
"Suster, habis nelpon siapa?"
Terdengar suara seseorang yang membuat Suster Ayumi merasa sangat terkejut, untungnya telepon itu telah berakhir dan ia juga sudah menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku bajunya.
"Maaf Sus, saya tidak bermaksud ikut campur kok. Saya juga tidak mendengar jelas apa yang Suster ucapkan tadi, saya hanya tahu Suster sedang menelpon," kata Raisa yang di saat itu kembali lagi ke kamar anaknya.
"Oh iya Nyonya, saya barusan menelpon teman saya saja. Dia janji mau menjemput saya sore ini," jawab Suster Ayumi beralasan.
"Oh … teman atau pacar Sus," goda Raisa.
"Bukan pacar Nyonya, hanya teman dekat saja. Nyonya kenapa kembali lagi, tidak jadi makan?" Tanya Suster Ayumi.
"Ini Sus, saya mau ambil ponsel saya. Saya mau menghubungi Kak Diego," jawab Raisa sembari mengambil ponsel yang diletakkannya di atas nakas.
"Oh begitu, ya sudah silahkan Nyonya," ucap Suster Ayumi.
Setelah mengambil ponselnya, Raisa pun kembali keluar dari kamar anaknya tersebut dan menuju ke ruang makan.
"Huft … syukurlah. Aku pikir tadi Nyonya Raisa mendengar percakapanku, bisa gawat kalau sampai Nyonya Raisa mendengar semuanya. Belum apa-apa aku sudah dipecat dan parahnya bisa saja 'kan aku akan dijebloskan ke dalam penjara seperti Kak Clarissa dan kekasihnya," batin Suster Ayumi.
*****
"Halo Sayang, kau sudah makan?" Tanya Diego yang menghubungi istrinya melalui telepon WhatsApp.
"Ini aku baru saja mau makan dan aku juga baru mengambil ponsel di kamar mau menghubungimu, ternyata kau sudah menghubungiku terlebih dulu," jawab Raisa.
"Itu artinya kita sehati Sayang," ucap Diego.
"Ya mungkin memang seperti itu Kak. Kau sudah makan?" Tanya Raisa pula
"Bukan mungkin Sayang, tapi memang kita sehati. Aku belum makan tapi aku sudah memesan makanan, mungkin sebentar lagi sampai," jawab Diego.
__ADS_1
"Iya deh kita sehati. Syukurlah kalau kau sudah memesan makanan, aku minta maaf ya Kak karena belum bisa mengantar makanan ke sana dan aku juga tidak mengirim makan siang untukmu. Aku juga tadi masih sibuk dengan Diesa di kamar Kak, maklum baru pertama kali jadi ibu," ucap Raisa.
"Tidak apa-apa Sayang, kau tidak perlu memikirkan masalah itu, aku ini bukan anak kecil lagi. Oh ya bagaimana Anak kita hari ini, rewel tidak?" Tanya Diego.
"Tidak Kak, Anak kita itu baik, tidak rewel sama sekali. Yang penting aku selalu ada menemaninya. Sekarang Diesa lagi tidur di kamar sama Suster," jawab Raisa.
"Syukurlah Sayang, putri kita itu memang anak yang baik, dia tidak mau menyusahkan ibunya. Kau harus banyak makan ya, apalagi kau itu 'kan me nyu sui. Aku tidak mau kalau kau sampai kekurangan makan," kata Digo.
"Iya Kak, kau tenang saja. Oh ya Kak bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Raisa.
"Pekerjaanku hari ini lancar-lancar saja. Apa kau tahu Sayang, perusahaan yang waktu itu pernah aku impikan bisa bekerja sama dengannya tetapi gagal, saat ini perusahaan itu sendiri yang menawarkan kerja sama. Tadi beliau baru saja datang ke sini dan menandatangani surat kontrak kerja sama. Apa kau tahu itu rasanya sangat membahagiakanku. Aku merasa jika dengan kehadiran Anak kita itu bukan hanya membuat keluarga kita bahagia, tetapi putri kecil kita itu juga selalu saja membawa rezeki untuk keluarga kita. Anak kita itu benar-benar membawa keberuntungan. Semenjak kehadiran Diesa sepertinya keluarga kita juga sudah aman, tidak ada lagi peneror, penjahat atau apalah sejenisnya," ucap Diego.
"Iya Kak, aku juga merasa seperti itu. Mudah-mudahan saja ya Kak kita selalu dijauhkan dari orang-orang jahat dan menurutku memang benar apa yang kau katakan jika anak itu memang pembawa rezeki Kak, orang tua juga mengatakan seperti itu 'kan," kata Raisa.
"Ya kau benar Sayang. Aku jadi ingin cepat-cepat pulang bertemu denganmu dan juga Anak-Anak kita. Apa Kak Denis sudah pulang sekolah?" Tanya Diego.
