
Betapa terkejutnya Diego saat mendengar kabar jika supir taksi yang membawanya tadi dan kecelakaan bersamanya telah meninggal dunia, bahkan sejak saat di perjalanan menuju ke rumah sakit. Begitu juga dengan Kelvin yang ikut merasa terkejut mendengar akan hal itu.
"Di mana supir itu sekarang?" Aku harus melihat dan menemui keluarganya," tukas Diego.
"Jangan Diego, keadaanmu saja masih seperti ini," sergah Kelvin.
"Aku tidak peduli, aku harus ke sana sekarang juga," kata Diego yang berusaha untuk membangunkan tubuhnya dan turun dari brankar, tetapi ia merasa sangat lemah serta tubuhnya terasa sangat sakit karena luka-luka tersebut.
"Tunggu sebentar, jika kau mau melihatnya kau harus menggunakan kursi roda. Ramzi apa aku boleh meminta tolong," ucap Kelvin.
Ramzi mengangguk dan bergegas pergi, setelah itu ia kembali dengan membawa kursi roda. Lalu keduanya pun membantu Diego untuk duduk di sana dan membawanya pergi ke ruangan tempat di mana saat ini jenazah supir berada.
_____
Saat sudah berasa di sana, terlihat keluarganya yaitu istri dan dua orang anak sang supir yang terlihat masih kecil dan remaja sedang menangisi kepergian sang ayah.
Diego ikut menangis, hatinya terasa pilu karena tidak menyangka jika hal ini akan terjadi. Di saat itu ia menjadi teringat bagaimana saat dulu ayahnya pergi untuk selama-lamanya di depan matanya. Sehingga ia sangat mengerti bagaimana perasaan anak-anak yang ditinggal oleh supir tersebut, apalagi keduanya terlihat masih sekolah dan sangat membutuhkan sosok seorang ayah.
"Tuan, apakah Tuan orang yang tadi dibawa oleh suami saya?" Tanya istri supir saat menyadari kehadiran Diego, Kelvin dan Ramzi.
"Iya benar Bu, saya Diego. Saya turut berduka cita atas apa yang terjadi dengan suami Anda, saya juga minta maaf dan benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi," ucap Diego.
"Terima kasih Tuan, justru saya yang seharusnya minta maaf karena suami saya kondisi Anda sekarang menjadi seperti ini. Anda terluka dan kami tidak bisa bertanggung jawab, hidup kami saja sudah serba kekurangan. Apalagi sekarang suami saya sudah tidak ada, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghidupi keluarga kami. Saya hanya seorang pencuci baju keliling dan anak-anak saya masih sekolah," ucap istri supir yang merasa sangat terharu.
Diego memberi gestur agar Ramzi mendekatinya, lalu ia pun membisikan sesuatu di telinga Ramzi sehingga bodyguard-nya mengangguk mengerti lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Ibu tenang saja ya, soal anak-anak Ibu saya yang akan bertanggung jawab. Saya akan membiayai sekolah mereka sampai mereka tamat kuliah, saya janji. Setiap bulan saya juga akan mengirim uang untuk menambah biaya kebutuhan kalian sehari-hari, saya mohon jangan menolaknya, anggap saja ini sebagai santunan kepada anak yatim. Saya tahu betul bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah karena saya juga sudah kehilangan ayah saya," ucap Diego.
"Jangan Tuan, ini terlalu berlebihan. Bagaimanapun juga suami saya yang sudah menyebabkan kecelakaan ini, seharusnya saya yang sekarang bertanggung jawab atas pengobatan Tuan, bukan malah Tuan yang memberi bantuan sebanyak itu. Bagaimana saya harus membalasnya," ucap istri supir yang benar-benar merasa tidak enak.
