
"Aduh … tubuhku sakit sekali, kau sengaja ya menabrakku," tuding wanita tersebut di saat Diego menghampirinya
"Ck, lagu lama. Maaf ya Nona aku sama sekali tidak merasa menabrakmu, jadi kau jangan menuduhku sembarangan. Aku bisa saja menuntutmu atas pencemaran nama baik," bantah Diego.
"Tidak menabrak bagaimana, sudah jelas-jelas sekarang ini aku terjatuh karena kau yang baru saja menabrakku. Apa kau tidak bisa pelan-pelan sedikit bawa mobil? Ini masih di kawasan restoran, seharusnya kau bisa mengemudi dengan baik," hardik wanita tersebut.
"Aku sudah mengemudi dengan sangat baik Nona dan aku baru saja menyalakan mesin mobilku, tidak mungkin aku menabrakmu. Mungkin kau sendiri yang sengaja menabrakkan diri, jadi aku tidak peduli, kau yang salah," kata Diego.
Akan tetapi di saat itu terlihat sebagian pengunjung restoran yang masuk dan juga baru keluar, menghampiri keduanya karena mendengar keributan tersebut dan tampak membela wanita itu.
"Apa-apaan sih, sudah menabrak orang bukannya tanggung jawab malah menyalahkan orang yang ditabrak."
"Kasihan sekali wanita itu, harus ditabrak oleh seorang pria yang tidak mau bertanggung jawab."
"Tampangnya saja tampan, tapi ternyata tidak punya hati."
Terdengar suara di antara orang-orang yang berada di sekelilingnya, sehingga tanpa ada yang mengetahui wanita itu tersenyum smirk.
"Kau tidak akan bisa lepas tanggung jawab begitu saja Diego. Kau pasti akan menolongku," batin wanita tersebut.
"Sekarang katakan apa maumu, kau mau aku antar ke rumah sakit? Aku akan mengantarmu sekarang dan seluruh biaya rumah sakit akan aku tanggung semuanya," tanya Diego.
"Tidak perlu, kau lihat sendiri sama sekali tidak ada luka luar tapi pasti ada luka dalam sehingga tubuhku terasa sakit sekali dan susah untuk digerakkan," kata wanita itu.
"Tetap saja kau harus ke rumah sakit supaya bisa di rontgen untuk memastikan jika tulang-tulangmu tidak ada yang patah. Atau aku akan membawamu ke tukang urut," tawar Diego, bukan bermaksud perhatian tetapi ia sengaja ingin mempermainkan orang yang di saat ini sedang mencoba untuk mempermainkannya.
"Aku tidak mau ke rumah sakit apalagi ke tukang urut, tapi tolong antarkan aku pulang ke rumah saja karena aku mau pulang," kata wanita itu.
"Kau yakin mau pulang ke rumah saja? Apa kau tidak takut jika nanti ada apa-apa dengan tubuhmu itu. Bukankah tadi kau mengatakan sakit?" Tanya Diego menatap curiga.
"Ehm, ya memang sakit. Tapi aku yakin ini hanya sakit sedikit saja, setelah istirahat pasti sakitnya akan hilang," ujar wanita tersebut yang berbicara dengan sangat gugup.
"Oh … syukurlah kalau kau merasa baik-baik saja. Tapi maaf aku tidak ada waktu dan sangat terburu-buru saat ini, begini saja kau tunggu sebentar di sini," ucap Diego tanpa memperdulikan wanita tersebut yang masih tampak terduduk di lantai.
"Stop!"
Diego memberhentikan taksi yang lewat di depan restoran, tepatnya di jalan raya. Setelah berbicara dengan supir taksi, ia kembali lagi mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Sepertinya kau merasa sangat nyaman duduk di atas tanah. Sekarang kau mau pulang atau tidak?" Tanya Diego.
"Cih, siapa juga yang betah berada di sini, tapi aku tidak bisa bangun," kata wanita tersebut.
"Kau yakin? Kau mau bangun dan jalan sendiri atau aku akan meminta satpam untuk menggendongmu," kata Diego.
"What's Satpam? Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri." Meskipun wanita itu merasa sangat kesal, tetapi pada akhirnya ia berpura-pura kesusahan untuk bangun hingga berdiri tegak.
"Sepertinya kau baik-baik saja, tidak ada masalah apapun," ujar Diego.
"Aduh … kakiku sakit sekali. Sepertinya kakiku terkilir," rintih wanita itu tiba-tiba.
Tak hanya itu saja, wanita itu juga berpura-pura memegangi kepalanya seolah sedang sakit lalu hendak menjatuhkan tubuhnya. Akan tetapi Diego sama sekali tak peduli dan malah pergi meninggalkannya, sehingga wanita itu pun kembali berdiri tegap.
"Brengsek!" Umpat wanita tersebut.
