Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Menemui Diego


__ADS_3

Keduanya saling bertatapan sejenak, Diego masih tak percaya melihat seorang wanita yang baru saja dibicarakannya berada di depan matanya saat ini.


"Kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya Diego yang menatap kebingungan.


"Memangnya kenapa Tuan? Apa menurutmu begitu sulit untuk mencari tahu informasi tentangmu, apakah menurutmu hanya kau saja yang bisa mendapatkan informasi tentangku dengan mudah? Aku juga bisa, apalagi kau adalah orang yang cukup terkenal, jadi mana mungkin aku tidak bisa mendapatkan informasi dimana perusahaanmu," ucap Raisa.


Ya wanita itu adalah Raisa, ia yang sangat yakin jika orang yang telah memindahkan neneknya ke ruang VIP adalah Diego, memutuskan untuk pergi ke perusahaannya menemui pria tersebut dan menanyakannya secara langsung.


"Lalu ada apa kau datang ke sini? Apakah kau membutuhkan uang lagi? Kau bisa menghubungiku dan aku bisa mentransfernya secara langsung, jadi kau tidak perlu jauh-jauh datang ke sini," kata Diego.


"Kenapa Tuan bisa berpikiran seperti itu, apakah urusan di antara kita hanya sekedar uang?" Tanya Raisa.


"Ya memang itu 'kan, memangnya ada apa lagi?" Tanya Diego.


"Kau memang benar Tuan, memang kedekatan kita ini karena uang, karena aku bekerja dengan Tuan. Tapi saat ini ada hal penting yang ingin aku tanyakan, apakah Tuan yang sudah meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan nenekku ke ruang VIP dan Tuan juga yang sudah membayar semua biaya sampai nanti Nenekku sembuh? Aku mohon Tuan jawab dan apa maksudmu melakukan itu semua." Raisa meminta penjelasan.


"Lebih baik kau duduk dulu," kata Digo, mengajak Raisa duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Apa yang kau katakan tadi semuanya adalah benar. Tapi aku melakukan hal itu agar kau merasa tenang, tidak perlu khawatir terhadap Nenekmu. Selain memindahkan Nenekmu, ada perawat juga yang khusus untuk menjaga Nenekmu, jadi kau sudah mulai bisa bekerja di rumahku dan sore hari setelah pulang kerja kau juga bisa pulang atau langsung ke rumah sakit. Sudahlah Raisa, sudah aku katakan kau tidak perlu merasa berhutang budi atau kegeeran. Aku melakukan ini semua semata-mata agar kau bisa cepat bekerja di rumahku karena aku sudah sangat pusing mendengar omelan Ibuku yang meminta segera mencari Baby Sister. Atau kau tidak jadi menerima tawaran ini, biar aku mencari Baby Sister lain saja," kata Diego yang berpura-pura mengancam.


"Jangan Tuan, aku bersedia. Terimakasih jika memang itu alasanmu, ya sudah aku terima. Aku akan secepatnya mulai bekerja di rumahmu," kata Raisa yang akhirnya menyetujui, bagaimanapun juga ia tidak bisa melakukan apapun saat ini selain mengikuti kehendak Diego. Lagipula ia tidak mungkin menolak kesempatan yang belum tentu akan ia dapatkan lagi.


"Bagus kalau begitu. Jadi apa ada lagi yang perlu kau sampaikan atau kau tanyakan? Jika tidak aku akan meeting," kata Diego.


"Oh tidak ada lagi Tuan. Sekarang aku pergi dulu," jawab Raisa sembari berpamitan, lalu ia pun pergi meninggalkan ruangan Diego.


------


Akan tetapi di saat Raisa baru saja melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan milik Diego, di saat itu tiba-tiba saja …


"Nona Raisa … !"


Terdengar suara seseorang yang memanggilnya, sehingga membuat langkah Raisa terhenti dan langsung menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Iya, apa Anda memanggilku?" Tanya Raisa kepada seorang pria yang di saat itu sedang berjalan ke mendekatinya.


