
Raisa terus saja yang bertanya-tanya di dalam hatinya siapa pria tadi yang tiba-tiba saja muncul dan menolongnya, bahkan pria itu juga ngotot ingin mengantarnya pulang ke rumah yang membuat Raisa pun merasa risih dan curiga. Raisa yang biasanya selalu berpikir positif terhadap orang lain, hanya saja saat ini karena Diego sudah berpesan untuk selalu berjaga-jaga membuatnya pun tidak mau mengenal orang sembarangan lagi, apalagi lawan jenis yang akan menimbulkan kecemburuan. Untung saja bodyguard-nya itu cepat datang, kalau tidak sudah dipastikan pria itu akan terus memaksanya.
"Kak Jason!" Panggil Raisa tiba-tiba, yang membuat Jason tersentak.
"Iya Nyonya, ada apa?" Tanya Jason.
"Maaf Kak aku mengejutkanmu, aku mau bertanya menurutmu ada yang aneh tidak dengan pria tadi?" Tanya Raisa.
"Pria yang mana Nyonya? Apa maksudnyaa pria yang tadi ada di samping Nyonya?" Tanya Jason pula.
"Iya Kak pria itu, memang pria yang mana lagi,".jawab Raisa.
"Karena tadi saya hanya melihatnya sebentar jadi saya sama sekali tidak merasa ada yang ganjal dengan pria itu Nyonya, bahkan sama tidak ngobrol sama sekali dengannya. Malah tadinya saya pikir memang kebetulan aja pria itu berada di samping Nyonya," jawab Jason apa adanya.
"Oh begitu ya Kak. Iya juga sih, kau 'kan baru datang. Tapi kau tahu tidak Kak kalau kau itu sudah menyelamatkanku," kata Raisa.
"Oh ya, memang kenapa? Apa pria tadi mau berbuat bermacam-macam dengan Nyonya, kenapa tadi Nyonya tidak mengatakan langsung padaku, aku pasti akan menghajarnya. Maaf Nyonya aku benar-benar bodyguard yang tidak bisa diandalkan, tidak bisa menjaga Nyonya Raisa dengan baik dan tidak bertanggung jawab," ucap Jason yang mendadak panik dan malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Bukan seperti itu Kak, aku hanya merasa pria itu aneh saja dan aku juga merasa risih Kak karena tiba-tiba dia mendekatiku terus seperti itu. Aku merasa kalau pertemuan kami tadi bukan kebetulan, tapi memang dia sudah mengincarku dan ada maksud terselubung," ucap Raisa.
"Maksud Nyonya apa dia itu seperti maling atau penjahat?" Tanya Jason.
"Sebenarnya aku juga tidak bisa menyimpulkan seperti itu Kak. karena dari penampilannya tidak menunjukkan bahwa dia itu maling, tapi kalau orang jahat mungkin saja karena sekarang banyak 'kan orang jahat yang berpenampilan seperti pejabat,"' ucap Raisa.
"Iya Nyonya benar. Syukurlah Nyonya baik-baik saja, kalau tidak sudah pasti saya akan langsung dipecat atau dihajar oleh Tuan Diego. Saya benar-benar minta maaf ya Nyonya," ucap Jason.
"Sudahlah Kak, kau itu tidak salah. Lagi pula seperti yang kau katakan aku baik-baik saja 'kan. Ya sudah Kak lebih baik kau fokus saja menyetir," kata Raisa.
"Baik Nyonya," jawab Jason dan kembali fokus untuk menyetir.
_____
Tidak berapa lama kemudian mereka pun telah tiba di rumah, Raisa yang dibantu oleh Jason membawa barang belanjaannya tadi langsung saja menuju ke dapur dan disaat itu ia melihat Siska yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Terima kasih ya kak Jason," ucap Raisa.
__ADS_1
"Iya sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi," ucap Jason dan berlalu
Setelah menaruh belanjaan di atas meja dapur, kini Raisa menghampiri ibu mertuanya tersebut.
"Mama, kenapa Mama di sini sendirian? Suster Maira mana?" Tanya Raisa.
