Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Sesuatu Yang Berkesan.


__ADS_3

Setelah puas berjalan-jalan di mall dan membelanjakan Raisa dengan berbagai macam barang branded, kini Diego pun mengajak istrinya tersebut pulang ke rumah. Tentunya mereka juga sudah sekaligus makan malam bersama karena memang Diego sengaja ingin sesekali makan makan di luar dan hanya berdua saja.


Di sepanjang perjalanan Diego tampak terus tersenyum, yang membuat Raisa mengernyitkan dahinya menatap suaminya dengan kebingungan.


"Kak sedari tadi aku melihatmu senyum-senyum seperti itu, ada apa? Sepertinya suasana hatimu sangat senang," tanya Raisa.


"Memangnya kau tidak senang setelah berkencan denganku?" Diego malah bertanya balik.


"Ya tentu saja aku senang Kak, bukan hanya berkencan saja tapi kau juga sudah membelikanku barang-barang sebanyak ini. Padahal itu sama sekali tidak perlu Kak, aku juga bisa membelinya sendiri," ujar Raisa.


"Tapi kenyataannya kau jarang sekali belanja untuk kebutuhanmu sendiri. Kau selalu belanja untuk kebutuhan Anak-Anak kita, kartu kredit yang aku berikan hanya sekali-sekali saja kau gunakan," kata Digeo.


"Ya untuk apa juga Kak, karena semua kebutuhanku sudah kau penuhi," jawab Raisa yang memang merasa jika hidupnya itu sudah sangat berkecukupan. Uang bulanan yang diberikan oleh Diego juga sudah lebih dari cukup, bahkan selalu ia tabung.


"Tapi kau harus menggunakan kartu kredit itu untuk membahagiakan dirimu sendiri Sayang, sekali-sekali kau harus pergi ke salon, belanja, seperti wanita yang lainnya. Kalau aku tidak bisa menemanimu dan kau membutuhkan teman, kau kan bisa mengajak Nada atau mengajak salah satu Baby Sitter di rumah, tidak masalah juga 'kan," ujar Diego.


Istrinya itu memang sangat polos dan juga irit sejak dulu. Jika wanita lain sudah pasti akan menghambur-hamburkan uang dan senang hati menggunakan kartu kredit yang ia berikan. Termasuk Clarissa waktu dulu, bahkan tagihan kartu kreditnya selalu saja membengkak. Tetapi Clarissa masih merasa tidak puas dan tetap memilih untuk bekerja sendiri, karena waktu itu Diego juga belum sesukses seperti saat ini. Bahkan kartu kredit yang diberikan untuk Clarissa tidak seperti yang ia berikan kepada Raisa yaitu kartu kredit tanpa batas.


"Aku hanya tidak suka menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting. Tapi ya sudah Kak, nanti aku pasti akan menggunakannya untuk diriku sendiri. Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau begitu senang?" Raisa mengulangi pertanyaannya.


"Kenapa kau masih bertanya Sayang, sudah jelas aku senang karena hari ini aku bisa bersama denganmu. Kita menghabiskan waktu berdua tanpa Anak-Anak, sudah lama kita tidak seperti ini, apalagi di tengah kesibukanku. Oh ya ada hal satu lagi yang membuatku lebih senang," ucap Diego.


"Apa?" Tanya Raisa.


"Kau masih ingat 'kan kata pelayan tadi kau sangat cantik dan kau juga sangat cocok denganku, itu artinya aku juga sangat tampan. Hal itu telah membuatku bangga." Diego tersenyum lebar.


"Ck, kadi kau ke kegeeran hanya karena pelayan tadi memujimu Kak. Sebagai seorang yang bekerja di sana, itu sudah kewajibannya untuk memuji customer supaya kita akan menjadi pelanggan setianya," ujar Raisa.


