
Sang supir berlarian menghampiri Raisa dan merasa sangat khawatir melihat kondisi Nyonya saat ini. Akhirnya dengan dibantu oleh masyarakat setempat, Raisa pun dimasukkan ke dalam mobil dan langsung segera dibawa ke rumah sakit. Tak lupa pula sang supir mengabarkan kepada Diego di saat Raisa sudah ditangani oleh dokter di salah satu rumah sakit terdekat.
_____
Setelah mendapat kabar tentang sang istri, tentunya membuat Diego menjadi tak tenang. Meskipun sebentar lagi ia ada pertemuan dengan beberapa klien penting di salah satu perusahan besar, tetapi Diego membatalkannya begitu saja karena menurutnya Raisa adalah paling terpenting. Apalagi kondisinya saat ini sedang hamil, sehingga Diego harus segera mengetahui bagaimana kondisi istri dan calon anaknya tersebut.
"Tuan, Tuan tidak bisa membatalkan pertemuan hari ini. Tuan tidak lupa 'kan jika pertemuan ini akan menentukan apakah perusahaan Tuan Xander mau bekerja sama dengan perusahaan milik Tuan atau perusahaan lain. Tuan juga sudah sangat lama mengincar kerjasama ini, kenapa setelah kesempatan ada di depan mata Anda malah membatalkannya begitu saja," ucap Darrel, mengingat bonus besar yang pernah dijanjikan oleh Diego jika perusahaannya berhasil bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
"Diam! Kau tidak perlu ikut campur urusanku, karena aku juga tidak pernah ikut campur urusanmu. Jadi lebih baik kau diam saja, kau adalah asistenku dan tugasmu hanya mengatakan kepada mereka bahwa hari ini aku tidak bisa ikut pertemuan karena istriku masuk rumah sakit. Bayangkan saja bagaimana jika hal ini terjadi dengan orang yang kau cintai, apakah kau akan diam saja dan bisa bekerja dengan tenang? Tentunya tidak 'kan? Lagipula jika Tuan Xander memang sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaanku, pasti beliau akan mengerti dan akan memberikanku kesempatan. Kalau tidak ya sudah batalkan begitu saja," ucap Diego yang terlihat sangat murka, lalu ia pun pergi meninggalkan Darrel dan perusahaannya menuju ke rumah sakit.
Sedangkan Darrel hanya diam saja dan tak bisa untuk mengucap kata apapun lagi.
*****
"Bagaimana ini bisa terjadi Pak. Kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan, hanya menjaga Raisa saja kau tidak becus. Jika terjadi sesuatu dengan istri dan calon Anakku, aku pasti akan langsung memecatmu."
Diego tampak memarahi supirnya saat ia telah tiba di rumah sakit dan juga sudah melihat kondisi Raisa yang saat ini sedang beristirahat di ruang rawat inap. Untungnya Raisa dan janinnya baik-baik saja, hanya saja kondisi Raisa saat ini begitu lemah dan kandungannya juga harus benar-benar dijaga. Jika Raisa mengalami hal yang sama sekali lagi, dokter mengatakan tidak bisa menjamin jika janin yang berada di dalam kandungan Raisa akan baik-baik saja
"Saya benar-benar minta maaf Tuan, tadi saya sedang mengganti ban mobil," ucap supir lalu menceritakan apa yang terjadi dengan Raisa sampai ia mengalami kecelakaan seperti itu.
"Ba ji ngan, siapa lagi penjambret itu. Apakah itu disengaja atau memang kebetulan ada jambret di sana. Siapapun itu aku tidak akan tinggal diam, lihat saja aku tidak akan pernah memberi ampun orang-orang yang sudah dengan sengaja menyakiti istriku!" Tegas Diego dengan tatapan tajam.
"Saya benar-benar minta maaf Tuan, itu semua di luar nalar saya. Karena Nyonya Raisa sendiri yang ingin menunggu di warung itu karena memang di tempat saya memberhentikan mobil sangat panas," ucap supir.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kau pulang saja. Jika Mama mau ke rumah sakit, antar Mama ke sini. Biar aku yang menjaga Raisa," titah Diego.
"Baik Tuan, saya permisi," ucap supir lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
*****
Sementara itu, Sastro yang saat ini masih menunggu kehadiran anaknya mendadak merasa sangat cemas. Ia juga beberapa kali mencoba menghubungi Raisa untuk menanyakan di mana keberadaannya tetapi sang anak tak menjawabnya.
