
Pada akhirnya Siska pun dibawa ke rumah sakit meskipun ia terus menolaknya, karena kondisi Siska semakin drop sehingga membuat Diego dan yang lainnya merasa sangat khawatir dengan kondisi wanita paruh baya itu.
Diego membawa ibunya tersebut bersama Maira sang suster dan juga Ramzi sang Bodyguard yang menyetir mobil. Sedangkan Bodyguard yang lain yaitu Aron dan Jason tetap berada di rumah untuk melindungi orang-orang yang berada di kediaman Abimana.
Raisa sendiri juga tetap berada di rumah karena Diesa yang tiba-tiba saja rewel dan tidak mau ditinggal oleh sang ibu, hingga pada akhirnya ia bisa menenangkan sang bayi hingga tertidur. Apalagi pengasuhnya juga sebentar lagi sudah selesai bekerja dan akan pulang ke kediamannya.
"Syukurlah akhirnya baby Diesa tidur, jika Nyonya Raisa tidak tenang seperti ini lebih baik Nyonya pergi saja ke rumah sakit, biar saya yang menjaga Diesa," kata Ayumi.
"Tapi Suster 'kan sebentar lagi sudah mau pulang. Apa tidak apa-apa jika Suster harus lembur, Suster tidak capek?" Tanya Raisa.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya sama sekali tidak capek. Apalagi baby Diesa juga anak baik, dia selalu tenang. Saya mau kok menjaga Diesa selama Nyonya pergi, tidak masalah Nyonya. Lagi pula saya juga di rumah tidak ada pekerjaan," kata Ayumi.
"Ya sudah kalau Suster memang bersedia, terima kasih banyak ya Sus. Suster tenang saja saya pasti akan menghitungnya sebagai lembur. Kalau begitu saya siap-siap dulu ya Sus, titip Diesa," ucap Raisa lalu menyerahkan baby sang bayi kepada pengasuhnya.
Suster Ayumi tersenyum smirk sembari menatap Diesa saat Raisa sudah tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
_____
Setelah bersiap-siap Raisa pun segera meminta Aron untuk mengantarnya ke rumah sakit, tempat di mana Siska dibawa oleh Diego tanpa sepengetahuan suaminya itu.
Saat Raisa sudah berada di perjalanan menuju ke rumah sakit, Diesa yang di saat itu masih berada di dalam gendongan Ayumi tiba-tiba saja menangis. Membuat suster tersebut merasa sangat kesal dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Aduh, kenapa kau jadi rewel sepertinya ini sih. Tenang sedikit dong," kata Ayumi yang sedang asyik memainkan ponselnya.
"Oe … oe … ."
Bukannya berhenti, tetapi malah terdengar tangisan Diesa yang semakin nyaring dan bertambah pula rasa kekesalan Ayumi.
__ADS_1
"Ih … kau ini, kenapa bikin repot saja sih. Kalau bukan karena misi tertentu aku sangat malas untuk menjaga seorang bayi, apalagi yang rewel sepertimu," bentak Ayumi seraya menatap tajam ke arah Diesa.
Ya sebenarnya Ayumi bukanlah seorang babysitters, entah bagaimana caranya tiba-tiba ia bisa menjadi seorang babysitter yang menggantikan babysitters asli, karena ia mempunyai tujuan tertentu sehingga masuk ke dalam keluarga Abimana. Bisa dikatakan Ayumi menggunakan identitas palsu. Awalnya Ayumi merasa sangat senang menjaga Diesa yang menurutnya begitu menggemaskan dan tidak rewel, mungkin saat ini bayi tersebut bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengan neneknya, palagi ia juga ditinggal oleh sang ibu yang tidak berada di sampingnya, membuatnya pun terus saja menangis.
Hingga di saat itu ada seseorang yang membuka pintu kamar Diesa, sehingga cepat-cepat Ayumi menggendong baby Diesa yang tadi ia letakkan di atas tempat tidur.
"Cup … cup … Sayang, jangan menangis lagi ya. Diesa kenapa Sayang, apa kau merasa sedih karena Oma masuk rumah sakit? Kita berdoa saja ya semoga Oma baik-baik saja," ucap Ayumi yang berpura-pura menenangkan sang bayi.
"Ada apa Sus? Sepertinya saya mendengar Nona Diesa. menangis sedari tadi," tanya bibi.
