
"Loh Mama, Mama sudah pulang? Syukurlah Mama baik-baik saja," ucap Raisa yang menghampiri ibunya tersebut saat sedang berada di dapur terlihat sedang memasak.
"Iya Raisa, memangnya Mama kenapa? Mama baik-baik saja. Nih buktinya Mama sedang menyiapkan makanan kesukaan kalian," ucap Siska.
"Makanan apa lagi Ma, yang tadi di atas meja saja belum Mama dan kak Diego makan 'kan, baru Denis saja tadi yang makan," ucap Raisa.
"Justru karena Mama tahu kau pasti belum makan karena tidak menyukai masakan Mama ini 'kan, maka itu Mama memasak makanan kesukaan kalian. Kalian juga sih datangnya tidak mengabari Mama dulu, jadinya Mama 'kan tidak tahu dan Mama hanya masak apa adanya. Karena Mama selama ini hanya makan sendiri, paling Mama ditemani sama Teh Rasmi atau Mang Jojo. Itu pun kalau mereka tidak sibuk," ucap Siska.
"Bukan seperti itu Ma, siapa bilang aku tidak menyukai masakan Mama. Aku hanya menunggu Mama dan Kak Diego untuk makan bersama. Ya sudah Ma kalau begitu nanti sore kita ajak Teh Rasmi dan Mang Jojo makan sama-sama kita saja ya, biar makanannya juga tidak mubazir. Ini Mama masaknya banyak banget loh," ucap Raisa. "Oh ya Ma Kak Diego mana?" Tanyanya.
"Iya kau benar juga Sayang, nanti kita makan sama-sama ya. Mama juga sangat ingin makan bersama kalian, ditambah dengan Teh Rasmi dan Mang Jojo, pasti akan lebih seru," ujar Siska.
"Iya Ma. Mama mau aku bantu tidak masaknya?" Tawar Raisa.
"Tidak perlu Sayang, lebih baik kau kembali saja ke kamar. Nanti kalau Diesa bangun dan tidak ada ibunya di sana pasti dia akan menangis," ujar Siska.
"Tapi ada Kak Denis kok Ma di kamar," ucap raisa.
"Iya, tapi Denis 'kan juga sedang tidur. Lebih baik kau menemani mereka saja, biar Mama yang memasak untuk kalian," ucap Siska.
"Ya sudah kalau begitu aku mau lihat Anak-Anak dulu ya Ma," ucap Raisa, lalu menuju ke kamar.
Setibanya di kamar, Raisa melihat anak-anaknya tersebut masih tertidur pulas. Denis yang sedang tidur memeluk guling dan Diesa yang tidur di ujung dinding, sudah pasti akan aman. Meskipun Diesa terbangun, pasti dia akan menangis dan Raisa juga mendengarnya. Sehingga ia pun memutuskan untuk membantu ibu mertuanya yang sedang memasak. Apalagi dengan kondisi Siska saat ini, Raisa takut ibu mertuanya itu akan kelelahan jika memasak sendirian.
"Kak Diego di mana ya, kenapa tadi Mama tidak menjawab pertanyaanku. Hm … mungkin Kak Diego sedang ada urusan, karena aku tidur jadi tidak mau membangunkanku. Ya sudah deh kalau begitu aku bantu Mama saja," gumam Raisa yang kembali melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Ma, aku bantu masak ya," ucap Raisa yang saat ini sudah berada di dapur, tetapi ia tidak melihat keberadaan Siska di sana.
"Loh Mama di mana? Ma … Mama … !" Panggil Raisa berulang kali tetapi tidak aja jawabannya.
Bahkan bukan hanya keberadaan Siska saja yang tidak ada tetapi tidak ada bekas memasak atau masakan baru di atas meja, sehingga membuat Raisa menjadi kebingungan dan mencari ibu mertuanya tersebut ke seluruh ruangan.
"Mama … Mama ada di mana Ma? Ma … !"
Raisa terus memanggil dan mencari sampai keluar rumah, hingga di saat itu ia melihat Siska yang hendak pergi dengan menggunakan pakaian serba putih.
