Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Titipan Cium.


__ADS_3

"Kau ini benar-benar sangat pintar ya, apakah ayahmu yang mengajarimu seperti ini?" Tanya Raisa yang mencolek hidung anak laki-lakinya tersebut.


"Rahasia, yang penting Mama harus menyampaikan titipan cium itu untuk Papa, karena nanti aku akan bertanya kepada Papa apa Mama menyampaikannya atau tidak," kata Denis dengan pintarnya.


"Iya, iya, pasti nanti akan Mama sampaikan titipan ciumnya. Ya sudah kau masuk sekarang ya, Mama pergi dulu," kata Raisa.


"Iya Ma," jawab Denis lalu segera masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Raisa pergi menuju ke perusahaan diantar oleh Aron salah satu bodyguard-nya itu.


*****


Saat Raisa baru saja tiba di Perusahaan Abimana Group, di saat itu Diego juga baru saja keluar dari perusahaannya dan hendak pergi. Sehingga ia pun melihat istrinya yang baru saja keluar dari mobil.


"Sayang, kau datang ke sini? Kenapa tidak mengabariku dulu?" Tanya Diego.


"Memangnya harus ya mengabarimu dulu kalau mau datang menemui suamiku sendiri, atau aku harus membuat janji dulu dengan sekretarismu Bunga atau dengan Ken asistenmu," tukas Raisa.


"Ya tidak seperti itu Sayang, maksudku bagaimana tadi kalau kau terlambat sedikit saja sampai di sini, pasti aku sudah tidak ada di perusahaan," kata Diego.


"Memangnya kau mau ke mana?" Tanya Raisa.


"Aku ada urusan penting dan aku harus pergi sekarang, boleh ya Sayang." Diego meminta izin kepada istrinya dengan wajah memelas.


"Urusan penting apa Kak?" Tanya Raisa lagi.


Diego memegang kedua pundak Raisa lalu menatap mata istrinya tersebut, "Sayang, percayalah ini semua demi kebaikan. Kau tahu sendiri jika saat ini masalah kita belum selesai 100%, masih banyak yang harus aku tangani," ucapnya.


"Ya aku tahu, tapi kau belum makan 'kan? Ada urusan sepenting apapun kau harus tetap memikirkan untuk makan. Bagaimana kalau kau tiba-tiba sakit karena tidak makan, siapa yang akan mengurus perusahaan dan masalah ini? Kau tidak akan bisa berbuat apapun lagi Kak, jadi kau harus makan dulu," kata Raisa.


"Tidak bisa Sayang, aku harus pergi sekarang juga. Tapi aku janji nanti setelah pulang ke perusahaan lagi aku pasti akan langsung makan," ucap Diego.


"Kalau begitu aku ikut," tukas Raisa.


"Jangan Sayang, ini terlalu berbahaya untuk wanita. Lagi pula kau lihat 'kan aku tidak pergi sendiri, aku pergi bersama Ken dan aku juga sudah meminta Jason untuk menyusulku. Aku mohon kau jangan khawatir ya," kata Raisa.

__ADS_1


"Jadi sekarang aku harus pulang setelah aku capek-capek masak dan datang ke sini mengantar makan siang untukmu, aku malah dicuekin seperti ini," hardik Raisa yang terpaksa memakai senjata pamungkasnya dengan memasang wajah murung dan kecewa. Ia bahkan membuang muka, enggan menatap suaminya itu.


Jika keadaannya sudah seperti ini, pasti akan membuat Diego merasa bersalah. Ia tampak menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi secara perlahan.


"Ya sudah kalau begitu, aku makan dulu. Tapi nanti setelah makan aku boleh pergi 'kan?" Tanya Diego.


Raisa kembali menatap wajah Diego dan menjawabnya, "Boleh, yang penting kau harus makan dulu sampai habis."


"Iya Sayang, ya sudah ayo kita ke ruanganku," ajak Diego yang langsung saja merangkul istirahat tersebut, lalu keduanya pun melangkahkan kaki menuju ke ruangan Diego.


Diego meminta Ken untuk menunggunya sebentar dan tidak lupa pula ia mengabari Jason untuk tidak langsung pergi ke lokasi tetapi ke perusahaan saja terlebih dulu, karena memang saat ini bodyguard-nya itu sudah berada di perjalanan. Sementara Aron yang tadi mengantar Raisa saat ini lebih memilih untuk menunggu di luar perusahaan, sambil menjaga keamanan di sana.


_____


Diego tampak terburu-buru menghabiskan makanan yang dibawakan oleh istrinya, meskipun sangat lezat dan juga sangat lapar tetapi ia tidak terlalu bisa menikmatinya karena saat ini benar-benar ada masalah penting yang harus ia tangani. Akan tetapi ia juga tidak tega melihat istrinya yang sudah datang jauh-jauh untuk mengantar makanan dan ini semua juga demi dirinya, ia malah mengabaikan istrinya tersebut.