"Tidak tahu Bi, padahal tadinya Diesa sedang tidur sewaktu Nyonya Raisa pergi. Apa mungkin baby Diesa merasakan jika sedang terjadi sesuatu dengan Nyonya Siska," jawab Ayumi beralasan, ia juga merasa was-was takut bibi mendengar saat tadi ia mengomeli sang bayi.
"Oh begitu ya Sus, mungkin saja memang benar seperti yang Suster katakan," ucap Bibi.
"Iya Bi, Bibi tenang saja ya, tidak ada apa-apa kok Bi. Diesa baik-baik saja dan sebaiknya jangan katakan ini kepada Nyonya Raisa atau Tuan Diego ya Bi, kasihan mereka. Pasti sekarang ini mereka sedang panik karena khawatirkan Nyonya Siska," ucap Ayumi.
"Iya Sus, saya mengerti," jawab Bibi lalu segera saja ia pergi dari kamar tersebut.
Akan tetapi ia pun terpaksa terus berusaha untuk mendiamkan baby Diesa hingga akhirnya bayi tersebut tenang dan tertidur lagi di dalam gendongannya.
*****
Raisa yang baru saja tiba di rumah sakit terburu-buru melangkahkan kakinya menuju ke ruang IGD, tempat di mana Siska saat ini sedang ditangani. Di depan ruangan tersebut terlihat Diego dan juga Ramzi dengan wajah-wajah cemas menunggu kabar dari sang dokter yang sedang memeriksa Siska. Sedangkan Suster Maira berada di dalam ruang IGD karena ia juga merupakan bagian dari rumah sakit itu.
"Kak," panggil Raisa yang menghampiri suaminya tersebut.
"Sayang, kenapa kau ada di sini? Bagaimana dengan Diesa?" Tanya Diego.
__ADS_1
"Tenang saja Kak tadi Diesa sedang tidur dan Suster Ayumi sendiri yang memintaku untuk ke sini, dia bersedia untuk bekerja lembur menjaga Diesa karena tahu jika aku tidak tenang berada di rumah," kata Raisa.
"Aku belum tahu bagaimana kabar Mama sekarang, Mama masih ditangani oleh Dokter. Aku benar-benar sangat takut Sayang," ucap Diego yang menghamburkan pelukan pada tubuh istrinya tersebut.
"Kak tenang ya, aku juga merasa khawatir dengan kondisi Mama tapi yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa," ucap Raisa.
Krek …
Terdengar suara pintu ruangan IGD yang terbuka dan terlihat dokter keluar dari ruangan tersebut untuk menemui Diego.
"Dokter, bagaimana keadaan Mama saya Dok?" Tanya Diego sebelum sempat dokter berbicara.
"Tuan Diego, sebaiknya Nyonya Siska segera dioperasi, kalau tidak akan sangat membahayakan nyawanya," saran dokter.
"Tapi bagaimana Dok Mama saya tidak mau dioperasi, Mama terang-terangan menolak," ucap Diego.
"Tetap saja harus melakukannya jika Anda ingin menyelamatkan nyawa Ibu Anda Tuan," ucap dokter yang membuat Diego benar-benar merasa sangat kebingungan.
Setelah berdiskusi sebentar degan Raisa, pada akhirnya Diego menyetujui dan langsung menandatangani surat persetujuan operasi. Esok hari mau tak mau Siska harus menjalani operasi tersebut, hanya tinggal bagaimana caranya Diego membujuk ibunya. Membuat Diego tampak lesu setelah memilih keputusan itu, tetapi Raisa selalu saja meyakinkan suaminya.
"Kak, ini adalah keputusan yang terbaik. Setidaknya kita sudah berusaha untuk menyelamatkan Mama. Justru kalau kita diam saja kita tidak memutuskan hal ini, kita akan merasa sangat menyesal jika suatu saat nanti terjadi sesuatu dengan Mama. Mudah-mudahan saja operasinya berjalan lancar," ucap Raisa.
"Aku tahu Sayang, tapi bagaimana jika Mama nanti menolaknya," ujar Diego.
"Tenang saja Kak, aku yakin Mama pasti akan menyetujuinya. Ini semua juga demi kebaikan Mama 'kan dan aku janji akan membantu Kak Diego untuk membujuk Mama," ucap Raisa.
"Iya Sayang kau benar. Aku hanya berharap mudah-mudahan Mama bisa sembuh dan tertolong," ucap Diego.
__ADS_1
"Amin, ya sudah Kak ayo kita masuk menemui Mama," ajak Raisa lalu keduanya pun melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang IGD.
Bersambung …