
Tentu saja Diego sangat menentang apa yang menjadi keinginan istrinya saat ini, apalagi jika ia mengingat pesan Sastro yang meminta untuk menjaga Raisa karena merasa jika Erros sangat membahayakan.
"Kak, memangnya kenapa sih. Om Eros itu 'kan dulu sahabat Ayah, jadi menurutku tidak ada salahnya kalau aku hanya berniat ingin mempersatukan mereka lagi," ujar Raisa yang tak terima karena Diego melarangnya.
"Sayang, kau itu tidak tahu siapa Om Erros," tukas Diego.
"Memangnya kau tahu? Tidak juga 'kan? Kita sama-sama baru tahu tadi kok," hardik Raisa.
"Iya tapi yang kita dengar dari Ayah, aku bisa menyimpulkan kalau orang itu sangat berbahaya. Dia tidak menyukai Ayah hanya karena kesalahan masa lalu, sampai saat ini dia masih menyimpan dendam. Coba kau pikirkan, bisa saja 'kan jika setelah ini Om Erros malah berniat bermacam-macam dengan keluarga Ayah. Jadi kau jangan membuat gara-gara, sudah cukup Clarissa dan Darrel yang menyakitimu dan saat ini juga mereka masih dalam proses hukum, tidak tahu berapa lama mereka akan menjalani hukuman tersebut. Sekarang kau ingin ada orang lain lagi yang menyakitimu dengan mudah, iya? Ingat Sayang, kondisimu sekarang sedang hamil, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan Anak kita," ucap Diego, sehingga membuat Raisa pun tampak kesal.
Raisa melipat kedua tangannya dan diletakkan di atas dada, ia juga lebih memilih untuk melihat ke arah jendela samping melihat jalanan yang dipadati oleh kendaraan, enggan untuk berbicara dengan suaminya itu.
"Maafkan aku Sayang, ini semua demi kebaikanmu. Aku hanya tidak mau kau nantinya akan terluka lagi," batin Diego, lalu ia pun kembali fokus menyetir.
*****
Hingga kini mereka telah tiba di rumah, Raisa pun membuka pintu mobilnya sendiri tanpa Diego membukakannya seperti biasa, lalu ia juga masuk ke dalam rumah terlebih dulu meninggalkan suaminya.
"Sayang!" Panggil Diego meskipun istrinya tersebut sudah berlalu.
Diego hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, ia sudah sangat terbiasa menghadapi sikap Raisa di saat sedang ngambek padanya. Nantinya juga pasti akan baik sendiri jika mood-nya itu sudah kembali baik, apalagi semenjak hamil ini Raisa memang lebih sensitif dari biasanya.
Raisa pun segera saja melangkahkan kakinya menuju ke kamar tanpa melihat kanan dan kiri atau menggubris Diego yang di saat itu terlihat mengejarnya.
Siska yang di saat itu tidak sengaja melihat menantunya tersebut pun sangat yakin jika ia sedang mempunyai masalah dengan suaminya, sehingga saat Diego hendak menyusul istrinya tersebut Siska langsung saja menghentikan langkah kaki anaknya itu.
"Ma, aku harus mengejar Raisa sekarang," ucap Diego yang sudah tahu pasti ibunya akan menanyakan tentang hal itu.
"Ada apa? Ada masalah apa kau dan Raisa, Mama lihat sepertinya Raisa begitu sangat kesal. Kau tahu 'kan jika ibu hamil itu lebih sensitif, sudah Mama katakan berulang kali jaga perasaan Raisa, jangan sampai dia marah padamu seperti itu," tukas Siska.
__ADS_1
"Ma, wajar 'kan jika dalam rumah tangga ada sedikit masalah? Lagipula ini juga bukan masalah besar kok, aku pasti akan langsung menyelesaikannya," ujar Diego.
"Ya sudah kalau begitu, Mama percaya padamu. Ingat jangan membuat Raisa terus-terusan merasa kesal ataupun ngambek seperti itu, karena itu juga tidak baik untuk janinnya," ucap Siska.
