Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Tak Terima.


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa kau berdiri di depan ruanganku?" Tanya Diego yang tiba-tiba saja keluar dari ruangannya dan melihat Darrel masih tampak termenung.


Darrel tersentak, ia sudah seperti maling yang tertangkap basah, "Maaf Tuan, tadinya aku hanya ingin mengantar berkas ini karena harus segera Anda tandatangani, tapi tadi aku mendengar kau sedang menelpon jadi aku tidak berani mengganggunya." Darrel mencari alasan.


"Lalu apa kau mendengar obrolanku dan Raisa?" Tanya Diego yang menatap curiga.


"Tidak Tuan, aku hanya mendengar kau sedang menelpon saja tetapi aku tidak tahu kau sedang menelpon siapa, apalagi mendengar obrolannya. Aku tidak mendengarnya sama sekali, sungguh," ucap Darrel diiringi gelengan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu, letakkan saja berkasnya di dalam ruanganku karena aku masih ada urusan, aku harus pergi sekarang," ucap Diego.


"Tapi Tuan, berkas ini harus segera ditandatangani," ujar Darrel.


Sehingga segera saja Diego mengambil berkas tersebut dan melihatnya sejenak, lalu menandatanganinya. Setelah itu pun ia memberikannya lagi kepada Darrel dan segera saja Darrel permisi meninggalkan tuannya tersebut. Begitu juga dengan Diego yang langsung saja pergi dan meninggalkan perusahaan.


_____


Sebelum menemui Raisa, Diego mampir terlebih dulu ke toko bunga untuk membelikan bunga lily kesukaan calon istrinya tersebut. Tak lupa juga ia membelikan oleh-oleh untuk calon ibu dari anaknya itu, berupa buah-buahan. Meskipun pada awalnya Raisa tidak terlalu menyukainya, tetapi semenjak hamil ia lebih suka mengkonsumsi buah-buahan apalagi yang cenderung sedikit asam seperti mangga, jeruk, strawberry dan yang lainnya. Sehingga Diego pun banyak membelikan buah-buahan tersebut untuknya.


"Bunga sudah, buah-buahan sudah, apalagi ya kira-kira yang kurang?" Gumam Diego saat ia sudah masuk ke dalam mobil.


Lalu Diego pun teringat jika tadi malam Raisa mengatakan sangat ingin memakan rujak, hanya saja waktunya sudah larut malam jadi tidak ada yang menjualnya lagi. Sehingga Diego pun segera mencari orang yang menjual rujak dan setelah menemukannya, segera saja ia melajukan mobilnya menuju ke kediaman Sastro.


*****


"Ma, Mama itu bagaimana sih, bukannya Mama yang mengatakan tidak akan pernah merestui hubungan mereka, tapi kenapa tiba-tiba saja Mama mengizinkan mereka menikah?" Tanya Clarissa saat mengunjungi kediaman Abimana. Ia tak terima saat mendengar dari Darrel jika Diego dan Raisa akan menikah.


"Dari mana kau mengetahui soal ini? Saya tidak pernah memberitahumu," ujar Siska.


"Ya ampun Ma, siapapun juga sudah tahu berita sebesar ini, ini adalah berita yang penting. Tapi Mama tidak memberitahuku dan aku kecewa karena Mama merestui hubungan mereka. Padahal Mama tahu sendiri 'kan kalau aku masih mencintai Diego Ma, aku masih ingin kembali dengannya. Mama sendiri juga mengizinkanku untuk menikah dengan Diego 'kan," ucap Clarissa.


"Carissa, sepertinya kau salah paham. Memangnya sejak kapan saya mengatakan mengizinkanmu untuk menikah dengan Diego? Tidak pernah. Saya hanya mengatakan kau bebas untuk mendekati Diego lagi, apalagi kau adalah ibu dari Denis. Tetapi itu urusan Diego mau menerimamu lagi atau tidak, tergantung usahamu saja bagaimana caranya kau mendekati Diego dan Denis," ucap Siska.

__ADS_1


"Tapi itu sama saja dong Ma. Mama sudah memberikanku lampu hijau, tapi kenapa mama tiba-tiba malah setuju dengan hubungan Raisa dan Diego," hardik Clarissa.


"Sudahlah Clarissa, kau itu tidak tahu apa-apa.


Yang jelas saya punya alasan untuk merestui mereka meskipun hati ini tidak ikhlas," ucap Siska.


"Alasan apa Ma? Anak yang dikandung Raisa? Sudah aku katakan itu hanya akal-akalan Raisa saja, tidak mungkin jika anak yang dikandung Raisa itu adalah anak Diego. Mama tahu sendiri 'kan Raisa itu dulunya wanita penghibur, wanita murahan, bisa saja jika anak itu adalah anak dari pria yang tidak jelas asal usulnya," tuding Clarissa yang tak bisa menerima alasan apapun, karena ia benar-benar tidak mau Diego menikahi wanita lain selain dirinya.


"Tidak akan ada yang tahu sebelum hasil tes DNA itu keluar," ujar Siska dengan suara meninggi.


"Tes DNA? Maksud Mama?" Tanya Clarissa tak mengerti.


