Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
H-2


__ADS_3

"Maaf Diego, aku sama sekali tidak bermaksud ingin mengganggumu. Aku datang ke sini hanya ingin berkunjung melihat Mama dan Denis," ucap Clarissa.


"Sudah aku katakan berapa kali kau tidak perlu lagi datang ke sini, kau sama sekali tidak diinginkan Clarissa!" Bentak Diego.


"Ini ada apa sih ribu-ribut? Kenapa kau berbicara kasar seperti itu Diego, tidak seperti itu caranya bersikap dengan tamu. Bagaimanapun juga Clarissa ini tamu kita, dia berkunjung ke rumah kita," ucap Siska yang tiba-tiba saja keluar dari pintu rumahnya.


"Ma, kenapa sih Mama masih mengizinkan wanita ini untuk datang ke rumah dan dekat dengan Mama lagi. Sudah jelas-jelas wanita ini licik seperti ular Ma, Denis juga tidak suka dia ada di sini, kenapa Mama tidak mengusirnya saja." Diego terlihat begitu kesal dan tak habis pikir dengan ibunya itu.


"Diego, Clarissa ini hanya datang untuk mengunjungi Mama dan Denis. Dia merindukan Denis, apa salahnya jika Clarissa menemui anaknya sendiri," ujar Siska.


"Jelas aja salah dan sangat salah. Wanita ini tidak perlu datang ke sini untuk melihat Mama, Denis atau siapapun," tegas Diego. "Dan kau, lebih baik kau pulang saja. Cepat pergi dari sini!" Diego mengusir dan menatap Clarissa dengan tajam.


"Iya aku memang mau pulang Diego, tapi barusan aku melihatmu, jadi aku hanya ingin menyapa dan mengobrol sebentar saja denganmu. Apakah itu salah?" Tanya Clarissa.


"Tentu saja salah, lagipula aku sama sekali tidak mempunyai waktu untuk mengobrol denganmu. Aku tegaskan sekali lagi padamu Clarissa, jangan pernah lagi berkunjung ke rumah ini karena pintu rumah ini sudah tertutup untukmu," ucap Diego.


"Tapi Diego-"


"Tidak ada tapi-tapian. Kau tahu 'kan aku dan Raisa akan menikah, hanya tinggal beberapa hari lagi aku akan membawa Raisa untuk tinggal di sini bersamaku, Mamaku dan Denis. Jadi kau sama sekali sudah tidak aku izinkan untuk datang ke sini, aku tidak mau jika Raisa akan menjadi salah paham karena aku dan Mama masih menerima orang di masa lalu yang sama sekali tidak penting," ucap Diego yang yang menyela ucapan Clarissa begitu saja.


Rasanya begitu menyakitkan hati Clarissa, tetapi ia tetap mencoba untuk menahannya karena tujuannya belum tercapai.


"Tidak bisa Diego, ada Denis di sini, Denis adalah Anakku. Aku akan tetap datang ke sini untuk menemui Anakku," kata Clarissa


"Menemui Anakmu? Anakmu sendiri saja tidak mau bertemu denganmu Clarissa. Denis tidak ingin melihatmu apalagi berbicara denganmu. Aku tanya padamu, selama tadi kau berada di sini apa ada kau berbicara dengan Denis? Aku yakin tidak. Pasti Denis lebih memilih masuk ke dalam kamarnya dan meminta untuk ditemani oleh Bibi, iya 'kan?" Ujar Diego yang menebaknya dengan sangat benar.

__ADS_1


"Papa … !" Panggil Denis yang di saat itu pun keluar dari rumah dan memeluk ayahnya tersebut.


"Sayang, kenapa kau keluar?" Tanya Denis.


"Aku mendengar keributan di luar Pa. Tante ini kenapa masih berada di sini? Bukannya tadi Oma bilang Tante ini sudah pulang?" Tukas Denis.


"Oh iya, Tante ini memang mau pulang. Ayo sekarang kita masuk saja," ucap Diego yang menggandeng tangan anaknya tersebut dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Diego … Denis … !" Panggil Clarissa tetapi 2 pria tampan itu sama sekali tak menggubrisnya.


"Sudahlah Clarissa, lebih baik sekarang kau pergi saja. Apa yang dikatakan Diego tadi benar, lebih baik kau jangan pernah lagi memunculkan wajahmu di sini karena Diego pasti akan semakin membencimu," ucap Siska.


"Tapi Ma, bagaimana kalau aku merindukan Denis dan aku ingin bertemu dengannya?" Tanya Clarissa yang selalu saja menjadikan Denis alasannya, padahal selama ini ia tak pernah peduli dengan anaknya tersebut.


"Mama benar ingin membantuku untuk bertemu Denis?" Tanya Clarissa.


"Ya kalau untuk Denis saya akan membantumu, tapi kalau untuk Diego saya angkat tangan karena saya tidak mau jika Diego malah marah terhadap saya," sahut Siska.


"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu ya Ma," pamit Clarissa lalu pergi meninggalkan kediaman Abimana.