"Iya Ma iya, Mama tenang saja ya. Maka itu sekarang aku mau menyusulnya, nanti kalau lama-lama aku membiarkannya seperti itu pasti dia akan merasa lebih kesal lagi," ucap Diego.
"Ya sudah pergi sana, selesaikan masalah kalian sekarang juga. Nanti jangan lupa turun untuk makan malam." Siska mengingatkan.
"Iya Ma," jawab Diego yang langsung saja melangkahkan kakinya untuk menyusul sang istri.
Akan tetapi saat tiba di kamar, Diego tidak bisa langsung berbicara dengan istrinya karena saat itu Raisa sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sehingga Diego pun duduk di dalam sofa kamarnya untuk menunggu istrinya tersebut selesai mandi.
_____
Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh orang tua maupun yang sudah berpengalaman, baik orang tua zaman dulu maupun orang tua zaman sekarang, bahwa ibu hamil itu memang lebih sensitif. Diego telah membuktikannya sendiri, ia yang sedari tadi berusaha untuk membujuk istrinya tersebut pada kenyataannya Raisa tetap tidak ingin berbicara padanya. Bahkan di saat Diego sedang mandi, Raisa yang biasanya menunggu suaminya itu kini meninggalkannya menuju ke ruang makan terlebih dulu.
Saat di meja makan, meskipun Raisa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan menyendokkan nasi serta lauk pauk untuk suaminya tersebut, tetapi tidak ada percakapan di antara keduanya. Raisa malah sibuk mengobrol dengan anaknya, bahkan ia bisa terlihat begitu bahagia dan gembira di depan Diego yang di saat itu hanya bisa menghela nafasnya saja. Siska yang melihat akan hal tersebut pun hanya bisa meminta Diego untuk bersabar karena ya memang seperti itulah ibu hamil yang lebih sensitif jika ada sesuatu yang menyinggung perasaannya.
"Aku bisa jalan sendiri, aku tidak cacat," ucap Raisa ketus.
Sehingga Diego pun melepaskan tangannya dan mengangkat kedua tangannya seperti menyerah ketika hendak ditembak oleh Polisi. Ia hanya mengikuti istrinya tersebut dari belakang dan di saat itu terlihat Raisa yang sedikit tersandung, hampir terjatuh, dengan sigap pula Diego menangkapnya.
"Aku tidak apa-apa, tidak usah menyentuhku," sergah Raisa dan lagi-lagi Diego hanya bisa menghela nafasnya saja.
Hingga kini mereka pun sudah tiba di kamar, Raisa langsung saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur serta menyelimuti tubuhnya sendiri. Lalu ia menghadap ke arah lain, enggan melihat suaminya tersebut.
Akan tetapi Diego tak menyerah, ia mendekati istrinya tersebut lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang, maafkan aku ya. Kita harus bicara, aku tidak bisa seperti ini terus. Sudah seharian kau mendiamiku, aku benar-benar merasa hampa, hatiku sangat kosong," ucap Diego yang terdengar sangat menggombal tetapi itu semua tulus dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Raisa memberontak meminta Diego untuk melepaskan pelukannya, tetapi bukannya melepas suaminya itu malah semakin erat memeluk tubuhnya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku harap kau mengerti ini semua demi kebaikanmu, aku hanya tidak mau kau terluka. Seandainya ada hal lain yang tidak membahayakanmu, aku pasti tidak akan mungkin melarangnya. Selama ini aku selalu berusaha untuk menuruti segala keinginanmu asalkan kau bahagia, aku juga berusaha untuk melindungimu. Kau juga tahu 'kan aku sibuk bekerja, aku mempunyai urusan yang sangat banyak tetapi aku juga selalu ingin kau selalu berada di dalam pengawasanku. Aku sangat mencintaimu Raisa, aku ingin selalu melindungimu dan juga keluargaku. Sayang, aku harap kau mengerti," ucap Diego panjang kali lebar tetapi sama sekali tak ada jawaban dari Raisa, bahkan di saat itu Raisa juga sudah tak lagi memberontak.
