
Dengan kondisi ibunya saat ini, tentu saja membuat Diego merasa sangat panik, sehingga ia pun berniat akan langsung saja membawa ibunya tersebut ke klinik terdekat. Karena memang di pedesaan tidak ada rumah sakit besar, sehingga para warga setempat akan berobat ke klinik dan jika tidak bisa ditangani baru mereka akan dirujuk ke rumah sakit di kota.
Akan tetapi di saat itu Diego kebingungan karena semua tetangganya sedang bekerja, sementara yang memiliki kendaraan hanya ada satu tetangga saja di sana dan itu sebuah pick-up untuk mengangkut hasil panen. Untungnya bertepatan di saat itu orang tersebut pulang ke rumah karena sudah waktunya istirahat siang, sehingga Diego pun langsung saja meminjam kendaraan tersebut untuk mengantar ibunya ke klinik.
"Kak, aku ikut ya," pinta Raisa.
"Sayang, aku mohon kau mengerti kondisinya saat ini. Lebih baik kau di rumah saja menjaga Diesa dan Denis, Anak-Anak tidak mungkin dibawa ke klinik juga 'kan. Kau tenang saja ya, aku akan mengabarimu apapun yang terjadi nanti," ucap Digo, membuat istrinya tersebut langsung mengerti.
"Ya sudah Kak, tapi janji ya langsung kabari aku jika kalau kau sudah berada di sana," ucap Raisa.
"Iya Sayang, aku janji. Aku pergi dulu," pamit Diego.
Lalu Diego dan tetangga si pemilik kendaraan itu pun membantunya untuk membawa sang ibu ke klinik terdekat.
"Ma, Oma kenapa Ma?" Tanya Denis.
"Mama tidak tahu Oma kenapa Sayang, tapi kita doakan ya semoga Oma baik-baik saja," ucap Raisa.
"Iya Ma," jawab Denis yang terus aja menangis.
Lalu Raisa pun menenangkan anaknya tersebut dan membawa mereka masuk ke dalam kamar.
_____
Setelah beberapa menit kemudian Raisa yang sedang menidurkan sang bayi mendapat telepon dari Diego, sehingga ia langsung menjawab telepon tersebut.
"Halo Kak, bagaimana keadaan Mama?" Raisa langsung menimpali dengan pertanyaan.
"Mama sudah ditangani Dokter Sayang, aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Yang penting kita doakan saja ya yang terbaik untuk Mama," jawab Diego yang terdengar sangat cemas.
"Iya Kak, aku pasti akan mendoakan Mama. Kau yang tenang ya Sayang," ucap Raisa.
"Terima kasih banyak ya Sayang, jaga Anak-Anak dengan baik. Aku janji akan selalu mengabarimu," ucap Diego.
"Iya Kak. Kau juga jaga diri, selalu berhati-hati," ucap Raisa.
"Iya Sayang," jawab Diego.
__ADS_1
Setelah telepon berakhir, Raisa melanjutkan untuk menidurkan sang bayi yang juga terlihat sangat rewel. Mungkin Diesa juga bisa merasakan jika saat ini sang nenek dalam kondisi tidak baik-baik saja. Begitu juga dengan Denis yang sedari tadi terlihat cemas. Hingga tidak berapa lama kemudian, Diesa pun tampak tenang dan sudah tertidur.
"Apa Kak Denis sudah lapar? Mau Mama ambilkan makanan?" Tanya Raisa.
"Aku tidak mau makan Ma, aku mau makan dengan Oma juga," kata Denis.
"Sayang kau dengar 'kan tadi Papa bilang apa, Oma sekarang sedang diperiksa Dokter, Oma baik-baik saja. Tadi kata Oma Denis harus makan, kalau Denis tidak mau makan nanti Oma tidak mau ketemu sama Denis lagi," kata Raisa.
"Apa benar Oma berbicara seperti itu Ma?" Tanya Denis dengan polosnya.
"Iya, maka dari itu kau harus makan," jawab Raisa yang terpaksa berbohong demi kebaikan sang anak.
"Ya sudah aku mau makan Ma, tapi Adik Diesa-nya bagaimana, masa iya Adik ditinggal sendiri di kamar," ucap Denis.
"Tidak dong, tenang saja Sayang Mama 'kan membawa baby stroller Adik, jadi Adik Diesa bisa dimasukkan ke dalam baby stroller dan kita bisa membawanya ke dapur," kata Raisa.
"Oh iya ya Ma, ya sudah kalau begitu biar aku yang mendorong Adik ya," kata Denis.
"Boleh, yuk," ajak Raisa.
Di saat Raisa sedang mengambilkan makanan untuk Denis, Denis lah yang menjaga adiknya tersebut di ruang makan.
"Adik Diesa kita berdoa ya untuk Oma, semoga Oma baik-baik saja, semoga Oma tidak kenapa-napa. Adik Diesa sayang 'kan dengan Oma seperti Kak Denis," ucap Denis yang di saat itu pun terdengar oleh Raisa dan membuatnya tersenyum.
