
Masih dalam kondisi yang sama, Raisa tampak mondar-mandir menunggu kabar dari Kelvin tetapi sampai saat ini ia belum juga mendapatkan kabar apapun. Kali ini bukan hanya ayah dan suaminya saja, tetapi Raisa juga mengkhawatirkan kakak angkatnya tersebut.
Tok … tok … tok …
Segera saja Raisa membuka pintu kamarnya setelah mendengar ada yang mengetuk pintu.
"Raisa, apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Diego dan Ayahmu?" Tanya Siska yang saat ini berdiri di hadapan Raisa.
"Belum Ma, aku sudah mencoba menghubungi Kak Kelvin, tapi Kak Kelvin juga tidak menjawab. Sekarang kekhawatiranku bertambah Ma, bukan hanya Ayah dan Kak Diego saja yang menghilang tetapi Kak Kelvin juga. Apa jangan-jangan Kak Kelvin juga dalam bahaya," ujar Raisa yang sama sekali tak bisa tenang.
"Jangan berkata seperti itu Raisa, kau harus yakin jika mereka pasti baik-baik saja dan pasti saat ini Kelvin sedang berjuang untuk mencari di mana keberadaan Diego dan Ayahmu. Mama yakin itu, kau tidak boleh berpikir yang negatif," ucap Siska yang mencoba untuk menenangkan menantunya, meskipun ia sendiri merasa sangat khawatir.
"Iya Ma, aku juga berharap seperti itu. Tapi aku tidak bisa tenang sebelum mendapatkan kabar mereka Ma. Kak Kelvin juga, tadi dia sendiri yang mengatakan akan memberi kabar terbaru untukku. Tetapi kenyataannya dia menghilang begitu saja Ma, bagaimana aku tidak khawatir," ucap Raisa dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.
"Sayang, Mama mohon tenangkan pikiranmu dan mencoba untuk berpikir positif ya. Lebih baik sekarang kita turun, kau harus makan dulu karena dari tadi siang kau belum makan apapun. Mama tahu kau sedang tidak berselera, tetapi bagaimanapun juga kau harus memikirkan kondisi janin di dalam perutmu. Saat ini kau sedang hamil, kasihan Anakmu, hanya karena orang tuanya tidak mau makan dia juga harus ikut kelaparan. Kau harus pikirkan itu Raisa, ini juga demi kesehatanmu," ucap Siska.
"Tapi aku benar-benar tidak berselera untuk makan Ma," ucap Raisa.
"Kau harus memaksa untuk makan. Bukan hanya kau saja yang khawatir Raisa, Mama juga khawatir. Tetapi kau harus tetap makan, Mama juga tadi sudah makan sedikit. Paling tidak jangan sampai menambah masalah," kata Siska yang membuat Raisa terdiam dan tampak berpikir.
"Ya sudah Ma, aku akan turun dan makan sekarang. Aku juga mau menemani Denis," ucap Raisa.
"Nah begitu dong Sayang, itu lebih baik. Ayo sekarang turun bersama Mama," ucap Siska.
"Kasihan sekali kau Sayang, dalam kondisi hamil kau terus saja diuji dengan masalah yang tiada henti. Mudah-mudahan kau dan anak di dalam kandunganmu akan selalu baik-baik saja. Mama benar-benar merasa sangar bersalah karena pernah membuatmu sedih, tapi untunglah kau begitu sabar dan tegar menghadapinya," batin Siska sembari menuntun Raisa keluar dari kamar.
Karena kondisi perut Raisa yang saat ini sudah sangat besar, membuatnya memang sedikit kesulitan untuk berjalan serta harus sangat berhati-hati saat naik dan menuruni tangga.
__ADS_1
*****
"Bagaimana Dok kondisi pria yang pingsan itu? Kira-kira setelah diobati apakah dia akan bangun dan butuh waktu berapa lama?" Tanya kepala preman yang tadi masuk ke dalam gudang dan melihat Diego masih dalam kondisi mata yang terpejam.
"Oh iya Tuan, saya baru saja memeriksa kondisinya. Untuk Tuan ini memang kondisinya tidak terlalu parah, untuk itu dia sudah sadar terlebih dulu. Tetapi tetap saja beliau mengalami luka luar dan dalam yang cukup serius," ucap Dokter Thalia seraya menunjuk ke arah Sastro. "Sedangkan Tuan yang pingsan ini sama saja, terdapat luka luar dan dalam juga, bedanya luka dalamnya lebih parah. Saya khawatir jika kondisinya bukan semakin membaik tetapi malah semakin memburuk," ucap Dokter Thalia.
