
Keesokan harinya seperti biasa Raisa bangun terlebih dulu daripada suami dan anak-anaknya. Ia langsung menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum mereka berangkat ke Bandung. Setelah semuanya selesai dan tersaji di atas meja, kini Raisa pun membangunkan Denis dan menyiapkan segala keperluan yang akan digunakan oleh anaknya tersebut. Setelah itu Raisa kembali ke kamar dan membangunkan suaminya yang di saat itu masih tampak tertidur pulas.
"Sayang, ayo bangun, mandi dan siap-siap. Lalu kita sarapan dulu sebelum pergi," ucap Raisa sembari mengguncang pelan tubuh sang suami.
Di Saat itu pula terlihat sang bayi yang sudah bangun, sehingga Raisa pun langsung memberikan ASI kepada anaknya tersebut.
"Sayang, kau pagi sekali bangunnya," ucap Diego dengan mata yang masih terpejam, sangat berat untuk dibuka.
"Bukan hanya bangun, tapi aku juga sudah menyiapkan sarapan untuk kita dan juga pakaian yang akan kita pakai nanti," kata Raisa.
"Istri aku semangat sekali sih mau liburan," ucap Diego tersenyum.
"Iya dong. Ayo Kak sekarang kau bangun, nanti kita terlambat dan bisa ketinggalan pesawat," ucap Raisa, sehingga Diego pun membuka matanya.
"Ya sudah aku mandi dulu ya Sayang. Anak Papa juga sudah bangun ya," ucap Diego.
"Iya dong Pa, 'kan aku mau jalan-jalan, mau bertemu Oma. Jadi aku sudah bangun," kata Raisa seolah menjadi anaknya.
Diego pun tersenyum, lalu ia mengecup kening istrinya dengan sangat lembut.
"Ya sudah aku mandi dulu ya Sayang, nanti biar aku yang menjaga Diesa dan kau bisa gantian bersiap-siap," ucap Diego.
"Iya Sayang, setelah itu aku juga akan mengurus baby Diesa," ucap Raisa.
Lalu Diego pun beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.
_____
Tidak lama setelah Diego selesai, kini gantian Raisa pula yang menuju ke kamar mandi dan setelah itu ia juga mengurus anak bayinya. Hingga semuanya tampak rapi, kini mereka semua pun turun ke lantai bawah. Diego juga langsung membawa koper dan segala kebutuhan mereka yang akan dibawa pergi ke Bandung.
Saat tiba di ruang makan, terlihat Denis yang ditemani oleh bibi dan juga sudah rapi sedang menunggu orang tuanya untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi Sayang," sapa Raisa.
"Selamat pagi Ma, Pa, Adik Diesa," balas Denis yang menyapa semua keluarganya itu.
"Jagoan Papa semangat sekali ya," ucap Diego.
"Iya, ternyata bukan hanya Adik Diesa saja yang semangat tetapi Kak Denis juga." Raisa menimpali.
"Iya dong Pa, Ma. Tentu saja aku semangat. 'Kan mau pergi liburan dan bertemu dengan Oma," jawab Denis.
"Rasanya sudah tidak sabar lagi ya mau bertemu Oma. Apa kalian tahu Oma tidak tahu jika hari ini kita akan pergi ke Bandung," ucap Diego.
"Oh ya, kenapa kau tidak memberitahu Mama?" Tanya Raisa.
"Tentu saja sebagai kejutan. Aku yakin pasti Mama akan merasa sangat terkejut melihat kedatangan kita," kata Diego.
__ADS_1
"Tapi jangan terlalu mengejutkan Mama juga ya Kak, kau 'kan tahu sendiri bagaimana kondisi jantung Mama," ujar Raisa.
"Iya Sayang. Ini 'kan kejutan yang menyenangkan, aku yakin kok mau Mama akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir soal itu," ucap Diego.
"Iya Kak. Oh iya oleh-oleh buat Mama di mana ya?" Tanya Raisa.
"Oleh-olehnya sudah saya taruh di depan sekaligus koper milik Tuan Denis Nyonya," sahut bibi.
"Ya ampun Bi, padahal itu berat loh. Terima kasih banyak ya Bi," ucap Raisa.
"Tidak terlalu berat Nyonya, saya masih kuat. Sama-sama Nyonya," jawab bibi.
