
"Halo Raisa, bagaimana kabar Tante Siska sekarang? Apakah sudah lebih baik?" Tanya Sena dari seberang telepon, mengingat saat pertama kali menjenguknya Siska masih tampak lemah dan hanya berdiam diri di kamar karena pasca operasi.
"Iya Sen, kondisi Mama sudah lebih baik kok. Yang penting selalu menjaga makan dan banyak istirahat, tidak boleh melakukan aktivitas berlebihan," jawab Raisa
"Syukurlah kalau memang seperti itu. Selain ingin menjenguk ibu mertuamu lagi, aku juga merindukanmu. Jadi boleh tidak kalau nanti malam aku datang ke rumah? Ya karena kalau siang hari aku masih ada pekerjaan," kata Sena.
"Tentu saja boleh dong Sen, aku juga merindukanmu. Lagi pula kalau malam hari suamiku ada di rumah, aku sudah menceritakan soal kau kepada suamiku dan aku ingin mengenalkan kalian kalau kau mau," kata Raisa.
"Oh ya? Iya Sa boleh. Aku 'kan memang belum mengenal suamimu," jawab Sena yang tentunya sangat senang, karena memang itulah yang ia inginkan.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau kau jadi datang ke sini kabari saja ya lagi," kata Raisa.
"Iya Sa nanti aku pasti akan mengabarimu, sampai ketemu nanti malam ya Sa. Bye … ," ucap Sena.
"Bye … ," balas Raisa dan mengakhiri telepon tersebut.
"Siapa sih yang nelpon istri aku pagi-pagi seperti ini," ucap Diego yang tiba-tiba saja merangkul tubuh istrinya itu dari belakang, serta mengendus-endus di lehernya yang membuat Raisa pun merasa kegelian.
"Kak Diego kau ini sudah seperti kucing saja mengendus-endus seperti itu," kata Raisa.
"Itu karena aku menginginkanmu Sayang, tadi malam kau benar-benar menolakku dan meninggalkanku tidur begitu saja. Pokoknya kau harus tanggung jawab pagi ini," ucap Diego dengan manja.
"Itu karena kau 'kan sedang sakit Kak. Lagi pula kau 'kan tahu sendiri tadi malam Denis juga tidurnya kemalaman," kata Raisa.
"Yang sakit itu telapak tanganku bukan juniorku. Kau sudah tidak bisa menolak lagi sekarang, Denis sudah pergi ke kamarnya dan masih sempat dong sebelum aku mandi," kata Diego.
"Sempat apa Kak, kau ini jangan berpikiran yang aneh-aneh deh Kak. Ini tanganmu lepaskan, pasti sakit 'kan seperti itu," kata Raisa karena Diego masih saja merangkul pinggangnya.
Diego pun melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Raisa hingga kini mereka saling berhadapan. Kemudian Diego mendekatkan wajahnya ingin mencium sang istri, akan tetapi dengan cepat Raisa menutup mulut suaminya itu dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Kak. lebih baik sekarang kau mandi karena kau harus pergi ke kantor. Aku mau menyiapkan sarapan dulu mumpung si bayi masih tidur," kata Raisa.
"Kau tidak perlu membuat sarapan, 'kan ada Bibi dan hari ini aku tidak terburu-buru pergi ke kantor karena tidak banyak pekerjaan. Kau 'kan tahu sendiri tanganku ini sedang terluka, jadi kemungkinan aku tidak bisa bekerja dengan cepat menggunakan tangan kananku. Kemungkinan beberapa hari ini aku akan lebih banyak mengandalkan asisten dan juga sekretarisku, hanya saja mereka akan tetap di dalam pengawasanku," ucap Diego.
"Baguslah kalau memang seperti itu, jadi kau bisa lebih banyak istirahat. Lagi pula kau itu 'kan Bos, memang sudah sepantasnya kau memberikan pekerjaan itu kepada asisten maupun sekretarismu Kak. Ya aku juga tahu bukan berarti Bos tidak ada pekerjaan, sudah pasti Bos tanggungannya lebih besar, tetapi untuk sekarang ini tidak apa-apa lah karena kau sedang sakit. Aku sudah memintamu untuk istirahat saja di rumah tapi kau tidak mau," kata Raisa.
"Daripada aku tidak ke kantor sama sekali lebih baik aku datang siang dan aku janji akan pulang lebih awal dari biasanya. Jadi sekarang masih bisa 'kan," kata Diego yang terus saja merayu istrinya tersebut.
Krena Raisa sama sekali tak menjawab, Diego pun langsung saja mendorong tubuh istrinya tersebut hingga Raisa terjatuh di atas sofa dan hal itu membuat Diego menjadikan kesempatan untuk langsung mencium serta me lu mat bibir istrinya tersebut. Raisa pun tak menolaknya, ia membalas ciuman tersebut dengan lembut hingga semakin lama ciuman itu pun semakin dalam dan memanas. Tak mau membuang-buang waktu Diego segera menurunkan ciumannya pada leher jenjang milik sang istri sehingga suara de sa han terdengar dari mulut Raisa, yang membuat Diego semakin bersemangat.