"Mama … Mama mau ke mana?" Tanya Raisa, sehingga langkah kaki Siska terhenti lalu membalikkan badannya dan tersenyum menatap ke arah menantunya tersebut.
__ADS_1
"Raisa jaga suami dan Anak-Anak kalian baik-baik ya, Mama titip mereka. Mama mau pergi dulu, jika memang diizinkan Mama pasti akan kembali lagi dan kalau tidak semoga kalian semua berbahagia meskipun tidak ada Mama lagi di samping kalian. Mama minta maaf karena sudah banyak merepotkan kalian," ucap Siska.
"Maksud Mama apa? Jangan berkata seperti itu Ma," tanya Raisa tak mengerti.
"Sayang, Mama minta maaf ya kalau Mama sudah banyak menyusahkan kalian dan atas sikap Mama yang dulu kurang baik padamu. Mama sayang dengan kalian semua," ucap Siska yang kembali membalikkan badannya dan pergi.
Di saat itu pun Raisa hendak mengejarnya, tetapi entah kenapa langkah kakinya seolah tak bisa digerakkan sehingga ia hanya bisa berteriak memanggil ibu mertuanya tersebut.
"Ma, tunggu Ma … !" Teriak Raisa.
Namun sayangnya Siska semakin pergi menjauh hingga tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
_____
"Mama tunggu … aku mohon jangan pergi Ma. Mama …!"
"Teh Raisa, Teh bangun Teh."
Terdengar suara seseorang yang memanggil namanya, sehingga membuat Raisa terbangun dan membuka matanya lebar-lebar.
"Mama," gumam Raisa saat menyadari bahwa ia hanya bermimpi.
"Teh Rasmi, bukankah itu nama seseorang yang disebut oleh Mama tadi," gumam Raisa. "Teh Rasmi, apa Teh Rasmi orang yang membantu Mama selama di sini dan Teh Rasmi juga yang bekerja di perkebunan teh milik keluarga Abimana?" Tanyanya untuk memastikan.
"Iya benar Teh, saya Teh Rasmi. Pasti Teh Raisa sudah mendengarnya dari Bu Siska atau Kang Diego ya," kata Teh Rasmi.
"Teh di mana Mama sekarang Teh? Tadi saya melihat Mama memasak di dapur, tapi tiba-tiba saja Mama pergi," ucap Raisa yang merasa jika mimpi tadi seperti nyata.
"Teh, saat ini Bu Siska sudah dipindahkan ke rumah sakit di kota. Tadi Kang Diego sudah menghubungi Teteh tetapi tidak dijawab, untuk itu Kang Diego meminta saya untuk melihat kondisi Teh Raisa dan anak-anaknya, syukurlah kalian baik-baik saja," ucap Teh Rasmi.
"Oh iya ponsel, tadi aku juga bermimpi seperti itu," ucap Raisa yang langsung saja beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang berada di ruang depan.
Lalu Raisa pun langsung saja menghubungi Diego tetapi sama seperti mimpinya tadi bahwa Diego sama sekali tidak menjawabnya.
"Duh … Kak Diego jawab dong. Ini sebenarnya ada apa sih, kenapa aku harus bermimpi seperti itu," batin Raisa di dalam kebimbangannya.
"Teh Raisa maaf jika saya lancang, tadi Teteh mengatakan melihat Bu Siska ada di dapur sedang memasak, apa itu bagian dari mimpi Teh Raisa?" Tanya Teh Rasmi yang menghampiri Raisa.
__ADS_1
"Iya Teh, tadi aku mimpi Mama pulang ke rumah dan Mama sedang memasak untuk kita. Kata Mama mau mengajak Teh Rasmi dan Mang Jojo untuk makan bersama sore ini, tapi setelah aku ke kamar sebentar dan kembali lagi Mama pergi Teh, kata Mama kalau diizinkan Mama akan kembali lagi. Apa ini pertanda dari Mama, Mama menyampaikan sesuatu lewat mimpi, mimpi itu rasanya seperti nyata Teh," ucap Raisa yang langsung saja menangis.