"Uhuk … uhuk … ."


Terdengar suara Diego tersedak akibat tidak mengunyah makanan dengan baik, sehingga Raisa pun langsung saja memberikan minuman untuk suaminya.


"Iya maafkan aku ya Sayang, tapi aku benar-benar harus pergi sekarang. Makanannya juga sudah habis, jadi tidak apa-apa 'kan kalau aku pergi," kata Diego.


"Ya sudah kalau begitu, aku juga mau pulang. Kau hati-hati ya Kak. Oh iya aku lupa," ucap Raisa yang membuat di Diego yang menatap serius ke arah istrinya tersebut.


"Ada apa Sayang?" Tanya Diego.


Cup!


Raisa langsung saja mendaratkan ciuman pada pipi kanan Diego, sehingga suaminya itu pun tersenyum menatapnya.


"Terima kasih ya Sayang, aku tidak menyangka kau akan memberikanku ciu man itu. Kau membuatku semakin bersemangat," ucap Diego dengan sangat bangga.


"Kau jangan kegeeran dulu Kak, itu adalah titipan cium dari Denis untukmu. Aku juga tidak tahu dari mana dia belajar seperti itu," kata Raisa.


"Oh ya? Ternyata Anakku itu benar-benar pintar, sama persis sepertiku. Baru diajarkan sekali saja sudah langsung masuk ke dalam memorinya," ucap Diego yang tanpa sadar membuka kartunya sendiri.

__ADS_1


"Kak Diego, jadi benar-benar kau yang mengajarinya? Aku sudah menduga ya sebelumnya, dari mana Denis bisa berpikiran tentang titipan cium seperti itu kalau bukan kau yang mengajarinya," tukas Raisa.


"Ya tidak apa-apa dong, aku hanya mengajarinya untukmu saja, tidak boleh untuk orang lain," kata Digo.


"Kalau kau berani menitipnya untuk orang lain, sudah pasti aku akan membunuhmu Kak," ancam Raisa yang menatap tajam.


"Ampun Sayang, aku mana berani. Lagi pula Denis juga tidak mungkin mau kok mencium wanita lain kalau bukan Oma dan ibunya. Begitu juga denganku, aku hanya mencintaimu," ucap Diego.


Di saat itu mata Diego terpaku pada bibir merah merona milik sang istri yang selalu membuatnya candu, sehingga tanpa aba-aba ia menarik tengkuk Raisa dan menyambar bibir istrinya tersebut, serta melu matnya secara lembut. Raisa pun tak menolak, ia membalas ciu man tersebut hingga ciu man mereka semakin lama semakin mendalam.


Akan tetapi hanya beberapa menit saja, sebelum terjadi pertempuran di dalam ruangan tersebut, mereka pun sama-sama menyudahinya karena saat ini ada hal penting yang harus Diego selesaikan.


"Sayang, kita sambung nanti malam ya. Aku sudah sangat merindukanmu, tapi sekarang ini aku benar-benar banyak kesibukan," ucap Diego.


"Ya sudah kalau begitu, usahakan hari ini pulang cepat ya. Bukan hanya aku saja yang merindukanmu tetapi Anak-Anak juga," ucap Raisa tersenyum manis.


"Iya Sayang, aku juga merindukan Anak-Anak, terutama ibunya. Jangan lupa ya nanti malam gunakan pakaian favoritku," goda Diego, rasanya sudah tidak sabar ingin menggarap sang istri.


"Ih … Kak Diego apaan sih. Ya sudah ayo turun sama-sama," kata Raisa.


Lalu keduanya pun berjalan bergandengan hendak keluar dari perusahaan. Seluruh pegawai di sana tampak hormat dengan menyapa bos dan istrinya tersebut, sampai akhirnya mereka pun tiba di depan perusahaan.


"Sayang, kau hati-hati ya. Dan kau Aron, jangan kebut-kebutan di jalan. Pastikan istriku selamat sampai tujuan," ucap Diego.


"Baik Tuan, saya jamin Nyonya Raisa akan selamat sampai di rumah," jawab Aron.


"Kau tenang saja Kak, aku pasti akan baik-baik saja kok. Kau juga harus berhati-hati ya Kak dan jangan lupa untuk selalu memberiku kabar. Dan kau Kak Jason, hati-hati membawa kak Diego, jangan sampai suamiku kenapa-napa," ucap Raisa.


"Baik Nyonya," jawab Jason.


Memang di saat itu Jason sudah berada di perusahaan dan akan pergi bersama Diego, bahkan Ken juga ikut mereka di satu mobil yang sama.


Hingga akhirnya mobil Diego yang pergi terlebih dulu dari perusahaan, barulah setelah itu Raisa juga pergi meninggalkan perusahaan tersebut menuju pulang ke rumah.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2