Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Menyerang Sastro.


__ADS_3

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, di saat itu Diego baru sempat untuk melihat ponselnya dan terlihat banyaknya panggilan tak terjawab dan juga pesan WhatsApp masuk dari sang istri. Meskipun sedari tadi ia memang bolak-balik memegang ponselnya tampak menghubungi dan menjawab telepon, tetapi ia lupa untuk mengabari sang istri. Bahkan saat Raisa menelpon pun ia sama sekali tak menyadarinya.


Di saat itu Diego hendak menghubungi istrinya dan memberi kabar, tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya karena yakin jika istrinya itu pasti akan memarahinya lewat telepon. Jadi lebih baik nanti saja saat di rumah ia akan menjelaskannya secara langsung.


Sehingga saat dirasa urusannya hari ini sudah cukup, Diego pun langsung mengajak Ramzi untuk pulang ke kediamannya. Mereka juga sudah cukup lelah dengan apa yang baru saja dilakukan dan berniat akan kembali bertindak keesokan hari.


_____


Saat mendengar suara mobil yang telah tiba di depan rumah, segera saja Raisa berlari keluar dan langsung menghampiri Diego yang di saat itu baru saja keluar dari mobil dan melangkahkan kaki mendekati istrinya tersebut.


"Sayang, kenapa kau berada di luar?" Tanya Diego yang hendak mencium kening Raisa, tetapi terlihat wanita itu menghindarinya. "Kau kenapa Sayang?" Tanyanya, padahal ia tahu jika saat ini istrinya tersebut sedang marah, terlihat dari tatapan matanya.


"Kak Diego, kau itu dari mana saja? Kenapa kau begitu hobi membuatku merasa khawatir. Telepon tidak dijawab, pesan tidak dibalas, bahkan kau sama sekali tidak membaca pesan WhatsApp-ku. Kau ini benar-benar keterlaluan ya Kak. Aku baru saja mau pergi dan meminta Kak Aron untuk mengantarku mencari di mana keneradaanmu. Kau ini benar-benar membuatku gila tahu tidak." Raisa langsung saja menyambutnya dengan omelan, sehingga Ramzi yang mendengar akan hal itu pun segera pergi meninggalkan tuan dan nyonya-nya itu masuk ke dalam rumah.


"Aron, Jason, aku mandi dulu ya. Nanti biar aku yang berjaga di luar," kata Ramzi yang mendekati dua temannya yang sedang berjaga di depan rumah.


"Katakan saja kau sengaja ingin menghindari Nyonya dan Tuan 'kan?" Ujar Aron.


"Iya, kau ingin kami berdua saja 'kan yang mendengarnya di sini." Jason menimpali.


"Bukan, bukan karena itu. Kalian tidak lihat wajahku sudah sangat kusam seperti ini, aku benar-benar sangat lelah dan gerah, ingin mandi supaya lebih segar," kata Ramzi.


"Setelah mandi lebih baik kau langsung makan dan beristirahat saja dulu. Kalau kau memang masih sanggup, berjaga nanti malam saja," ucap Jason.


"Benar apa kata Jason, daripada kau nanti mengantuk dan malah tidur berjaga malam di sini bersamaku," kata Aron yang menyetujuinya.

__ADS_1


"Kalian berdua benar-benar teman yang paling mengerti. Terima kasih banyak ya, kalau begitu aku masuk dulu," ucap Ramzi dan berlalu.


Sementara itu terlihat Raisa yang masih tampak mengomeli Diego, tetapi suaminya itu malah tersenyum melihat istrinya tersebut.


"Kenapa kau tersenyum Kak? Apa kau pikir ada yang lucu? Aku ini sedang marah, bukan sedang melawak," tukas Raisa.


Diego belum menjawab apapun, tetapi ia langsung memeluk tubuh Raisa yang membuat istrinya tersebut sontak terkejut atas perlakuan suaminya itu. Akan tetapi ia tak memberontak dan juga tak membalasnya sampai Diego melerai pelukan itu dan memegang kedua pipi istrinya tersebut, serta menatap matanya.


"Aku minta maaf ya. Tapi aku ini 'kan baru pulang, boleh tidak kalau kau menyambutku dengan senyuman, lalu kau membawaku masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Aku ingin mandi, nanti setelah mandi kita makan karena aku juga sudah sangat lapar dan setelah itu aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku minta maaf, aku tahu aku salah tapi aku sama sekali tidak ada maksud untuk mengabaikanmu atau membuatmu merasa khawatir," ucap Diego.


