
"Sen, Sena, kenapa kau melamun?"' Tanya Raisa yang melihat Sena tampak bengong, meskipun di saat itu Diego sudah melepaskan jabatan tangannya.
"Oh iya maaf, aku seperti pernah melihat suamimu sebelumnya Sa. Tapi aku tidak tahu di mana," kata Sena.
"Oh ya? Kak Diego, memangnya kau juga merasa seperti itu?" Tanya Raisa.
"Tida, mungkin kau salah lihat Sen," ujar Diego, lalu ia pun duduk di samping sang ibu.
"Ayo Sen duduk lagi," ucap Raisa.
Sena pun duduk di kursi single yang berhadapan dengan Diego, sambil sesekali mencuri pandang menatap ke pria itu. Sedangkan Raisa duduk di samping suaminya tersebut, lalu Diego langsung merangkul lengan sang istri dan meletakkan kepalanya di pundak istrinya tersebut.
"Kak, jangan bersikap manja seperti ini dong. Tidak enak ada Mama dan Sena," kata Raisa.
"Memangnya kenapa, Mama dan Denis 'kan sudah terbiasa melihatku seperti ini," ujar Diego.
"Iya, tapi sekarang ini 'kan ada Sena Kak. Aku tidak enak," ucap Raisa, tetapi Diego sama sekali tak mau menjauh dari istrinya itu.
"Diego, kau ini malah bermanja-manja dengan istrimu di depan Sena. Kalau di depan Mama, Denis, itu terserah kau saja. Tapi ini di depan temannya Raisa loh, Tidak enak dong Sena harus melihat kemesraan kalian seperti itu," kata Siska. " Maaf ya Sena, Diego ini memang tidak pernah melihat tempat kalau mau bersikap manja," ucapnya sembari menatap ke arah Sena.
"Memangnya kenapa Ma, pasangan suami istri 'kan tidak salah mau menunjukkan kemesraan di depan siapa saja, aku hanya bersikap manja dengan istriku sendiri bukan dengan orang lain," ucap Diego yang malah semakin bersikap manja.
"Tidak apa-apa kok Sa, Tante, aku mengerti. Sepertinya Kak Diego ini sangat mencintai Raisa ya," kata Sena tanpa rasa canggung.
"Bukan sepertinya tapi tentu saja aku mencintai istriku. Sudah sewajarnya seorang suami mencintai istrinya, tidak ada yang salah 'kan," jawab Diego.
"Ya memang tidak ada yang salah kok Kak, maaf ya kalau aku salah bicara," ucap Sena.
__ADS_1
"Tidak salah kok Sen, maksud Kak Diego bukan seperti itu. Ya sudah jangan dibahas lagi, bagaimana kalau kau ikut makan malam bersama kami saja. Kebetulan kami mau makan malam Sen," ajak Raisa.
"Harus dong, ini juga sudah waktunya makan malam. Apalagi tadi Sena juga mengatakan belum sempat makan karena pulang kerja langsung ke sini. Jadi harus makan bersama kita ya," kata Siska.
"Tidak usah Raisa, Tante, tidak perlu repot-repot. Nanti aku akan beli makanan saja sekalian jalan pulang," tolak Sena. Padahal di dalam hatinya ia sama sekali tidak menolak, justru ini yang sangat ia inginkan.
"Tidak baik menolak rezeki Sen, ayo kita makan sama-sama," kata Raisa yang mengalihkan kepala suaminya itu.
"Sayang, kenapa kau menghindariku?" Protes Diego.
"Ayo kita makan dulu Kak," ajak Raisa yang beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Sena.
Lalu mereka semua pun menuju ke ruang makan, tak lupa pula Raisa memanggil Denis untuk makan bersama. sedangkan baby Diesa dititipkan kepada Suster Maira sebentar karena suster tersebut sudah makan terlebih dulu, tentunya karena diperintahkan oleh Raisa.
_____
Saat di ruang makan pun sikap Diego masih sama, Raisa sendiri bingung karena tak biasanya Diego bersikap manja di depan orang baru kecuali seorang pria yang menurutnya melirik sang istri. Tetapi kali ini Diego seolah menunjukkan kepada Sena bahwa ia telah memiliki seorang istri yaitu Raisa dan itu artinya tidak akan ada celah untuk wanita lain yang ingin mendekatinya, padahal menurut Raisa Sena hanya bersikap biasa saja saat bertemu suaminya itu.
