Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Asisten Baru.


__ADS_3

Saat ini Maira hanya menganggap jika Ayumi tidak mau langsung akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya, sehingga ia sendiri tampak cuek. Maira juga berpikir mungkin setelah beberapa hari bekerja di sini, nantinya Ayumi akan terbiasa padanya dan mungkin saja mereka akan menjadi teman akrab.


Karena dari awal hingga akhir sama sama sekali tidak ada percakapan diantara keduanya, bahkan Ayumi terlihat asik sendiri makan sembari memainkan ponselnya, pada akhirnya Maira yang terlebih dulu selesai makan langsung saja pergi meninggalkan Ayumi dan mencuci piringnya. Lalu ia pun kembali menuju ke kamar Siska tanpa mengucap kata apapun.


"Ck, anak baru sudah coba-coba untuk mencari perhatian Nyonya Raisa dan Nyonya Siska. Rencanaku bisa berantakan kalau seperti ini, aku tidak akan membiarkamu lama bekerja di sini," batin Ayumi yang menatap tajam.


Padahal baik Ayumi maupun Maira mempunyai tugas yang berbeda, tapi entah kenapa Ayumi merasa jika kedatangan Maira akan mengganggu semua rencananya. Ia juga tidak rela jika nantinya Raisa dan Siska malah memihak kepada Maira daripada dirinya, karena Ayumi sudah terbilang dekat dengan nyonya rumahnya tersebut.


Berbeda dengan Maira yang langsung menuju ke kamar Siska setelah makan, sedangkan Ayumi menuju ke kamar belakang untuk beristirahat karena Diesa juga akan dibawa Raisa ke kamarnya seperti biasa. Sehingga ia pun tidak memiliki pekerjaan.


"Sudah selesai makannya Sus, kenapa sebentar sekali?" Tanya Raisa saat melihat Maira sudah kembali.


"Iya Nyonya, saya sudah selesai makan," jawab Maira.


"Kenapa tidak istirahat dulu atau ngobrol-ngobrol mungkin dengan Suster Ayumi. Kalian 'kan baru saja kenal, siapa tahu bisa saling bertukar cerita. Harus yang akur ya Sus," ucap Raisa.


"Iya Nyonya, karena baru hari pertama kenal jadi belum banyak yang mau diceritakan. Nanti lama-lama pasti saya akan akrab dengan Suster Ayumi," jawab Maira.


"Ya memang seharusnya seperti itu. Ya sudah Sus katanya Mama mau istirahat, Suster juga istirahat saja ya tidur di sofa. Pasti Suster juga lelah 'kan? Saya mau membawa Diesa ke kamar dulu," ucap Raisa.


"Baik Nyonya," jawab Maira.


"Ma, aku dan Diesa ke kamar dulu ya," pamit Raisa kepada ibu mertuanya.


"Iya Sayang. Cucu Oma bobok siang ya, jangan main terus. Nanti sore bangun bobok baru main dengan Kak Denis," ucap Siska yang berbicara kepada sang bayi.


"Iya Oma tenang saja, aku juga mau bobok sama Mama. Oma juga tidur ya, istirahat biar cepat sembuh," jawab Raisa seolah menjadi sang anak.


Sehingga membuat Siska dan Maira pun tersenyum mendengarnya. Lalu Raisa keluar dari kamar ibu mertuanya tersebut dan menuju ke kamarnya.


*****


Sena turun dari taksi dengan perasaannya yang begitu dongkol, pasalnya apa yang telah ia lakukan hari ini semuanya sia-sia. Diego sama sekali tak meliriknya, meskipun saat ini ia sudah berubah menjadi wanita yang sangat cantik.


"Sialan! Kau benar-benar sangat keterlaluan Diego, aku tidak terima diperlakukannya seperti ini. Hanya karena istrimu yang tidak seberapa itu kau telah mengabaikanku," umpat Sena karena ia memang sudah melihat foto Raisa yang diperlihatkan oleh Roy lewat ponselnya waktu itu.


