Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Surat Ancaman.


__ADS_3

"Kak, itu apa?" Tanya Raisa yang mendekati dan melihat suaminya tampak khawatir.


Sebenarnya Diego tak ingin memberitahu Raisa karena kondisinya saat ini, tetapi jika mengingat apa yang baru saja terjadi membuatnya pun takut jika istrinya itu pasti akan marah lagi padanya. Sehingga Diego berencana akan memberitahu hal tersebut kepada Raisa dan juga ibunya.


"Sayang, Ma, Denis, ayo kita masuk. Di luar sangat berbahaya," ajak Diego yang merangkul tubuh istrinya tersebut dan membawanya masuk ke dalam, diikuti oleh ibu serta anaknya.


_____


"Ada apa Diego?" Tanya Siska saat mereka sudah berada di ruang keluarga.


"Iya Kak, ada apa? Itu kertas apa?" Sambung Raisa yang merasa sangat penasaran.


"Sayang, Ma, aku juga tidak tahu siapa yang mengirim surat botol ini, tetapi ini benar-benar sangat mengkhawatirkan," ucap Diego yang menyerahkan kertas tersebut kepada Raisa.


Segera saja Raisa dan Siska membaca coretan yang ada di atas kertas putih tersebut secara bersamaan.


"MENYERAH ATAU MATI."


Baik Raisa maupun Siska sama-sama syok membaca tulisan itu sama halnya seperti Diego. Melihat surat ancaman tersebut tentunya benar-benar ada orang yang ingin bermain-main dengan keluarga Abimana.


Diego pun terlihat mengepal erat kedua tangannya serta tatapannya yang begitu tajam, ia benar-benar sangat marah dan ingin segera mencari tahu siapa dalang di balik ini semua. Tetapi karena hari sudah malam, Diego juga merasa sangat khawatir dengan keluarganya yang berada di rumah jika saat ini juga ia harus pergi.


Meskipun Diego sudah mempekerjakan 2 Bodyguard di rumahnya, buktinya saat tadi ada yang melempar surat botol kaca tersebut mereka tidak dapat mengejar orang tersebut karena memang orang yang melakukannya benar-benar sangat pandai untuk melihat situasi.


"Diego, kau mau ke mana? Jangan pergi Diego. Dalam kondisi seperti ini seharusnya kau tetap berada di rumah melindungi keluargamu," sergah Siska yang melihat Diego hendak pergi.


"Aku tidak akan pergi kemanapun Ma, Aku mau menemui penjaga di depan," jawab Diego.


"Kau hati-hati ya Kak," ucap Raisa.


"Iya Sayang, kau tenang saja," jawab Diego.


Lalu Diego pun langsung saja keluar rumah menemui 2 penjaga di depan rumahnya. Sedangkan Siska dan Raisa tampak begitu khawatir, berbeda dengan Denis yang masih tampak kebingungan.


"Denis, sekarang Mama antar ke kamar ya. Apa kau ada PR?" Tanya Raisa.

__ADS_1


"Tidak ada Ma," jawab Denis.


"Ya sudah kau istirahat saja, ayo Sayang," ajak Raisa.


Bukan hanya Raisa saja tetapi Siska juga ikut mengantar cucunya tersebut ke kamar. Mereka memilih untuk menunggu Diego di kamar Denis sembari menemani anak kecil tersebut.


"Ma, Oma, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada orang jahat lagi yang ingin menyakiti keluarga kita?" Tanya Denis, sedikit banyaknya ia mengerti karena sering mendengar percakapan antara orang tuanya.


"Sayang, kau tidak perlu khawatir ya, ini adalah urusan orang dewasa. Yang penting apapun yang Papa katakan kau harus nurut, jangan membantah ucapan Papa, Mama ataupun Oma," ucap Raisa.


"Iya Ma," jawab Denis diiringi anggukkan kepalanya.


"Denis, sekarang kau tidur saja ya. Ini sudah malam," titah Siska.


"Iya Oma. Selamat malam Oma, selamat malam Mama," ucap Denis.


"Selamat malam Sayang," balas Raisa.


"Selamat malam," balas Siska pula.


Lalu Denis pun membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata dengan ditemani oleh Raisa yang berada di sampingnya, hingga tidak lama kemudian ia telah berada di alam mimpi.


"Lalu kau mau melakukan apa Raisa? Jangan menambah masalah. Mama juga tidak tahu siapa dia, tapi seperti yang dikatakan Diego bahwa itu orang yang sama yang ingin mengincarmu karena ingin menyakiti Ayahmu. Sebenarnya apa sih masalah yang pernah Ayahmu lakukan dulu terhadap orang itu, kenapa orang itu begitu dendam sampai harus mencelakaimu dan kalau seperti ini bukan hanya kau saja yang disakiti tapi kita semua yang berada di sini terancam," ujar Siska


"Maafkan aku ya Ma, aku juga tidak tahu keadaannya akan seperti ini, gara-gara aku keluarga kita jadi terancam," ucap Raisa.