"Lagi dijemput Kak Jason Kak. Mungkin sebentar lagi sampai rumah," jawab Raisa.
Tok … tok … tok …
"Ya sudah Kak, selamat makan dan selamat bekerja ya sayangku," ucap Raisa.
"Terima kasih banyak Sayangku, selamat makan juga," ucap Diego pula dan mengakhiri telepon tersebut.
Benar saja di saat itu terlihat seorang office boy yang mengantarkan makanan ke dalam ruangan Diego. Diego pun langsung saja menyantap makanannya di dalam ruangannya itu.
Saat ini Diego belum memiliki asisten baru karena rasa trauma yang masih ada di dalam dirinya. Pasalnya ia yang sudah begitu mempercayai asistennya, bahkan menganggapnya sebagai saudara sendiri, tetapi pada kenyataannya ia malah dikhianati. Sehingga Diego pun benar-benar harus mencari asisten dengan berbagai macam bentuk tes dan ia juga tidak mungkin lagi bisa mempercayai asisten barunya seperti saat dulu ia mempercayai Darrel.
*****
Setelah semua pekerjaan dari Sastro di kantor telah selesai, Kelvin pun segera saja melajukan mobilnya menuju ke sebuah Mall. Kelvin ingin mencari sesuatu untuk Diesa, ya karena kesibukannya Kelvin belum sempat untuk membelikan hadiah apapun untuk keponakannya itu. Sehingga hari ini di kala ada waktu senggang, ia menyempatkan diri untuk ke sana karena Sastro juga akan pergi ke kediaman Abimana dan memintanya untuk menjemput.
__ADS_1
Saat ini Kelvin sudah berada di sebuah mall dan menuju ke toko yang menjual khusus perlengkapan bayi. Kelvin tampak kebingungan karena tidak tahu apa yang akan ia belikan untuk Diesa. Di saat itu terlihat seorang wanita yang juga kebetulan sedang mencari sesuatu di sana dan melihat tingkah Kelvin seperti membutuhkan pertolongan.
"Maaf Tuan, apa Tuan membutuhkan bantuanku?" Tanya wanita tersebut.
"Bantuan, ya apa saya boleh meminta bantuan?" Tanya Kelvin pula.
"Sebenarnya kalau Tuan bingung, Tuan bisa meminta tolong pelayan di sini. Tetapi sepertinya pelayan di sini sedang sibuk, jadi saya bersedia membantu Tuan," ucap wanita tersebut.
"Oh iya, saya memang melihat pelayannya sedang sibuk, untuk itu saya kebingungan sendiri di sini. Kau tahu saja Nona," ucap Kelvin.
"Saya bisa melihat dari gerak-gerik Tuan. Lagi pula wajar sih kalau seorang pria yang bingung masuk ke dalam toko bayi seperti ini," kata wanita itu.
"Hm … iya. Jadi apa boleh aku meminta bantuanmu mencarikan sesuatu untuk bayi berumur 1 bulan, dia keponakanku dan aku ingin melihatnya hari ini," kata Kelvin.
"Ya sudah ayo Tuan saya bantu untuk mencarinya," kata wanita tersebut.
Lalu wanita itu pun membantu Kelvin untuk mencari hadiah dan setelah hadiah tersebut dibungkus, Kelvin segera saja membayarnya. Lalu pelayan memberikan hadiah itu kepada Kelvin dan ternyata ada 1 lagi yang diserahkan kepada wanita tersebut.
"Kau juga membeli hadiah untuk bayi?" Tanya Kelvin.
"Kebetulan iya, aku mau melihat anak temanku," jawab wanita itu.
"Bisa kebetulan sekali ya. Oh ya terima kasih banyak ya kau sudah membantuku. Kau mau ke mana, apa mau aku antar sekalian?" Tanya Kelvin.
"Tidak perlu, terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi aku sudah memesan taksi online dan sekarang aku harus pergi," tolak wanita tersebut.
"Oh … seperti itu. Tapi lain kali boleh 'kan aku mentraktirmu, sekedar minum kopi atau makan untuk mengucapkan terima kasihku hari ini," ucap Kelvin.
"Oke, mungkin lain kali bisa. Kalau begitu aku duluan ya Tuan, taksi online yang aku pesan sudah sampai," ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan Kelvin.
Setelah wanita itu sudah tak terlihat lagi dari pandangan matanya, Kelvin pun teringat jika ia sama sekali belum meminta nomor ponselnya, bahkan siapa nama wanita itu saja ia sama sekali tidak tahu.
__ADS_1
"Bagaimana aku mau menghubunginya kalau nomor ponselnya saja aku tidak punya. Bahkan namanya saja aku tidak tahu, lantas aku mau menemukannya di mana," batin Kelvin yang merasa dirinya sangat bodoh.
Bersambung …