"Iya Nona, saya memang memanggil Anda. Perkenalkan saya adalah Darrel, Asisten Tuan Diego," ucap Darrel yang memperkenalkan dirinya.


"Oh iya, lantas ada apa Tuan Darrel memanggilku?" Tanya Raisa.


"Jangan memanggilku dengan sebutan Tuan Nona, panggil saja namaku, Darrel," tutur Darrel ya yg merasa tidak enak.


"Oh iya Darrel. Jadi ada apa?" Raisa mengulangi pertanyaannya.


"Tuan Diego meminta Anda untuk menunggu sebentar, kebetulan kami akan meeting dan melewati rumah sakit jadi Tuan Diego berniat akan mengantar Nona ke rumah sakit terlebih dulu," terang Darrel.


"Tidak perlu Darrel, aku bisa naik taksi kok. Aku tidak mau merepotkan Diego atau siapapun," tolak Raisa.


"Tolong Nona ini adalah perintah dari Tuan Diego. Jika Nona tidak mau itu artinya saya telah gagal mengajak Nona dan saya bisa dipecat," kata Darrel mengiba, yang membuat Raisa pun mengernyitkan dahinya, berpikir apa mungkin hanya masalah seperti ini saja Diego akan tega memecat asistennya sendiri, apalagi ini hanya karena dirinya. Akan tetapi karena tidak mau mengambil resiko apapun akhirnya Raisa pun menyetujuinya.


Di saat itu pun terlihat Diego yang keluar dari perusahaan menghampiri keduanya.


"Ayo kita jalan," ucap Diego yang memberi kode kepada sang asisten, sehingga Darrel yang mengerti itu pun langsung saja meninggalkan keduanya terlebih dulu menuju ke mobil.


"Iya Tuan, tapi sebaiknya tidak perlu. Bukankah kau terburu-buru akan meeting?" Tanya Raisa.


"Klienku menunda meeting menjadi 1 jam lagi, Jadi aku sama sekali tidak terburu-buru, malah masih mempunyai banyak waktu," terang Diego.


5 menit yang lalu di saat Raisa baru saja keluar dari ruangan Diego, di saat itu pula Darrel masuk ke ruangan bos-nya dan menyampaikan bahwa sekretaris dari kliennya mengabarkan jika kliennya itu menunda rapat karena tiba-tiba saja beliau mempunyai urusan yang sangat penting dan mendadak. Diego yang biasanya sangat kesal dan terkadang bahkan langsung saja membatalkan kerjasama karena menganggap kliennya itu tidak konsisten, tetapi kali ini ia malah terlihat tenang dan senang. Menurutnya ini adalah sebuah kesempatan karena ia bisa mengantar Raisa terlebih dulu, untuk itu ia langsung meminta Darrel untuk langsung memanggil Raisa yang ia yakini belum jauh dari area perusahaan.


Karena tak enak menolak niat baik Diego, apalagi pria tersebut yang telah banyak menolongnya, pada akhirnya Raisa pun menyetujui. Lalu mereka segera masuk ke dalam mobil dan duduk berdampingan di kursi penumpang. Sedangkan Darrel menyetir mobil, membawa mereka menuju ke rumah sakit untuk mengantar Raisa terlebih dahulu seperti tujuan awal.


*****


Seperti biasa sudah hampir 2 minggu belakangan ini, setiap pagi pasti selalu saja ada drama-drama di kediaman Abimana. Pasalnya anak kecil yang berada di kediaman tersebut, siapa lagi kalau bukan Denis yang selalu saja menolak jika salah satu ART hendak mengurusnya seperti mandi dan segala sesuatunya di pagi hari, juga mengantarnya ke sekolah.


"Tidak mau Bi, aku tidak mau mandi sama Bibi. Aku mau mandi sama Papa!" Teriak Denis.

__ADS_1


Siska yang mendengar keributan itu pun langsung saja menuju ke kamar cucunya. Ia yakin dan sudah hafal betul masalah yang terjadi sudah pasti seperti hari-hari biasanya.


