Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Keputusan Diego.


__ADS_3

Tapi tidak ada yang gratis," ucap Darrel yang membuat Clarissa tersentak.


"Maksudmu apa? Kau belum melakukan apapun dan kau meminta bayarannya, begitu?" Tanya Clarissa.


"Ups tenang Sayang, bayarannya bukan uang kok. Tetapi seperti biasa, aku ingin kau menemaniku di rumah kita," ucap Darrel.


Yang dimaksud oleh Darrel rumah kita adalah rumah tempat di mana waktu itu Darrel menyembunyikan Clarissa dari Diego.


"Jangan pernah bermimpi, aku tidak akan memberikannya lagi sebelum kau berhasil melakukannya untukku," tukas Clarissa.


"Kalau seperti itu lebih baik aku tidak perlu melakukannya dan aku akan melaporkan kepada Diego tentang apa yang kau rencanakan ini, rencana yang benar-benar sangat jahat dan ingin menghancurkan keluarganya," ancam Darrel, sehingga membuat Clarissa tak pnya pilihan lain selain mengiyakan permintaan pria ya sama saja liciknya dengan dirinya.


*****


"Apa kalian yakin akan tetap menikah tanpa restu dari Nyonya Siska?" Tanya Sastro.


"Iya Yah, keputusanku sudah bulat, aku yakin dan aku tidak mau lagi menundanya. Jika aku harus menunggu Mama merestui hubungan kami, harus sampai kapan? Apakah sampai Raisa nanti melahirkan, itu tidak mungkin Yah. Lagipula aku yakin seiring berjalannya waktu, Mama pasti akan percaya dengan Raisa. Mama akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan Mama pasti akan menerima Raisa lagi seperti dulu. Aku yakin kok kalau Raisa pasti mampu untuk menaklukkan kerasnya hati Mama, Denis yang sangat susah ditaklukan saja buktinya Raisa bisa membuat Denis begitu menyayanginya. Apalagi Mama yang memang pada awalnya sudah menyayangi Raisa," ucap Diego dengan sangat yakin.


"Yah, tolong restui kami untuk menikah. Aku juga awalnya tidak mau menikah tanpa restu ibunya Kak Diego, tapi menurutku apa yang dikatakan Kak Diego benar. Semoga saja kami berdua bisa menghadapinya, semoga dengan aku menjadi istri Kak Diego, maka akan membuat hati Mama melunak dan kembali menerimaku seperti dulu," ucap Raisa yang ikut meyakinkan sang ayah.


Sehingga dengan berat hati Sastro pun mengizinkan keduanya untuk menikah. Lagipula semakin lama kandungan Raisa akan semakin membesar, jika ia tidak mengizinkan keduanya untuk menikah, kasihan Raisa. Sastro juga memikirkan nasib anak yang berada di dalam kandungan Raisa, kasihan jika harus terlahir tanpa seorang ayah.


"Ayah serius mengizinkan kami untuk menikah?" Tanya Diego.


"Ya, memangnya Ayah punya pilihan lain? Tapi kau harus berjanji pada Ayah jika kau akan menjaga Raisa dan memperlakukan Raisa bagaimana selayaknya seorang istri. Jika kau malah menyakitinya karena Ibumu itu belum memberi restu, maka Ayah tidak akan segan-segan untuk mengambil Raisa kembali dan Ayah pastikan jika kau tidak akan pernah bertemu dengan Anak Ayah lagi," pesan Sastro.

__ADS_1


"Aku janji Yah, aku akan memperjuangkan Raisa, aku akan selalu menjaga Raisa. Aku pastikan tidak akan ada yang menyakiti Raisa meskipun itu adalah Ibuku sendiri. Ayah bisa memegang ucapanku, bahkan aku berniat akan keluar dari rumah jika Mama tidak menyukai Raisa," ucap Diego.


"Kak, tidak perlu sampai seperti itu. Kasihan Mama jika kita keluar dari rumah," ujar Raisa.


"Ya itu semua pilihannya ada di tangan Mama. Nanti akan aku bicarakan lagi sama Mama dan kau harus ikut," ucap Diego dan ditanggapi anggukkan kepala oleh Raisa.


"Ya sudah lebih baik sekarang kau pulang saja dulu. Coba bicarakan lagi pada Ibumu, siapa tahu kali ini Ibumu akan berubah pikiran dan lebih baik Raisa tidak usah ikut dulu, kecuali nantinya ibumu sudah merestui barulah kita akan bertemu lagi antar keluarga. Bahkan jika kau bisa berhasil membujuk Ibumu itu, secepatnya kita akan bertemu untuk membahasnya lebih lanjut," kata Sastro.