Lalu Raisa dan keluarganya itu pun segera saja menikmati sarapan dan setelah itu langsung melakukan perjalanan menuju ke bandara dengan diantar oleh supir.
*****
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama 4 jam di perjalanan, kini Diego dan keluarga kecilnya telah tiba di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung. Cuaca yang sangat cerah hari ini membantu lancarnya perjalanan mereka tanpa hambatan apapun. Anak-anak Diego dan Raisa juga terlihat begitu tenang dan sangat pintar. Meskipun untuk pertama kalinya Diesa menaiki pesawat, tetapi ia terlihat begitu nyaman dan hanya tidur saja sepanjang perjalanan.
Tak mau membuang waktu, segera saja Diego mencari taksi untuk mengantar mereka ke tempat tujuan, di mana saat ini Siska berada.
Perjalanan di darat juga memakan waktu yang cukup lama, dari kota hingga saat ini mereka pun telah tiba di pedesaan yang dikelilingi dengan kebun teh. Sepanjang perjalanan tersebut, Raisa terlihat begitu terkagum-kagum. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin turun dan bermain-main di sana.
"Sayang, bagaimana pemandangannya? Indah 'kan?" Tanya Diego yang melihat Raisa terus saja tersenyum.
"Iya Kak, sangat indah. Aku sudah tidak sabar ingin berkeliling dan menghirup udara segar di kebun teh," jawab Raisa.
"Tapi kau lebih indah," ucap Diego.
"Aku juga serius Sayang. Tentu saja bisa, tapi kau terlalu bersemangat sayang, memangnya kau tidak lelah?" Tanya Digo.
"Kalau untuk menghirup udara segar di tempat seperti ini aku tidak akan lelah Kak, malah aku merasa bersemangat sepeti yang kau katakan," kata Raisa.
"Ya sudah kalau begitu. Lagi pula sepertinya anak-anak juga sangat lelah, pasti tidak akan mau ikut," kata Diego.
"Siapa bilang aku tidak mau ikut, aku mau ikut Pa," sahut Denis yang tiba-tiba saja bangun, membuat Raisa dan Diego tersenyum.
"Sayang, memangnya kau tidak capek, pasti capek 'kan? Buktinya sepanjang perjalanan, bahkan saat masih di pesawat tadi kau hanya tidur saja," kata Raisa.
"Karena aku sudah tidur jadi sekarang rasa capekku sudah hilang Ma," jawab Denis.
"Oke, kalau sekarang kau masih ngantuk lebih baik tidur saja lagi," kata Raisa.
"Tidak usah, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Diego.
_____
20 menit kemudian, mereka pun telah tiba di rumah peninggalan mendiang ayah Diego. Jika pergi ke Bandung dalam waktu yang cukup lama pastinya Siska akan berada di sana, tetapi jika hanya ada keperluan sebentar maka Siska akan memilih untuk menginap di kediaman salah satu sanak saudaranya yang berada di kota. Tetapi tetap menyempatkan diri untuk melihat rumah sejuta kenangan bersama suami dan juga Diego saat masih kecil.
__ADS_1
Karena saat ini Siska sedang menjalani pengobatan tradisional, sehingga ia pun memilih untuk tinggal di rumah peninggalan suaminya itu. Meskipun rumah itu sudah lama kosong, tetapi selalu dirawat dan dijaga oleh tetangganya yang merupakan pasangan suami istri dan pasangan itu juga lah yang mengelola kebun teh peninggalan ayah Diego.
Meskipun Raisa sudah mengetahui semua itu karena Diego dan Siska sudah menceritakan padanya, tetapi ini adalah pertama kalinya Raisa menginjakkan kaki di sana dan bisa melihatnya secara langsung.
"Ternyata rumah peninggalan almarhum Papa masih sangat bagus ya Kak dan tinggal di rumah dengan suasana seperti ini pasti akan terasa sangat nyaman, udaranya juga masih segar. Beda sekali dengan Jakarta yang sudah sangat padat," kata Raisa saat mereka sudah berada di depan rumah.