"Tidak usah sungkan Bu. Tidak ada yang menginginkan kecelakaan ini terjadi, semua ini sudah takdir dan sekarang Ibu adalah orang yang paling sedih dan kehilangan. Apalagi Anak-Anak Ibu juga masih sekolah dan sangat membutuhkan biaya, jadi terima saja ya Bu tawaran Diego," pujuk kelvin yang ikut angkat bicara.
Istri supir tersebut tampak berpikir, hingga pada akhirnya ia pun mengangguk karena sudah tidak ada pilihan lain lagi dan juga tidak enak menolak niat baik seseorang.
"Terima kasih banyak Tuan, saya benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa saat ini," ucap istri supir.
"Kapan jenazah suami ibu akan dibawa pulang?" Tanya Diego.
__ADS_1
"Sebentar lagi dan hari ini juga beliau akan dimakamkan," jawab istri supir.
"Baik bu, saya juga akan ikut ke kediaman ibu dan ikut ke pemakamannya," ucap Diego.
"Tapi Diego keadaanmu seperti ini, belum tentu Dokter memperbolehkanmu untuk pergi," ujar Kelvin.
"Aku tidak peduli Kelvin, walaupun aku harus menggunakan kursi roda itu tidak masalah, yang penting aku harus ikut hadir di pemakamannya," tukas Diego yang tetap kekeh.
Kelvin tak bisa lagi menolak, lagi pula ia juga harus mengurus kepulangan Diego agar bisa dirawat di Jakarta sesuai dengan permintaan Raisa, sehingga Kelvin pun menemui dokter terlebih dulu.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, pada akhirnya dokter setuju Diego pergi dari rumah sakit sebentar. Asalkan setelah proses pemakaman selesai ia harus segera kembali dibawa ke rumah sakit dan esok hari barulah Diego diperbolehkan untuk pulang ke Jakarta.
*****
Proses pemakaman telah selesai di sore hari. Sebelum berpamitan, Diego memberikan sejumlah uang kepada istri supir untuk membiayai hidupnya bersama sepasang anaknya yaitu seorang laki-laki duduk di bangku SMA, sedangkan yang perempuan duduk di bangku SD.
Tentu saja uang yang Diego berikan jumlahnya tidak sedikit dan ia juga sudah meminta tolong Kelvin untuk membantunya mengurus semua biaya sekolah anak-anak sang supir sampai mereka tamat sekolah.
_____
"Di mana Ramzi, kenapa sejak tadi dia pergi tetapi belum juga kembali? Tanya Kelvin mengingat tadi Diego berbisik kepada Ramzi hingga pria itu pun pergi.
"Oh iya aku lupa mengatakan padamu, sebenarnya aku merasakan ada kejanggalan dalam kecelakaan ini. Supir itu mengatakan jika saat pergi kondisi mobilnya baik-baik saja dan aku yakin itu karena tadi sewaktu kami dari hotel menuju ke sebuah toko membeli oleh-oleh, perjalanan kami baik-baik saja, lancar. Setelah dari situlah baru hal itu terjadi, tiba-tiba saja rem mobil blong," tukas Diego.
"Jadi maksudmu semua itu terjadi bermula dari toko tersebut, ada orang yang sengaja ingin mencelakaimu jadi mengikutimu hingga mengambil kesempatan di toko oleh-oleh itu," ujar Kelvin.
"Kau benar Vin dan aku meminta Ramzi pergi ke Kantor Polisi untuk memeriksa mobil tersebut," jawab Diego.
Di saat itu pun ponsel Diego berdering dan ada panggilan masuk dari bodyguard-nya, sehingga ia langsung saja menjawab telepon tersebut serta menloudspeaker ponselnya agar Kelvin juga mendengar apa yang akan disampaikan oleh Ramzi.
"Halo Tuan, benar ternyata memang ada yang sengaja ingin mencelakai Tuan ataupun supir itu. Saya baru saja memeriksa mobil dan menemukan bahwa tali rem sengaja diputus. Saya juga sudah melaporkan hal ini kepada Polisi," ucap Kelvin yang membuat Diego dan Kelvin begitu terkejut dan juga sangat murka mendengarnya.