"Sayang, Sayang jawab dong. Paling tidak katakan iya atau tidak kau memaafkanku," tukas Diego.
Karena Raisa sama sekali tak menjawabnya, kini Diego pun melihat wajah istrinya tersebut dan ternyata Raisa sudah memejamkan matanya, bahkan terlelap.
"Ya ampun, ternyata kau sudah tidur Sayang. Bisa-bisanya kau meninggalkanku tidur dalam situasi seperti ini, pasti ini karena bawaan ibu hamil. Sabar-sabar, aku harus benar-benar menanam ekstra kesabaran menghadapi ibu hamil yang lebih sensitif," gumam Diego. "Aku sangat mencintaimu Raisa, aku harap besok keadaan akan kembali normal."
Setelah mengucapkan kata cinta, Diego pun mencium kening istrinya tersebut dengan sangat lembut, lalu kembali memeluk Raisa dan memejamkan matanya hingga terlelap.
*****
"Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda rela membayar pengacara mahal hanya untuk membela kami. Apa yang sebenarnya Tuan inginkan?" Tanya Darrel di saat Erros datang mengunjunginya dan Clarissa.
"Pertanyaan yang sangat bagus, Tidak suka berbasa-basi dan langsung ke intinya. Tentu saja aku tidak mungkin melakukan hal ini secara cuma-cuma, aku ingin setelah kalian berdua nanti bebas maka kalian harus bekerja sama denganku untuk menghancurkan Sastro dan keluarganya," ucap Erros dengan tatapan tajam.
"Tapi kenapa, kenapa tiba-tiba saja Anda datang lalu Anda ingin menghancurkan keluarga Raisa? Memang apa salah mereka?" Tanya Darrel penasaran.
"Darrel, seharusnya kau itu tidak perlu banyak bertanya. Seharusnya kau senang karena tiba-tiba saja ada seorang malaikat yang datang ingin menolong kita. Lagipula aku tidak keberatan kok seandainya kita nanti sudah bebas dari penjara aku bersedia untuk ikut Tuan Erros. Apalagi Tuan Erros sangat kuat dan mempunyai kekuasaan," ujar Clarissa.
"Bagus, bagus. Aku sangat suka dengan tanggapanmu ini, kau tidak banyak membantah ataupun keras kepala," tukas Erros.
"Maaf Tuan Erros, sebenarnya aku sama sekali tidak bermaksud untuk membantah. Aku juga pastinya akan menuruti keinginanmu karena kau sudah menolongku, apalagi kau memintaku untuk membantumu membalas dendam kepada keluarga Sastro, tentunya itu semua sangat senang aku lakukan. Karena yang berhubungan dengan keluarga Sastro sudah pasti akan berhubungan dengan Diego," ucap Darrel yang rasanya sudah menyimpan dendam yang amat mendalam untuk mantan tuannya tersebut.
"Baguslah kalau seperti itu, ini hanya karena dendam masa laluku dan aku ingin memberi pelajaran kepada Sastro. Sepertinya aku mengerti masalahmu dengan Diego, karena sifat Diego itu tidak berbeda jauh dengan sifat Sastro yang bersikap sok baik tetapi pada kenyataannya mereka tidak pernah sadar jika perlakuan mereka telah menyakiti orang terdekat mereka. Meskipun mereka merasa apa yang mereka lakukan itu benar, tetapi tidak dengan kita orang yang dekat dengan mereka," ucap Sastro.
Darrel tampak tercengang, ia tidak menyangka jika pria yang saat ini berada di depannya mempunyai sifat yang mirip dengannya dan tentu saja hal tersebut membuat Darrel merasa bahagia karena mendapatkan seorang teman ataupun partner yang sefrekuensi dengannya.
__ADS_1
Bersambung …