
Saat pekerjaannya di kantor sudah selesai dan juga tidak memiliki kesibukan lain di luar, Diego pun langsung pulang ke rumah karena ia sudah sangat merindukan istri dan anak-anaknya.
Setibanya di rumah terlihat Raisa yang berada di ruang keluarga bersama anak-anaknya tersebut dan menatap tajam ke arahnya. Meskipun penasaran dengan apa yang terjadi, tetapi Diego masih berusaha untuk tetap tenang dan menyapa istrinya tersebut. Ia menyapa putranya yang di saat itu sedang bermain dan kini Diego pun menghampiri putri kecilnya yang tampak tertidur di dalam baby stroller.
"Duh … Anak Papa sore-sore begini kok tidur sih, temani Kak Denis main dong," ucap Diego.
"Kak Diego kau 'kan baru pulang, lebih baik sekarang kau mandi saja. Tunggu aku di kamar, ada yang ingin aku bicarakan," kata Raisa.
"Ada apa Sayang? Kenapa tidak dibicarakan sekarang saja," tanya Diego penasaran.
"Tunggu saja di kamar Kak. Kau itu baru pulang, jadi lebih baik mandi dulu untuk menghilangkan keringatmu," ucap Raisa.
"Oh ya sudah kalau begitu, aku tunggu di kamar ya," ucap Diego yang langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
"Nyonya Raisa, saya pulang dulu ya," pamit Suster Ayumi yang di saat itu baru saja dari belakang mengambil tasnya dan hendak pulang.
"Oh, iya Sus. Hati-hati ya di jalan dan terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Raisa.
"Sama-sama Nyonya," jawab Suster Ayumi, lalu segera saja ia pergi meninggalkan kediaman Anggara.
"Denis, kau masih mau bermain di sini atau mau ke kamarmu? Mama mau ke atas dulu ya bawa Adik Diesa," tukas Raisa.
"Iya Ma. Aku mau ke kamar saja, mau mengerjakan PR," jawab Denis.
"Ya sudah kalau begitu nanti Mama akan turun lagi untuk menyiapkan makan malam," kata Raisa.
"Iya Ma," jawab Denis diiringi anggukan kepalanya.
Tak lupa pula Raisa menitip pesan kepada pelayan seperti biasa untuk sering-sering melihat Denis di kamarnya.
_____
Saat tiba di kamar, Raisa pun langsung meletakkan Diesa yang di saat itu masih tertidur ke dalam baby box-nya agar ia merasa lebih nyaman dan bisa tidur dengan nyenyak. Sedangkan Raisa duduk di tepi ranjang, menunggu Diego.
Diego yang baru saja selesai mandi merasa terkejut karena melihat istrinya tersebut sudah berada di kamar dan menatapnya dengan begitu tajam, sama seperti tadi.
"Sayang, sebenarnya ada apa? Kenapa dari tadi kau menatapku seperti itu?" Tanya Diego sembari menggunakan pakaiannya.
"Kau dan Ayah sedang merencanakan apa Kak? Apalagi yang kalian rahasiakan dariku," tukas Raisa.
"Maksudnya? Aku tidak menyembunyikan apapun darimu, aku tidak merencanakan apapun dengan ayah," jawab Diego.
"Kau yakin? Jangan membohongiku Kak. Aku mohon jangan membahayakan diri kalian berdua lagi untuk mencari tahu tentang siapa dalang dibalik kejahatan-kejahatan yang sudah terjadi. Sudahlah, sekarang kita sudah tenang, aman. Aku yakin kok mereka memang sudah sangat lelah untuk mengganggu keluarga kita, maka itu mereka tidak mau mengurusi hidup kita lagi," ucap Raisa.
Diego merasa terkejut, di saat itu pun ia teringat akan pembicaraannya dengan Sastro saat di perusahaan tadi siang.
"Sayang, kau tahu tadi Ayah ke perusahaanku dan kami membicarakan soal ini. Kau tahu dari mana?" Tanya Diego.
__ADS_1
"Tidak penting aku tahu dari mana Kak. Tapi itu benar 'kan?" Ujar Raisa.
