Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Mengancam.


__ADS_3

Wanita tersebut semakin menatap Raisa dengan tajam dan seraya berjalan mendekatinya, membuat Raisa pun merasa kebingungan tetapi sama sekali tak takut dengan wanita yang sudah pernah ditemuinya waktu itu.


"Untuk apa kau datang ke sini, ada keperluan apa?" Tanya Raisa ketus.


"Cih, sombong sekali gaya bicaramu. Ternyata apa yang aku lakukan di rumah kontrakanmu itu tak membuatmu kapok ya. Kau masih saja terus mengganggu Diego," hardik Clarissa.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Atau kau yang sudah menyebarkan fitnah di sana sampai aku dianggap tidak baik oleh tetangga?" Tanya Raisa.


"Kalau iya memangnya kenapa. Sudahlah itu tidak penting, sekarang ini aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk menjauhi Diego, karena aku adalah satu-satunya wanita yang dicintai olehnya," kata Clarissa.


"Oh ya? Tapi maaf Nyonya Clarissa, yang aku tahu kau hanyalah mantan istri Tuan Diego, kau hanyalah masa lalunya. Itu yang aku dengar langsung dari mulut Tuan Diego dan juga Mama," tukas Raisa.


"Mama? Siapa maksudmu Mama?" Tanya Clarissa penasaran.


"Tentu saja Mama Siska. Ya Mama Siska yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan Mama karena dia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Apa kau ada masalah Nyonya Clarissa?" Tanya Raisa yang terlihat sangat menantang.


Ia teringat jika Diego pernah berpesan padanya tidak perlu takut dengan Clarissa jika suatu saat nanti wanita tersebut akan datang menghampirinya. Diego memang sudah mewanti-wanti karena mantan istrinya itu bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Lagipula memang pada kenyataannya Diego sudah tak memiliki hubungan apapun lagi dengan wanita itu. Begitu pula dengan Siska yang juga berpesan jika ia tidak boleh menjadi wanita yang lemah, apalagi jika tidak merasa melakukan kesalahan. Sehingga Raisa yang memang pada dasarnya tidak takut langsung saja melawan Clarissa meskipun sebenarnya ia tak memiliki hubungan apapun dengan Diego.


"Brengsek! Kau ini benar-benar menentangku ya. Kau berani sekali melawanku," bentak Clarissa yang semakin menatap tajam ke arah lawan bicaranya.


"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk melawanmu, tapi memang itu kenyataannya. Aku sama sekali tidak memiliki urusan denganmu, mau aku mempunyai hubungan apapun dengan Tuan Diego itu juga sama sekali bukan urusanmu," ucap Raisa.


Clarissa yang mendengar akan hal itu pun begitu terlihat emosi. Sehingga dengan sengaja ia mendorong tubuh Raisa hingga terhempas ke pintu.


"Hei apa yang lakukan?" Pekik Raisa.


Clarissa tak memperdulikannya, kini ia malah beralih menarik rambut Raisa dengan sangat kuat.


"Akh … lepaskan rambutku, sakit," rintih Raisa yang juga menahan emosi di dadanya.


"Kau sudah berani menantangku, apa kau tidak tahu siapa aku gadis kecil? Aku ingatkan sekali lagi padamu, kika kau tidak menjauhinya dan masih berani untuk mendekati Diego, aku tidak akan segan untuk membunuhmu!" Ancam Clarissa yang memberikan peringatan keras.


Lalu Clarissa pun menghentakkan tangannya dengan kuat dan melepaskan tarikan rambutnya dengan sangat kasar. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan kediaman Raisa.

__ADS_1


"Akh sakit sekali, untung saja rambutku tidak lepas dari kepala. Dasar wanita sakit jiwa," umpat Raisa lalu ia pun menutup dan mengunci pintu rumahnya itu dan masuk ke dalam kamar.


"Raisa … Raisa, kenapa sih kau tadi diam saja? Kenapa kau tidak membalas di saat wanita itu menarik rambutmu. Seharusnya kau melawannya Raisa, atau paling tidak kau menamparnya. Sepertinya kau ini benar-benar wanita yang sangat baik, bahkan kau tidak tega menyakiti wanita yang sudah menyakitimu. Tetapi tadi dia datang jelas-jelas hanya untuk mengancam, apakah ancamannya itu benar-benar akan terjadi jika aku masih tetap bekerja di rumah Tuan Diego?" Gumam Raisa yang bermonolog dengan dirinya sendiri, meskipun ia sudah berusaha untuk melawan rasa takutnya itu, tak bisa dipungkiri jika ia juga merasa sedikit khawatir.


*****


Keesokan hari setelah selesai bekerja, seperti biasa Raisa akan bersiap-siap untuk pulang. Di saat itu bertepatan dengan Diego yang baru saja tiba di rumah dan langsung menghampirinya.


"Ini ambil," ucap Diego sembari menyerahkan sebuah paper bag.


