Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Pelaku Tertangkap.


__ADS_3

Tak hanya membanting pintu saja, pria itu juga masuk ke dalam ruangan dan langsung menarik tangan Raisa dengan paksa. Sehingga membuat Raisa merasa ketakutan.


"Lepaskan … lepaskan aku … !" Teriak Raisa sembari memberontak


"Lepaskan istriku! Siapa kau, kenapa kau tiba-tiba saja datang ke sini dan menarik istriku hah!" Bentak Diego dengan sangat emosi, apalagi melihat istrinya tersebut dibekap oleh pria tersebut.


"Diam di tempat atau aku akan mencekik leher istrimu sampai mati. Kalian berdua sudah tidak bisa lagi dibiarkan, kesabaranku benar-benar sudah habis dan lihat saja kali ini aku tidak bisa tinggal diam!" Bentak pria itu yang tak kalah galaknya dengan Diego


"Brengsek! Cepat lepaskan istriku, jangan bermain-main denganku," kata Diego yang hendak menghajar pria itu, akan tetapi di saat itu terlihat pria tersebut mengeluarkan benda tajam dan menyodorkannya ke leher Raisa.


"Jangan mendekat kalau kau tidak mau pisau ini akan menggores leher istrimu," ancam pria itu.


"Kak, tolong aku Kak. Aku takut," ucap Raisa lirih dengan air mata yang menetes.


"Tenang Sayang, kau yang tenang ya. Aku pasti akan menolongmu, percaya padaku," ucap Diego. "Pria ba ji ngan! Siapa kau sebenarnya. Kenapa tiba-tiba saja kau datang ke sini dan menyekap istriku, siapa yang memerintahkanmu? Apakah Carlos?" Tanyanya dengan emosi yang meluap-luap.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi apa yang aku lakukan ini karena sikap sombong dan angkuhmu kepada semua orang. Sok kuasa, sok kuat, seolah kau lah manusia yang paling sempurna tapi pada kenyataannya kau itu lemah Diego," tukas pria itu.


"Kalau berani buka topengmu bang sat! Jangan bersembunyi di balik topeng, pengecut!" Ucap Diego yang hendak maju menyelamatkan sang istri, akan tetapi pria itu langsung menggoreskan benda tajam ke leher Raisa sehingga mengeluarkan sedikit darah.


"Akh," rintih Raisa.


"Stop, jangan lakukan itu pada istriku. Katakan apa maumu, apa yang harus aku lakukan supaya kau melepaskan istriku," kata Diego.


"Diego … Diego, seandainya dari tadi kau bertanya seperti itu, masalah akan cepat selesai tanpa harus menunggu istrimu terluka dulu. Sekarang lebih baik kau tandatangani surat ini," kata pria tersebut yang mengambil sebuah berkas dari balik bajunya lalu menyodorkannya kepada Diego.


"Apa ini?" Tanya Diego sembari meraih berkas tersebut.


"Kau tidak buta huruf 'kan, jadi kau bisa membacanya sendiri," kata pria itu.


Lalu Diego pun membuka berkas tersebut yang ternyata adalah pengalihan perusahaan kepada pria yang ada di depan matanya saat ini. Hanya saja nama pria itu belum ditulis di sana, seperti sengaja ingin merahasiakan siapa pria misterius itu


"Apa maksudnya, kenapa aku harus menyerahkan perusahaan milik Ayahku padamu? Siapa kau sebenarnya?" Tanya Diego entah untuk ke berapa kalinya, ia juga sangat syok karena tidak menyangka jika pria itu menginginkan perusahaannya.


"Jangan banyak bacot, cepat tanda tangan atau pisau ini akan aku tancapkan ke leher istrimu. Apakah perusahaan lebih penting daripada istrimu ini hah!" Ancam pria itu.


"Kak, jangan tandatangani berkas itu Kak. Kau harus ingat bagaimana perjuangan selama ini untuk perusahaan, jangan sampai kau kehilangan perusahaan begitu saja hanya karena aku," sergah Raisa yang tidak mau jika Diego mengorbankan perusahaan demi dirinya.