Setelah Clarissa masuk ke dalam mobilnya dan berlalu, kini Siska pun masuk ke dalam rumahnya tersebut.


*****


Waktu berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa pernikahan Diego dan Raisa sudah ujung mata, hanya tinggal 2 hari lagi. Sejak H-2 pernikahan mereka, Raisa dan Diego pun sudah sepakat untuk tidak saling bertemu. Bahkan Diego juga sudah cuti bekerja, sehingga Darrel lah yang menghandle semua pekerjaannya di perusahaan.

__ADS_1


Saat ini kondisi Raisa juga sudah membaik, hanya tinggal goresan kecil saja yang terkadang masih suka terasa perih jika terkena air sabun. Suster yang merawatnya juga sudah tidak dipekerjakan lagi, meskipun hanya bekerja seminggu saja tetapi Sastro tetap membayarnya setara dengan gaji suster selama sebulan karena suster tersebut benar-benar sudah menjaga Raisa dengan sangat baik.


"Sayang, bagaimana perasaanmu saat ini. Hanya tinggal 2 hari lagi kau akan resmi menjadi istri Diego, apakah kau bahagia?" Tanya Sastro yang saat ini sedang berada di ruang keluarga bersama dengan anak dan asistennya.


"Kalau dibilang bahagia tentu saja aku bahagia Yah karena sebentar lagi aku akan menikah dengan orang yang aku cintai, ayah dari anak yang aku kandung. Tapi-" Raisa menghentikan ucapannya serta terlihat wajahnya yang tampak murung.


"Tapi kenapa? Apa ini soal calon Ibu mertuamu itu?" Tanya Sastro dan hanya ditanggapi anggukkan kepala oleh anaknya tersebut.


"Raisa, sebenarnya Ayah juga sangat keberatan menyerahkan kau dengan seorang pria yang ibunya terlihat belum memberikan restu 100%. Ayah tahu Nyonya Siska mengatakan setuju hanya di mulutnya saja tetapi di hatinya masih terlihat banyak keraguan, karena dia masih tidak mempercayaimu. Bahkan syarat yang diberikannya setelah nanti Anakmu lahir, itu sudah terlihat sangat jelas," ucap Sastro.


"Iya Yah, tapi keputusanku juga sudah bulat untuk tetap menikah dengan kak Diego meskipun belum sepenuhnya mendapat restu dari Mama Siska. Aku yakin aku bisa menjalaninya," ucap Raisa.


"Ya sudah kalau memang seperti itu, kau juga tidak perlu memikirkan calon ibu mertuamu itu lagi. Ayah percaya jika Diego pasti selalu bisa menjagamu, karena itulah janji Diego kepada Ayah," ujar Sastro.


"Raisa, Tuan, maaf aku sama sekali tidak bermaksud ikut campur, tapi bagaimana jika nanti Diego sedang tidak ada di rumah? Siapa yang akan melindungi Raisa? Bagaimana jika mertuanya itu bersikap tidak baik terhadap Raisa." Kelvin terpaksa ikut berbicara karena ia mengkhawatirkan Raisa.


"Kak Kelvin, aku sangat mengenal Mama Siska. Meskipun saat ini sikapnya berubah 80% terhadapku, tetapi aku percaya jika Mama akan berubah kembali seperti dulu yang 100% menyayangiku. Aku yakin itu, yang penting aku selalu sabar untuk menghadapinya," ucap Raisa.


"Kenapa kau dan Diego tidak tinggal di sini saja, bukankah itu lebih baik?" Ujar Kelvin.


"Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Kelvin itu sepemikiran dengan Ayah. Ayah baru saja bertemu denganmu Raisa, kita baru saja tinggal bersama tetapi kau akan menikah dan juga ikut dengan suamimu itu. Kita akan berpisah lagi. Seandainya kau dan Diego tinggal di sini, apalagi membawa Denis pastinya Ayah akan merasa sangat senang, pasti rumah ini akan semakin ramai. Tetapi pada kenyataannya kau lebih memilih tinggal bersama suami dan mertuamu yang membuat rumah ini pasti akan kembali sepi," timpal Sastro yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Ayah, Kak Kelvin, kalian berdua kenapa jadi sedih seperti itu sih? Jangan seperti itu dong. Tenang saja ya, meskipun aku tinggal di sana bersama Mama Siska, tetapi aku akan sering-sering main ke sini kok dan sekali-sekali aku pasti akan tidur di sini dengan Kak Diego dan Denis. Aku mohon kalian jangan khawatir soal itu ya. Kalau kami tinggal di sini, kasihan Mama Siska dong. Mama Siska akan tinggal sendirian di sana, pasti dia akan merasa sangat kesepian karena sudah terbiasa tinggal bersama anak dan cucunya," ucap Raisa sehingga Kelvin dan Diego pun mengerti. meskipun hati mereka begitu tidak ikhlas karena Raisa harus pindah dari rumah setelah menikah nanti.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2