga berpikir seperti itu," ucap Teh Rasmi.


"Ya sudah tidak usah dipikirkan Teh, sekarang kita sarapan saja dulu ya. Kalau nasi gorengnya terlalu dingin sudah tidak enak lagi untuk dimakan, ini mumpung si bayi juga anteng," ajak Raisa.


"Terima kasih banyak Teh Raisa," ucap Teh Rasmi dan Raisa menanggapinya dengan anggukkan kepala dan senyuman.


"Kak Denis, ayo kita sarapan Sayang."


Raisa memanggil Denis yang di saat itu terlihat sedang asik bermain, sehingga langsung saja anak laki-laki itu menghampiri ibunya tersebut.


"Ma, nasi gorengnya tidak pedas 'kan?" Tanya Denis.


"Tidak terlalu pedas Sayang, nasi gorengnya ini hanya Mama kasih cabe sedikit saja. Kak Denis 'kan sudah pintar makan pedas, iya 'kan?" Kata Raisa.


"Iya Ma, aku mau kok makan pedas," sahut Denis.

__ADS_1


"Anak pintar. Mama juga tahu kok kau tidak suka makan terlalu pedas, untuk itu Mama hanya menaruh cabe sedikit saja," kata Raisa.


"Iya Ma, Terima kasih ya," ucap Denis.


"Sama-sama Sayang," jawab Raisa sembari menyendokkan nasi goreng ke dalam piring dan memberikannya kepada Denis.


Lalu segera saja Raisa, Denis dan Teh Rasmi menikmati sarapan nasi goreng yang telah dimasak oleh Raisa tadi.


"Oh iya Ma, Papa dan Oma mana? Kapan mereka pulang?" Tanya Denis di sela-sela sarapan mereka.


"Papa masih berada di rumah sakit untuk menjaga Oma dan Mama belum tahu kapan mereka akan pulang. Tapi kita berdoa saja ya semoga Oma cepat sembuh, jadi Oma dan Papa cepat pulang," ucap Raisa.


"Iya Ma, aku pasti akan mendoakan Oma terus. Oh ya Ma apa boleh aku menelpon Papa? Aku merindukan Papa," tanya Denis.


"Boleh dong Sayang. Tapi sekarang sarapannya dihabiskan dulu ya, nanti selesai sarapan kita akan menelpon Papa, oke," kata Raisa.


"Oke Ma," jawab Denis yang terlihat begitu antusias.


*****


"Jadi seperti itu Tuan, meskipun selama ini Nyonya Siska terlihat baik-baik saja dan juga sudah dioperasi tetapi penyakit jantungnya itu semakin lama semakin memburuk. Jadi saya sarankan agar Nyonya Siska melakukan operasi ulang untuk memperbaiki katup jantungnya, ini demi kebaikan Nyonya Siska. Tapi itu semua sekarang tergantung kepada Tuan dan Nyonya Siska sendiri, menyetujuinya atau tidak," kata dokter yang membuat tubuh Diego terasa lemas seketika, bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak.


Diego benar-benar tidak menyangka jika kondisi ibunya bisa separah itu. Padahal selama ini Siska tidak pernah mengeluh sakit di depan matanya, sehingga membuatnya pun berpikir jika saat ini kondisi ibunya itu sudah baik-baik saja.


"Apakah operasi itu bisa dilakukan di Jakarta atau harus ke luar negeri Dok?" Tanya Diego.


"Ya tentu saja bisa. Di manapun tempatnya asalkan memiliki alat yang memadai dan sanggup untuk menangani Nyonya Siska, itu sama sekali tidak jadi masalah," jawab dokter.


"Tapi bagaimana saya mau meminta pendapat Mama Dok, sedangkan Mama sampai saat ini belum sadar," ujar Diego.


"Kemungkinan hari ini Nyonya Siska akan sadar dari komanya, kita berdoa saja semoga keajaiban itu ada," ucap Dokter.


"Terima kasih banyak Dokter," ucap Diego.