"Raisa kau sudah pulang? Tadi Suster Maira ada di sini menemani Mama, tapi Mama suruh dia melihat Diesa dan kalau sudah bangun suruh Suster Ayumi untuk membawanya ke sini," jawab Siska.
"Oh seperti itu Ma, mungkin Diesa-nya masih tidur," ucap Raisa.
"Ya mungkin saja seperti itu. Kau sudah pulang belanja, kau beli apa saja Sayang? Padahal kalau untuk kebutuhan dapur 'kan sudah ada Bibi, biar saja Bibi yang belanja seperti biasa, tidak perlu kau yang repot-repot belanja seperti itu," ujar Siska.
"Sama sekali tidak repot Ma, lagi pula ini kemauanku sendiri. Ya memang sih aku ada membeli kebutuhan dapur sedikit, tapi yang paling penting itu aku membeli buah-buahan Ma. Rencananya aku mau membuat salad buah, sudah lama aku tidak membuatnya," jawab Raisa.
"Wah enak itu, apalagi cuaca panas seperti ini makan salad buah," kata Siska.
"Iya Ma, kalau begitu aku mau lihat baby Diesa dulu ya Ma. Nanti aku akan langsung membuat saladnya," ucap Raisa.
"Iya Sayang," jawab Siska.
Raisa pun segera saja menuju ke kamar anaknya dan di saat hendak membuka pintu, tidak sengaja Raisa mendengar percakapan Ayumi dan Maira. Sehingga Raisa pun tampak terdiam sejenak di depan pintu, bukan maksud menguping tetapi percakapan itu terdengar jelas yang membuatnya mendadak menjadi penasaran.
"Iya Sus, aku benar-benar ingin tahu karena aku sama sekali tidak merasa berbuat kesalahan padamu dan walaupun ada itu murni ketidaksengajaan. Tapi kenapa sepertinya kau begitu membenciku, kau menjauhiku dan kau juga tidak ingin menjadi temanku seperti yang kau katakan tadi," ucap Maira.
"Oke kalau gitu aku akan mengatakannya padamu. Aku memang tidak menyukaimu ada di sini, karena apa? Karena kau selalu saja mencari muka dengan bersikap sok polos. Padahal aku dulu yang bekerja di sini tapi kau sok baik dan sok dekat dengan seluruh penghuni di rumah ini, yang paling terpenting adalah tuan rumah yaitu Nyonya Raisa dan Nyonya Siska. Bahkan aku yang menjadi baby sitter Diesa tapi kau yang dekat dengan Nyonya Raisa. Itu karena kau selalu mencari muka di hadapan mereka jadi mereka sekarang lebih peduli denganmu daripada aku, aku bisa melihatnya", tuding Ayumi.
"Maksudmu apa Sus? Kau itu salah paham. Aku sama sekali tidak melakukan seperti itu, berpura-pura baik, bersikap polos hanya untuk mencari perhatian orang lain, tidak sama sekali. Yang aku lihat Nyonya Raisa dan Nyonya Siska baik dan peduli juga dengan Suster Ayumi, bahkan semua yang bekerja di rumah ini, tidak pernah membeda-bedakan kita," bantah Maira.
"Kau ini tidak sadar juga ya Maira. Kau saja bisa bekerja dan tinggal di sini, aku sudah lama bekerja di sini daripada kau tapi aku tidak pernah ditawarkan untuk tinggal di sini. Enak ya, pelet apa sih yang sudah kau gunakan," tuding Ayumi ya sudah semakin ngelantur bicaranya.
Raisa sudah tidak tahan lagi mendengar keributan itu yang sudah pasti hanya kesalahpahaman semata, jika dibiarkan sudah pasti mereka akan bertengkar hebat.
Tok … tok … tok …
Sehingga Raisa pun mengetuk pintu, yang membuat Maira dan Ayumi terdiam. Lalu Raisa membuka pintu dan masuk ke dalam kamar anaknya.
__ADS_1
"Suster Maira, Suster Ayumi, kalian berdua sedang mengobrol apa? Sepertinya seru ya. Eh bayi Mama sudah bangun, anak Mama," ucap Raisa yang langsung saja menghampiri sang bayi lalu mengambilnya dari dalam baby box dan menggendongnya.
