
"Maafkan aku Pa, aku tidak sengaja," ucap Denis yang di saat itu pun langsung saja beranjak dari tempat duduknya dan langsung memunguti pecahan kaca.
"Akh … !" Teriak Denis karena kaca tersebut menusuk jari mungilnya sehingga mengeluarkan darah.
"Denis … kau kenapa Nak!" Teriak Raisa dengan panik.
Diego juga yang merasa sangat terkejut dan khawatir, sehingga ia langsung saja mengisap darah pada jari anaknya tersebut. Sedangkan Raisa, meskipun Diesa terus saja menangis di dalam gendongannya tetapi ia langsung mengambil kotak P3K yang berada di atas kulkas, lalu memberikannya kepada Diego.
Suasana menjadi riuh seketika, saat ini bukan hanya Diesa saja tetapi Denis juga menangis karena merasa sakit.
"Diesa, tenang dong Sayang. Itu Kak Denis sedang terluka, kasihan Kak Denis," ucap Raisa yang terus berusaha menenangkan anaknya tersebut. "Kak Denis, kau tidak apa-apa 'kan Nak, seharusnya tadi kau tidak usah membersihkan gelas itu, biar Mama saja," ucapnya yang terlihat begitu cemas.
"Apa kau ini tidak bisa diam, ini semua karena kesalahanmu sendiri. Kau itu anak laki-laki, kau yang begitu ceroboh, jadi kau tidak boleh menangis seperti ini," kata Diego yang memarahi anaknya tersebut.
"Kak, sudah Kak. Kenapa kau malah memarahi Denis. Apa kau tahu Denis itu merasa ketakutan, sekarang dia juga sedang sakit, cepat obati luka Denis," titah Raisa.
Di saat itu pun Diego langsung saja mengoleskan obat pada luka Denis lalu membalutnya dengan plester.
"Kak Denis, apakah masih sakit?" Tanya Raisa.
"Sudah tidak sakit lagi Ma. Terima kasih Pa," ucap Denis dan terlihat tangisannya sudah tampak reda.
"Lain kali hati-hati Denis, kau lihat karena ulahmu itu Adikmu jadi menangis terus," kata Diego yang lagi-lagi memarahi anaknya, entah kenapa rasanya ia begitu kesal.
"Cukup Kak, jangan memarahi Denis lagi. Sekarang coba kau pegang Diesa dulu, mungkin saja jika berada di gendonganmu dia akan diam," kata Raisa yang memberikan Diesa kepada suaminya itu.
Benar saja, saat berada di gendongan sang ayah, Diesa itu pun langsung terdiam. Sedangkan Denis langsung saja pergi meninggalkan ruang makan.
"Denis, kau mau ke mana? Selesaikan dulu makannya Sayang," ucap Raisa.
"Aku sudah kenyang," jawab Denis dan berlari masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja. Anak itu sudah bersalah tetapi tidak mau dikasih tahu dan sekarang sudah belajar ngambek seperti itu, tidak tahu siapa yang mengajarinya," tukas Denis.
"Kau tidak boleh terlalu keras seperti itu, kasihan Denis Kak. Dia hanya tidak sengaja, lagi pula Diesa itu menangis hanya karena terkejut. Sudah umum anak bayi seperti itu, jadi kau tidak perlu berlebihan terhadap Denis. Bagaimana jika Denis sekarang menganggap ayahnya telah pilih kasih, memarahinya karena kau membela Diesa. Kasihan Denis Kak, Denis itu masih kecil, dia belum tahu apa-apa. Denis masih butuh menyesuaikan diri, setelah lama ia hidup sendiri dan mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya, tiba-tiba saja sekarang dia mempunyai adik. Denis masih butuh menyesuaikan diri untuk menerima kenyataan bahwa sekarang orang tuanya harus berbagi kasih sayang dengan adiknya," ucap Raisa.
"Masih kecil bagaimana? Denis itu sudah besar, seharusnya dia mengerti dengan keadaan saat ini," ujar Diego.
"Sudah aku katakan Denis masih butuh menyesuaikan diri dan sepertinya bukan hanya Denis saja tapi kau juga harus belajar untuk menyesuaikan diri lagi. Ingat, jangan mentang-mentang sekarang kau sudah memiliki anak lagi lalu kau melupakan Denis begitu saja," ucap Raisa.
"Aku tidak pernah melupakan Denis, aku hanya ingin mengajarkannya untuk bersikap bagaimana layaknya seorang Kakak. Kau jangan menganggap Denis seperti anak kecil terus," kata Diego.
"Terserah kau sajalah Kak. Sini Diesa-nya, aku akan membawanya ke kamar dan aku akan menidurkannya," ucap Raisa lalu mengambil anaknya tersebut dari gendongan Diego. "Kau tidak usah masuk ke kamar jika kau belum menemui Denis dan minta maaf padanya."
Setelah mengingatkan suaminya itu, Raisa yang sebenarnya juga merasa kesal dengan sikap Diego segera saja pergi meninggalkan pria itu menuju ke kamar. Sedangkan Diego di saat itu tampak terduduk di meja makan, merenungi apa yang baru saja terjadi.
