
Kini Diego pun menganggap masalah perusahaannya sudah selesai hingga pada akhirnya ia pun menutup masalah itu dan tidak lagi mempermasalahkannya. Karena ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan berharap jika Darrel tidak akan pernah mengulanginya lagi. Bagaimanapun juga ia sudah mengenal Darrel dengan baik dan juga sudah sangat percaya dengan asistennya itu, bahwa Darrel tak mungkin melakukan hal tersebut jika memang tidak ada sesuatu hal yang darurat.
"Terima kasih banyak Tuan, aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan. Aku janji seandainya aku mengulanginya lagi, tanpa Tuan memecat dan menjebloskanku ke dalam penjara terlebih dulu, aku yang akan langsung menyerahkan diri dengan sesadar-sadarnya," ucap Darrel.
"Iya sama-sama, sudahlah kau tak perlu membahasnya lagi. Sekarang lebih baik kau keluar saja dan lakukan tugasmu seperti biasa," titah Diego.
"Iyaa Tuan, sekali lagi terima kasih Tuan," ucap Darrel lalu pergi meninggalkan ruangan Diego.
Tetapi siapa yang menyangka di saat Darrel membalikkan tubuhnya membelakangi Diego, di saat itu pun ia mengulas senyum tipisnya, entah apa maksudnya itu, hanya Darrel sendirilah yang tahu.
*****.
Meskipun saat ini Raisa dan Diego sudah menjalin hubungan bahkan mereka sudah berniat untuk langsung melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, Siska sendiri juga sudah sangat menyetujuinya dan tak ingin mereka menunda lebih lama lagi, akan tetapi keduanya belum mengatakan hal tersebut kepada Denis, sang anak. Padahal hubungan mereka sudah berjalan 2 minggu lamanya, Raisa sendiri lah yang belum siap hingga terus menundanya. Akan tetapi mereka juga sudah berniat akan mengatakannya di saat makan malam yang sudah direncanakan malam ini di restoran favorit Denis.
Hari ini Raisa juga diminta untuk tidak pulang setelah bekerja, sehingga ia pun langsung saja membawa pakaian gantinya dan nanti bisa langsung pergi ke restoran bersama keluarga calon suaminya itu langsung dari kediaman Abimana.
"Oke, sudah selesai," ucap Raisa saat ia baru saja selesai merapikan pakaian yang digunakan oleh Denis di kamarnya.
"Kak Raisa, kita mau ke mana sih sebenarnya?" Tanya Denis.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka mau diajak jalan-jalan?" Tanya Raisa balik.
"Tentu saja aku suka, tapi sepertinya acaranya sangat penting karena aku harus menggunakan pakaian rapi seperti ini dan kau juga kak Raisa, kau cantik sekali menggunakan pakaian seperti itu," ujar Denis.
Denis memang menggunakan pakaian formal yaitu kemeja dan juga jas, dilengkapi dengan dasi kupu-kupu yang membuat anak kecil tersebut terlihat sangat tampan. Sedangkan Raisa menggunakan dress yang saat itu pernah diberikan oleh Diego, membuatnya terlihat begitu cantik mempesona.
"Oh ya? Memangnya kalau aku pakai baju biasa, aku tidak cantik ya?" Tanya Raisa.
"Tentu saja kau cantik, nanti jika aku sudah dewasa aku ingin mempunyai kekasih sepertimu Kak," celetuk Denis yang terdengar sangat lucu di telinga Raisa dan merasa gemes terhadap bocah kecil tersebut. Lalu ia pun mencubit pipinya dan memeluknya.
Siska yang melihat akan hal itu pun langsung saja masuk ke kamar dan menghampiri keduanya.
"Raisa, Denis, apa kalian sudah siap?" Tanya Siska, hingga Raisa melerai pelukannya.
"Iya Ma, kita sudah siap kok," jawab Raisa.
__ADS_1
"Sudah siap dong Oma, lihat nih aku udah tampan 'kan sama seperti Papa," tukas Denis.
"Iya dong, cucu Oma Pasti sangat tampan seperti ayahnya," jawab Siska yang membuat Raisa tersenyum dan Denis pun merasa sangat bangga dengan pujian omanya itu.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang ya. Papa sudah menunggu kita," ajak Siska.
Lalu segera saja mereka keluar dari kamar Denis dan langsung menuju ke ruang tamu. Di saat itu pun terlihat Diego yang sudah menunggu mereka di sana.
"Wah … ini dia wanita-wanita cantik dan pria tampan yang dari tadi Papa tunggu," ucap Diego.
"Iya dong Pa, aku 'kan tampan seperti Papa," celetuk Denis.
"Iya dong, kau itu 'kan Anak Papa, jadi sudah pasti kau akan tampan sama seperti Papa," ujar Diego.
"Kak Raisa juga cantik 'kan Pa," ucap Denis.