"Denis, kamu ini kenapa? Apa kamu sama sekali tidak bisa mengikuti apa kata Bibi? Cepat kamu mandi dan sarapan. Ini sudah siang, nanti kamu bisa terlambat pergi ke sekolah," tukas Siska dengan tegas.


"Aku tidak mau Oma, aku tidak mau mandi sama Bibi. Aku maunya mandi sama Papa," bantah Denis, anak kecil yang sifatnya sangat keras kepala sangat persis dengan ayahnya itu.


"Sama Oma aja ya, Papa kamu juga sedang mandi, Papa juga harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Kamu harus mengerti dong," kata Siska.


"Pokoknya aku tidak mau Oma, aku maunya sama Papa, sama Papa, titik!" Tukas Denis tetap kekeh.


Siska menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi secara perlahan, memang menghadapi cucunya itu tidak bisa dengan cara paksa, harus dengan lembut dan juga penuh kesabaran.


"Sama oma ya Sayang, nanti biar Oma sekalian mengantar kamu pergi ke sekolah, bagaimana?" Pujuk Siska.


Bukan menjadi rahasia lagi, semua orang yang tinggal di kediaman Abimana sudah sangat tahu jika Denis memang sangat sulit untuk dekat dengan orang lain meskipun ART-nya itu sudah lama bekerja di sana. Sedari kecil Denis hanya dekat dengan nenek dan ayahnya, serta baby sister yang merawatnya dari bayi hingga Denis berusia 2 tahun. Sejak saat itu Denis sangat susah untuk dekat dengan orang lain, sehingga Siska dan Denis sangat kesulitan mencari baby sister yang selalu saja mengundurkan diri dalam waktu yang singkat, bahkan ada yang tidak sampai sebulan. Hingga pada akhirnya mereka sudah menemukan yang cocok dengan Denis, tetapi harus berhenti lagi.


Diego tidak bisa mengurusi anaknya karena ia sendiri adalah seorang kepala keluarga yang tentunya memiliki tanggung jawab untuk bekerja, sedangkan Siska kondisinya tidak terlalu baik sehingga ia tidak bisa mengurusi cucunya selama 24 jam. Hanya bisa menemaninya bermain saja, itupun terkadang hanya duduk atau berbaring di atas tempat tidur maupun sofa.


Kembali lagi pada drama di pagi hari, dengan bantuan Bibi pada akhirnya Siska jugalah yang memandikan Dennis dan mengurusi segala keperluannya hingga saat ini ia bersama cucu dan anaknya sudah berada di ruang makan untuk menikmati sarapan bersama.


"Diego ini sudah dua minggu, mana Baby Sister untuk Denis? Kenapa sampai sekarang kau belum mendapatkannya juga?" Tanya Siska.


"Sudah ada Ma, Mama tenang saja sebentar lagi Baby Sisternya datang kok. Hari ini saja dia datangnya sedikit terlambat, tetapi mulai besok dia akan datang sebelum Denis bangun," terang Diego.


"Benar hari ini dia akan datang?" Tanya Siska untuk memastikan.


"Iya Ma hari ini Baby Sisternya datang dan dia akan mulai bekerja, dimulai dengan mengantarkan Diego ke sekolah langsung denganku pagi ini," tutur Diego.


Ting … Tung …


Pucuk dicinta ulam pun tiba, itu lah pribahasa yang bisa menggambarkan perasaan Diego saat ini. Baru saja mereka menceritakan masalah baby sister, di saat itu pun terdengar suara bel pintu yang Diego yakini jika dia adalah Raisa yang datang untuk bekerja di rumahnya sebagai baby sister anaknya itu. Segera saja bibi membukakan pintu untuk tamu yang datang dan tidak lama kemudian bibi telah kembali dengan membawa seseorang yang saat ini sudah berdiri di hadapan Diego dan Siska.


Akan tetapi Diego merasa sangat terkejut karena yang datang bukanlah Raisa melainkan seorang wanita yang sangat tidak diinginkan olehnya. Begitu juga dengan Siska yang terlihat sangat tidak menyukai wanita tersebut. Siapakah dia?

__ADS_1


Bersambung …


 


__ADS_2