"Benar apa kata Raisa, aku sudah sangat keterlaluan. Bahkan aku sangat jarang sekali memarahi Denis, tapi kenapa aku begitu kesal karena sifatnya tadi. Seharusnya aku bisa lebih sabar karena Denis itu masih kecil, masih butuh menyesuaikan diri seperti apa yang Raisa katakan," ucap Diego yang menyesali perbuatannya.
Lalu ia pun melangkahkan kaki menuju ke kamar anak sulungnya itu.
_____
Tok … tok … tok …
"Denis … buka pintunya."
Tok … tok … tok …
"Denis, Papa bilang buka pintunya."
Berulang kali Diego mengetuk pintu dan berusaha sabar meminta Denis untuk membukakan pintu. Akan tetapi anaknya tersebut sama sekali tak menggubrisnya, hanya terdengar suara tangisan di dalam sana.
"Kak Denis, Papa minta maaf ya karena sikap Papa tadi sudah keterlaluan. Sekarang buka pintunya, Papa ingin berbicara denganmu. Ayo cepat buka pintunya," pujuk Diego.
__ADS_1
Hingga di saat itu pun Denis membuka pintu kamarnya tetapi ia langsung membuang muka dan menjauhi ayahnya, lalu duduk di tepi ranjang. Sedangkan Diego langsung masuk ke kamar dan mendekati anak laki-lakinya itu.
"Denis, Papa minta maaf ya. Papa tadi benar-benar terkejut karena tiba-tiba saja Adikmu menangis karena gelas yang kau jatuhkan. Tapi Papa tahu Kak Denis tidak sengaja 'kan? Papa minta maaf karena langsung memarahimu, seharusnya Papa bisa lebih sabar lagi. Benar kata Mama kalau Kak Denis masih kecil dan baru punya adik, jadi kau masih butuh menyesuaikan diri untuk menerima ini semua. Tapi bagaimanapun juga saat ini kau sudah punya adik, jadi kau sudah harus lebih mengerti Denis. Papa mohon kau harus belajar lebih dewasa ya, Papa tahu Kak Denis adalah anak yang hebat dan pintar. Mau 'kan kau memaafkan Papa?" Ucap Diego.
"Aku kira semenjak ada adik, Papa sudah tidak menyayangiku lagi. Papa memarahiku karena Papa lebih sayang dengan Adik Diesa," ucap Denis yang menangis tersedu-sedu.
"Tidak Sayang, Papa sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Papa dan Mama menyayangimu dan menyayangi Diesa, kalian berdua adalah Anak Papa dan Mama. Apalagi kau Denis, kau adalah anak pertama Papa. Kau juga seorang laki-laki, kau harus kuat. Jangan cengeng seperti ini dong. Kau itu tugasnya nanti adalah melindungi Adikmu dan juga melindungi Mama, serta keluargamu. Apa kau tahu itu? Kau harus menjadi seperti Papa, kau harus kuat. Masa hanya gara-gara dimarahi seperti tadi kau langsung ngambek dan masuk dalam kamar. Kau tidak boleh seperti itu lagi ya, Papa janji Papa juga akan berusaha lebih sabar. Mungkin ini karena papa juga kelelahan bekerja, jadi Papa tidak bisa mengontrol emosi. Papa minta maaf ya," ucap Diego.
"Iya Pa, aku juga minta maaf ya. Tapi tadi aku benar-benar tidak sengaja, lain kali aku akan lebih berhati-hati Pa," ucap Denis.
"Iya Sayang, Papa mengerti dan Papa juga memaafkanmu," ucap Diego lalu memeluk anaknya tersebut. "Ya sudah jangan menangis lagi, cepat hapus air matamu." ucapnya, sehingga Denis menyeka air matanya itu.
"Apa Adik Diesa sekarang sudah berhenti menangis Pa?" Tanya Denis.
"Sudah, Mama juga sudah membawanya ke kamar untuk tidur. Kau juga istirahat ya, ini sudah malam," titah Diego.
"Iya Pa, aku mau tidur dulu," ucap Denis.
"Iya Sayang, selamat malam," ucap Diego.
"Selamat malam Pa," jawab Denis lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya.
Setelah menyelimuti Denis dan mematikan lampu kamarnya, Diego pun menemani Denis sejenak dan setelah anaknya itu tertidur pulas, barulah ia meninggalkan anaknya tersebut dan menuju ke kamarnya.
_____
Setibanya di kamar, terlihat Raisa yang dan bayinya itu sudah tertidur pulas. Sehingga Diego pun langsung saja menghampiri keduanya. Setelah mencium anaknya, Diego pun beralih mencium kening sang istri dengan sangat lembut.
"Selamat tidur Sayang, maaf kalau aku tadi sudah membuatmu kecewa karena tidak bisa mengontrol emosi. Aku mencintaimu, Denis dan Diesa. Aku berjanji akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi untuk kalian," gumam Diego.
Setelah itu pun ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya tersebut serta memeluknya dari belakang. Lalu memejamkan mata hingga terlelap.
__ADS_1
Bersambung …