Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Pura-Pura Bodoh.


__ADS_3

Saat Raisa sudah tertidur dengan nyenyak, Diego yang masih belum bisa memejamkan matanya tampak memandangi wajah cantik sang istri yang begitu polos. Terlihat begitu teduh dan hatinya juga terasa sangat nyaman jika berada di dekat istrinya tersebut.


Sampai saat ini Diego masih tak menyangka jika ia telah memiliki istri lagi setelah lama ia menutup pintu hatinya. Dan wanita itu adalah wanita yang benar-benar sangat dicintainya, bahkan perasaannya dulu terhadap mantan istrinya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa cintanya untuk Raisa saat ini. Ia benar-benar takut kehilangan istri kecilnya itu, ia tidak akan mau ataupun rela ketika ia kehilangan istrinya seperti saat pertama kali dulu ia pernah kehilangan.


Lalu tiba-tiba saja Diego mengingat perkataan Ayah mertuanya tadi jika ia tidak boleh berlama-lama untuk bertindak. Benar saja, dikhawatirkan jika Darrel nantinya malah curiga bahwa ia sudah mengetahui hal ini dan akan berencana kabur bersama dengan wanitanya itu.


"Oke Diego, pokoknya besok kau harus mencari tahu apa hubungan Darrel dan Clarissa sebenarnya dan pastikan bahwa mereka berdua tidak akan pernah lepas dari genggamanmu, karena itu juga tidak akan pernah terjadi," batin Diego.


Lalu Ia pun memeluk tubuh istrinya dan memejamkan matanya kembali hingga terlelap.


*****


Sementara itu, Darrel yang saat ini sedang menginap di apartemen Clarissa dan menemani wanita itu seperti biasa juga tidak dapat memejamkan matanya. Ia terus mengingat ucapan Diego waktu itu yang memintanya untuk tidak ikut campur urusannya karena Diego sendiri juga tidak pernah mencampuri masalah yang ia miliki.


"Apa ya maksud Diego berkata seperti itu? Apa jangan-jangan Diego sudah mengetahui sesuatu tentangku tapi dia hanya diam saja. Dan yang aku lihat sepertinya Diego saat ini lebih banyak menyimpan rahasia dariku, tidak seperti biasanya selalu terbuka atau meminta pendapat maupun bantuan. Rumah sakit di mana tempat Raisa dirawat saja dia tidak memberitahuku jika bukan aku yang mencari tahu sendiri. Ya meskipun dia masih percaya padaku tentang perusahaannya, tetapi aku merasa jika ada sesuatu yang tidak beres. Aku harus lebih berhati-hati, jangan-jangan memang Diego sudah mulai curiga padaku jadi dia sendiri sekarang lebih berhati-hati padaku," batin Darrel di tengah kegundahan hatinya.


Berulang kali Darrel mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi sangat sulit sekali untuk bisa tertidur. Hingga akhirnya pada pukul 04.30 WIB baru ia bisa terlelap, alhasil ia menjadi bangun kesiangan.


_____


Saat terbangun Darrel tak menemukan keberadaan Clarissa lagi di sampingnya dan saat melihat jam weker yang berada di atas nakas samping tempat tidur, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB.


Darrel meraih ponselnya dan di sana ia melihat terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Diego yang membuat Darrel manjadi kelabakan dan langsung menuju ke kamar mandi, hanya sekedar mandi bebek, lalu menggunakan pakaiannya. Setelah itu ia terburu-buru pergi ke perusahaan.


*****


Setibanya di perusahaan, Darrel langsung saja menuju ke ruangan Diego yang di saat itu sudah menunggunya.


"Kau dari mana saja? Masih ingat untuk bekerja?" Tanya Diego dengan tatapan datar.


"Maafkan aku Tuan, aku kesiangan karena tadi malam aku tidak bisa tidur," ucap Darrel.