Ternyata Raisa meletakkan ponselnya di dalam tas dengan volume nada dering yang begitu kecil, sehingga Diego yang sedang berada di luar tak mendengarnya. Tetapi di saat Diego masuk ke dalam ruang rawat inap kembali, ia mendengar ponsel Raisa berdering dan segera saja ia menjawab telepon dari ayah mertuanya itu dan memberitahu kabar Raisa saat ini.
"Apa? Kenapa kabar sepenting ini kau baru memberitahuku Diego!" Bentak Sastro yang begitu emosi.
"Aku minta maaf Ayah, aku juga baru tahu dari supirku saat Raisa sudah di bawa ke rumah sakit. Nanti aku akan ceritakan lebih detailnya jika Ayah sudah berada di sini," ucap Diego dari seberang telepon.
"Baiklah, Ayah akan segera ke sana," ucap Sastro.
"Iya Ayah, hati-hati," ucap Diego.
Tanpa menjawab, Sastro pun langsung saja mengakhiri telepon tersebut dan buru-buru hendak pergi ke rumah sakit.
"Raisa, semoga kau baik-baik saja Nak. Ayah benar-benar merasa khawatir dengan keadaanmu," batin Sastro yang di saat itu sudah di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
*****
Di saat yang bersamaan, Clarissa yang mendengar kabar dari Darrel bahwa saat ini Raisa masuk rumah sakit merasa sangat senang. Meskipun Darrel belum mengetahui kenapa istri tuannya itu bisa masuk rumah sakit dan apa yang terjadi tak mengapa bagi Clarissa, yang penting mendengar kabar Raisa celaka itu sudah membuatnya sangat bahagia.
Clarissa pun berencana ingin mencari tahu sendiri dengan ke rumah sakit tempat di mana Raisa berada. Tetapi sayangnya Darrel juga tidak mengetahui di mana alamat rumah sakit tersebut, yang membuat Clarissa pun tampak berpikir dan sedang memutar otaknya, mencari cara agar ia bisa mengetahuinya segera.
"Oh iya kenapa tidak kepikiran, lebih baik sekarang aku menghubungi Mama Siska saja. Pasti Mama sudah tahu keadaan menantunya. Ya benar, paling tidak Mama pasti akan memberitahuku di mana Raisa dirawat saat ini," gumam Clarissa tersenyum, karena merasa idenya tersebut sangat brilian.
Sehingga langsung saja ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju ke kediaman Abimana.
__ADS_1
_____
Akan tetapi saat Clarissa baru saja tiba di sana, bertepatan di saat itu Siska yang baru saja keluar menggunakan taksi online. Sehingga Clarissa tidak mengetahui jika orang yang berada di dalam taksi tersebut adalah Siska.
Clarissa turun dari mobilnya, ia langsung saja menuju ke pos keamanan dan mengatakan ingin bertemu dengan Siska.
"Maaf Nyonya Clarissa, tapi Nyonya Siska baru saja keluar. Kira-kira 2 menit sebelum Nyonya sampai di sini," ucap satpam.
"Oh ya? Berarti baru sekali ya. Memangnya Mama tadi pergi menggunakan apa Pak?" Tanya Clarissa.
"Nyonya pergi menggunakan taksi online Nyonya," jawab Satpam.
Membuat Clarissa pun mengingat bahwa tadi ia memang sempat berpapasan dengan taksi online.
"Oh ya sudah kalau begitu, terima kasih ya Pak," ucap Clarissa yang bergegas masuk kembali ke dalam mobilnya dan segera melaju hendak mengejar taksi online yang tadi tadi membawa mantan mertuanya tersebut.
Meskipun ia tidak terlalu mengingat jelas bagaimana rupa taksinya, apalagi nomor platnya tetapi Clarissa mengingat warna taksi itu saja yaitu berwarna biru muda. Ia pun melaju kencang dan berharap jika masih bisa mengejar taksi tersebut.
"Itu pasti taksinya," gumam Clarissa yang menemukan sebuah taksi tidak jauh berada di depannya dan ia yakini jika taksi tersebut yang ditumpangi oleh Siska tadi.
Sehingga Clarissa pun segera mengajar taksi tersebut. Akan tetapi sialnya ketika itu ia malah terkena lampu merah, sedangkan mobil yang sedang ia kejar saat itu sudah melaju terlebih dahulu.
Din … din …
Terdengar suara klakson mobil yang sangat kuat karena Clarissa hampir saja menerobos lampu lalu lintas. Untungnya ia masih sempat untuk mengerem mendadak, sehingga masih selamat.
"Argh … sial!" Teriak Clarissa sembari memukul setir mobilnya, karena merasa sangat kesal.
__ADS_1
Bersambung …