"Baiklah, lalu sekarang kau ada di mana?" Tanya Diego.
"Saya sedang di perjalanan menuju ke toko itu untuk mencari bukti CCTV Tuan," jawab Ramzi.
"Bagus, kau benar-benar bisa diandalkan dan maaf aku sudah menyusahkanmu," ucap Diego.
__ADS_1
"Sama sekali tidak Tuan, ini sudah menjadi tugasku," jawab Ramzi.
"Ya sudah kau hati-hati dan terus mengabariku," ucap Diego mengakhiri telepon tersebut.
"Tadinya aku juga berpikir seperti itu, tapi aku menipisnya karena bagaimana mungkin di Bandung ini masih ada orang yang ingin mencelakaimu. Apalagi Carlos dan kaki tangannya sudah ditangkap. Apakah itu juga ulah orang-orang Carlos yang mengikutimu sampai ke sini?" Ujar Kelvin.
"Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti seandainya memang itu mereka yang ingin sengaja mencelakaiku tapi malah orang lain yang menjadi korbannya, aku merasa sangat bersalah terhadap istri dan anak-anaknya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada mereka dan aku rasa berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk mereka itu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi suami atau ayah yang pergi untuk selamanya," ucap Diego yang merasa sangat sedih dan juga bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Diego, aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Kita selidiki dulu kebenarannya, maksudku siapa yang melakukan hal ini dan mudah-mudahan saja pelaku cepat tertangkap dan tentu saja harus diberi hukuman seberat-beratnya. Setelah mengantarmu ke rumah sakit aku akan menyusul Ramzi, aku akan membantu Ramzi membereskan masalah ini segera," ucap Kelvin.
"Terima kasih banyak Kelvin, maaf aku harus menyusakanmu juga," ucap Diego.
"Kau ini bicara apa, seperti orang lain saja," ujar Kelvin.
_____
Tidak lama kemudian mereka pun telah tiba di rumah sakit, Digo kembali dirawat karena kondisinya terlihat sangat lemah. Sementara Kelvin langsung saja pergi menyusul di mana keberadaan Ramzi saat ini.
Kelvin juga sudah memberitahu kabar kepada Sastro dan Raisa tentang kondisi Diego, tetapi ia tidak memberitahu hal apa yang sedang terjadi saat ini kepada Raisa karena tidak mau adiknya itu semakin merasa khawatir.
*****
Saat sedang menemani sang bayi di dalam kamarnya, Raisa terperanjak dari tempat ia duduk karena mendapatkan panggilan video dari Diego. Panggilan yang sedari tadi telah dinantinya dan membuatnya merasa sangat khawatir sepanjang hari. Sehingga langsung saja Raisa menjawab telepon dari suaminya itu.
"Halo Sayang," terdengar lirih suara Diego serta terlihat raut wajahnya yang tampak pucat dari seberang telepon.
"Kak, bagaimana kondisimu sekarang? Kenapa kau baru menghubungiku?" Tanya Raisa yang merasa sangat cemas tetapi juga senang karena bisa melihat wajah suaminya saat ini.
"Sayang, kau tidak perlu merasa khawatir seperti itu ya. Tenang dan lihat aku baik-baik saja 'kan? Maaf aku sudah membuatmu khawatir. Tidak ada yang menginginkan kecelakaan ini terjadi, tapi semua ini sudah takdirnya," ucap Diego.
"Iya Kak. Tapi kenapa bisa terjadi seperti itu Kak, kenapa kau bisa sampai kecelakaan? Kau benar-benar membuatku takut setengah mati Kak," ucap Raisa dengan air mata yang tampak mengalir deras.
Brak!!!
Tiba-tiba saja terlihat seseorang yang membuka pintu kamar baby Diesa dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara berisik dan membuat Raisa benar-benar sangat terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
Bersambung …
__ADS_1