"Ih kau ini ya Kak, ya sudah ayo kita masuk," ajak Raisa ketus karena masih merasa sangat kesal dengan suaminya itu.


"Senyum dulu, melihat senyummu membuat lelahku sedikit berkurang," pinta Diego.


"Sepenuhnya, apalagi kalau aku sudah bertemu dengan Anak-Anak kita," ucap Diego, sehingga membuat Raisa pun tersenyum.


"Nah seperti itu 'kan manis, kau semakin cantik jika tersenyum. Tapi kalau kau marah-marah seperti tadi membuatku merasa sedih dan tubuhku juga terasa semakin lelah," ucap Diego.


"Ya aku minta maaf, itu karena aku mengkhawatirkanmu Kak," ucap Raisa.


"Iya aku tahu Sayang. Ya sudah ayo kita masuk," ajak Diego yang merangkul tubuh istrinya tersebut, lalu keduanya pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


"Selamat malam Tuan Diego, Nyonya Raisa," ucap Aron dan Jason hampir bersamaan.


"Selamat malam juga Kak Aron dan Kak Jason," jawab Raisa.

__ADS_1


"Jason, Aron, setelah menikah nanti kalian pasti akan mengalaminya," kata Diego karena sadar jika sedari tadi dua bodyguardnya itu tampak curi-curi pandang menatap ke arah mereka.


Jason dan Aron hanya menganggukkan kepala dan tersenyum mendengar ucapan tuannya itu.


"Apakah nanti di saat kita sudah memiliki istri seperti Nyonya Raisa, kita akan bisa menjadi seperti Tuan Diego yang bisa menghadapinya dengan santai seperti itu?" Kata Aron saat Raisa dan Diego sudah tampak menjauh dari mereka.


"Entahlah, pada kenyataannya tidak semua orang yang sudah berumah tangga akan mengalami hal yang indah. Buktinya Tuan Diego dan Nyonya Raisa juga sudah sangat banyak menghadapi masalah-masalah dalam rumah tangga mereka," ucap Aron yang membuat Jason pun terdiam.


*****


Seperti biasa, jika belum bisa tidur maka Sastro akan berada di ruang baca untuk mengisi waktu kosongnya tersebut. Tanpa terasa karena terlalu asik membaca, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Padahal Kelvin sudah mengingatkan ayahnya tersebut untuk tidur lebih awal tetapi ia masih tetap berada di sana dan kemungkin Kelvin yang sudah tidur terlebih dahulu karena sudah pasti tubuhnya terasa sangat lelah.


Sastro menutup bukunya dan berniat hendak segera beristirahat. Akan tetapi sebelum menuju ke kamar, ia menuju ke dapur terlebih dulu hendak mengambil air minum. Di saat itu Sastro mendengar suara keributan di luar rumah, sehingga segera saja ia keluar untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


Betapa terkejutnya Sastro melihat satpam yang menjaga di rumahnya itu sedang berkelahi melawan tiga orang yang menggunakan topeng dan tampak mengeroyoknya, tentu saja satpam tersebut kewalahan bahkan sampai jatuh tersungkur. Membuat Sastro begitu murka melihat kejadian yang ada di depan matanya itu.


"Heh siapa kalian, apa yang kalian lakukan terhadap Satpamku?" Teriak Sastro yang tanpa pikir panjang mendekati orang-orang tersebut.


Tiga orang bertopeng itu pun langsung saja menghajar Sastro dan tentu saja pria tua itu tidak tinggal diam dengan melawan tanpa rasa takut. Akan tetapi siapa yang menyangka jika Sastro akan mengalami hal buruk yang tidak terduga sebelumnya, karena tiba-tiba saja salah satu diantara para penjahat itu mengeluarkan senjata tajam dan langsung menyerang Sastro. Padahal sedari tadi mereka tampak menyerang satpam dengan tangan kosong.


"Akh," rintih Sastro lirih sembari memegang pisau yang tertancap di perutnya dengan darah yang tampak mengucur deras.


Sedangkan tiga orang pria bertopeng itu langsung saja melarikan diri dan meninggalkan Sastro yang sudah jatuh dan tergeletak di atas tanah dalam kondisi yang sangat lemah.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2