Ia benar-benar merasa sangat emosi karena sikap Diego yang menurutnya sama sekali tidak berubah, begitu angkuh dan sombong. Tetapi Sena takkan menyerah, hal itu malah membuatnya semakin bersemangat untuk mendekati pria tersebut. Bukan karena rasa cintanya yang dulu pernah ada melainkan hanya karena rasa ambisi dan obsesi. Sampai kapanpun Sena takkan pernah lupa bahwa Diego yang telah membuatnya tidak berani untuk membuka hati untuk pria lain, sehingga ia ingin Diego merasakan penderitaannya selama ini.

__ADS_1


Saat sudah berada di dalam kamarnya, Sena langsung saja membanting tubuhnya di atas tempat tidur karena merasa sangat lelah.


"Akh, ternyata tubuhku benar-benar sangat sakit. Pasti ini karena aku tadi menjatuhkan diriku begitu kuat," rintih Sena kesakitan, mengingat apa yang tadi telah ia lakukan dengan berpura-pura ditabrak oleh Diego saat di depan restoran. "Usahaku kali ini benar-benar sia-sia, pengorbananku sama sekali tidak artinya, Diego sama sekali tidak peduli denganku saat aku mengatakan tertabrak mobilnya. Sebenarnya dia itu punya perasaan atau tidak sih, bisa-bisanya dulu aku menyukai pria itu hanya karena ketampanannya, ternyata sifatnya sama sekali tidak berperikemanusiaan. Akh … ." Sena berteriak melampiaskan rasa emosinya.


Tiba-tiba terdengar ponselnya berdering dan segera saja ia merogoh ponselnya yang berada di dalam tas, ternyata ada panggilan masuk dari Roy.


"Halo," ucap Sena ketus saat menjawab telepon yang sama sekali tak diinginkannya.


"Wow santai. Ada apa? Sepertinya kau sedang kesal. Apa rencanamu gagal?" Tanya Roy to the point.


"Gagal total. Tapi lihat saja, aku tidak akan menyerah sampai di sini Roy. Setidaknya dia sudah memberitahuku di mana alamat kantornya dan dia memintaku untuk datang ke sana jika terjadi sesuatu denganku dan aku kekurangan uang," terang Sena.


"Ha … ha … ha … ."


Terdengar suara gelak tawa Roy dari seberang telepon, yang membuat Sena tersentak dan langsung saja terduduk.


"Heh maksudmu apa menertawakanku seperti itu. Kau sedang meledekku ya, kau senang melihatku menderita? Apa kau tahu, aku sudah mengikuti rencanamu itu dengan berpura-pura tertabrak untuk mendekatinya. Tapi apa kau tahu juga, semuanya gagal total. Diego sama sekali tak peduli padahal aku sudah menjatuhkan tubuhku di atas tanah dengan sangat kuat, bahkan sekarang benar-benar sangat sakit. Aku memintanya untuk mengantar pulang ke rumah tapi dia malah meminta supir taksi untuk mengantarku, dia juga memberikanku sejumlah uang dan katanya kalau aku kekurangan uang maka aku boleh datang ke perusahaannya," ucap Sena dengan sangat-sangat emosi.


"Sabar Sen, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menertawakanmu. Aku hanya merasa lucu saja karena kau yang mengatakan sangat mudah untuk mendekati Diego dengan perubahanmu sekarang, tapi kenyataannya Diego sama sekali tak melirikmu. Tetap saja di matanya Raisa lah wanita paling cantik," ujar Roy.


"Diam kau! Itu karena Diego saja yang sudah buta," cibir Sena tak terima.


"Kalau aku tidak menerima uang itu, aku tidak akan mempunyai alasan lagi untuk datang ke perusahaannya dengan alasan kekurangan uang," kata Sena.


"Kau bisa menemuinya dengan alasan lain. Misalnya kau membutuhkan seseorang untuk merawatmu karena saat ini kau sedang sakit akibat tertabrak mobilnya," ujar Roy.


"Lalu apa kau pikir akan dengan mudah Diego mau menemaniku, itu tidak akan mungkin Roy, sangat-sangat mustahil," ujar Sena.


