
"Maaf aku tidak sengaja menjatuhkannya," ucap Kelvin.
Raisa yang melihat akan hal itu pun segera saja beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Kelvin, sedangkan Diego dan Sastro hanya melihatnya saja.
"Kak, kenapa kau tidak hati-hati seperti ini? Lagipula kenapa harus kau yang membawa minumannya, Bibi ke mana?" Tanya Raisa.
"Oh itu, tadi Bibi mendadak mau ke toilet jadi aku yang menawarkan membawanya ke sini," terang Kelvin.
"Ya sudah biar aku yang membersihkannya ya Kak," ucap Raisa yang ingin membantu memunguti pecahan gelas.
"Raisa jangan, nanti tanganmu terluka. Lebih baik biar aku saja," sergah Diego yang langsung menghampiri keduanya.
"Benar apa kata Tuan Diego, tidak usah Raisa. Kau kembali duduk saja di sana, biar aku yang membersihkannya," ucap Kelvin.
Lalu Kelvin pun segera saja pergi mencari sapu untuk membersihkan pecahan kaca tersebut. Sedangkan Raisa dan Diego kembali menghampiri Sastro.
Sastro tahu betul bagaimana perasaan Kevin saat ini, pasti ia merasa gugup dan juga terkejut karena mendengar Diego melamar Raisa. Begitu juga dengan Diego yang tahu betul jika Kelvin benar-benar mempunyai perasaan terhadap kekasihnya itu.
Setelah percakapan antara Raisa, Diego dan Sastro dirasa cukup, kini Diego pun berpamitan pulang ke rumah. Ia berjanji akan mengatakan hal ini kepada ibunya dan nantinya akan menghubungi Sastro dan Raisa untuk bertemu kembali bersama ibunya itu.
"Terima kasih atas jamuan malam ini Raisa, Tuan Sastro," ucap Diego.
"Diego, kau ini akan menjadi menantuku tapi kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan Tuan," tukas Sastro.
"Oh iya Om. Terima kasih banyak ya. karena telah menerima lamaranku," ucap Diego.
"Bukan Om, tapi Ayah," ucap Sastro.
"Baiklah Ayah, terima kasih banyak Ayah," ucap Diego lagi.
"Ya sama-sama, jangan lupa segera memberi kabar jika kau sudah berbicara dengan Ibumu," ucap Sastro.
"Iya Yah, aku pasti akan memberikan kabar itu secepatnya. Aku juga tidak mau berlama-lama, aku ingin segera menikahi Raisa. Raisa, kau sabar ya, aku pasti akan bertanggung jawab," ucap Diego tersenyum.
"Iya Kak, aku percaya padamu. Hati-hati ya Kak," ucap Raisa.
Diego menganggukkan kepalanya, lalu ia pun segera saja menuju ke mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Sastro.
Setelah mobil Diego sudah tak terlihat lagi dari pandangan mata, kini Raisa pun memeluk Sastro yang membuat ayahnya tersebut merasa kebingungan tetapi juga sangat senang.
"Sayang, ada apa?" Tanya Sastro seraya membelai lembut rambut sang anak.
__ADS_1
"Terima kasih ya Yah, aku tidak menyangka jika Ayah akan merestui hubunganku dengan Kak Diego. Aku pikir karena Ayah ingin menikahkanku dengan Kak Kelvin jadi Ayah tidak akan menerima Kak Diego," ucap Raisa.
"Raisa, Raisa, Ayah tahu jika kau masih sangat mencintai Diego dan menurut Ayah Diego itu memang orang yang baik dan dia juga sangat mencintaimu, hanya saja hubungan kalian terhalang oleh ibunya Digo yang tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Tentu saja Om merestui hubungan kalian," ucap Sastro.
"Tapi bagaimana dengan Kak Kelvin Yah?" Bukankah Ayah memintanya untuk menikahiku dan dia menyetujuinya. Apakah Kak Kelvin akan baik-baik saja jika mengetahui hal ini," ucap Raisa yang mendadak cemas.