"Dia tidak memujiku saja Sayang, tapi juga memujimu dan aku sangat bangga karena memiliki istri yang begitu cantik dan begitu cocok denganku yang juga tampan juga manis ini. Meskipun kau benar jika pelayan di sana pasti akan memuji kita untuk menyenangkan hati customer, tapi aku yakin jika itu jujur dari dalam hatinya. Kau juga mengakuinya 'kan Sayang, kalau aku ini memang tampan. Ya meskipun aku duda, tapi aku harus mengakuinya jika banyak wanita di luar sana yang menginginkanku dan kaulah wanita yang paling beruntung mendapatkan hatiku," ucap Diego dengan percaya diri.

__ADS_1


Raisa tersenyum mendengar ucapan suaminya tersebut, merasa suaminya itu sangat narsis tetapi apa yang diucapkannya memang benar adanya.


"Ya aku akui memang kau tampan dan aku adalah wanita yang paling beruntung karena bisa memilikimu. Aku akui bahwa aku sudah terpikat pesona hot duda," bisik Raisa yang membuat Diego tersenyum dan menatap istrinya sejenak karena saat ini ia sedang menyetir.


"Sayang, sepertinya kau telah menggodaku. Oh ini sudah malam, pasti Anak-anak sudah tidur. Aku tidak akan melepaskanmu," kata Diego yang menambah kecepatan laju mobilnya, ingin segera sampai ke rumah.


*****


Setibanya di kediaman Abimana, kondisi di rumah sudah tampak sepi karena seluruh penghuni rumah sudah tidur. Lalu Raisa menuju ke kamar baby Diesa dan terlihat jika Suster Ayumi juga sudah ketiduran di samping sang bayi. Lalu Raisa pun membangunkan pengasuh anaknya itu dan memerintahkannya untuk segera pindah ke kamarnya.


Sedangkan Raisa membawa sang bayi yang sudah tidur dengan pulas, lalu meletakkannya di dalam baby box saat sudah berada di dalam kamarnya.


Raisa tampak kesusahan membuka resleting gaunnya karena ia hendak mengganti baju, tiba-tiba saja Diego yang di saat itu sudah ke kamar terlebih dulu dan baru keluar dari kamar mandi, langsung saja memeluk tubuh istrinya tersebut dari belakang dan menciumi lehernya, mengendus-ngendus sudah seperti kucing yang mencium bau ikan.


"Kak Diego, kau ini apaan sih. Aku mau ganti baju dulu Kak," kata Raisa.


"Biar aku saja yang membukanya," ucap Diego.


Diego menarik tengkuk Raisa lalu me lu mat bibirnya dengan sangat lembut, Raisa memejamkan mata, menerima dan menikmati ciu man itu serta membalasnya. Hingga semakin lama ciuman itu semakin dalam dan semakin memanas. Tangan Diego tak tinggal diam dengan terus menjelajahi lekuk tubuh Raisa, mulai dari meremas dua gundukan milik sang istri hingga menyelinap masuk dibalik segitiga serta memainkan jarinya di bawah sana. Membuat Raisa men de sah merasakan sensasi dari sentuhan suaminya tersebut.


Mendengar Raisa yang terus men de sah, membuat Diego semakin bersemangat, sehingga ia langsung saja membopong tubuh Raisa dan mendudukkannya di atas meja rias.


"Agh … Kak Diego."


Raisa memekik diiringi de sa hannya karena tiba-tiba Diego mengecup kepemilikannya dengan sangat kuat. Ia bahkan menjambak dan menjepit kepala suaminya itu dengan kedua paha mulusnya, serta tubuhnya yang terus menggelinjang karena sentuhan Diego yang membuatnya ingin terbang.


Setelah puas bermain di bawah sana, bahkan lembah Raisa sudah tampak basah karena ulahnya, Diego kembali melu mat bibir istrinya tersebut lalu menggendongnya ala bridal dan meletakkannya di atas tempat tidur dalam posisi Raisa yang telentang. Diego melepaskan dua pelindung yang masih melekat pada tubuh sang istri hingga polos tanpa sehelai benang pun. Ia juga melepaskan pakaiannya sendiri tanpa tersisa, sehingga terlihat junior miliknya yang menyembul keluar dan sudah tampak mengeras, ingin segera untuk di puaskan.