Meskipun sebenarnya ia merasa sangat cemas dengan kondisi Siska saat ini, tetapi Raisa tak mau terlalu menunjukkan di depan anak-anaknya.
*****
"Apa Dok, Ibu saya harus dibawa ke rumah sakit?" Tanya Diego saat dokter mengabarkan tentang kondisi ibunya.
"Iya Tuan, Ibu Anda harus segera dipindahkan ke rumah sakit karena klinik tidak mungkin bisa menangani kondisi penyakit jantung Ibu Anda saat ini dan saya sarankan sekarang juga harus dibawa. Pihak klinik langsung yang akan mengantarnya, jangan menundanya lagi agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," kata dokter.
"Baik Dokter, apapun yang terbaik untuk ibu saya pasti saya akan menyetujuinya," jawab Diego yang tak mau berpikir panjang, yang terpenting ibunya masih bisa diselamatkan.
Diego sendiri ikut di saat pihak klinik dari Desa mengantar ibunya tersebut menuju ke rumah sakit, perasaannya benar-benar sangat takut. Ia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan ibunya tersebut. Entah kenapa selain liburan, Diego memang sudah sangat ingin melihat kondisi ibunya dan ternyata memang Siska saat ini sedang membutuhkan sang anak, sehingga membuat Diego pun tergerak ingin pergi ke Bandung mengunjungi ibunya tersebut.
Setibanya di rumah sakit, Siska langsung dibawa ke ruang IGD dan ditangani oleh dokter di bidang keahlian tersebut. Sedangkan Diego diminta untuk menunggu di luar ruangan dan di saat itu ia hendak mengabari istrinya di rumah yang pastinya sudah menunggu kabar darinya, apalagi sudah 1 jam lebih lamanya Diego memang belum memberi kabar apapun.
__ADS_1
Sementara itu Raisa yang merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta menuju ke Bandung, tanpa sadar ikut tertidur di antara anak-anaknya, sehingga ia tidak mendengar di saat Diego menghubunginya. Ia juga tidak sengaja mengaktifkan mode silent pada ponselnya dan saat itu ponselnya juga sedang dicas di ruang depan, sehingga Raisa tidak mengetahuinya sama sekali.
Dengan kondisi seperti ini malah membuat Diego merasa khawatir, takut terjadi sesuatu dengan istri dan anak-anaknya di rumah.
"Di mana Raisa, apa dia dan Anak-Anak baik-baik saja. Atau mungkin Raisa sedang sibuk mengurus Diesa dan Denis sampai tidak mendengar teleponku," gumam Diego di dalam kepanikannya.
Karena tidak mau terus bertanya-tanya dan membuatnya tida tenang, akhirnya Diego pun menelpon tetangganya yang merupakan pekerja di kebun teh milik keluarganya tersebut. Diego meminta tolong kepada tetangganya yang akrab dipanggil Teh Rasmi itu untuk melihat istri dan anak-anaknya yang berada di rumah, untungnya Teh Rasmi juga sudah selesai bekerja dan hendak pulang ke rumah.
*****
Tok … tok … tok …
"Punten, apa ada orang di dalam rumah?" Tanya Teh Rasmi sembari mengetuk pintu.
Karena sudah beberapa kali memanggil tetapi tidak ada jawabannya dan juga tidak ada yang membukakan pintu, sehingga Teh Rasmi yang takut terjadi sesuatu di dalam seperti yang Diego katakan tadi, mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
"Punten, permisi, maaf saya masuk ke dalam rumah," ucap Teh Rasmi yang langsung saja masuk ke dalam dan mencari keberadaan Raisa serta 2 orang anaknya.
Teh Rasmi melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan ia merasa lega karena melihat Raisa dan anak-anaknya yang di saat itu sedang tidur di sana, sehingga ia pun langsung menghubungi Diego dan memberi kabar tersebut.
Mendengar kabar dari Teh Rasmi tentunya membuat Diego merasa sedikit lebih tenang, ia juga menitipkan istri dan anak-anaknya tersebut kepada Teh Rasmi dan saat ini ia bisa fokus dengan kondisi ibunya.
_____
Hingga setengah jam berlalu Raisa terbangun dari tidurnya dan di saat itu ia teringat jika belum mendapatkan kabar tentang Siska, sehingga Raisa pun beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponsel yang ia letakkan di ruang depan.
Saat melihat ponselnya ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Diego, lalu Raisa pun mencoba untuk menghubunginya kembali.
Tut … tut … tut …
Meskipun beberapa kali telepon tersambung, tetapi Diego tak menjawab teleponnya yang membuat Raisa merasa sangat khawatir.
Di mana kak Diego, apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Raisa.
Di saat itu pun Raisa yang merasa tenggorokannya kering karena sehabis bangun tidur, melangkahkan kakinya menuju ke dapur berniat untuk mengambil air minum. Akan tetapi betapa terkejutnya Raisa saat melihat seseorang yang saat itu berada di dapur dan menatap ke arahnya.
Bersambung …
__ADS_1