"Iya Sayang, namanya juga ini di desa. Untuk itu Mama sebenarnya lebih merasa nyaman tinggal di sini semenjak Papa sudah tidak ada, tapi Mama kasihan karena tidak ada yang membantuku untuk menjaga Denis di Jakarta. Maka itu Mama memilih untuk tinggal bersamaku, tapi karena sekarang aku sudah memiliki istri, untuk itulah Mama kembali lagi ke sini. Meskipun sebenarnya aku juga lebih tenang jika Mama tinggal bersamaku, daripada di sini Mama 'kan hanya sendiri. Hanya saja alasan Mama juga untuk berobat jadi aku tidak mungkin melarangnya," ucap Diego.
Siska yang di saat itu sedang memasak di dapur dan mendengar suara mobil di depan pun langsung saja keluar rumah. Betapa terkejutnya Siska dan merasa senang karena melihat anak, menantu dan cucu-cucunya yang saat ini berada di depan rumah.
"Kejutan," ucap Diego yang melihat sang ibu, sehingga Raisa dan Denis pun ikut menatap ke arah wanita paruh baya tersebut.
"Diego, Raisa, Denis, kenapa kalian semua ada di sini?" Tanya Siska.
"Ma," ucap Raisa.
Lalu Raisa dan Diego pun menyalami tangan Siska dan saling berpelukan sejenak untuk melepaskan rasa rindu.
"Oma, aku sangat merindukan Oma," ucap Denis.
"Sayang, Oma juga sangat merindukanmu. Bagaimana kalian semua bisa berada di sini, kenapa tidak mengabari Mama dulu?" Ucap Siska.
"Kami sengaja mau memberi kejutan untuk Mama. Bagaimana, apa Mama senang?" Tanya Diego.
"Tentu saja Mama sangat senang. Ya sudah ayo kita masuk, ceritanya di dalam saja. Kebetulan Mama baru saja selesai masak, nanti kita makan bersama ya," kata Siska.
Sehingga mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan melanjutkan mengobrol, serta saling melepas rindu setelah satu minggu mereka tidak bertemu. Meskipun saat ini Siska sedang menggendong Diesa, tetapi Denis juga tak lepas menempel dari sang nenek karena ia merasa sangat rindu.
"Denis, baru juga beberapa hari tidak bertemu Oma sepertinya kau sudah sangat merindukan Oma ya," kata Siska.
"Tentu saja Oma, tidak melihat Oma sehari saja aku sudah merindukan Oma. Oma kapan pulang ke Jakarta?" Tanya Denis.
"Oma juga sama, tapi kalau untuk pulang ke Jakarta Oma juga belum tahu. Oma masih melakukan pengobatan di sini, nanti saat keadaan Oma sudah lebih baik pasti Oma akan pulang ke Jakarta," jawab Siska.
"Ma, bagaimana keadaan Mama setelah melakukan pengobatan tradisional? Apakah kondisi Mama jauh lebih baik?" Tanya Raisa.
"Tentu saja Sayang, seperti yang kau katakan tadi jika udara di sini sangat segar dan tentunya itu yang membuat hidup Mama jauh lebih sehat. Tapi bukan berarti Mama tidak sehat ya berada di Jakarta, tentu saja Mama merasa lebih bahagia di sana karena bisa bersama dengan keluarga Mama. Kalau di sini seperti yang kalian lihat, Mama hanya sendirian. Nanti sore setelah tetangga pulang dari kebun teh, baru Mama ada temannya," ucap Siska.
"Ma, seandainya Kak Diego tidak ada pekerjaan di Jakarta, aku juga ingin tinggal di sini," kata Raisa.
"Tidak apa-apa Sayang, kau tenang saja ya Mama di sini baik-baik saja kok. Saudara Mama yang berada di kota juga sering mengunjungi Mama di sini," ucap Siska.
"Aku senang kalau Mama di sini bisa hidup lebih tenang dan nyaman. Mama juga jangan khawatir ya, aku, Raisa dan anak-anak juga hidup aman kok di Jakarta," ucap Diego.
Saat mereka sedang bercanda, bercerita, saling melepas rindu di saat itu pun tiba-tiba saja Siska memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, untungnya ia sudah menyerahkan Diesa kepada ibunya.
"Ma, Mama kenapa Ma?" Tanya Diego yang merasa sangat panik, begitu pula dengan Raisa dan Denis juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Bersambung …