"Sayang, ini semua hanya untuk berjaga-jaga. Sekarang tenang belum tentu nantinya. Untuk itu sampai saat ini aku masih memperkerjakan 3 Bodyguard di rumah kita, karena aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi lagi. Tolonglah mengerti, ini semua demi kebaikan keluarga kita," ucap Diego.
"Justru kalau kita terus saja mencari tahu, aku yakin itu akan membuat para musuh tidak tenang Kak. Bisa saja mereka akan bertindak gegabah. Sudahlah, yang penting kita tetap waspada saja. Aku mau kau dan Ayah tutup kasus ini, jangan melibatkan polisi lagi. Aku tidak mau kalian berdua celaka, aku tidak mau kejadian yang lalu terjadi lagi dengan kalian berdua. Kenapa sih kau ini tidak bisa mengerti," kata Raisa.
Lalu Diego pun menghampiri istrinya tersebut dan memegang kedua pundaknya, serta menatap Raisa yang di saat itu enggan untuk melihatnya.
"Sayang, lihat aku," pinta Diego.
Akan tetapi Raisa masih tampak membuang muka dengan raut wajahnya yang tampak cemberut.
"Sayang, aku mohon lihat aku." Diego mengulangi permintaannya, sehingga Raisa pun menatap suaminya itu.
"Tidak akan terjadi apa-apa denganku ataupun Ayah. Memang tugasku adalah melindungi kalian, aku hanya mau berjaga-jaga bukan mau mencari masalah ataupun mencari musuh. Justru merekalah yang menganggap kita musuh. Jika kita diam saja, kita akan semakin diinjak-injak dan disakiti oleh mereka. Sudah ya, kau tidak perlu memikirkan hal ini," ucap Diego.
"Bagaimanakah aku tidak memikirkan hal ini Kak, aku takut kalian kenapa-napa. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu hal buruk dengan kalian," ucap Raisa.
"Iya Sayang aku mengerti. Aku janji, aku dan Ayah tidak akan kenapa-napa, oke. Kau yang tenang ya," ucap Diego.
"Janji ya kalian akan baik-baik saja," ucap Raisa.
"Iya aku janji. Oh iya aku ada kabar baik, besok aku mau mengajak kalian jalan-jalan ke Bandung. Kita akan menjenguk Mama di sana, Bagaimana?" Kata Diego.
"Kau serius Kak?" Tanya Raisa.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu Kak, sementara kau sudah tidak memiliki asisten yang mengerti tentang semua pekerjaanmu, seperti Kak Darrel," kata Raisa.
"Tidak perlu mengungkit pria itu lagi. Tidak ada pengkhianat itu bukan berarti perusahaanku tidak bisa berjalan, masih ada karyawan lainnya 'kan. Lagi pula besok itu weekend, selama 2 hari sama sekali tidak ada yang bekerja. Meskipun nantinya kita pulang di hari kerja, aku akan menitipkan pekerjaanku kepada sekretarisku sebentar. Setidaknya sekretarisku masih bisa diandalkan, sambil menunggu nantinya aku akan memiliki asisten baru," kata Diego.
"Hm … Kak, bagaimana kalau aku saja yang menjadi asistenmu," ucap Raisa yang membuat suaminya itu terkejut.
"Sayang kau mengatakan apa? Kau ingin menjadi asistenku. Sekarang saja kau sudah menjadi asistenku, tapi asisten di rumah bukan di kantor," kata Diego.
"Kak, aku serius. 'Kan di rumah sudah ada pengasuh Diesa, aku percaya kok Suster Ayumi bisa menjaga Diesa dengan baik. Ada Bibi juga, ada Denis. Maksudku nanti kalau Mama sudah pulang ke rumah, bukan sekarang," ucap Raisa.
"No, aku tidak mau kau menjadi asistenku di kantor. Aku ingin kau tetap fokus di rumah, bukankah kau sendiri yang mengatakan ingin fokus menjaga Diesa dan Denis di rumah, kenapa sekarang kau jadi ingin bekerja?" Tukas Diego.
"Aku hanya ingin membantu pekerjaanmu Kak. Aku kasihan karena sepertinya kau sangat lelah semenjak tidak ada Kak Darrel. Sepertinya kau juga sangat takut untuk mencari asisten baru," kata Raisa.