"Sudahlah Clarissa, sudah saya katakan kau tidak perlu ikut campur. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, sebentar lagi Raisa akan menjadi menantu saya. Tapi bukan berarti saya akan bersikap bagaimana layaknya seorang mertua kepada seorang menantu, karena sikap saya ini tidak akan mungkin bisa sama seperti saat pertama kali saya mengenal Raisa," ucap Siska yang membuat Clarissa semakin tak mengerti, tetapi Siska sama sekali tak ingin memberitahunya.


"Ya sudahlah terserah Mama saja, aku percaya sama Mama. Tapi apakah kira-kira masih ada kesempatan untukku bersama Diego?" Tanya Clarissa.


"Itu tergantung usahamu Clarissa. Sudah saya katakan Saya tidak melarang jika kau bisa membuat Diego bersedia kembali padamu, membuat Denis juga menerimamu, sama sekali tidak masalah untuk saya. Bagaimanapun juga saya pernah mengenalmu dengan baik hingga akhirnya kau mengecewakan saya," ucap Siska.


"Maafkan aku Ma, tapi aku benar-benar terpaksa waktu itu karena itu semua demi keluargaku. Aku ingin membantu keluargaku yang terlilit hutang tapi aku tidak mau menyusahkan Diego, untuk itulah aku memilih karirku karena aku mau mencari uang sebanyak-banyaknya sampai hutang keluarga lunas," ucap Carissa.


*****


Diego baru saja tiba di kediaman Sastro, ia pun langsung saja dipersilahkan masuk oleh pelayan di sana yang sudah mengenal Diego dengan baik, yaitu Bi Rahmi.


"Silahkan duduk Tuan," ucap Bi Rahmi seraya menunjuk sofa yang ada di ruang tamu.


"Terima kasih ya Bi, ucap Diego sembari mendudukkan dirinya di atas kursi. "Sepertinya rumah sepi, Ayah ada Bi?" Tanyanya.


"Tuhan Sastro baru saja keluar Tuan, katanya ada urusan," jawab Bi Rahmi.


"Oh begitu, kalau Kelvin?" Tanya Diego lagi.

__ADS_1


"Tuan Kelvin ada di perusahaan seperti biasa. Tuan Diego tidak usah malu-malu sama Bibi. Pasti sebenarnya Tuan Diego mau menanyakan Nona Raisa 'kan? Kenapa juga harus menanyakan yang lain," goda Bi Rahmi.


Diego menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "He … he … he … Bibi tahu saja. Ya dia lah yang sebenarnya aku cari Bi. Raisa ada 'kan?" Tanyanya.


"Ya tentu saja Bibi tahu, kalau Tuan datang ke sini pastinya mau bertemu dengan Nona Raisa. Tenang saja, kalau Nona ada kok Tuan. Nona Raisa tadi sedang istirahat di kamarnya, tetapi Nona Raisa berpesan jika Tuan Diego sudah datang, dia meminta Bibi untuk membangunkannya. Sebentar ya Tuan, biar Bibi bangunkan dulu," ucap Bi Rahmi.


"Bi, tidak usah," sergah Diego yang membuat langkah Bi Rahmi berhenti dan Diego pun berjalan mendekati sang bibi.


"Ada apa Tuan?" Tanya Bi Rahmi.


"Biar saya saja ya yang membangunkan Raisa, Bibi percaya 'kan dengan saya?" Ujar Digo.


"Oh … , ya tentu saja Bibi percaya Tuan, Tuan 'kan calon suami Nona Raisa. Bibi juga sudah mengenal Tuan, bagaimana mungkin tidak percaya," ucap Bi Rahmi yang membuat Diego pun tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu saya naik ke atas untuk membangunkan Raisa dulu ya Bi," ucap Diego.


"Iya Tuan. Bibi buatkan minuman dulu ya, nanti Bibi antar ke atas," ucap Bi Rahmi.


"Tidak usah Bi, taruh saja di meja depan. Nanti saya dan Raisa akan turun kok, saya hanya membangunkan Raisa saja," ucap Diego.


"Oh ya sudah kalau begitu," ucap Bi Rahmi.


Lalu segera saja Diego melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas menuju ke kamar Raisa, sedangkan Bi Rahmi menuju ke dapur untuk membuatkan minuman serta cemilan.


_____


Secara perlahan Diego membuka pintu kamar Raisa yang tidak dikunci, lalu ia pun masuk ke dalam dan melihat Raisa yang di saat itu masih tertidur. Lalu Diego mendekatinya dengan langkah kaki perlahan juga, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar Raisa tidak terusik.


Hingga kini Diego sudah berdiri tepat di samping wanita itu dan memandangi wajah polos Raisa yang sedang tidur. Raisa terlihat begitu cantik, sehingga membuat Diego merasa gemas dan ingin mendekati wanita tersebut. Lalu ia pun mendudukkan dirinya dan mencium kening Raisa dengan lembut, tetapi sama sekali tak membuat Raisa bergeming.


"Sepertinya kau tidur begitu nyenyak, lihat saja setelah ini apakah kau tetap tidak akan bangun," gumam Diego lalu ia menempelkan bibirnya, yang membuat Raisa terbangun dan membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Kak Diego?"


Bersambung …


__ADS_2