"Yang sabar dan tenang ya Teh, mudah-mudahan saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin juga Bu Siska hanya memberikan kabar kepada Teh Raisa bahwa Bu Siska sedang berjuang melawan penyakitnya," kata Teh Rasmi.
"Maksud Teh Rasmi apa?" Tanya Raisa.
"Saya tidak tahu pasti bagaimana kabar Bu Siska saat ini, tapi tadi Kang Diego hanya mengatakan jika Bu Siska koma," ucap Teh Rasmi.
"Apa?" Ucap Raisa yang langsung saja memegangi dadanya karena terasa sangat sesak.
Ia ingin tak mempercayai apa yang didengarnya dari Teh Rasmi, tetapi mungkin saja benar jika mimpinya tadi adalah petunjuk bahwa saat ini Siska sedang berjuang melawan penyakitnya karena ia masih dalam kondisi koma. Di saat itu pun ponsel Raisa berdering dan langsung saja ia menjawab telepon dari suaminya tersebut.
"Kak, apa benar Mama koma?" Raisa langsung saja bertanya kepada suaminya itu.
"Iya Sayang, apa teh Rasmi sudah memberitahumu?" Tanya Diego dari seberang telepon.
"Iya Kak, jadi bagaimana kondisi Mama sekarang? Kenapa Mama bisa sampai seperti itu?" Tanya Raisa yang menangis tersedu-sedu dan terlihat Teh Rasmi yang mengusap-usap punggung Raisa dengan pelan, mencoba untuk menenangkannya.
"Sayang, aku mohon tenang Sayang. Saat ini aku juga tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa untuk kesembuhan Mama. Tadi saat di klinik tiba-tiba saja kondisi Mama ngedrop dan Mama kolaps. Aku masih menunggu kabar dari Dokter, langkah apa yang selanjutnya harus dilakukan untuk Mama. Sayang, jaga Anak-Anak di rumah ya. Aku sudah meminta tolong Teh Rasmi untuk pembantu dan menemani kalian di rumah. Nanti Mang Jojo akan ke rumah sakit, aku titip pakaianku ya. Di sini juga dekat dengan saudara-saudara Mama, aku sudah mengabari mereka," ucap Diego.
"Ya sudah Kak kalau memang seperti itu, kabari aku terus dan kau juga harus sabar, tenang ya Kak. Aku yakin Mama pasti akan baik-baik saja. Mama hanya sedang berjuang untuk melawan penyakitnya saat ini," ucap Raisa.
"Iya Sayang, titip salam untuk Anak-Anak ya, aku mencintai kalian," ucap Diego.
"Iya Kak, aku dan Anak-Anak juga mencintaimu," ucap Raisa dan mengakhiri telepon tersebut.
Raisa yang sedari tadi mencoba untuk berpura-pura tenang di depan suaminya itu pun sudah tak tahan lagi menahan kesedihannya, sehingga ia langsung saja menghamburkan pelukannya pada tubuh Teh Rasmi dan menangis jadi-jadinya. Sedangkan Teh Rasmi sendiri meskipun ia merasa sungkan karena bagaimanapun Raisa adalah anak dari juragannya, tetapi dengan kondisi seperti saat ini ia yang tidak memiliki anak itu pun memeluk Raisa layaknya sebagai seorang anak.
"Teh Raisa yang sabar ya," ucap Teh Rasmi yang juga ikut menangis.
Karena Teh Rasmi juga sudah sangat dekat dengan Siska, Tentu saja ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Raisa Saat ini.
"Raisa, jangan menangis ya Sayang. Kau adalah wanita yang kuat, Mama titip Anak dan cucu-cucu Mama ya."
Samar-samar Raisa mendengar suara Siska yang menyampaikan pesan untuknya, sehingga membuatnya pun semakin menangis di dalam pelukan Teh Rasmi.
Bersambung …
__ADS_1