"Ini apa?" Tanya Raisa kebingungan.


"Lihat saja," titah Diego, sehingga Raisa mengernyitkan dahi menatap ke arahnya.


"Kenapa diam saja dan kenapa kau menatapku seperti itu? Ayo buka!" Diego mengulanginya.


Sehingga Raisa pun langsung saja mengikuti perintahnya tersebut. Ia merasa sangat terkejut saat melihat isi di dalam paper bag tersebut adalah sebuah dress yang sangat indah dan tentunya harganya juga sangat mahal. Dress yang untuk bermimpi memilikinya pun Raisa tidak berani.


"Apa kau lupa jika malam ini ada undangan pesta di kediaman Tuan Sastro?" Tukas Diego.


"Tentu saja aku mengingatnya. Lalu apa hubungannya dengan dress ini?" Tanya Raisa.


"Kau ini bagaimana sih Raisa, dress ini aku berikan untuk kau gunakan nanti malam.


Masa seperti itu saja kau masih mempertanyakannya," ucap Diego yang terlihat kesal.


"Oh, ya sudah. Aku kan hanya bertanya saja dan kau tidak perlu emosi seperti itu Tuan," hardik Raisa.


"Nanti malam aku akan menjemputmu dan sekarang kau pulang diantar supir, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu,' ucap Diego ya yang membuat Raisa tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Diego yang menyadari akan hal itu.


"Tidak apa-apa, aku hanya senang karena akhirnya Tuan Diego yang kemarin tampak cuek, hari ini kembali perhatian lagi," ungkap Raisa apa adanya.

__ADS_1


"Oh ya? Apakah kau menganggap jika kemarin aku cuek?" Tanya Diego.


"Iya," jawab Raisa singkat.


"Lalu apakah kau merindukan perhatian itu?" Tanya Diego lagi yang membuat Raisa pun tampak gugup dan tak bisa menjawabnya.


"Aku-"


"Sudahlah, kau tidak perlu menjawabnya. Ingat nanti malam aku akan menjemputmu dan kau harus sudah siap," ucap Diego yang menyela ucapan Raisa begitu saja.


"Tapi bukankah kau mengatakan akan memikirkannya lagi?" Tanya Raisa.


"Ya aku sudah memikirkannya matang-matang, aku akan pergi bersamamu," jawab Diego.


"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu," pamit Raisa lalu ia pergi meninggalkan kediaman Abimana.


*****


Pukul 18.30 WIB, Diego sudah di dalam perjalanan menuju kediaman Raisa. Karena pesta akan dimulai pukul 20.00 WIB, tentunya ia pun tak ingin terlambat untuk menjemput wanita tersebut. Diego terlihat begitu tampan dengan menggunakan setelan tuksedo berwarna biru dongker, seperti seorang Pangeran yang ingin menjemput Tuan Putrinya. Ia juga tampak gugup, entah kenapa rasanya begitu grogi, seperti seorang remaja yang ingin mengajak kekasihnya untuk berkencan.


"Ada apa dengan jantungku, kenapa rasanya berdetak tidak normal seperti ini? Padahal aku baru saja ingin menjemputnya, apalagi jika nanti Raisa sudah duduk di sampingku, jalan bergandengan bersamaku memasuki lokasi pesta, aku tidak tahu apakah perasaan ini masih bisa dikontrol atau tidak. Sepertinya aku tidak bisa lagi menundanya, pulang dari pesta ini aku akan langsung mengungkapkannya kepada Raisa," gumam Diego yang sudah sangat yakin dengan perasaan yang ia miliki untuk wanita Raisa.


Sebagai lelaki yang gentle, ia juga sudah siap menerima resiko apapun nantinya. Meskipun kemungkinan besarnya Raisa pasti akan menolaknya.


 


Sedangkan Raisa di saat itu pun telah selesai dan saat ini sedang menunggu kehadiran Diego. Ia menggunakan dress yang diberikan oleh Diego dan terlihat sangat pas, begitu cocok untuknya. Dengan riasan tipis dan juga rambut yang tergerai indah, ditambah dengan jepit rambut yang menghiasi mahkotanya itu, membuat Raisa terlihat begitu tampil cantik.


Sama halnya dengan yang Diego rasakan, Raisa juga terlihat begitu grogi layaknya ingin dijemput oleh sang kekasih yang akan mengajaknya untuk berpacaran. Membuat Raisa merasa geli sendiri jika membayangkan akan hal itu.


"Ya ampun Raisa, kau ini mikir apa sih. Umur Tuan Diego itu sudah tua, sudah pasti dia tidak akan mungkin memikirkan gaya pacaran seperti anak ABG. Lagipula memangnya kau itu siapa, kau bukan siapa-siapa Tuan Diego. Kau hanya pengasuh anaknya saja yang saat ini kebetulan diajak untuk pergi ke acara pesta," gumam Raisa seolah berbicara dengan dirinya di cermin.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2