"Itu bukan urusanku mau kau bisa tidur atau tidak. Tapi kau itu bekerja di perusahaanku, kau punya tanggung jawab yang itu artinya kau harus bisa disiplin. Aku heran denganmu Darrel, jujur aku merasa kecewa karena akhir-akhir ini sikapmu itu sungguh tidak berkompeten. Kau yang biasanya begitu rajin, tidak pernah terlambat, selalu on time tetapi sekarang kau selalu datang terlambat, kau selalu mengabaikan pekerjaan. Kemarin aku sudah sempat menegurmu karena masalah ini dan setelah itu kau berubah kembali menjadi Darrel yang aku kenal. Ternyata tidak bertahan lama kau kembali mengulangi hal yang sama, mengulangi kesalahan yang sama sekali aku tidak suka. Ada apa Darrel? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Diego.

__ADS_1


"Jadi masalahnya gara-gara ini, bukan karena Diego curiga kalau aku yang sudah mencelakai istrinya? Ternyata aku saja yang berlebihan," batin Darrel yang merasa lega.


"Darrel, kau tidak dengar aku bertanya. Jawab pertanyaanku, kenapa?" Diego mengulangi pertanyaannya.


"Oh iya, aku benar-benar minta maaf Tuan. Aku memang akhir-akhir ini sangat susah tidur, bisa dikatakan aku insomnia. Aku sudah mencoba untuk konsultasi ke Dokter dan sudah diberikan obat tidur, tapi aku tidak tahu kenapa terkadang masih susah juga untuk tidur. Maka itu aku suka terlambat dan kalau bekerja, siang harinya aku suka lelah," ucap Darrel mencari alasan.


"Kau yakin hanya gara-gara itu masalahnya?" Tanya Diego.


"Ya Tuan, aku yakin. Aku tidak mungkin membohongimu karena memang itulah kenyataannya," ucap Darrel.


"Apa Kau pikir aku ini anak kemarin sore yang bisa kau kelabui seperti itu dan aku langsung percaya begitu saja. Saat ini kau yang sudah masuk di dalam perangkapku Darrel," batin Diego.


"Tapi aku minta tolong padamu jangan seperti ini lagi Darrel, kembalilah pada sikapmu yang dulu. Kau adalah orang kepercayaanku, aku bahkan tidak hanya menganggapmu sebagai asisten saja tetapi sudah sebagai saudaraku. Tapi jika suatu saat nanti aku mengetahui bahwa kau telah berkhianat atau kau telah melakukan sesuatu di belakangku yang sangat tidak menyenangkan, aku tidak tahu bagaimana kedepannya nanti," ucap Diego yang membuat Darrel pun tersentak.


"Baik Tuan, aku janji itu tidak akan terjadi," ucap Darrel. "Lalu bagaimana keadaannya Nyonya Raisa sekarang Tuan?" Tanyanya.


"Istriku sudah baik-baik saja dan sudah dibawa pulang setelah tadi malam ada yang mencoba ingin menyakitinya dengan berkedok Suster. Sialnya aku tidak bisa menemukan Suster itu karena aku terlalu lama mengejarnya," kata Diego.


"Siapa orang itu Tuan? Lalu apakah Tuan masih mencari tahu siapa Suster itu?" Tanya Darrel penasaran.


Diego sengaja tidak memberitahu Darrel bahwa sebenarnya pihak kepolisian sedang mencari tahu tentang Suster Misterius itu melalui sidik jarinya pada infus yang telah dipegangnya waktu itu. Karena ia yakin jika itu semua berhubungan dengan Darrel, sudah pasti Darrel akan melaporkan kepada orang yang telah menyamar menjadi suster, bahkan Diego curiga jika suster tersebut adalah Clarissa, wanita yang ia yakini mempunyai hubungan dengan asistennya tersebut. Diego harus berpura-pura bodoh untuk mencari tahu hal yang sebenarnya.


"Ya karena kebaikannya itulah yang menjadikan istrimu itu bodoh. Bahkan kau sekarang saja sudah ikut-ikutan menjadi bodoh Diego. Padahal kau yang dulu tidak seperti ini, hanya karena cinta kau jadi gampang diperdaya oleh orang lain," batin Darrel tak sadar diri.