"Sudahlah Sayang, kau tidak perlu memikirkan hal itu ya. Masalah perusahaan biar aku yang akan menanganinya, kau tenang saja," ucap Diego.
"Tapi aku serius Kak, kalau kau menginginkannya aku akan membantumu di perusahaan dengan menjadi asistenmu, kata Raisa.
"Aku juga serius. Dengan kau berada di rumah menjaga anak-anak itu akan membuatku lebih tenang dan sudah sangat membantuku, membuat aku lebih bersemangat lagi untuk bekerja," kata Diego.
"Ya sudah kalau begitu. Aku akan menyiapkan makan malam dulu ya Kak, tolong jaga Diesa. Nanti kalau dia bangun kau bawa turun saja. Denis ada di kamar mengerjakan PR-nya. Padahal besok weekend, tapi Denis itu memang anak yang rajin belajar dan pintar," ujar Raisa.
__ADS_1
"Kau tidak lihat siapa ayahnya, ayahnya juga pintar. Tidak apa-apa lebih baik cepat selesai 'kan daripada harus menundanya. Apalagi nanti kalau sudah liburan, bisa jadi Denis malah lupa untuk mengerjakan PR," ucap Diego.
"Iya, iya, aku akui kepintaran Denis itu memang keturunan darimu sebagai ayahnya. Ya sudah aku ke bawah dulu ya Kak," ucap Raisa.
*****
Karena sudah mendapatkan nomor ponsel Nada waktu itu yang ia minta secara diam-diam dari Sastro saat mengantar Dinda dan ia ikut turun dari mobil, kini Kelvin pun menghubungi wanita tersebut, berniat mengajaknya untuk makan malam.
"Halo, dengan siapa ya?"
Terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon, yang membuat Kelvin rasanya begitu gugup.
"Halo, apa benar ini dengan Nada?" Tanya Kelvin.
"Iya benar aku Nada,".ini siapa?" Nada mengulangi pertanyaannya.
"Aku ku Kelvin, Kakak angkat Raisa," jawab Kelvin.
"Oh … Kak Kelvin, ada apa Kak? Tanya Nada.
"Kau sedang ada di mana? Apakah aku mengganggumu?" Tanya Kelvin pula.
"Aku baru saja tiba di restoran, tapi mulai bekerjanya sebentar lagi. Kalau ada yang ingin dibicarakan langsung katakan saja Kak," kata Nada.
"Oh begitu. Jadi begini Nad 'kan aku sudah berjanji mau mentraktirmu makan untuk mengucapkan terima kasih, kapan kira-kira kau ada waktu, apakah nanti malam bisa?" Tanya Kelvin.
"Kalau hari ini aku tidak bisa Kak, soalnya aku 'kan kerja sift sore dan pulangnya malam sekali. Bagaimana kalau besok, besok aku shift pagi jadi malam ada waktu," kata Nada.
"Boleh, kalau begitu besok kirim saja di mana alamat rumahmu, aku akan menjemputmu," ucap kelvin yang rasanya begitu senang.
"Iya Kak nanti aku akan kirim alamatnya," jawab Nada.
"Terima kasih banyak ya Nad," ucap Kelvin.
"Sama-sama Kak, kalau tidak ada lagi yang mau dibahas aku matikan dulu ya Kak teleponnya. Aku harus bekerja sekarang. Bye … ," ucap Nada.
"Bye … ," balas Kelvin mengakhiri telepon tersebut.
Setelah itu pun Kelvin tampak berjingkrak kegirangan karena permintaannya tidak ditolak oleh Nada. Kelvin tampak bernafas lega karena pada akhirnya ia berani menghubungi seseorang dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Jantungnya berdebar tak karuan, ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya, tetapi tidak tahu kenapa rasa itu bisa muncul tiba-tiba.
"Yes, yes, yes," ucap kelvin yang kembali berjingkrak kegirangan.
"Kau habis menghubungi siapa, kenapa kau terlihat begitu bahagia?"
Terdengar suara seseorang yang membuat Kelvin merasa sangat terkejut.
Bersambung …
__ADS_1