__ADS_1


Diego mengepel erat kedua tangannya, menahan emosi yang kian memuncak hingga ke ubun-ubun. Rasanya sangat sakit karena melihat istrinya yang di saat itu sudah terluka tetapi ia tidak bisa melakukan sesuatu untuk menolongnya, di saat ia diberikan pilihan untuk menyelamatkan istrinya jalan satu-satunya harus menuruti permintaan orang itu. Tetapi bagaimana bisa ia melepaskan perusahaannya begitu saja kepada orang lain, karena perusahaan itu juga merupakan perusahaan peninggalan ayahnya yang sudah lama ia jalani hingga berjaya seperti saat ini. Wajar saja jika banyak yang menginginkan perusahaan itu jatuh ke tangan mereka.


Bugh!


Pria gila yang menganggap jika seluruh anak buahnya sudah berhasil menghajar semua anak buah yang berada di luar karena jumlah mereka yang lebih banyak, pada kenyataannya salah. Karena ada beberapa anak buah Diego dalam keadaan baik-baik saja dan salah satunya baru saja memukul pundak pria tersebut hingga jatuh tersungkur ke atas lantai. Sehingga Raisa pun langsung saja berlari menghampiri Diego dan menghamburkan pelukan ke dalam dekapan suaminya itu.


"Sayang, kau baik-baik saja 'kan Sayang?" Tanya Diego yang takut setengah mati karena istrinya itu terluka.


"Aku tidak apa-apa Kak, ini hanya goresan kecil. Tapi aku takut Kak," ucap Raisa yang terus aja menangis.


"Tenang ya Sayang, sekarang kau sudah aman. Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu sampai kau ditangkap oleh pria itu," ucap Diego.


"Tuan, Nyonya, maaf saya datang terlambat. Apa kalian baik-baik saja?" Tanya pria berbadan kekar yang tadi telah memukul pria misterius itu.


"Ya aku baik-baik saja, hanya istriku yang sedikit terluka. Untung saja kau cepat datang ke sini, kau tidak perlu meminta maaf karena kau sudah bekerja dengan baik. Oh iya siapa namamu?" Jawab Diego dan bertanya, karena ia memang tidak mengenal semua nama anak buah yang baru saja diperkerjakannya itu.


"Nama saya Boy Tuan. Syukurlah jika Tuan baik-baik saja, apa Nyonya mau saya antar ke rumah sakit sekarang?" Tanya Boy.


"Oh, terima kasih banyak Boy karena kau telah menolong kami. Soal istriku nanti biar aku saja yang urus, sekarang aku minta tolong coba kau buka topeng pria itu. Aku ingin melihat siapa dia," titah Diego.


"Roy?"


Diego benar-benar tak menyangka jika pria itu adalah teman masa kuliahnya dulu, tetapi memang Roy tidak pernah bersikap baik padanya bahkan pria itu menganggap dirinya sebagai musuh.


"Kak, apa kau mengenal siapa orang ini?" Tanya Raisa.


"Boy, tolong urus pria ba ji ngan ini. Jangan sampai lepas," titah Diego kenapa anak buahnya itu.


"Baik Tuan," jawab Boy.


"Sayang, kita duduk dulu ya," ajak Diego yang menuntun istrinya tersebut untuk duduk di sofa.


Lalu Diego mengambil kotak P3K yang memang tersedia di dalam ruangannya dan memberikan obat cair pada luka di leher istrinya.


"Aw," rintih Raisa karena merasa perih.


"Maaf sayang," ucap Diego yang dengan cepat meniup luka untuk mengurangi rasa perih, setelah itu langsung saja ia menutupi luka tersebut dengan plester.

__ADS_1


"Apakah masih sakit?" Tanya Diego.


"Sudah tidak lagi. Terima kasih banyak ya Kak, aku baik-baik saja kok," ucap Raisa.