"Syukurlah Tuan, aku lega karena Nyonya Raisa baik-baik saja dan aku minta maaf karena tidak sempat untuk menjenguk Nyonya Raisa saat di rumah sakit," ucap Darrel.


"Tidak apa-apa Darrel, tidak masalah. Lagipula aku juga telah memberikanmu kesibukan di kantor, pasti kau sangat lelah," ucap Diego.


"Tidak apa-apa Tuan, itu memang sudah tugasku," ucap Darrel.


"Ya sudah kalau begitu kau kembali saja ke ruang kerjamu. Jika memang kau sangat lelah dan ingin beristirahat, istirahat saja. Jangan terlalu memaksa, karena hari ini aku juga tidak akan kemana-mana," ucap Diego.


"Baik Tuan, terima kasih. Saya permisi dulu," pamit Darrel yang langsung saja keluar dari ke ruangan presdir.

__ADS_1


"Darrel … Darrel, dari sikapmu saja aku sudah tahu jika kau banyak menyimpan kebohongan. Kau benar-benar berubah hanya gara-gara wanita licik itu," batin Diego.


******


"Raisa, kau mau ke mana?" Tanya Siska yang melihat menantunya itu turun dari tangga dan bertemu dengannya di lantai bawah.


"Aku mau ambil minuman Ma ke dapur," jawab Raisa.


"Ya ampun Raisa, apa minumanmu di kamar sudah habis? Kenapa kau tidak menelpon saja biar Bibi yang mengantarnya ke atas," ucap Siska.


"Iya Ma sudah habis. Tapi tidak perlu Ma, aku bisa turun untuk mengambilnya sendiri," kata Raisa.


"Raisa, kondisimu itu masih lemah, harus beristirahat. Bagaimana jika Diego mengetahui hal ini, pasti dia akan memarahi Mama karena Mama tidak menjagamu dengan baik," hardik Siska.


"Ma, Kak Diego tidak mungkin marah sama Mama kok. Mama tidak salah, ini karena keinginan aku sendiri. Walaupun nanti Kak Diego marah sama Mama, aku yang akan membela Mama. Aku juga bosan Ma di kamar terus, aku ingin main dengan Denis dan ingin ngobrol sama Mama. Boleh ya," ucap Raisa dengan tatapan mendamba.


"Kau ini benar-benar keras kepala sekali ya. Ya sudah kau langsung ke ruang keluarga saja, Denis ada di sana. Biar Mama minta Bibi antar minumanmu nanti," ucap Siska.


"Iya Ma, terima kasih ya," ucap Raisa yang langsung saja menuju ke ruang keluarga dan di sana terlihat Denis yang sedang belajar.


"Anak Mama sedang apa?" Tanya Raisa yang kini sudah berada di samping Denis.


"Mama, aku sedang membuat PR Ma. Mama bagaimana keadaannya? Sudah sehat? Adek bayi di dalam perut juga baik-baik saja 'kan?" Tanya Denis.


"Iya Sayang, Adek bayinya baik-baik saja kok. Adek bayinya sangat bangga karena mempunyai kakak yang pintar seperti Kak Denis. Nanti kalau Adek sudah lahir Kak denis harus mengajar Adek belajar ya," ucap Raisa.


"Iya dong Ma, nanti aku yang ajarkan Adek belajar. Tapi Adeknya laki-laki atau perempuan Ma?" Tanya Denis.


"Mama belum tahu, Denis maunya apa?" Tanya Raisa balik.


"Terserah Ma, mau laki-laki atau perempuan yang penting aku akan sayang sama Adek," ucap Denis lalu memeluk ibu tirinya tersebut.


Tanpa sengaja Siska yang telah kembali dari dapur melihat pemandangan itu, sejujurnya ia merasa sangat bahagia, hatinya juga begitu tenang melihat Denis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu saat ini ia bisa mendapatkannya dari Raisa. Tapi lagi-lagi Siska belum bisa menerima tentang masa lalu Raisa yang sampai saat ini belum ia ketahui kebenarannya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2