"Ya kau benar juga. Tapi kok bisa memikirkan alasan lain Sena, atau jangan-jangan kau memang kekurangan uang dan ingin memanfaatkan uang Diego?" Tuding Roy.


"Jangan berbicara sembarangan, mulutmu saja mampu aku beli," hardik Sena.


"Tidak perlu marah-marah seperti itu, aku minta maaf. Ya sudah lanjutkan saja rencana kita berikutnya," kata Roy.


"Kalau kau tidak ada keperluan lain, jangan menggangguku lagi. Aku ingin istirahat," tukas Sena yang memutuskan panggilan telepon begitu saja. "Dasar menyebalkan," umpatnya seraya mencampakkan ponselnya di sembarang tempat.


*****

__ADS_1


"Ada-ada saja, zaman sekarang masih ada orang yang berpura-pura tertabrak demi uang. Tapi kenapa rasanya aku tidak asing dengan wanita itu, siapa dia sebenarnya? Apa iya tujuannya karena uang sedangkan yang aku lihat penampilannya begitu glamor dan berkelas, sama sekali tidak terlihat seperti orang susah. Atau dia wanita matre yang memang sengaja mencari uang dengan cara seperti itu untuk memenuhi kebutuhannya." Diego menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


Tok … tok … tok …


Terdengar suara ketukan pintu ruang Direktur Utama.


"Masuk," ucap Diego.


Sehingga sekretarisnya yang bernama Bunga itu masuk ke dalam ruangannya.


"Tuan, saya mau mengantar asisten baru untuk Tuan Diego," Ucap Bunga.


"Secepat itu kau mendapatkan asisten baru untukku? Sudah aku katakan seleksi dengan baik, ketahui bebet, bobot dan apa tujuannya bekerja di sini. Jangan sampai aku mendapatkan asisten yang tidak benar," ucap Diego yang masih saja merasa trauma.


"Iya Tuan, semuanya sudah sesuai dengan perintah Tuan Diego. Saya dan HRD sudah menyeleksi beberapa calon asisten dan memang hanya pria ini yang memasuki kriteria untuk menjadi asisten Tuan, bahkan kami juga sudah mengetahui di mana tempat tinggalnya. Pria ini sudah interview saat Tuan masih berada di Bandung dan saya yang memintanya untuk datang hari ini," ucap Bunga.


"Ya sudah suruh saja dia masuk," ucap Diego.


Bunga menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari ruangan tersebut untuk menjemput asisten baru Diego dan membawanya masuk ke dalam ruangan tuannya tersebut.


"Tuan Diego, ini adalah asisten baru Anda," ucap Bunga yang memperkenalkan pria di sampingnya.


"Ya sudah kau boleh keluar sekarang, aku akan berbicara berdua dengannya saja. Lanjutkan pekerjaanmu, jangan lupa materi meeting untuk nanti sore," kata Diego.


"Baik Tuan. Materi meeting sedikit lagi selesai dan sebentar lagi akan saya kirim ke alamat email Tuan Diego," jawab Bunga.


"Bagus kalau memang seperti itu," ucap Diego.


"Iya Tuan, kalau begitu saya permisi," ucap bunga dan berlalu.


"Selamat siang Tuan Diego, perkenalkan saya Kenzo biasa dipanggil Ken. Mulai hari ini saya akan bekerja di sini sebagai asisten Tuan Diego," ucap pria muda berusia 28 tahun itu, kurang lebih seumuran dengan istri Diego.


"Oke, kalau begitu selamat datang di Perusahaan Abimana Group. Aku harap kau bisa bekerja dengan baik di sini dan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak aku sukai. Satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku sangat membenci pengkhianat," ucap Diego sembari menjulurkan tangannya.


Kenzo pun menyambut juluran tangan tersebut dan merasa sangat senang karena saat ini ia sudah mendapatkan pekerjaan, meskipun ia sedikit bergidik saat mendengar Diego mengucap kata pengkhianat.


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2