
Diego tak menyangka jika ibunya itu akan begitu marah besar bahkan sampai menamparnya hanya karena ia menyampaikan niat baiknya tersebut. Sehingga Diego yang merasa sangat kecewa itu pun memegang pipinya yang terasa perih karena bekas tamparan, lalu ia pun pergi meninggalkan ibunya itu keluar rumah dan masuk ke dalam mobil, tak tahu entah pergi ke mana. Sedangkan Siska yang tadinya berniat akan pergi, mengurungkan niatnya dan kini hendak masuk kembali ke kamarnya.
"Oma, tadi aku mendengar suara Papa, Papa di mana Oma?" Tanya Denis yang di saat itu baru saja keluar dari kamar dan bersiap akan pergi ke sekolah.
"Oh itu tadi Papamu buru-buru harus segera pergi ke kantor. Ya sudah lebih baik sekarang kau sarapan saja, lalu pergi ke sekolah. Nanti kau terlambat," ujar Siska.
"Oma mau kemana? Kenapa Oma membawa koper?" Tanya Denis menatap kebingungan.
"Oma tidak jadi kemana-mana kok, Oma mau taruh kopernya dulu ya. Denis ke ruang makan saja dulu, nanti Oma akan menyusul. Di sana sudah ada Bibi yang menunggu Denis, " titah Siska.
"Baik Oma," jawab Denis yang langsung saja mengikuti perintah omanya tersebut.
_____
"Argh … !" Diego berteriak sambil memukul stir mobilnya berulang kali saat ia berada di perjalanan.
Ia begitu emosi terhadap sikap ibunya tadi yang menurutnya sama sekali tidak bersikap dewasa. Tetapi Diego sudah bertekad dengan ataupun tanpa restu ibunya itu, ia akan tetap menikahi Raisa. Apalagi Raisa sedang mengandung anaknya, yang itu artinya ia harus bertanggung jawab apapun resikonya. Ia tidak mungkin membiarkan Raisa menanggungnya sendiri setelah ia mengetahui semuanya, apalagi hanya Raisa wanita satu-satunya yang ia cintai, tidak ada wanita lain.
*****
Sementara itu Raisa tampak mondar-mandir di kamarnya menunggu kabar dari Diego karena sampai saat ini pria itu belum juga memberi kabar padanya. Padahal kekasihnya itu yang mengatakan akan mengatakannya langsung kepada ibunya tadi malam, akan tetapi karena ibunya sudah istirahat maka ia akan menyampaikannya pagi ini.
"Dimana Kak Diego? Kenapa sampai saat ini belum ada kabar juga," gumam Raisa yang merasa gundah dan khawatir.
Raisa takut jika Siska tidak merestui hubungan mereka dan malah marah kepada Diego, lalu membuat keduanya pun bertengkar. Pastinya Diego akan merasa sedih, kecewa, yang pasti keadaannya saat ini tidak akan baik-baik saja.
Pada akhirnya pun Raisa meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Diego.
______
__ADS_1
Diego yang di saat itu masih dalam perjalanan segera saja menepikan mobilnya, karena ia lupa untuk membawa headset bluetooth dan akan sangat kesulitan untuk menjawab telepon Raisa jika tidak memberhentikan mobil.
"Halo Sayang," ucap Diego sebisa mungkin menyembunyikan rasa kecewanya saat menjawab telepon dari Raisa.
"Halo kak, Kakak ada di mana? Lagi di perjalanan ya?" Tanya raisa mendengar ributnya suara kendaraan.
"Iya, aku lagi di perjalanan menuju ke perusahaan. Ada apa Sayang?" Tanya Diego.
"Oh tidak ada apa-apa kok Kak, aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja. Kau baik-baik saja 'kan?" Tanya Raisa yang bisa menebak dari suara Diego jika saat ini pria itu sedang memiliki masalah, sehingga Raisa pun tak berani untuk menanyakan apa yang sebenarnya ingin ditanyakannya.
"iya aku baik-baik saja. Oh iya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu dan Ayahmu, seandainya nanti siang aku tidak banyak pekerjaan aku akan menjemputmu dan mengajakmu ke perusahaan ayahmu ya, kita bicara di sana. Bagaimana, kau mau 'kan?" Tanya Diego.
"Tidak usah ke perusahaan Kak karena hari ini Ayah tidak ke perusahaan, hanya Kak Kelvin saja yang mengurus perusahaan," ucap Raisa.
"Owh … ya sudah kalau begitu nanti siang aku akan ke rumahmu," ucap Diego.
"Iya Sayang, jangan lupa sarapan ya," ucap diego.