"Kau tidak perlu minta maaf karena ini semua bukan kesalahanmu Raisa, tapi Ayahmu lah yang bersalah. Seharusnya Tuan Sastro bisa menyelesaikan masalah ini, kenapa dia malah diam saja," ucap Siska yang merasa kesal terhadap ayahnya Raisa.


"Ma, aku juga tidak bisa menyalakan Ayah karena Ayah sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu lagi. Menurut cerita dari Ayah masalah mereka juga tidak serumit itu Ma. Hanya Om Erros saja yang sampai sekarang tidak bisa menerimanya, padahal mereka sama-sama sudah berkeluarga. Apa menurut Mama pantas Om Erros masih bersikap seperti itu?" Tukas Raisa.


"Itu hanya kata Ayahmu saja, kalau menurut Mama pasti mereka memiliki masalah lain. Kalau tidak mana mungkin bisa sejauh ini. Sekarang lihat Raisa, surat ancaman yang dikirim tadi itu benar-benar sangat menakutkan," ujar Siska.


"Ma aku juga sangat khawatir, tapi tolong jangan menyalahkan Ayah Ma," ucap Raisa dengan tatapan sendu.


Siska menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara kasar. "Sudahlah Raisa Mama ingin istirahat. Kalau kau mau istirahat ya istirahat saja, Denis juga sudah tidur," ucapnya.

__ADS_1


"Iya Ma, selamat malam," ucap Raisa.


Siska hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia pun keluar dari kamar cucunya tersebut. Sedangkan Raisa masih tampak khawatir dan memikirkan tentang apa saja yang baru saja terjadi.


"Aku harus telepon Ayah sekarang, aku harus mengatakan pada ayah," batin Raisa.


Karena saat ini ia tidak memegang ponsel, sehingga Raisa pun memilih ke kamar terlebih dahulu tanpa menunggu Diego untuk mengambil ponselnya tersebut.


*****


Keesokan hari di saat Diego sudah pergi ke perusahaan dan Siska ada keperluan sehingga ia pergi ditemani oleh Bodyguard, sedangkan Denis juga tetap pergi ke sekolah tetapi dengan diantar oleh Bodyguard, sementara Bodyguard yang biasa menjaga Raisa yaitu Aron masih berada di rumah sakit, sehingga saat ini Raisa hanya ditemani oleh satpam penjaga rumah dan juga para pelayan yang bekerja di kediaman Abimana. Meskipun sudah dipesan oleh Diego jika ia tidak boleh kemanapun, tetapi karena sejak tadi malam Raisa tidak bisa menghubungi ayahnya, membuatnya begitu khawatir dan nekat untuk keluar dari rumah sendirian.


"Saya mohon jangan keluar Nona. Tuan Diego sudah berpesan kepada saya jika Nona tidak boleh kemana-mana," sergah satpam saat Raisa hendak pergi.


"Tolong Pak, saya benar-benar khawatir dengan Ayah saya karena tidak bisa dihubungi dari tadi malam. Seandainya ini adalah orang tua Bapak, apa Bapak akan tetap tinggal diam di rumah?" Tukas Raisa yang membuat satpam pun bungkam.


Hingga pada akhirnya satpam tidak bisa mencegah Raisa, segera saja Raisa masuk ke dalam taksi online yang telah dipesannya dan ia pun langsung pergi menuju ke kediaman Wijaya.


Sementara satpam langsung saja menghubungi Diego dan memberitahu bahwa istrinya telah pergi.


_____


Tidak lama kemudian Raisa pun telah tiba di kediaman Wijaya, yaitu kediaman ayahnya. Di saat itu Raisa melihat sang ayah tampak sedang berdebat dengan seseorang yang menganggapnya musuh, siapa lagi kalau bukan Erros. Entah apa yang sedang mereka perdebatkan, yang pasti sepertinya perdebatan tersebut sangat sengit dan di saat itu terlihat Erros yang sangat emosi. Sehingga Raisa pun melangkahkan kakinya mendekati mereka yang sedang berada di depan rumah.


"Ayah, Om Erros, ada apa? Apa yang kalian perdebatkan?" Tanya Raisa yang sudah berada di dekat Sastro dan Erros.


"Raisa, kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya Sastro yang sangat terkejut melihat kedatangan sang anak.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Sastro, cepat katakan!" Bentak Erros.


"Apalagi yang harus aku katakan Erros, aku tidak menyembunyikan rahasia apapun darimu. Sekarang Anakku sedang berada di sini, lebih baik kau pergi saja dari kediamanku," usir Sastro.


"Ba ji ngan!" ucap Erros dengan sangat murka, lalu ia pun melayangkan tangannya hendak memukul Sastro.


Akan tetapi Raisa yang melihat akan hal itu langsung saja memasang badan hingga akhirnya wajahnya yang terkena pukulan tersebut dan membuatnya pingsan.

__ADS_1


"Raisa!" Teriak Sastro.


Bersambung …


__ADS_2