"Sama-sama Tuan, ini memang sudah tugas kami sebagai Dokter untuk membantu menangani pasien dalam kondisi apapun. Meskipun kemungkinan sangat kecil untuk Nyonya Siska bisa sembuh total, tetapi paling tidak akan memperpanjang umurnya. Memang umur manusia tidak ada yang tahu karena semua itu sudah ditakdirkan, sudah ada jalan hidupnya masing-masing, tapi setidaknya keluarga sudah berusaha melakukan yang terbaik sehingga tidak akan menyesal nantinya," kata dokter.

__ADS_1


"Iya Dokter. Dokter benar dan saya sangat berharap jika umur Ibu saya masih panjang, saya merasa belum cukup membahagiakan ibu saya Dok," ucap Diego.


"Iya Tuan, saya mengerti. Sebagai anak pasti kita tidak mungkin rela kehilangan ibu yang sudah melahirkan kita. Tapi apapun yang terjadi nanti saya harap Tuan Diego bisa menerimanya," ucap Dokter.


"Iya Dok, sekali lagi terima kasih banyak. Kalau memang sudah tidak ada yang mau dibahas lagi, saya permisi dulu Dok. Saya mau melihat ibu saya," ucap Diego.


"Oh iya silahkan Tuan, untuk saat ini hanya itu dulu pembahasan kita. Sekarang saya juga harus menangani pasien lain," ucap dokter .


Lalu Diego pun keluar dari ruangan dokter dan menuju ke ruang ICU untuk menemui ibunya, seperti apa yang tadi ia katakan kepada dokter.


"Mama ini Diego Ma, bangun Ma. Aku sangat merindukan Mama, bukan hanya Mama saja tapi menantu Mama, cucu-cucu Mama, semuanya menanyakan keadaan Mama. Mereka semua mendoakan untuk kesembuhan Mama. Mama bangun ya, rasanya aku tidak sanggup hidup kalau melihat Mama seperti ini terus. Aku sangat mencintai Mama," ucap Diego dengan air matanya yang menetes hingga membasahi tangan Siska.


Beberapa detik kemudian keajaiban benar-benar terjadi, tiba-tiba saja Siska menggerakkan tangannya serta kelopak matanya hingga ia pun membuka mata, membuat Diego merasa sangat senang karena ibunya tersebut sudah sadar dari komanya.


"Ma, syukurlah Mama sudah sadar," ucap Diego.


Lalu ia pun menekan tombol nurse call untuk memanggil perawat, sehingga tidak membutuhkan waktu lama dokter dan perawat sudah masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung memeriksa keadaan Siska.


Sementara itu Diego tampak menunggu di depan ruang ICU sendirian, ia tidak diperbolehkan berada di dalam agar dokter bisa bekerja dengan maksimal. Dokter sedang berusaha untuk membantu ibunya dan membuat Diego pun terus saja berdoa agar kondisi ibunya baik-baik saja.


Di saat itu pula ponsel Diego berdering, ternyata ada panggilan video dari Raisa. Segera saja ia menjawab telepon tersebut dan langsung terlihat wajah Denis yang sangat merindukan ayahnya itu.


"Halo jagoan Papa sayang, apa kau merindukan Papa?" Tanya Diego mengawali percakapan di telepon.


"Iya Pa, aku merindukan Papa dan Oma. Kapan kalian pulang, bagaimana keadaan Oma sekarang?" Tanya Denis.


"Sayang, Papa belum tahu kapan Papa akan pulang. Tapi doakan saja ya Oma cepat sembuh jadi Papa dan Oma bisa pulang. Sekarang Oma sedang ditangani Dokter, tadi Oma sudah bangun," kata Digo.


Raisa yang mendengar hal itu pun langsung saja mendekati Denis dan ikut berbicara dengan suaminya itu.


"Kak Mama sudah sadar, syukurlah kalau seperti itu. Mudah-mudahan keadaan Mama lekas membaik dan cepat pulang ya Kak," ucap Raisa.


"Iya Sayang, kita doakan saja ya semoga Mama baik-baik saja. Aku juga berharap ada keajaiban dari Tuhan," kata Diego tetapi tak bisa menyembunyikan rasa kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya.


"Kak, kenapa? Bukannya Mama sudah sadar, seharusnya kau senang. Tapi kenapa aku lihat kau murung seperti itu, ada apa Kak?" Tanya Raisa yang tahu jika saat ini Diego sedang menutupi sesuatu darinya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2