"Baik Ayah, jika Ibuku setuju maka aku akan mengajaknya untuk datang ke sini dan membicarakan ulang tentang pernikahanku dan Raisa," kata Digo.


"Ya sudah Ayah tunggu kabar baik itu," ucap Sastro.


Setelah itu pun Diego pergi ke perusahaan kembali karena ia masih mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan.


*****


Tidak ada percakapan di atas meja makan antara Diego dan Siska, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring. Tak seperti biasanya Siska yang selalu menanyakan kabar sang anak, kali ini hanya terlihat menikmati makanannya saja sambil sesekali mengacak-acak tanpa menghabiskannya.


"Denis, Oma ke kamar dulu ya," ucap Siska tanpa menegur Anaknya.


"Ma, aku mohon duduk sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Diego tetapi Siska sama sekali tak menggubrisnya.


Ia tetap beranjak dari tempat duduk dan hendak pergi meninggalkan ruang makan.


"Aku akan menikah dengan Raisa meskipun tanpa restu Mama dan secepatnya pernikahan itu akan di segera dilaksanakan," ucap Diego yang membuat Siska pun tersentak dan menatap ke arah anaknya tersebut.

__ADS_1


"Jadi kau memutuskan akan tetap menikah tanpa restu Mama, iya?" Tanya Siska.


"Iya, bukankah sudah aku katakan dengan ataupun tanpa restu Mama aku akan tetap menikahi Raisa. Saat ini Raisa sedang mengandung Anakku, cucu Mama, jadi aku harus bertanggung jawab. Bukankah Mama selalu mengajariku untuk menjadi pria yang selalu bertanggung jawab dan ini adalah salah satunya Ma. Kalau Mama tiba-tiba berubah pikiran mau menyetujui hubungan kami, maka besok aku akan mengajak Mama untuk menemui Tuan Sastro dan Raisa untuk membahas pernikahan ini lebih lanjut. Tapi kalau Mama tetap kekeh tidak merestui hubungan kami tidak apa-apa, biar aku dan keluarga Raisa yang akan membahasnya. Kami akan menikah secepatnya Ma, aku tidak mau menundanya lagi," ucap Diego.


Betapa sakitnya hati Siska mendengar ucapan Diego. Hanya karena seorang wanita, anaknya itu sama sekali tidak mau mendengar ucapannya. Bahkan tak peduli dengan restu dari ibunya tersebut.


"Kau jangan pernah bermain-main dengan restu dari orang tua Diego. Apa kau pikir pernikahan itu akan berjalan tanpa restu Mama, itu tidak akan pernah kekal," ucap Siska.


"Terserah Mama saja mau berkata apa. Tapi hanya ini adalah keputusan aku dan aku yakin jika nantinya Mama akan tinggal bersama Raisa, pasti Mama akan tahu bagaimana sifat Raisa yang sebenarnya. Mama tidak hanya percaya dengan omong kosong orang yang tidak jelas tanpa bukti-buktinya," tutur Diego


"Semua sudah jelas," sahut Siska.


"Itu tidak seperti yang Mama pikirkan Ma, aku tahu siapa Raisa," ucap Diego.


'Sudahlah, apapun yang kau katakan keputusan Mama tidak berubah. Mama tetap tidak merestui hubungan kalian," ucap Raisa dan segera saja meninggalkan anak dan cucunya tersebut.


*****


Apa yang dikatakan oleh Diego semuanya bukanlah main-main, karena sampai saat ini ibunya itu belum juga memberi kabar, Digo pun berniat akan pergi ke kediaman Sastro pada pukul 19.00 WIB. Ia sudah berjanji kepada Raisa dan ayahnya dengan atau tanpa membawa ibunya tersebut, ia akan tetap datang untuk membahas kelangsungan pernikahan yang rencananya akan dilangsungkan bulan depan.


Setelah rapi Diego pun segera keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya keluar rumah. Saat ia sudah berada di luar rumahnya, di saat itu pula Diego melihat Siska yang sudah tampak rapi, seperti sedang menunggu seseorang.


"Mama, Mama mau ke mana? Mama sedang menunggu siapa? Atau mau aku antar dulu, kebetulan aku mau ke rumah Raisa, aku janji mau ke sana pukul 20.00 WIB dan sekarang masih pukul 19.00 WIB, jadi aku rasa masih sempat jika harus mengantar Mama," ujar Diego.


"Kau ini bagaimana sih, bukankah kau meminta Mama untuk merestui hubungan kalian? Sekarang ini Mama sedang menunggumu Diego, Mama mau ikut ke rumah Raisa," ucap Siska yang membuat Diego pun membelalakkan matanya, tak percaya dengan ucapan ibunya tersebut.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2