Tak mau menundanya lagi, Diego mulai mengarahkan miliknya pada lembah tempat di mana ia akan menanam benih. Akan tetapi baru saja masuk, tiba-tiba Raisa mendorong tubuhnya hingga sang junior terlepas dan membuat Diego merasa kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa kau menolakku Sayang? Sudah aku katakan aku tidak akan nelepaskanmu," tukas Diego.


"Siapa bilang aku menolakmu," ucap Raisa yang di saat itu pun berdiri lalu mendorong tubuh Diego hingga jatuh telentang di atas tempat tidur.


"Wow aku menyukainya. Sepertinya kau ingin memimpin permainan kita malam ini," ucap Diego merasa kegirangan.


Istrinya yang sangat polos bisa berubah menjadi begitu agresif jika sudah menginginkannya, tentu saja hal tersebut membuat Diego semakin bersemangat.


"Aku tidak hanya akan memimpinnya saja, tapi aku akan memberikanku kenangan karena dua hari satu malam kita tidak bertemu. Setelah tadi kau yang menyenangkanku, sekarang giliranku akan memberikanmu sesuatu yang berkesan supaya kau cepat-cepat pulang karena merindukanku," ucap Raisa tersenyum menggoda.


"Kau hanya boleh bersikap nakal seperti ini denganku saja," ucap Diego dan tersenyum bahagia.


Suami mana yang tidak senang jika dipuaskan oleh istrinya sendiri, sehingga ia pun terlihat pasrah dengan apa saja yang dilakukan oleh istrinya tersebut. Diego yang tadinya ingin langsung melakukannya, berbeda dengan Raisa yang di saat itu tampak melakukan pemanasan terlebih dulu. Setelah tadi Diego yang melakukan pemanasan dengan memanjakannya, kini gilirannya pula yang hendak memanjakan sang suami.


Raisa mengecup leher Diego serta menyapu seluruh tubuh suaminya tersebut dengan lidahnya yang menari-nari di sana sembari memegang gagang sapu milik Diego yang benar-benar sudah berdiri tegak, serta memaju-mundurkan tangannya sambil sesekali memijat lembut, membuat Diego men de sah merasakan kenikmatan yang luar biasa.


"Agh … itu enak Sayang," racau Diego.


Beberapa menit kemudian, Raisa mengarahkan milik Diego ke arah kepemilikannya hingga terbenam sempurna di dalam goa yang sudah pernah mengeluarkan kepala bayi tersebut, tetapi rasanya tetap saja menggigit. Lalu Raisa pun menaik-turunkan pinggulnya dari tempo lambat hingga tempo cepat, sehingga terdengar suara de sa han saling bersahutan di dalam ruangan tersebut.


Untungnya kamar Diego dan Raisa kedap suara dan hanya ada satu kamar mereka saja yang ditempati di lantai atas. Sedangkan kamar sebelahnya hanyalah kamar kosong.


Di saat keduanya sudah hampir mencapai puncak, Diego segera membalikkan tubuh Raisa hingga kini berada di bawahnya. Lalu ia pun menggerakkan pinggulnya dengan sangat cepat hingga tidak lama kemudian keduanya mencapai puncak kenikmatan dan sama-sama melakukan pelepasan, dengan nafas yang memburu terdengar dari mulut keduanya. Setelah itu Diego mencabut miliknya, lalu mencium bibir Raisa serta me lu matnya beberapa detik dan berbaring di samping istrinya itu.


"Sayang, terima kasih ya. Aku benar-benar sangat senang tapi aku belum puas, jadi kau tidak boleh tidur dulu. Kau harus melayaniku," kata Diego.


"Terserah kau saja Kak, kalau aku tidur kau juga pasti akan menggangguku," jawab Raisa yang membuat Diego tersenyum dan kembali mencumbu istrinya tersebut dengan sangat rakus.


Entah berapa kali mereka melakukannya dalam semalam, yang pasti sampai keduanya benar-benar sangat lelah dan ketiduran, hingga terbangun keesokan harinya.

__ADS_1


Tentunya Diego tidak bangun terlambat, karena Raisa sudah menghidupkan alarm untuk menyiapkan sarapan dan menyiapkan segala keperluan suaminya sebelum berangkat ke luar kota.


Bersambung …


__ADS_2