Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Peluru Terakhir.


__ADS_3

Raisa merasa sangat terkejut sekaligus bahagia karena di saat itu Kelvin memberi kabar bahwa ayahnya telah sadar dari koma. Sastro juga menanyakan di mana keberadaan Raisa dan Diego yang membuat Raisa saat ini juga ingin segera menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi ayahnya, tetapi tentunya ia tidak bisa karena takut sang bayi akan menangis lagi.


Di saat itupun Raisa membawa Diesa yang sudah bangun dari tidurnya menuju ke kamar ibu mertuanya.


"Ma, tadi Kak Kelvin baru memberi aku kabar katanya Ayah sudah sadar dari komanya," ucap Raisa.


"Oh ya, syukurlah kalau memang seperti itu. Lalu apa kau mau ke rumah sakit sekarang?" Tanya Siska, ia juga merasa lega dan senang mendengar kabar bahwa besannya tersebut telah sadar.


Begitu juga dengan Maira dan Ayumi yang di saat itu berada di dalam kamar Siska, mereka pun ikut merasa senang dan bersyukur.


"Sebenarnya iya Ma. Tapi bagaimana dengan Diesa, aku takut nanti dia akan menangis lagi," kata Raisa yang merasa khawatir.


"Tidak apa-apa Nyonya Raisa, lebih baik baby Diesa ditinggal saja. Biar saya yang akan menjaganya, sepertinya saat ini baby Diesa sudah lebih tenang karena sudah melihat Nyonya," ucap Ayumi.


"Kita coba dulu ya Sus," ucap Raisa. "Baby Diesa kesayangannya Mama, Papa, Kak Denis, Oma, Opa dan semuanya, Mama boleh tidak izin mau bertemu Opa yang saat ini sudah sadar di rumah sakit. Mama janji tidak akan lama pasti Mama sudah kembali lagi. Diesa yang pintar ya di rumah sama Suster Ayumi, Suster Maira, ada Kak Denis, Oma juga. Boleh ya Sayang?" Ucapnya yang berpamitan kepada anak bayinya.


Di saat itu pun terlihat baby Diesa yang tampak tersenyum menanggapi ucapan ibunya tersebut, sehingga Raisa mencoba untuk menyerahkan Diesa kepada pengasuhnya dan ternyata Diesa sangat tenang, sama sekali tidak menangis berada di gendongan Ayumi.


"Raisa, sepertinya baby Diesa baik-baik saja. Kalau kau hanya pergi sebentar Mama rasa tidak akan jadi masalah. Tapi jangan pergi sendiri ya, ingat harus diantar salah satu bodyguard di depan," ucap Siska.


"Iya Ma, kalau soal itu pasti. Ya sudah aku titip Anak aku dulu ya sama Mama, Suster Maira dan Suster Ayumi. Aku janji tidak akan lama, 1 jam dari sekarang aku sudah kembali lagi ke rumah. Jika tidak pun aku pasti akan mengabari kalian segera," ucap Raisa.


"Iya Nyonya tenang saja, nanti kalau memang ada apa-apa atau baby Diesa menangis, pasti saya akan mengabari Nyonya Raisa juga," ucap Ayumi.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya. Kak Denis kau juga ya, Mama titip Adik, jangan lupa diajak main Adiknya supaya tersenyum. Suster Ayumi nanti bawa saja ya baby Diesa dan Denis ke ruang keluarga atau ke kamar Diesa ke kamar Denis juga boleh, yang penting jangan mengganggu istirahat Mama kalau mau istirahat," ucap Raisa.


"Baik Nyonya Raisa," jawab Ayumi.


Setelah semuanya dipastikan sudah aman, kini Raisa pun meminta antar Jason menuju ke rumah sakit.


*****


Sementara itu pada sebuah Villa yang diyakini adalah milik Carlos, masih terlihat beberapa anak buah Carlos dan juga anak buah Diego yang bertarung sengit. Bahkan anak buah Diego bertambah jumlahnya karena yang diutus oleh Sastro saat ini juga sudah berada di sana setelah tadi Diego memberi kabar tentang keberadaannya.


Sastro juga berada di lokasi dan mengawasi dari kejauhan, ia tidak bisa tenang jika hanya diam saja berada di rumah sakit dan hanya mendapatkan kabar dari mata-matanya, sehingga ia pun memutuskan ke villa itu juga tetapi tentunya ia berada di luar dan juga masih berada di dalam mobil dengan dua anak buah lainnya.