"Sekarang cepat aku antar kau sampai ke depan," ucap Diego.
Lalu wanita itu pun langsung saja mengikuti Diego dari belakang hingga kini mereka sudah berada di samping taksi yang tadi telah diberhentikan oleh Diego.
"Pak, tolong antar wanita ini ke mana saja dia mau pergi," titah Diego seraya memberikan beberapa lembar uang merah kepada supir taksi.
"Baik Tuan, terima kasih banyak," ucap supir taksi.
Diego juga mengeluarkan sebagian uangnya lagi lalu memberikannya kepada wanita tersebut.
"Ini untuk berobat jika memang terdapat luka di tubuhmu baik keluar maupun dalam. Kalau kurang kau bisa mencariku di Perusahaan Abimana Group," ucap Diego sembari menyerahkan uang kepada wanita itu.
Wanita itu pun menerimanya dan juga menatap Diego dengan tatapan yang sulit diartikan. Diego sama sekali tak memperdulikannya, ia sudah sangat hafal dengan trik-trik seorang wanita yang ingin menggodanya dan sudah jelas apa yang diinginkan oleh orang seperti itu, sudah pasti adalah uang.
Lalu Diego pun pergi meninggalkan wanita tersebut hingga taksi berlalu di depan matanya.
"Sekarang kau boleh meremehkanku seperti ini Diego, tapi lihat saja kau tidak akan mungkin lepas dariku," batin wanita tersebut seraya meremas uang yang ada di tangannya.
*****
Raisa yang baru saja selesai makan siang bersama putranya, langsung saja menuju ke kamar sang bayi untuk mengambil putrinya. Karena sudah waktunya pengasuh anaknya tersebut untuk makan siang dan beristirahat. Setelah itu Raisa dan anak-anaknya menuju ke kamar Siska untuk melihat keadaannya saat ini. Tentunya Siska berada di dalam sana ditemani oleh Maira, suster yang bertugas merawatnya.
__ADS_1
"Sus, bagaimana? Mama makannya banyak tidak?" Tanya Raisa saat melihat Maira sedang menyuapi ibu mertuanya tersebut
"Iya Nyonya, lumayan banyak dan ini sedikit lagi habis," jawab Maira.
"Oh … syukurlah. Mama makan yang banyak ya, lalu minum obatnya," ucap Raisa.
"Iya Sa, Mama sudah banyak kok makannya. Benar apa yang Suster katakan," jawab Siska.
"Oma, Oma cepat sembuh ya. Nanti kita main bola lagi," ucap Denis.
"Iya Sayang, Oma juga tidak sabar ingin bermain bersamamu lagi. Terima kasih ya sudah mendoakan Oma," ucap Siska.
"Iya Oma sama-sama," jawab Denis.
"Kak Denis kau 'kan sudah siap makan, sekarang istirahat ya di kamar, nanti sore kalau sudah bangun tidur baru boleh main seperti biasa," titah Raisa yang memang sudah mengatur waktu anaknya dengan teratur.
"Iya Mama, Oma, aku ke kamar dulu ya," ucap Denis.
"Iya Sayang," jawab Raisa dan juga Siska.
Lalu Denis pun keluar dari kamar omanya tersebut dan menuju ke kamarnya.
"Sus, lebih baik sekarang Suster makan dulu ya dengan Suster Ayumi. Ini sudah jam 12.30 WIB, sudah siang dan setelah itu kalau Suster mau istirahat, istirahat saja di kamar belakang dengan Suster Ayumi juga. Biar saya yang menjaga Mama di sini," kata Raisa.
"Tidak perlu Nyonya, selesai makan saya akan kembali ke sini lagi. Lagi pula saya juga dari tadi tidak ada pekerjaan, hanya menjaga Nyonya Siska saja. Jadi tidak masalah jika saya istirahat di sini," ucap Maira.
"Oh ya sudah kalau seperti itu, yang penting Suster makan dulu," ucap Raisa.
Karena di saat itu makanan Siska juga sudah habis, Maira pun langsung memberikannya obat. Setelah itu segera saja ia menuju ke dapur menyusul Ayumi untuk makan siang bersama.
_____
Selamat siang Suster Ayumi, saya boleh duduk di sini 'kan makan siang bersama Suster," ucap Maira tetapi sama sekali tak digubris oleh Ayumi.
Saat ini Maira dan Ayumi berada di ruang makan dan terlihat sedang makan bersama. Meskipun Maira terlihat ramah, bahkan ia juga yang mengajak Ayumi untuk berkenalan terlebih dahulu, tetapi sepertinya Ayumi tidak terlalu menyukai keberadaan Maira. Entah apa penyebabnya itu tidak tahu, bahkan Maira sendiri bisa merasakannya tetapi ia hanya diam saja dan terlihat fokus menikmati makan siangnya itu.
Bersambung …
__ADS_1