"Iya Nyonya, maaf kami berdua hanya sedang mengobrol-ngobrol biasa saja kok," jawab Maira yang tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
"Baby Diesa baru saja bangun dan minum susu Nyonya. Mau saya bawa ke ruang tengah, tadi Suster Maira datang ke sini menyampaikan pesan dari Nyonya Siska untuk membawa baby Diesa ke sana, tapi kami malah ngobrol dulu. Maaf ya Nyonya," ucap Ayumi.
"Tidak apa-apa, ngobrol-ngobrol itu 'kan juga penting. Apalagi kalian berdua sama-sama bekerja di sini, harus akrab dan saling mengenal satu sama lainnya. Jangan bertengkar ya apalagi sampai bermusuhan. Suster Maira lebih baik kembali ke depan ya temani Mama, Suster Ayumi juga ya jaga baby Diesa di sana, saya mau membuat salad buah dulu," ucap Raisa.
"Baik Nyonya," jawab Ayumi dan Maira secara bersamaan.
Lalu mereka semua pun keluar dari kamar Diesa dan menuju ke ruang keluarga.
*****
Setelah seharian bergelut di meja kerjanya, kini Diego sudah berada di dalam perjalanan menuju pulang ke rumah. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu ibu, istri dan kedua anaknya yang sudah pasti akan membuat rasa lelahnya hilang seketika.
Sebelum pulang ke rumah Diego yang saat ini lebih suka menyetir sendiri dibandingkan dulu saat Darrel masih menjadi asistennya dan selalu mengandalkan pria itu untuk menyetir, mampir sebentar ke salah satu toko bunga dan membelikan bunga untuk ibu dan juga istri tercintanya. Setelah itu ia juga mampir ke toko kue untuk membelikan kue kesukaan keluarganya termasuk Denis, anak sulungnya itu.
Karena terlalu banyak mampir dan mengantri, telah menyita banyak waktunya. Diego yang tadinya keluar dari perusahaan pukul 16.00 WIB saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB, hingga setelah itu pun ia kembali melajukan mobil menuju ke kediamannya. Akan tetapi tiba-tiba saja ia terkena macet yang cukup panjang, tidak tahu ada apa di depan sana. Sehingga Diego pun bertanya kepada salah satu pengendara yang juga berhenti.
"Maaf Pak, ada apa di depan? Kenapa macetnya begitu panjang?" Tanya Diego kepada salah satu pengendara sepeda motor.
"Yang saya dengar di depan ada tawuran Tuan, sekelompok mahasiswa dengan anak jalanan," jawab pria paruh baya itu.
"Oh … seperti itu, terima kasih banyak ya Pak," ucap Diego. Ia merasa sangat kesal mendengar hal tersebut.
"Ada-ada saja, zaman sekarang masih juga membuat keributan. Bisanya hanya menghambat jalan orang lain saja, apalagi yang terburu-buru mau pulang ke rumah," umpat Diego dengan sangat emosi, mau putar arah pun tidak bisa karena ia terkena macet di depan dan di belakang kendaraannya.
Tak ada pilihan lain, Diego memutuskan turun dari mobil untuk melihat kejadian tersebut. Ternyata benar saja ada segerombolan mahasiswa yang sedang berkelahi dengan segerombolan anak jalanan yang bisa dikatakan para preman. Sudah banyak juga yang mencegah tetapi orang-orang tersebut malah dikeroyok, sehingga Diego yang sudah tidak tahan lagi melihat akan hal itu pun ikut maju untuk menghentikan perkelahian tersebut. Akan tetapi salah satu preman yang membawa senjata tajam itu tak terima dan malah menyerang Diego.
_____
Prang …
Raisa yang sedang memegang mangkuk kaca berisi salad buah yang baru saja ia siapkan untuk Diego karena ia tahu sebentar lagi suaminya itu akan sampai di rumah setelah tadi memberi kabar padanya, tiba-tiba saja jatuh dan hancur berkeping-keping dan berserakan di atas lantai beserta salad buah tersebut. Raisa juga langsung saja memegangi dadanya karena terasa sangat sesak dan memikirkan suaminya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Kak Diego?"
Bersambung …