"Kau ini bagaimana Dokter, lalu apa kerjamu dari tadi? Bukankah sudah aku katakan pastikan jika kondisi mereka baik-baik saja. Kau 'kan bisa memberinya obat supaya dia tidak kenapa-napa, supaya kondisinya membaik. Kenapa kau sekarang mengatakan seperti itu," kata kepala preman yang tampak murka.
"Maaf Tuan, tapi saya bukan Tuhan. Saya hanyalah manusia biasa dan saya mengatakan hal yang sebenarnya," ucap Dokter Thalia.
"Lalu bagaimana Dok, apa yang harus dilakukan sekarang supaya pria ini sadar dan kondisinya baik-baik saja. Saya bisa dihabisi oleh Bos saya jika pria ini mati," tukas kepala preman.
"Jalan satu-satunya kita harus membawa pria ini ke rumah sakit agar bisa ditindak lebih lanjut, agar bisa diperiksa dan memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Jika terlambat sedikit saja, saya tidak menjamin jika nyawanya akan selamat," kata Dokter Thalia yang menakut-nakuti preman.
"Ya sudah kalau begitu kita bawa ke rumah sakit, tapi saya dan beberapa anak buah saya akan terus mengawasi," kata preman.
"Bukankah tadi Dokter mengatakan hanya pasien yang pingsan ini saja, kenapa sekarang harus keduanya?" Tukas kepala preman.
"Sudah saya katakan jika kondisi keduanya sama saja, bedanya kondisi pasien yang pingsan luka dalamnya lebih parah. Lebih baik keduanya diperiksa di rumah sakit dan jika kondisi Tuan yang sadar ini baik-baik saja, maka dia boleh langsung dibawa pergi," ucap Dokter Thalia.
Tentu saja kepala preman tersebut tidak menyetujuinya, jika sampai Diego dan Sastro dibawa ke rumah sakit, itu artinya mereka akan bertemu dengan orang banyak dan tentu saja akan sangat membahayakan.
"Sudahlah lebih baik kau pergi saja dari sini Dok dan ingat jangan pernah mengatakan kepada siapapun bahwa kau baru saja dari sini. Jika kau berani bermacam-macam, aku pastikan kau dan keluargamu tidak akan selamat," ancam kepala preman.
"Baik Tuan, saya tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang hal ini. Sebelum saya pergi izinkan saya untuk memeriksa kondisi pasien sekali lagi, agar saya bisa memberikan obat untuk selanjutnya, supaya pasien yang pingsan ini masih dapat bertahan," kata Dokter Thalia.
"Ya sudah, cepat lakukan. Jangan membuang-buang waktu di sini," hardik kepala preman.
__ADS_1
Dokter Thalia yang memang sengaja mengulur waktu, tampak kembali memeriksa Diego di depan kepala preman.
Wiu … wiu … wiu …
Hingga tiba-tiba saja terdengar suara sirine mobil polisi yang membuat kepala preman serta preman lainnya merasa sangat terkejut.
"Brengsek! Katakan padaku kau 'kan yang sudah menelpon Polisi untuk datang ke sini," tuding kepala preman menatap tajam ke arah Dokter Thalia.
"Sama sekali bukan Tuan, saya bahkan tidak tahu jika akan mengobati 2 tawanan di sini dan ponsel saya juga sudah Tuan ambil 'kan, lalu bagaimana caranya saya menghubungi Polisi. Dari tadi saya juga berada di dalam sini," kata Dokter Thalia beralasan.
"Kau bener juga, lalu dari mana Polisi bisa tahu tempat ini?" Tukas kepala preman yang hendak mendekati Diego dan Sastro.
Akan tetapi tiba-tiba saja ada seorang preman yang masuk ke dalam mencari Bos mereka.
"Gawat Bos, kita sudah dikepung polisi di luar. Kita tidak akan bisa lari kemana-mana," kata salah satu anak buah preman itu.
"Tetap tenang, kita harus mencari cara supaya bisa kabur dari sini dengan membawa tawanan. Dan kau Dokter, saat ini kau menjadi tawanan kami karena kau harus memastikan keadaan orang ini baik-baik saja," kata kepala preman.
Hingga di saat itu pun preman lainnya masuk dan mengikat tawanan baru.
Bukan hanya Polisi saja, tetapi Kelvin juga membawa beberapa anak buah untuk membantunya mencari di mana keberadaan Sastro dan Diego di dalam bangunan tua itu. Kelvin mencari kesana kemari hingga ia menemukan sebuah ruangan, tepatnya di mana orang yang sedang dicarinya disekap. Akan tetapi saat Kelvin membuka pintu ruang tersebut …
Bugh!
Ia angsung disambut dengan pukulan yang begitu keras, sehingga membuatnya jatuh tersungkur.
Bersambung …
__ADS_1