"Iya Kak, kau juga," ucap Raisa pula.
Lalu panggilan telepon pun berakhir.
*****
"Apa Ma? JAdi Diego mengatakan dia mau menikahi wanita itu karena wanita itu mengatakan kalau yang dikandung olehnya adalah anak Diego, begitu Ma? Lalu Mama setuju, Mama jangan percaya begitu saja. Aku yakin anak yang dikandung oleh Raisa itu bukan anak Diego Ma, Mama tahu sendiri 'kan bagaimana masa lalu Raisa. Pasti dia hanya kebingungan saja mau mencari lelaki yang bisa bertanggung jawab, maka itu dia menjadikan kesempatan untuk meminta Diego bertanggung jawab," ucap Clarissa yang terus saja mempengaruhi Siska saat ia berkunjung ke kediamannya.
"Jadi Mama harus bagaimana Cla? Seandainya apa yang kau katakan tadi benar jika Raisa hanya ingin mencari pria yang bisa bertanggung jawab atas kehamilannya, bukankah sudah ada kelvin? Yang Mama lihat sepertinya Kelvin menyukai Raisa dan dia tidak mungkin menolak untuk menikahinya," ujar Siska.
"Siapa yang bilang Ma, Mama lupa jika Kelvin itu asistennya Tuan Sastro? Jika dia menyetujuinya pun itu bukan karena dia benar-benar suka, bisa saja itu karena dia merasa tidak enak menolak keinginan Tuan Sastro. Dan satu lagi, Raisa juga tidak mencintai Kelvin, pastinya dia akan mencari pria yang dicintainya Ma," kata Clarissa.
__ADS_1
"Entahlah, Mama benar-benar bingung. Lalu kau ada keperluan apa datang ke sini?" Tanya Siska.
"Aku hanya ingin menjemput Anakku Ma, sampai sekarang Denis belum juga mau dekat denganku, apa salahku Ma? Padahal selama 3 bulan ini aku sudah berusaha untuk mendekatinya, tapi tetap saja Denis menganggapku seperti orang lain," ucap Clarissa yang memasang wajah sedi, entah benar ataupun berpura-pura.
"Mama harap kau bersabar sedikit ya Cla. Sebenarnya Mama juga sudah berbicara kepada Denis untuk menerimamu sebagai ibunya, tetapi anak kecil tidak bisa dipaksa. Mudah-mudahan jika kau bersabar, secara perlahan Denis nantinya akan menerimamu sebagai ibu kandungnya," ucap Siska.
Sebenarnya Siska juga tak tega melihat Clarissa yang begitu sedih karena anaknya sendiri tak mau mengakuinya sebagai ibu. Bagaimanapun juga Siska adalah seorang ibu, pastinya ia juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Clarissa saat ini.
"Iya Ma aku pasti akan selalu sabar kok. Oh ya Ma, setengah jam lagi sudah waktunya Denis pulang sekolah 'kan, aku mau jemput Denis dulu ya Ma, boleh 'kan?" Tukas Clarissa.
"Tentu saja boleh, jika kau memang mau menjemput Denis Mama akan meminta supir untuk tidak menjemputnya. Kau bawa mobil 'kan?" Tanya Siska.
"Iya Ma, aku bawa mobil kok," jawab Clarissa.
Lalu segera saja ia pergi untuk menjemput anaknya di sekolah.
Karena saat ini Denis sudah masuk SD, jadi ia sudah tidak lagi ditunggu oleh Baby Sister ataupun ART. Diego hanya memastikan jika supir atau keluarga yang menjemput anaknya itu tidak boleh terlambat, sebelum Denis keluar dari kelasnya maka sudah ada yang menunggu Denis.
______
Saat Denis baru saja keluar dari kelasnya, di saat itu pun tampak Clarissa yang sudah menunggunya tidak jauh dari depan kelas. Clarissa sangat senang melihat Denis yang tersenyum dan melangkahkan kaki ke arahnya, ia begitu bahagia karena untuk pertama kalinya anaknya itu tersenyum padanya.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Carissa di saat Denis sudah mendekatinya.
Akan tetapi Denis malah terlihat melewatinya saja hingga akhirnya ia berlari menghampiri orang lain yang berada di belakang Clarissa, sehingga membuat Clarissa pun kebingungan dan langsung melihat ke arah belakang.
Betapa terkejutnya Clarissa karena ternyata di belakang sana ada seseorang yang juga datang menjemput anaknya. Membuat Clarissa pun sadar jika ia telah salah paham bahwa Denis tersenyum bukan untuknya melainkan untuk orang tersebut.
Bersambung …
__ADS_1