"Sial! Aku hanya ingin bertemu dengan Diego tapi malah melihat mereka berdua mesra-mesraan terus seperti itu. Kenapa ya sepertinya Diego sengaja memamerkan kemesraan dengan istrinya di depanku, padahal yang aku lihat Raisa tidak terlalu seperti itu. Aku tidak menyangka cowok sombong dan angkuh seperti Diego bisa bersikap manja seperti itu, bahkan dengan Clarissa dulu dia juga tidak pernah memamerkan kemesraannya atau membanggakan bahwa Clarissa, wanita populer di kampus adalah miliknya. Apa sih hebatnya Raisa, perasaan biasa saja," umpat Sena yang merasa sangat kesal, lalu ia pun menambah kecepatan mobil menuju ke kediamannya.
*****
"Kak, ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau terus bersikap manja denganku seolah sengaja menunjukkannya di depan Sena. Padahal biasanya 'kan kau bersikap seperti itu jika di depan pria yang baru aku kenal karena kau tidak mau pria itu mendekatiku dan kau ingin para pria itu tahu jika aku adalah milikmu, tapi kenapa sekarang malah kebalikannya. Seharusnya aku dong yang menunjukkan kepada Sena bahwa kau itu hanya milikku. Ini tidak, malah kau yang bersikap manja seperti tadi," tanya Raisa saat mereka sudah berada di kamar.
"Ya karena kau tidak mau menunjukkannya, maka dari itu aku yang berinisiatif menunjukkan kepada Sena. Bukankah itu sama saja, mau aku ataupun kau intinya sama-sama menunjukkan bahwa aku adalah milikmu dan kau adalah milikku," ujar Diego.
"Tapi kenapa juga Kak harus menunjukkannya di depan Sena? Sena itu 'kan temanku, nanti yang ada dia malah ilfil lagi melihatmu terus saja menempel denganku seperti tadi," ujar Raisa.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak peduli. Mau dia mengatakan apapun itu bukan urusanku, yang penting dia tahu bahwa aku sudah memiliki istri yang aku cintai. Memangnya kau tidak bisa melihatnya tadi," tukas Diego.
"Melihat apa Kak?" Tanya Raisa mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti.
"Aku hanya berjabat tangan dengannya sebentar saja tapi dia tidak sadar lalu menatapku begitu lama, saat kau menegurnya baru dia tersadar dari lamunan. Kau tahu itu artinya Sena mengagumi ketampananku, dia langsung menyukaiku pada pandangan pertama," ucap Diego dengan percaya diri.
"Ha … ha … ha … ."
Terdengar suara gelak tawa yang keluar dari mulut Raisa, sehingga membuat Diego menatap sang istri dengan raut wajah kebingungan.
"Sayang, kenapa kau tertawa seperti itu? Apa kau sedang meledekku?" Tanya Diego.
"Ya kau aneh-aneh saja sih Kak, bisa-bisanya kau mengatakan Sena bersikap seperti itu. Sena hanya menatapmu biasa saja Kak, ya namanya juga orang yang baru kenalan wajarlah. Walaupun dia merasa dirimu itu tampan tapi bukan berarti dia mengagumimu atau menyukaimu dari pandangan pertama Kak, apalagi Sena juga tahu bahwa kau itu adalah suamiku. Jadi itu tidak mungkin Kak," ujar Raisa.
"Tidak apa-apa kalau saat ini kau tidak percaya denganku. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati dengan orang baru, jangan mudah percaya begitu saja dan jangan sampai nanti Sena memiliki niat ingin merebutku darimu. Kau tidak lupa 'kan walaupun suamimu ini adalah duda dulunya, tetapi aku memiliki persona yang tak tertandingi oleh pria manapun," ucap Diego yang begitu narsis.
Akan tetapi meskipun terlihat bercanda, ia sangat serius mengingatkan hal itu kepada istrinya.
"Ambil saja kalau mau, aku 'kan masih muda dan aku masih bisa mencari pria yang lebih muda darimu Kak," ledek Raisa.
"Coba saja kalau kau berani, aku pasti akan membunuh pria itu," kata Diego tak terima serta memasang jawah bete, yang membuat Raisa pun terkekeh.
"Sudahlah Kak, lebih baik kau temani Diesa dulu ya. Aku mau gosok gigi," kata Raisa yang langsung saja menuju ke kamar mandi.
"Siapa wanita tadi? Kenapa aku seperti tidak asing dan pernah melihat dia sebelumnya," batin Diego yang sebenarnya sudah mencurigai Sena sejak awal.
Lalu ia pun bermain dengan sang bayi sembari menunggu Raisa selesai dan keluar dari kamar mandi, baru setelah itu ia akan bergantian dengan sang istri.
__ADS_1
Karena satu minggu telah berlalu, saat ini kondisi tangan Diego sudah memulai membaik. Sehingga ia sudah bisa melakukan aktivitas ringan dan juga sudah bisa mandi atau menggunakan pakaiannya sendiri.
Bersambung …