"Ayah yakin dia akan baik-baik saja. 'Kan Ayah yang meminta kalian menikah, bukan keinginan Kelvin ataupun kau," ujar Sastro yang mencoba meyakinkan anaknya bahwa semua baik-baik saja.
"Oh … iya juga ya Yah. Aku sayang sama Ayah, terima kasih ya Yah," ucap Raisa.
"Iya Raisa sama-sama, Ayah juga sangat menyayangimu. Ya sudah ayo kita masuk, kau harus beristirahat. Kau sudah seharian pergi dan ini sudah malam, sudah waktunya kau dan calon cucu Ayah beristirahat," ucap Sastro yang merangkul anaknya itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
*****
Kelvin tampak termenung di dalam kamarnya. Ia terus saja mengingat kata-kata yang ia dengar saat di ruang tamu tadi dan terus saja terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
"Raisa akan menikah dengan Diego, kenapa rasanya aku tidak rela? Padahal aku tahu jika mereka berdua memang saling mencintai. Tidak boleh, aku akui kalau aku memang mencintai Raisa tapi bagaimanapun juga aku adalah orang kedua yang hadir di dalam hidupnya, sementara Diego adalah orang pertama yang sangat dicintai Raisa. Seharusnya aku sadar jika Raisa memang tidak pernah melupakan pria itu," batin Kelvin.
Tok … tok … tok …
Terdengar suara ketukan pintu kamar dan Kelvin sangat yakin jika itu adalah supir atau satpam yang mengajaknya untuk ngopi seperti biasa. Sehingga segera saja ia beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu kamarnya. Akan tetapi betapa terkejutnya Kelvin karena yang mengetuk pintu kamarnya ternyata adalah Raisa.
Ya Kelvin memang sudah lama tinggal di kediaman Sastro karena rumahnya begitu besar, hanya saja kamar Kevin terletak di lantai bawah sedangkan kamar Raisa berada di lantai atas.
"Tidak Kak, sebenarnya aku hanya ingin berbicara denganmu saja," ucap Raisa.
"Tapi ini sudah jam 23.00 WIB Raisa, seharusnya kau sudah tidur," ujar Kelvin.
"Aku belum bisa tidur dan aku butuh teman cerita. Kau mau 'kan menemaniku bercerita, kita duduk di tepi kolam renang saja kalau kau mau," ucap Raisa.
Tentu saja Kelvin tak menolaknya, sehingga mereka pun segera saja melangkahkan kaki menuju ke taman belakang, tepi kolam renang. Lalu keduanya duduk di kursi panjang sembari melihat bintang-bintang yang bertaburan di atas langit.
"Kau ingin berbicara apa Raisa?" Tanya Kelvin.
"Kak, apa tadi siang kau sudah mendengar kalau Kak Diego melamarku dan ingin menikahi segera?" Tanya Raisa.
"Ya aku mendengarnya. Memangnya ada apa?" Kelvin bertanya balik.
"Apakah Kau juga setuju?" Tanya Raisa.
"Tentu saja aku setuju. Memang apa hakku untuk melarangmu menjalin hubungan dengan pria yang kau cintai Raisa," jawab Kelvin menahan perih di dadanya.
__ADS_1
"Kak, aku minta maaf ya atas ucapan Ayahku tadi siang yang memintamu untuk menikahiku. Aku tahu kau pasti keberatan 'kan, sebenarnya kau hanya tidak enak dengan Ayahku karena bagaimanapun juga kau bekerja dengannya sudah lama, maka itu kau tadi mengatakan bersedia. Aku juga minta maaf karena tadi aku mengatakan setuju menikah denganmu, itu sebenarnya juga hanya untuk mengelabui Diego saja. Tapi kenyataannya aku masih sangat mencintainya dan aku akan menikah dengannya Kak," ucap Raisa.