"Baik-baik saja bagaimana, kau itu terluka Sayang. Aku tidak akan memaafkan pria pria ba ji ngan itu. Apa kau tahu dia adalah teman kuliahku dulu, tapi aku tidak tahu dendam apa yang dia miliki sampai tega menyakitimu seperti itu. Dan pertanyaanku sekarang apakah dia bagian dari Carlos? Tapi apa hubungan Carlos dan Roy?" Diego bertanya-tanya dan tidak mengerti.


"Kau bertanya padaku Kak, aku juga tidak tahu. Kak, lebih baik sekarang kita hubungi orang rumah, aku takut terjadi sesuatu dengan mereka," kata Raisa.


"Iya Sayang," jawab Diego lalu menghubungi salah satu bodyguard yang berada di rumah.


Ternyata kondisi di rumah masih aman dan baik-baik saja. Aron, Jason dan Ramzi serta satpam selalu berjaga di depan rumah. Mereka tidak akan membiarkan siapapun untuk masuk kedalam tanpa izin Diego, yang membuat Raisa dan Diego merasa tenang mendengar kabar tersebut.


"Bos, mau kita apakan orang ini? Di luar juga ada beberapa anak buahnya yang sudah membuat kekacauan," Tanya Boy.


"Lalu bagaimana dengan teman-temanmu, satpam dan para pegawai? Apa ada yang terluka?" Tanya Diego pula.


"Hanya luka-luka ringan saja Tuan, malah anak buah pria ini yang sudah babak belur meskipun ada beberapa orang yang berhasil kabur. Semua pegawai baik-baik saja Tuan, tapi yang saya lihat ada beberapa pegawai wanita yang terlihat syok karena perkelahian di luar tadi," terang Boy.


"Ya aku mengerti. Tolong katakan kepada anak buahmu untuk mengamankan semua anak buah Roy yang masih tersisa, kau juga urus pria ini, pastikan jangan sampai lepas. Aku akan melaporkan mereka ke Polisi sekarang juga," ucap Diego.


"Baik Tuan," jawab Boy yang langsung saja mengatakan kepada teman-temannya untuk mengamankan beberapa anak buah yang tadi sudah menyerang mereka, sedangkan ia sendiri juga mengikat tangan dan kaki Roy dengan sangat kuat karena takut pria itu akan lepas.


_____


Tidak beberapa lama kemudian, Roy telah sadar dan mencoba untuk melepaskan diri. Akan tetapi sayangnya polisi sudah tiba di tempat dan mereka semua pun langsung saja dibawa ke Kantor Polisi untuk ditangani lebih lanjut. Diego dan Raisa juga diminta untuk ikut ke sana guna memberikan keterangan-keterangan atas apa yang sudah terjadi di perusahaan.


Diego meminta Ken untuk mengurus para pegawai dan meminta mereka semua untuk pulang ke rumah. Diego juga memutuskan untuk menutup perusahaannya beberapa hari sampai masalahnya itu sedikit lebih tenang dan meminta para pegawai untuk berdiam diri di rumah agar tetap aman, daripada harus berada di perusahaan.


Di Saat itu juga Diego mendapat kabar dari Sastro jika detektif sudah menangkap pelaku yang mencoret-coret perusahaannya dan saat ini juga sudah berada di Kantor Polisi, berikut dengan Sastro yang berada di sana.


*****


Tidak membutuhkan waktu lama, berita ini telah sampai di telinga seorang pria yang tampak menghisap rokoknya dengan duduk bersantai di ruang kerja. Ia tampak mengulas senyum tipis mendengar kabar tersebut, seakan meremehkan apa yang terjadi saat ini.


"Dasar bodoh, sudah dikatakan jangan bertindak gegabah malah bertindak sendiri. Sekarang ini aku tidak akan menolongmu lagi, nikmati saja waktumu di dalam penjara Roy. Jika sampai kau melibatkanku, maka jangan pernah menyalahkanku jika aku akan menghancurkan hidupmu," gumam pria tersebut.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2