Di saat semua anak buahnya dan anak buah Carlos sedang sibuk berkelahi, Diego pun berhasil berlari dan langsung menuju ke lantai atas untuk mencari di mana keberadaan Carlos.


Kini hanya tinggal tersisa satu ruangan lagi, yang cukup misterius dan berada di sudut. Digo sangat yakin jika ruangan tersebut adalah ruangan Carlos dan saat ini pria tersebut sudah berada di dalam sana. Setelah diperiksa ternyata pintu kamar itu tidak dikunci, sehingga Diego pun langsung saja membuka pintunya. Akan tetapi tiba-tiba saja …


Dor!


Terdengar suara tembakan yang begitu keras langsung menyambutnya. Ternyata di saat itu, dengan mata kepalanya sendiri Diego melihat Carlos yang menembak seseorang tepat di kepalanya, sehingga orang itu pun langsung saja mati di tempat dengan darah yang mengucur deras, membuat Diego membelalakkan matanya dan benar-benar sangat terkejut.


"Bedebah, bang sat! Apa yang kau lakukan Carlos?" Teriak Diego dengan sangat emosi.


Carlos yang tadinya tampak menghadap ke arah lain langsung saja memutar badannya dan menatap ke arah Diego dengan tersenyum smirk. Senjata yang dipegangnya tadi ia simpan di dalam saku celana.

__ADS_1


"Tenang ini hanya salah satu contoh jika aku bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa memandang bulu. Apa kau tahu siapa wanita tadi, dia adalah istri dari pengkhianat dan sudah lama aku mengurungnya di sini. Aku cukup puas karena hari ini bisa menghabisinya di depan seorang saksi, yaitu kau!" kata Carlos.


"Apa maksudmu sebenarnya?" Tanya Diego yang paling tidak suka untuk berbasa-basi, apalagi dengan musuhnya.


"Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin memberikan peringatan kecil saja jika kau sekarang mau mati aku sudah untuk melenyapkanmu dari muka bumi ini, nanti hanya tinggal giliran keluargamu saja yang menyusul. Tapi kalau kau masih ingin hidup lebih baik pergi dari sini, jangan masuk ke ruanganku sembarangan," ancam Carlos.


"Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu itu," tukas Diego.


"Oh ya? Kalau begitu kita buktikan saja apakah kau benar-benar tidak takut dengan ancamanku," ucap Carlos yang di saat itu pun mengeluarkan kembali senjata tajamnya dan mengarahkan ke arah Diego.


Sejujurnya Diego juga merasa was-was karena ia sama sekali tidak membawa senjata tajam. Jika saat ini Carlos berhasil menembaknya dan membuatnya mati di tempat, sudah pasti perjuangannya semua akan sia-sia karena ia belum sempat untuk membalaskan dendamnya kepada Carlos dan menjebloskan penjahat tersebut ke dalam penjara.


Apalagi Diego mempunyai keluarga, bagaimana dengan Raisa dan kedua anaknya? Begitu juga dengan sang ibu yang sudah pasti akan sangat sedih dan merasa kehilangan. Seandainya ia sudah melakukan semuanya, sudah berhasil membuat Carlos merasakan hukuman seumur hidup, pasti Diego akan rela mengorbankan nyawanya. Yang penting keluarganya itu selamat. Tapi kalau ia mati konyol dalam keadaan seperti wanita paruh baya yang dilihatnya tadi, apakah itu semua bisa menjamin keluarganya akan selamat? Tentu saja tidak dan Diego malah merasa khawatir jika setelah ia pergi, Carlos akan semakin mudah untuk menyakiti keluarganya. Sehingga Diego pun tidak boleh takut menghadapi pria tua itu.


"Dasar pengecut! Beraninya memakai senjata tajam, tembak aku, ku sama sekali tidak takut. Bunuh aku kalau kau memang bisa!" Tantang Diego dengan sangat berani.


Carlos mengarahkan senjata tajamnya itu hingga mengarah dada sebelah kiri Diego dan secara perlahan tapi pasti ia terlihat sedang bersiap-siap akan menembak pria yang ada di hadapannya itu. Namun siapa yang menyangka jika di saat itu malah terdengar suara tembakan lain yang menyebabkan Carlos tertembak mengenai kakinya, sehingga pria tua itu pun terjatuh dan tergeletak di atas lantai.


Dor!


Terdengar lagi bunyi tembakan yang mengarah ke atas langit-langit karena Carlos tidak sengaja melepaskan tembakan peluru terakhir miliknya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2