"Aku tahu jika kau hanya berpura-pura Raisa, tapi yang aku katakan itu bukan kepura-puraan," batin kelvin yang menatap Raisa dan terlihat bengong.
"Kak, Kak Kelvin!" Panggil Raisa sehingga membuat Kelvin pun tersadar dari lamunannya.
"Oh iya Raisa, tidak apa-apa kok. Ya kau benar aku tidak mungkin bisa menolaknya, syukurlah karena akhirnya kau bisa bersama dengan Diego lagi, karena memang seharusnya dia kan harus bertanggung jawab," ucap Kelvin yang berusaha untuk tegar dan menutupi rasa kesedihannya di depan Raisa.
"Iya, kau benar. Kak Kelvin Terima kasih banyak ya, semenjak aku tinggal di sini kau selalu bersamaku, kau selalu menjagaku layaknya seorang Kakak dan aku memang menganggapmu sudah seperti Kakakku sendiri Kak," ucap Raisa yang dengan reflek memegang tangan Kelvin.
Deg …
Lagi-lagi Kelvin merasakan perasaannya begitu tak karuan, jantungnya berdetak kencang saat ia disentuh oleh Raisa. Tetapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja karena tak ingin Raisa tahu jika ia memang mempunyai perasaan lebih padanya. Lalu tangan kanan Kelvin pun menggenggam tangan Raisa yang di saat itu berada di atas tangan kirinya itu.
"Iya Raisa sama-sama, itu memang sudah menjadi tugasku. Selain aku bekerja dengan Ayahmu, aku juga sudah menganggap Ayahmu sebagai Ayahku sendiri dan itu artinya kau juga Adikku," ucap Kelvin.
Keduanya sama-sama tersenyum, meskipun hanya mereka lah yang tahu apa arti senyuman tersebut.
*****
Karena sejak tadi malam pulang ke rumah Diego tidak bisa menemui Siska karena ibunya itu mengatakan ingin segera beristirahat, sehingga pagi ini pun Diego langsung menghampiri ibunya yang masih berada di kamar. Ia akan berbicara kepada Siska tentang lamarannya yang telah diterima oleh Raisa dan ayahnya tersebut.
Baru saja Diego hendak mengetuk pintu kamar Siska, di saat itu terlihat Siska yang sudah rapi dan keluar dari kamar.
"Loh Mama mau ke mana?" Tanya Diego karena melihat Siska membawa koper.
"Mama mau pergi ke Bandung, untuk apa juga Mama berada di rumah ini tetapi sama sekali sudah tidak dihargai oleh Anak Mama sendiri," ucap Siska.
"Ma, kenapa Mama malah berbicara seperti itu. Aku selalu menghargai Mama kok. Apa Mama marah padaku soal waktu itu? Ma Raisa itu benar-benar mengandung Anakku, kami berdua melakukannya Ma," ucap Diego.
"Mama tidak percaya. Sudah jelas Raisa mempunyai masa lalu yang buruk, bisa saja jika itu bukan Anakmu Diego dan kau ingin bertanggung jawab, iya?" Tanya Siska dengan emosi.
"Cukup Ma! Sudah aku katakan jika Raisa tidak pernah melakukan apapun dengan orang lain, karena memang akulah yang pertama kali melakukan dengannya. Sudah jelas-jelas waktu itu aku yang telah mengambil keperawanannya Ma," ucap Diego tetapi Siska tetap tak bisa mempercayainya begitu saja.
"Apa kau pikir Mama percaya?" Ujar Siska.
"Terserah Mama saja mau percaya aku tidak, aku tidak peduli. Karena dengan ataupun tanpa restu Mama, aku akan tetap menikah dengan Raisa. Aku juga sudah melamar Raisa untuk menjadi istriku," ucap Diego.
Plak!
Sehingga sebuah tamparan pun langsung saja mendarat di pipi tampannya tersebut.
__ADS_1
Bersambung …