Digo pun langsung saja melirik ke arah wanita yang dimaksud oleh anaknya itu dan benar saja memang malam ini Raisa terlihat begitu anggun dan membuat jantungnya semakin berdebar tak karuan. Raisa yang sadar diperhatikan seperti itu pun menjadi malu dan juga menjadi salah tingkah.
"Iya, cantik," jawab Diego apa adanya dan membuat wajah Raisa sudah memerah seperti kepiting rebus.
Lalu mereka bertiga pun langsung saja melangkahkan kaki menuju ke mobil.
*****
"Denis, kau boleh memesan makanan apapun yang kau mau dan setelah ini kita pergi bermain. Yang penting perut kenyang dulu," ucap Diego.
"Terima kasih ya Pa, ternyata selain diajak makan aku mau diajak main juga ya," ucap Denis yang merasa sangat girang.
"Iya Sayang, apa kau senang?" Tanya Siska.
"Senang Oma, aku sangat senang. Apalagi aku perginya sama Oma, Papa dan Kak Raisa, sudah seperti pergi dengan ayah dan ibu," ucap Denis, membuat Diego dan Raisa tersentak.
"Oh ya? Memangnya kau sudah sangat ingin memiliki ibu ya?" Tanya Siska.
"Iya Oma, semua temanku memiliki ibu, hanya aku saja yang tidak memilikinya," ungkap Denis yang tiba-tiba tampak murung.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau Papa mencarikanmu ibu pengganti?" Tanya Diego.
"Ibu pengganti? Maksud Papa Mama baru untuk aku?" Tanya Denis.
"Iya, tadi katanya kau 'kan sangat ingin memiliki ibu, sama seperti teman-temanmu. Jadi bagaimana kalau Papa mencarikanmu Mama, apa kau mau?" Diego mengulangi pertanyannya.
"Tapi Pa, aku tidak mau jika aku tidak mengenalnya. Aku tidak suka dengan Tante-Tante yang suka mengganggu Papa," ujar Denis yang yang rasanya terdengar sangat lucu, tetapi mereka sangat mengerti bahwa anak kecil itu tidak bisa berbohong.
Denis sangat tahu betul bagaimana para wanita yang pernah mendekati Papanya dan mengajaknya untuk bertemu, ya Diego selalu membawa Denis saat bertemu dengan mereka karena ia tidak mau menyembunyikan identitasnya kepada para wanita yang pernah dijodohkan dengannya waktu itu
"Kau sudah mengenalnya Sayang dan kau juga sudah dekat dengannya," ucap Diego.
"Memangnya siapa Pa?" Tanya Denis penasaran.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan wanita yang ada di sampingmu itu," kata Diego, sehingga membuat Denis pun langsung saja melirik ke arah Raisa yg di saat itu juga sedang menatapnya.
"Maksud Papa Kak Raisa yang akan menjadi Mamaku?" Tanya Denis untuk memastikan.
"Iya benar, apakah kau setuju?" Tanya Diego pula.
Denis tampak terdiam, membuat Siska, Diego dan juga Raisa terlihat begitu tegang untuk mendapatkan jawaban bocah kecil tersebut.
"Tentu saja aku mau, aku mau kak Raisa menjadi Ibuku," jawab Denis, sehingga mereka bertiga pun merasa lega dan juga sangat bahagia
"Denis, kau serius menyetujui jika aku menjadi Mamamu?" Tanya Raisa seakan tak mempercayainya.
"Tentu saja Kak, bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku sangat menyukai Kak Raisa. Tapi karena aku masih kecil, aku tidak bisa menikah dengan Kak Raisa. Jadi aku mau kau menjadi Ibuku saja," ucap Denis.
"Dasar anak kecil, dari mana kau tahu tentang menikah, memangnya kau tahu menikah itu apa? Lagipula kau tidak boleh menikah dengan Kak Raisa, karena Kak Raisa itu calon istri Papa," ucap Diego.
"Iya Pa. Tadi 'kan aku sudah bilang kalau aku ini masih kecil jadi aku mau kak Raisa menjadi Ibuku saja, Papa ini bagaimana sih," tukas Denis yang terlihat bete, membuat mereka semua tertawa karena tingkah anak kecil tersebut.
Kini Mereka pun langsung saja menikmati makan malam yang telah tersaji di atas meja dan setelah itu mereka pun akan pergi bermain.
Ternyata orang yang dari tadi mengikuti Denis dari belakang juga ikut masuk ke dalam restoran dan duduk tidak jauh dari mereka. Hanya saja orang itu terlihat begitu misterius dan juga menyamar, sehingga tidak ada yang menyadari keberadaannya.
__ADS_1
"Sial! Ternyata hubungan mereka benar-benar serius bahkan akan menuju ke jenjang pernikahan, ini tidak bisa dibiarkan," umpat orang misterius itu.
Bersambung …