"Akh," rintih Diego karena Raisa tidak sengaja menyenggol telapak tangannya yang terluka.
"Maaf Kak, aku tidak- empht … "
Ucapan Raisa terhenti karena Diego menyumpal mulutnya kembali dengan ciuman mautnya, hingga mereka pun melanjutkan ciuman tersebut. Tidak lama kemudian tubuh keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi dan segera saja Diego memasukkan miliknya yang sudah tampak mengeras ke dalam kepemilikan sang istri yang masih terasa menggigit meskipun sudah pernah mengeluarkan satu bayi dari sana. Diego mempercepat gerakannya sehingga tidak membutuhkan waktu lama keduanya sama-sama mencapai puncak dan melakukan pelepasan secara bersamaan.
"Ih Kak Diego, ini sudah siang Kak. Kasihan Denis pasti sudah menunggu kita. Aku mandi dulu ya, sebentar saja," kata Raisa karena sudah sangat risih setelah melakukan olahraga pagi dengan suaminya itu.
"Tapi aku 'kan belum bisa mandi sendiri, kalau kau tidak membantuku bagaimana aku mau mandi," kata Diego.
"Oh iya, ya sudah ayo kita mandi sama-sama. Tapi janji ya jangan melakukan hal tadi lagi," kata Raisa.
"Iya Sayang," jawab Diego yang tersenyum sangat mencurigakan bagi Raisa.
Ternyata kecurigaan Raisa itu benar, karena pada kenyataannya ucapan Diego tak sesuai dengan apa yang terjadi. Di saat Raisa sedang menggosok tubuh Diego, suaminya itu terus saja menyentuh tubuh serta bagian sensitifnya karena mereka sama-sama polos. Raisa sendiri tak kuasa untuk menolaknya, sehingga terjadilah saling tembak menembak di dalam kamar mandi tersebut. Baru setelah itu keduanya membilas tubuh mereka hingga bersih.
Setelah rapi serta membantu sang suami menggunakan pakaian, kini Raisa yang yang menggendong sang bayi serta suaminya itu pun turun ke lantai bawah dan langsung menuju ke ruang makan.
_____
__ADS_1
Setibanya di ruang makan, terlihat menu sarapan yang sudah tersaji di atas meja dan tentu saja sang bibi yang telah menyiapkannya. Terlihat juga Siska yang berada di sana sedang menemani Denis, sehingga langsung saja Raisa meletakkan sang bayi di dalam baby stroller lalu ia dan Diego duduk bergabung dengan anak dan ibunya.
"Raisa, Diego, ayo cepat sarapan," ucap Siska.
"Iya Ma, maaf aku terlambat jadi tidak sempat membuatkan sarapan,"' ucap Raisa.
"Tidak apa-apa Sayang, sudah Mama katakan kau tidak perlu repot-repot. 'Kan sudah ada Bibi. Oh ya kata Denis kau membantu Diego mandi dan mengganti pakaiannya karena Diego terluka, kau kenapa Diego?" Tanya Siska yang langsung menatap ke arah anaknya, tepatnya pada luka perban di tangannya itu.
"Oh iya Ma, ini hanya luka kecil saja tapi memang tidak boleh terkena air dulu dan juga tidak bisa melakukan aktivitas terlalu sering menggunakan tangan ini. Maka dari itu Raisa membantuku," ucap Diego.
"Mama sama sekali tidak pernah mempermasalahkan jika Raisa membantumu, sekarang permasalahannya kenapa kau bisa menjadi seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi, apa kau bertengkar?" Tanya Siska.
"Tidak Ma, aku tidak sengaja menyenggol kaca yang pecah di perusahaan, jadi tanganku terluka," ucap Digo, ia tidak mau membicarakan hal yang sebenarnya karena tidak mau ibunya itu merasa khawatir.
Siska pun mencoba untuk mempercayainya saja meskipun sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh anak dan menantunya itu. Lalu mereka semua pun sarapan bersama, setelah itu melanjutkan aktivitas masing-masing.
*****
Malam harinya sesuai janji Sena pergi mengunjungi kediaman Abimana. Saat tiba di sana ia pun disambut hangat oleh Raisa dan langsung membawanya menuju ke ruang keluarga karena Sena sudah mengenal Siska.
Di saat itu pula Diego yang baru saja dari kamar Denis menghampiri mereka di ruang keluarga dan tidak menyangka jika tamu yang dimaksud oleh Raisa sudah tiba.
"Sayang, ini Sena. Teman yang aku katakan waktu itu. Dan Sena, ini Kak Diego suamiku," ucap Raisa yang memperkenalkan keduanya.
Sehingga Diego dan Sena saling berjabat tangan, serta terlihat Sena yang memandangi wajah Diego.
"Diego, ternyata semakin tua kau semakin tampan. Tidak salah jika dulu aku pernah menyukaimu, bahkan sampai saat ini jantungku terasa berdebar tak karuan saat bertemu denganmu lagi," batin Sena yang menatap sangat kagum, masih sama saat pertama kali ia melihat Diego jaman kuliah dulu.
Bersambung …
__ADS_1